Skip to main content

Posts

Featured Post

Siti Maryam yang Baru Aku Kenal

Beberapa hari lalu, saya diundang acara tujuh bulan kehamilan. Istilah kampungnya tingkeban. Dalam acara itu, para jamaah membaca al-Quran Surah Yusuf. Tidak banyak yang baca karena panjang dan sangat jarang muslim yang hafal --tidak seperti Surah Yaasin atau Waqiah. Dalam acara itu, napaknya hanya saya dan pemimpin upacara yang membaca Yusuf. Ini salah saru surah penting untuk dibaca saat kehamilan, lainnya adalah Surah Maryam. Dalam tradisi santri, jika dua surah ini dibaca terus menerus maka diharapkan jabang bayi akan seperti Nabi Yusuf atau Siti Maryam (SM). Saat kehamilan Cecil dan Galang, saya juga membacanya berkali.Nah, saat membaca Surah Maryam, saya agak kaget al-Quran ternyata menggambarkan berbeda dari apa yang saya persepsi tentang proses kehamilan SM. Yang saya percayai adalah SM hidup sendiri di pengasingan, lalu tuhan berbicara, hanya suara, lalu mengirim selarik sinar yang menuju ke perut SM --seperti di film2 fiksi. Padahal, sebagaimana diceritakan dalam al-Quran, A…
Recent posts

Jombang Darurat Kekerasan Seksual Anak

Kawan-kawan kasus ini menambah daftar kelam kondisi anak di Jombang, setelah sebelumnya terjadi pada pelajar ngaji. Aku mengecam keras praktek kekerasan seksual terhadap anak. Perlu dicatat, data yang aku kumpulkan menunjukkan sebagian besar pelaku kekerasan seksual anak, terutama perempuam, adalah orang dekat; kawan, keluarga, tetangga, bahkan pendidik. Mereka yang seharusnya melindungi justru berbalik memangsanya. Harus ada upaya konkrit dari seluruh pihak, terutama pemerintah dan organisasi masyarakat dan keagamaan. Pemkab perlu menyatakan darurat kekerasan seksual anak di Jombang, dan menyusun kerja-kerja implementatif, sebagaimana mereka merespon bahaya narkoba. Salah satu hal yang mendesak dilakukan adalah melengkapi seluruh RT/RW, PKK, Dasawisma dan sekolah, dengan kemampuan deteksi dini terjadinya kekerasan dalam keluarga. Jika perlu, pemkab bisa menggandeng NU, Muhammadiyah, gereja, dan institusi lain. Dengan adanya early warning system seperti itu, kekerasan seksual akan bis…

Rilis Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) terkait Pembubaran Seminar Pengungkapan Sejarah 1965/66 di LBH Jakarta

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh, Sebagaimana kita saksikan bersama, pagi tadi sekitar pukul 09.00, ratusan massa didukung oleh aparat keamanan dan militer melakukan blokade di areal LBH Jakarta. Tujuannya, agar pelaksanaan diskusi publik mengungkap Sejarah Genosida 1965/1966 oleh Forum 65 tidak terlaksana. Aparat bersama pendukungnya bahkan merangsek masuk gedung LBH dan terlihat mencopoti banner serta memaksa acara benar-benar tidak dilakukan. JIAD memandang aparat dan massa bertindak arogan dan sangat takut atas kegiatan tersebut. Hal ini sungguh tidak bisa dinalar; apa yang ditakutkan dari sebuah diskusi yang pesertanya kebanyakan telah lanjut usia? Sungguhlah aneh menyematkan tuduhan makar terhadap kegiatan ini mengingat PKI tidak pernah secara nyata dibuktikan keberadaannya. Penjelasan yang paling masuk akal pembubaran ini adalah ketakutan massal terbukanya aib Genosida 1965/66 yang dilakukan Negara kala itu. Sebagaimana hasil penyelidikan pro yustisia Komnas HAM, tela…

Inside-Ambon; Kala Perempuan Kristen-Islam berbagi Payudara

Oleh Ika Hattu, Jemaat GPM Rehoboth Ambon, mahasiswi Universitas Pattimura.Pada tanggal 25 Juli 2017, saya mengikuti training Penggerak Perdamaian dan Keragaman Berbasis Komunitas (Pelatihan Modul Deradikalisasi) yang dilaksanakan selama 4 hari. Penyelenggaranya PGI dan gereja saya, GKM Rehoboth Ambon.Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang peserta baik yang beragama Kristen Protestan maupun yang beragama Muslim pada lingkup daerah Maluku. Pada hari kedua tepatnya 26 Juli 2017 sesuai dengan jadwal kegiatan, kami mengikuti sesi "perjumpaan komunitas". Ada 3 komunitas yang akan kami datangi, diantaranya berlokasi pada Batu Merah - Masjid Agung AN-NUR dan Kantor Negeri Batu Merah, Latta- Jemaat Latta GPM Klasis Pulau Ambon Timur dan Komunitas Muslim Latta, dan Lorong Sagu-Paparisa markas komunitas "Ambon Bergerak"Sekitar Pukul 11.26 WIT kami pun sampai di Negeri Batu Merah dan langsung ke Masjid Agung AN-NUR. Kami berjumpa dengan Ustad Emang yang saat itu menyambut kami de…

Rafia Cooper dan Suaminya

"You want me to talk about us?" kata Walikota Culver City California, Jeffrey Cooper, sembari memandangi istrinya, Rafia, dari jarak yang agak jauh. Meminta konfirmasi pada perempuan ini.Meski datang bersamaan dalam forum kami namun Cooper dan istrinya duduk terpisah dua orang --suatu hal yang tidak lazim. Di Indonesia pejabat setingkat walikota pasti akan didudukkan berdampingan. Mungkin karena hal itu sudah menjadi protokol dalam acara formal. Namun acara kami di King Fahad Islamic Foundation Culver City bisa dikatakan formal sekaligus tidak formal. Formal karena banyak pejabat penting, salah satunya perwakilan FBI, hadir di sana. Dikatakan tidak formal sebab situasi forum berjalan sangat santai, seperti jagongan di balai RT. Hadir juga Kapolres Culver City bersama dua orang anak buahnya dengan pakaian preman dengan pistol dan lencana di pinggang.Forum yang dihelat Kamis (31/8) tersebut mendialogkan potret keragaman warga Culver City dan upaya pemerintah beserta stakeholde…

Dari Klenteng hingga Pastel; Bertemu Kilat Menonite di Philadelphia

Secara tak sengaja, saya bertemu sekte Kristen Menonite yang hampir semua jemaatnya adalah para diaspora Tionghoa di Philadelphia. Bagaimana kejadiannya?Rasanya, hidup saya takkan jauh dari komunitas agama, terutama yang berstatus minoritas. Tak peduli di mana pun saya berada, naluri selalu menuntun untuk bertemu mereka.Selama beberapa hari di Philadelphia untuk program IVLP, saya mengunjungi beberapa komunitas agama sebagaialmana yang telah ditentukan pihak penyelenggara, dalam hal ini Departement of State AS.Di luar acara tersebut, saya berusaha menemui komunitas Indonesia yang terpusat di South Philly --salah satu bagian Philadelphia. Hari pertama tiba kota multikultur ini, saya bertemu dengan komunitas Muslim di Masjid Al-Falah. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya merupakan kunci perjalanan selama di Amerika --untuk menghirup sebanyak mungkin apa yang terjadi di sana. Saya ikut yasinan, shalat dan berdiskusi dengan mereka. Adalah Henky Chiok, salah satu penerjemah kami, yang menjadi…

Al-Falah diantara Philadelphia dan Filadelfia

"Mas, aku jemput sekarang ya, mumpung aku senggang. Karena nanti malam kami ada yasinan di Masjid Al-Falah," pesan pendek masuk ke ponsel segera setelah aku mendapat free wifi hotel. Aku memang hanya mengandalkan internet gratisan selama di AS. Paket data di negeri ini lumayan mehong (mahal). Aku harus ngirit, hidup mengandalkan uang saku #IVLP yang tidak bisa dikatakan melimpah ruah. *haisPesan itu datang dari Mas Aditya, warga Suroboyo yang tinggal lama di Philly bersama istri dan seorang anak. "Aku melok Yasinan, Mas," sahutku tanpa berfikir panjang. Yasin adalah salah satu surat panjang yang wajib aku hapal jika ingin lulus Tsanawiyah di Tambakberas puluhan tahun lalu. Jangan tanya apakah aku paham artinya dan kandungannya, selain bahwa surat ini diyakini cukup ampuh mempermudah kepergian orang dari dunia ini. Setelah acara keliling kota singkat, kami pun meluncur ke Masjid al-Falah. Jangan dibayangkan masjidnya seperti Istiqlal. Untuk ukuran musholla di kampun…

Patung itu Harus Tetap Berdiri

Pertemuan yang diadakan di Klenteng Boen Bio, Selasa (8/8/17) ini berlangsung secara rapi dengan Mas Aan Anshori, ketua JIAD sebagai moderatornya. Pertemuan ini memang diadakan khusus untuk membicarakan polemik patung Tuban. Bangunan setinggi 30an meter yang disebut-sebut tidak nasionalis dan harus dirobohkan dalam waktu 7X24 jam itu menimbulkan beberapa perbincangan diantara masyarakat. Termasuk oleh aktivis lintas agama malam itu. “Hal ini bukan hanya menjadi masalah bagi masyarakat Tuban, tidak hanya masalah untuk etnis Tionghoa, atau umat klenteng Kwan Seng Bio, melainkan ini adalah masalah bangsa Indonesia”, ujar mas Aan. Kalimat itulah yang berkali-kali disampaikan pria berkacamata itu sebagai bentuk persuasi membangun kesadaran bersama forum masalah-masalah kebangsaan. Masalah ini bisa jadi pemicu masalah lain yang serupa, yang memungkinkan akan muncul di waktu-waktu mendatang. Untuk itulah ini masalah semua masyarakat, semua golongan, semua agama, bukan hanya kepentingan satu …

Beasiswa Short Course Gender dan Seksualitas 29-31 Juli 2017

Kami mengundang Anda yang berminat dalam isu gender dan seksualitas meraih kesempatan beasiswa short course selama 3 hari. Beasiswa yang meliputi; akomodasi selama pelatihan, dan dukungan transportasi lokal ini juga memberikan prioritas kepada Anda yang bekerja/belajar/beraktifitas di institusi/komunitas keagamaan. Hanya 20 orang (khusus JAWA TIMUR) yang akan mendapatkan beasiswa ini.Short course akan diampu oleh Dede Oetomo (founder GAYa NUSANTARA), Vivi Widyawati (feminis), Ahmad Zainul Hamdi (akademisi/aktifis CMaRS), Andreas Kristianto (teolog/GKI), Muhammad Iqbal (CMaRS) dan Aan Anshori (JIAD Jawa Timur). Materi short course meliputi; (1) Seks, Gender, dan Seksualitas; (2) Gender, Seksualitas dan Negara; (3) Gender, Seksualitas, dan Agama, (4) Gender, Seksualitas, dan Budaya, (5) Gender, Seksualitas, dan HAM.Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 29-31 Juli. Jika tertarik, Anda bisa mengisi formulir online di SINI, sedangkan petunjuk pengisiannya bisa didownload di SINI.Bata…

Seratus Orang Angkat Pena soal Tionghoa

Mereka di bawah ini adalah orang-orang yang akan menulis pengalamannya bersinggungan dengan identitas Tionghoa. Ada cerita tentang darah, air mata, selaput kehormatan yang terkoyak, dan juga harapan, mimpi dan kejujuran. Mereka yang tergabung dalam proyek penarasian memori; "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia" ini menulis secara sukarela, demi Indonesia yang lebih beradab.1. Yuliati Umrah, aktifis anak, Surabaya.
2. Supri, GUSDURian Banjarmasin
3. Ellen Nugroho, EIN Institute, Semarang
4. Michael Andrew, Aktivis Roemah Bhinneka dan Mahasiswa S1 Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Non-Frater/Non-Seminaris), Surabaya
5. Pdt. Surya G, GKI Semarang
6. Muhammad Bintang Akbar, mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah UNY, Jogja
7. Freddy Mutiara, dosen Ubaya
8. Willy P Samadhi, aktifis dan peneliti, Yogyakarta.
9. Rovien Aryunia, profesional SDM dan aktivis MAFINDO.
10. Priyo Sambadha, Puan Amal Hayati Ciganjur, Jakarta.
11. Kristanto Tatok, teolog, GUSDURia…