Skip to main content

Posts

Featured Post

ADA GUS DUR DAN LGBT DI LEDALERO

"Gus Dur biasanya tidur di Ledalero kalau ke sini meski sudah disediakan hotel," kata Eddy Kurniawan, mantan aktifis FPPI yang kini menjabat sebagai sekretaris GP Ansor Kabupaten Sikka, tadi malam saat mengajakku ngopi di Maumere kemarin malam.

Barangkali itu sebabnya, menurut pria ini, hubungan Katolik dan NU di Sikka sangat baik. Pokoknya kalau NU yang berkehendak, mereka pasti mendukung. "Itu yang saya rasakan," kata pria jebolan ITATS Surabaya yang keluarganya sudah 5 generasi tinggal di Sikkan. 

Sayangnya, aku baru tahu informasi ini setelah meninggalkan STFK Ledalero. Jika tidak, aku akan meminta cerita soal Gus Dur dan Ledalero kepada mas Otto Madung, pater temanku saat penelitian di Polgov UGM yang kini telah menjadi ketua sekolah mentereng itu. 
Seperti halnya Gus Dur yang sangat apresiatif terhadap perbedaan identitas gender dan orientasi seksual, STFK Ledalero pun demikian. Sekolah ini, sepengetahuanku, merupakan satu-satunya sekolah tinggi teologi yang ber…
Recent posts

NYALI YUDIAN WAHYUDI

Baru saja dilantik sebagai kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Yudian Wahyudi telah melakukan gebrakan pertama. Dalam sebuah wawancara, pria jebolan Harvad Law University ini menyatakan agama merupakan musuh terbesar Pancasila. 

Sontak banyak pihak kelojotan. Terutama kelompok-kelompok yang selama ini terindikasi getol menelikung Pancasila, baik terang-terangan maupun diam-diam. Mereka ngamuk membabi buta karena topengnya terbuka sedikit. Saking geramnya, Sekjen MUI Anwar Abbas bahkan meminta Jokowi mengganti Yudian. 
"Kalau benar beliau punya pandangan seperti itu maka tindakan presiden yang paling tepat untuk beliau adalah yang bersangkutan dipecat tidak dengan hormat," kata Abbas.
Yudian bukanlah anak kemarin sore yang tidak mengerti pasang surut dinamika agama dan Pancasila dalam sejarah Indonesia. Saya meyakini dia sangat paham dua entitas ini punya relasi yang campur aduk layaknya lagu Def Leppard "When love and hate collide," bahkan hingga sekarang. 
Seja…

MODERASI BABI

Boleh percaya boleh tidak. Musuh bebuyutan si imut babi, salah satunya, adalah apapun yang merepresentasi dan mengaitkan dirinya dengan Islam. 

Jika mulai banyak orang Islam bisa berdamai dengan anjing maka terhadap babi, hampir tak ada yang berani bersuara selantang terkait, atau berpose demonstratif bersama, babi. 
Bisa dikatakan, babi adalah kelemahan paling menganga dalam bangunan konfidensi Islam. Sesakti apapun seseorang, setinggi langit keilmuan yang ia miliki, ia akan tunduk, lungkrah tak berdaya di hadapan babi. 
Hukum klasik Islam terlihat masih belum bisa move on merekonsiliasi binatang kiyut ini -- tak peduli berapa banyak jumlah Ph.D dan professsor hukum Islam yang berhasil diproduksi oleh sistem pendidikan modern.

Stigma terhadap babi begitu pekat dan tidak main-main. Siapapun yang berani mencoba menguliknya dalam rangka memoderasi hukum Islam atasnya, sedikittttttt saja, pasti aku terjungkal. Cobalah jika tidak percaya.
Namun kenapa perlu dimoderasi? Sebab stigma terhadap ba…

SERU PASUKAN BIRU DI GKJW WARU

Adakah yang paling membahagiakan selain bisa mengajak banyak orang datang ke tempat yang paling mereka takuti karena dogma –dan akhirnya ketakutan tersebut tidak terbukti? Pastilah ada kebahagiaan lain selain hal tersebut. Namun bagiku hari ini, Sabtu (8/2), adalah hari bahagiaku.


Aku berhasil mengajak 50 orang pasukan biru, sebutan untuk para kader PMII, untuk bisa duduk di ruang ibadah GKJW Waru belajar tentang hadits dalam perspektif keadilan perempuan. 
Maksudnya gereja menyelenggarakan kelas tersebut? Tidak. 

Sebagaimana yang aku tulis di status kemarin, aku meminta panitia Sekolah Islam dan Gender untuk mencari gereja terdekat sebagai tempat sesiku berlangsung. Akhirnya, mereka mendapatkan GKJW Waru. Lokasinya berjarak 7-8 kilometer dari tempat utama. 
"Begitu mendapat kabar akan ada kunjungam dari teman-teman PMII, kami langsung rapat dan memutuskan oke. Kami senang gereja ini berguna, terutama bagi teman-teman Muslim," kata Pdt. Adi dalam sambutannya. 

Saat selesai sambut…

BULKONAH di IAIN MANADO

Betapa senangnya diriku. Bisa singgah lagi di institusi pendidikan tinggi Islam sementereng IAIN Manado. Dari banyak IAIN atau UIN yang aku pernah kunjungi. Rata-rata model arsitekturnya sama semua. 

Sangat mungkin ada panduannya dari “atas,” atau jangan-jangan kontraktor pelaksananya satu bendera. Terasa tidak kreatif. Entahlah.
Namun sore itu, Sabtu (15/2), aku disambut dengan sangat ramah oleh mas Sulaiman, dosen IAIN yang sehari sebelumnya bertemu denganku di acara bedah buku “Menafsir LGBT dalam Alkitab,” di GMIM Sion Winangun. 
Ia tidak sendirian ternyata. Telah hadir pula mas Ali, wakil dekan, yang ternyata orang Ngapak Brebes. Dunia sempit sekali memang.
Topik yang dibahas dalam forum diskusi dadakan ini seputar Guyonan Gus Dur dan relevansinya saat sekarang –merujuk pada semakin kuatnya intoleransi yang dilakukan banyak orang Islam, terutama pada kelompok Kristen. 
“Saya nggak pernah riset soal guyonan Gus Dur. Namun jika mau dikategorisasikan, saya baru mampu menemukan dua; as se…

DARI NATAL HINGGA MADRASAH KADER NU ALUMNI PMII JAWA TIMUR

**""
Aku senang sekali terlibat mewarnai Natal Peradi Surabaya. Menurut informasinya, ini natal warna-warni pertama yang mengundang teman-teman Islam di luar Peradi. Bagiku ini luar biasa karena semangat "sahabat" yang menjadi tema besar PGI-KWI terimplementasi dengan terobosan.
"Saya senang dengan Cak Haryanto. Ia muslim sejati. Kemuslimannya digunakan untuk menjadi rahmat bagi teman-teman profesi yang beragama Kristen," begitulah aku memuji ketua Peradi Surabaya, Jumat (10/1) di rumah makan Emerald Surabaya. 
Cak Haryanto, menurut Mbak Liana Wati --anggota Peradi yang berjemaat di Paroki SMTB-- justru mendorong anggota Peradi Kristen/Katolik agar menyelenggarakan perayaan Natal seperti ini. 
Bagiku ini menarik, mengingat sangat banyak orang Islam yang memilih bersikap sebaliknya. Aku berhutang banyak pada mas Johanes dan Romo Pras. Aku menikmati firman Tuhan yang disampaikan romo dengan gelar berderet ini.
Di hadapan undangan, aku berpesan agar Natal seperti…

NATAL DAN PANCASILA-NIAL

Aku sedang berkereta menuju rumah saat ini. Perjalanan panjang Batu-Malang-Ponorogo-Jogjakarta-Purwokerto berakhir sore ini di warkop dekat stadion Jombang. Aku dkk. GDian Jombang akan rapat persiapan Haul Gus Dur yang rencananya akan diselenggarakan secara sederhana saja. 

Besok sore, aku diundang menghadiri acara Natal Peradi Surabaya. Mungkin ini natalan lintas agama pertama kali yang dilakukan organisasi advokat ini. Aku senang sekali sewaktu diajak mendiskusikan acara ini oleh salah satu pengurusnya untuk mempersiapkan acara ini. 
"Undanglah teman-teman Islam dan agama lain pas natalan, mas. Natalan versi 4.0 adalah perayaan yang juga didesain untuk menselebrasi kuatnya relasi Kristen-Islam ditengah kecamuk situasi intoleransi," kataku padanya. Ia menyambutnya gembira. 
Aku juga sudah mengontak beberapa adik-adikku di Surabaya, para Gusdurian, untuk bisa hadir dalam perayaan tersebut. Kehadiran mereka sangatlah penting untuk mengimbangi eskalasi intoleransi. Bayangkan saja…

BERAGAMA DALAM ENAM PURNAMA

Oleh Celestine

Prolog; Celestine, bukan nama sebenarnya, adalah salah satu mahasiswiku di Kelas Religion semester lalu. Aku tidak tahu apa agamanya. Mungkin Protestan atau Katolik --dua agama mayoritas di kelas. Ia menulis refleksi ini sebagai bagian tugas UAS. Aku senang membacanya. Judul aku tambahkan untuk melengkapi tulisan. -- Aan Anshori


***** Setelah mengikuti kelas Religion bersama teman-teman dengan berbagai agama, tentunya memiliki kesan tersendiri bagi saya. Seumur hidup saya, saya belum pernah sekalipun membahas tentang agama bersama dengan teman-teman yang memiliki agama berbeda dengan saya. 
Tetapi, di semester ini, saya diberikan kesempatan untuk merasakan bagaimana berinteraksi, membicarakan soal kepercayaan saya dan orang lain dan mengetahui lebih dalam mengenai agama atau kepercayaan orang lain serta pandangan agama lain terhadap agama yang saya percayai. 
Dengan pertemuan-pertemuan yang dilakukan setiap minggunya, kuliah umum, dan doa yang bergiliran antar agama setiap m…

HEROIK A LA RAHMA, LATIEF DAN INDAH

Heroik itu seperti apa? Bagiku; siapapun yang berani mengambil resiko menghadapi ketakutannya, maka aksi tersebut adalah heroik. Persis seperti yang dialami oleh adik-adikku; Indah, Rahma dan Latief kemarin, Rabu (26/12).

Setelah selesai mengisi acara di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro, aku balik ke Jombang diantar mobil kampus. Dikawal 5 orang, termasuk ketiganya. Aku harusnya diantar ke Pasar Babat untuk selanjutnya ngebis ke Jombang. 
Namun aku meminta mereka mengantarku ke GKJW Sumbergondang Bluluk Lamongan. Jaraknya dari Bojonegoro sekitar 60an kilometer. 
"Eh ada nggak diantara kalian yang belum pernah ke gereja?" tanyaku di mobil. "Saya gus," kata Rahma. "Aku juga belum pernah, gus" kata Indah.
Aku agak kaget mendengar pengakuan mereka, mengingat mereka cukup dekat dengan PMII --Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia-- organisasi mahasiswa yang dikenal cukup moderat. Aku kemudian mewartakan kabar gembira bahwa perjalanan ini men…

MELUNASI JANJI DI GKI DAN GKJW KOTA SANTRI

Kemarin aku menulis status panjang. Status tentang janjiku pada muslimah milenial perempuan untuk mendampinginya masuk gereja, pertama kali dalam hidupnya. Perempuan itu bernama Jihan. Ia yang memakai jilbab di sampingku.

Aku tunaikan janjiku malam ini padanya, di GKI Jombang.
"You are gonna be fine, with me. I will not let you walk alone," aku mengucapkan padanya.
Jihan dan Ainur --yang berkopiah- datang menjemputku di rumah. Keduanya ikut menata roti yang aku pegang. Meletakkan lilinnya dan mengiris roti. 
Roti itu aku beli di toko sebelah rumah bersama Cecil siang hari. Cecil pula yang memilih warna roti dan lilinnya. "Merah aja, Yah. Warna natal," katanya di toko roti. Penjaga toko, ABG perempuan Islam, sempat heran saat Cecil ngomong seperti itu. 

Keheranannya mungkin disebabkan Cecil mengucap "alhamdulillah" dengan keras saat bersin di hadapannya, sebelum ngomong soal Natal. "Mbaknya tadi wajahnya berubah saat aku ngomong Natal. Mungkin ia pikir …