Skip to main content

Posts

Featured Post

Benarkah Bu Mun Ikut Menikmati Dana Haram Kapitasasi BPJS Jombang?

Teman-teman Media, aku kaget sekali membaca berita di bawah. Dalam kesaksiannya di depan majelis hakim pengadilan tipikor dengan terdakwa Nyono Suharly, dr. Samijan, suami Inna mantan plt. Kadinkes Jombang, mengaku telah memberikan sejumlah uang kepada Mundjidah Wahab (MW), saat itu sebagai wabup dan EUC, putrinya. Uang tersebut diakui Samidjan sebagai bagian dari dum-duman uang haram hasil penjarahan dana kapitasi puskesmas yang dilakukan Inne.

Meski pengakuan Samidjan disampaikan di bawah sumpah namun menurutku perlu ditindak lanjuti dengan klarifikasi dari dua orang Tertuduh agar tidak menjadi fitnah. Aku mendorong kedua pejabat publik tersebut berani mendatangi KPK untuk meminta diperiksa. Jika memang benar sebagaima tuduhan Samijan, keduanya perlu segera mengembalikan uang yang telah diterimanya, serta dengan berani meminta maaf ke publik dan berjanji tidak mengulanginya lagi.

Langkah ini bagi MW, yang baru saja ditetapkan KPU sebagai pemenang pemilihan bupati, sangat penting a…
Recent posts

Cerita Dibalik Aksi Solidaritas di GKI Diponegoro

Tanggal 16 Mei, saat mengunjungi Paroki SMTB bersama kawan-kawan, sebuah pesan masuk ke nomorku,dari Andri Purnawan, pendeta GKI Darmo Satelit. Isinya, draft _broadcast_ undangan woro-woro kegiatan di GKI Diponegoro, salah satu lokasi pengeboman.

Aku agak kaget mengingat Andri bukanlah pendeta di GKI Dipo. Ia juga bukan pejabat struktural sinode wilayah yang punya kewenangan menjelajah di luar gereja yang diampunya. Namun aku memahami situasi saat ini, pascapemboman, butuh figur yang mau bergerak.

Adalah Michael Andrew yang terus memotivasi Andri agar GKI Dipo membuka pintunya untuk aksi solidaritas pascatragedi. Michael memang paling suka memprovokasi orang untuk berbuat baik. Dan nampaknya Andri terlecut olehnya. Aku tahu, tak mudah bagi Andri meyakinkan internal GKI.

Drat woro-woro aku kirim balik ke Pdt. Andri, dengan menambahkan beberapa narahubung selain dirinya. Ada tiga nama yang aku masukkan; Michael, Yuska dan Mas Irianto. Lengkap dengan nomor telponnya. "Nama-nama i…

Undangan Menulis Narasi Memori Tionghoa 2 "Ternyata Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia"

Sebulan lalu, buku narasi memori "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia" mendapat sambutan luar biasa dari publik. Buku ini berisi kumpulan kisah duka dan suka cita 73 penulis. Mereka juga menyisipkan mimpi Indonesia yang lebih toleran terhadap Tionghoa.

Kehadiran buku itu sekaligus memprovokasi hasrat banyak orang untuk menulis kisahnya sendiri, agar kelak menjadi pelajaran bagi peradaban Indonesia yang perlahan mulai agak rasis.

Kami mengundang semua pihak untuk terlibat menulis di proyek narasi memori Tionghoa jilid II. Syaratnya? Tulisan merupakan kisah nyata pengalaman penulis saat berinteraksi dengan identitas Tionghoa. Kami ingin pembaca bisa belajar langsung dari pengalaman penulis, baik sebagai Korban maupun Pelaku.

Panjang tulisan 900 hingga 1.300 kata, tunduk pada kaidah berbahasa Indonesia yang benar, memakai pola 5W+1H, dan belum pernah diterbitkan sebelumnya. Batas akhir pendaftaran 22 Mei namun bisa ditutup sewaktu-waktu jika kuota 50 penulis telah terpe…

PSM IAIN Salatiga, you're not alone!

Dulur-dulur, kita bahagia saat paduan suara IAIN Salatiga tampil di Paskah GKJ Sidomukti. Kini kabarnya mereka tengah mengalami banyak tekanan dari berbagai pihak. Untuk itu, sudilah mengirimkan pesan solidaritas melalui Zein +62 856-4015-8371, salah satu aktifis mahasiswa IAIN Salatiga. Mereka butuh apresiasi dan dukungan moril kita. Berikut contoh yang aku kirim;
"Zen, aku Aan Anshori, GUSDURian Jombang. Aku sangat mengapresiasi penampilanmu dkk di GKJ kemarin. Aku tahu ada banyak tekanan terhadap kampus dan PSM. Jangan takut, jangan menyerah. Salam hormat- Aan Anshori"Mohon di-CC ke Rektor IAIN Salatiga, Dr. Rahmat Hariyadi +62 815-7739-031Jika tidak keberatan, sudilah juga memforward dukungan itu ke nomor WAku 08155045039Suwun,Aan Anshori

Undangan Narasi Memori "Melampaui Rasa Takut"

Project narasi memori "Melampaui Rasa Takut" adalah inisiatif menuliskan pengalaman unik/menegangkan seputar interaksi dengan kekristenan, misalnya pertama kali masuk gereja, ikut natal, berteman dengan orang Kristen, dll. Contoh tulisan yang bisa dirujuk adalah "Termenung di hadapan Salib GKJW Banyuwangi" karya Fina Mawaddah PMII Untag Banyuwangi

Tujuan project ini adalah untuk memperkuat dialog hubungan Islam - Kristen di Indonesia melalui penarasian memori kader/alumni PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Project ini bersifat mandiri, tidak didukung oleh lembaga donor, parpol atau institusi sejenis lainnya.

Beberapa hal penting:
1. ‎Penulis adalah kader/alumni PMII dari mana saja.
2. ‎Tulisan merupakan pengalaman pribadi (melihat, melakukan, mendengar) penulis, non-fiksi, dan belum pernah dipublikasi sebelumnya.
3. ‎Ditulis dalam gaya bebas, memenuhi kriteria 5W+1H (what, when, where, who/whom, why, and how), sebanyak 700-1000 kata, dan dikirim ke pmii…

Kenapa Saya Tidak Bisa Ber-Tafsir LGBT di Aswaja Center?

Hari Rabu (17/1) jam 16:13, gadget saya berbunyi. Ada pesan WA masuk, dari Yusuf Suharto kawan saya:

"Mas Aan, atas nama panitia kami mengundang Mas Aan Ansori mengisi Seminar Tafsir LGBT pada Sabtu, 20 Januari 2018 ini. Semoga Mas Aan bisa nggih? Nanti ada Kiai Musta'in Syafii"

Pada pukul 17.14 di hari yang sama, saya balas.

"Wahh acara bagus. Aku senang ente mulai tertarik mengkaji isu ini. Sayangnya, aku terlanjur punya acara lain. Aku tunggu tulisannya ya.. Suwun."

Meski sudah menyatakan tidak bisa, sehari kemudian, Kamis (18/1) jam 11.20, ia tetap mengirimkan surat permohonan menjadi narasumber. Saya berfikir, kenapa tetap mengirimkan surat padahal saya tidak dapat hadir. Ini tentu agak di luar kelaziman. Akan tetapi saya melihat hal itu sebagai hasrat positif panitia yang menggebu-gebu.

Setelah saya baca, acara yang akan dilaksanakan nanti berbentuk "seminar" dengan judul "Tafsir LGBT dan Lintas Iman" Sayangnya, dalam surat tersebut…

Yang Terhormat Ibuku

Lihatlah perempuan yang aku lingkari. Itu adalah ibuku, Alfiyah. Ia putri kedua alm. Abdul Wahab, kiai kampung di Plemahan Sumobito Jombang yang pernah menjadi anggota DPR kabupaten dari Partai NU hasil Pemilu 1955.

Ibuku adalah kembang desa, suaranya merdu, dan sangat mandiri secara ekonomi. Ia bekerja menjaga toko pracangan yang ia bangun sejak dari nol di Pasar Mojoagung. Dalam aspek ekonomi, bapakku yang lebih fokus ngurusi politik dan perLSMan sangat beruntung mendapatkannya.

Entahlah, kenapa ibuku memilih dia dari sekian banyak laki-laki yang mengejarnya. Ibu tidak pernah bercerita padaku, kecuali bahwa hubungan mereka tidak direstui oleh ibu dari bapakku.

Nenekku, disamping sudah punya calon istri untuk bapakku, nampak cukup terancam dengan kosmpolitanisme ibuku. Ibuku itu sangat mudah bergaul dengan siapa saja. Yang aku ingat, setiap kali berjalan, ia selalu menyapa orang yang dikenalnya -bahkan ketika yang disapa itu tidak sedang melihatnya sekalipun.

Ia tidak segan bert…

NU Queer di Warung Daun

Saat usai perhelatan ngopi bareng di Warung Daun Kediri, Kamis (16/11), saya bilang ke Mas Sanusi, direktur LSM Suar, "Mas, kalau mau jujur, NU iki queer lho dalam isu LGBTIQ," ujar saya sembari terbahak-bahak. Queer itu istilah dalam dunia gender dan seksualitas yang merujuk pada sesuatu di luar kebiasaan, aneh, antik, unik, atau kontradiktif. Contoh gampangnya begini, Bunda Maria dipercaya mengandung tanpa proses yang ghalib, nah itu aneh, queer namanya. Atau, ada mobil yang bisa jalan dengan bahan bakar air, bukan bensin, itu juga queer. Atau, ada tiang listrik tetap kokoh berdiri sedangkan Fortunernya ringsek dan Setnov katanya benjol sebesar bakpao, itu juga queer, aneh bin ajaib. Dalam isu LGBTIQ, sikap PBNU sudah sangat tegas; menolak dan mengutuk keras. Bahkan merekomendasi Negara untuk aktif membantu rehabilitasi "penderitanya," Anda bisa cek pemberitaan sekitar 26 Februari 2016. Sungguhpun demikian, yang menarik, sikap ini tidak serta merta diikuti oleh j…

Dekri dan Eljibiti di Warkop Cak Cip

Jangan ngaku mahasiswa Univ. Darul Ulum (Undar) jika tidak kenal Cak Cip. Bagiku, ia adalah mahadosen semua jurusan untuk matakuliah kerendahan hati melalui secangkir kopi. Warkopnya tak pernah sepi meski kampus ini pernah sekarat gara-gara dualisme kepemimpinan.

Sedangkan Dekri? Ia adalah salah satu selebritis gerakan mahasiswa Undar pertengahan 90an saat aku masuk kampus ini. Nama lengkapnya Chalid Tualeka. Silahkan digoogling nama itu.

Kami beda jurusan. Jika ingatanku masih kuat, ia dulu sospol, sedangkan aku nyantri di menejemen informatika dan komputer, meski tidak rampung karena faktor ekonomi.

Dekri bukanlah orang lain bagiku meski kami beda organisasi ekstra kampus. Pasangannya, Pipit, punya dua almamater denganku; di PMII dan sama-sama pernah nyantri di Tambakberas.

Pagi tadi, Minggu (24/12), aku menemuinya di Cak Cip. Kebetulan tengah ada reuni akbar para alumni Undar. Aku sendiri meski tidak lulus D3 Mikom kampus ini tahun 95, namun aku kembali belajar pada 2010 di Fakult…