Saturday, May 27, 2017

Sebuah Catatan Pengalaman: Kongres Ulama Perempuan Indonesia dan Persoalan Kemanusiaan

Oleh: Rindang Farihah
Direktur Mitra Wacana WRC, Wakil Ketua PW Fatayat NU DIY

Perempuan adalah Persoalan Umat
Selama ini dalam masyarakat kita seakan-akan perempuan sebagai sumber masalah dari segala masalah. Sehingga banyak upaya dari pihak - pihak tertentu yang ingin melakukan kontrol terhadap perempuan agar tidak menimbulkan masalah di masyarakat. Tafsir agama yang tidak adil gender adalah salah satu faktor saja. Yang pada akhirnya mengakibatkan penderitaan bagi kaum perempuan. contoh  kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, banyak disumbang dari penafsiran teks-teks agama yang tidak adil jender adalah kekerasan dalam rumah tangga; praktek poligami, pemukulan terhadap isteri yang dianggap membangkang, serta upaya pembatasan ruang gerak perempuan atau isteri -- pembatasan baik dalam hal berbusana juga pembatasan ketika hendak keluar rumah (aktif diwilayah publik). Semua itu dikarenakan dia seorang perempuan dan perempuan sumber fitnah.

Sejak diberlakukan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah banyak bermunculan peraturan daerah bernuansa syariah Islam. Di era otonomi daerah di mana pemerintah daerah memiliki kewenangan penuh dalam penyelenggaraan pemerintahan berskala lokal daerah. Dan kewenangan ini mengakibatkan munculnya kebijakan-kebijakan baru di semua daerah.

Namun sayangnya, beberapa pemerintah daerah tampak kehilangan orientasinya. Sebagai pemerintah daerah mereka memiliki kewajiban mewujudkan kesejahteraan sosial dengan pemenuhan kebutuhan dasar warganya. Mereka juga berkewajiban mengupayakan terwujudnya jaminan kebebasan dan perlindungan bagi warganya. Namun demikian, pemerintah justru membuat regulasi yang diskriminatif dan tidak adil.  Hal ini,  bisa kita lihat adanya trend pengesahan perda syariah yang kemudian kita menyebutnya sebagai perda diskrimintif. Jika ditelisik, regulasi lokal ini pada dasarnya merupakan upaya legalisasi negara atas tafsir keagamaan yang tidak adil. Tidak hanya terhadap perempuan, namun juga kelompok minoritas keagamaan –misalnya penganut agama selain Islam.

Saya bisa sebut beberapa contohnya; perda Pelarangan pelacuran  (yang bisa merestriksi perempuan keluar rumah di malam hari) di Tangerang, perda pewajiban memakai jilbab di Bulukumba, qanun khalwat di Aceh dan lain-lain. Semua regulasi tersebut berdampak pada pembatasan ruang gerak perempuan. kasus salah tangkap terjadi ditangerang, menimpa seorang karyawati perempuan, lebih menyedihkan lagi adalah kasus di Aceh. Kasus khalwat yang mana pasangan perempuannya mengalami kekerasan seksual oleh sekelompok orang yang sebelumnya melakukan penggerebekan kepada pasangan yang diduga melakukan khalwat. Data ini menunjukkan, lagi-lagi, perempuan menjadi korban dari sebuah kebijakan.

Kekerasan terhadap perempuan juga menimpa perempuan yang hidup di wilayah konflik perebutan lahan. Konflik perebutan lahan ini dengan para pemodal yang ingin melakukan penambangan dan perusakan lingkungan. Kasus Kendeng adalah contoh di mana para perempuannya dengan mati-matian melakukan perlawanan demi mempertahankan tanah milik nya agar tidak dirusak oleh para pemodal.  Perlawanan mereka ini telah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya mempertahankan lahan, menjaga asset sumber daya alam agar terhindar bencana alam.

Sayangnya, perjuangan perempuan sadar lingkungan ini masih minim mendapatkan dukungan. Saya merasa, situasi seperti ini merupakan akibat dari  kurang menggeloranya kesadaran masyarakat menyangkut persoalan sumberdaya alam. Ditambah lagi,  konflik lahan biasanya terjadi di daerah terpencil, jauh dari akses media sehingga dukungan media sebagai upaya advokasi - kampanye masih minim.

Persoalan -persoalan di atas hanyalah sejumput pasir di atas gurun. Saya mempercayai sejatinya masih banyak persoalan perempuan dan kelompok marginal yang belum terselesaikan dan perlu mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Tidak hanya negara namun juga tokoh agama dan tokoh masyarakat. Penting disadari bahwa  persoalan perempuan adalah persoalan kemanusiaan dan keagamaan.

Harus jujur diakui, saat ini persoalan perempuan seringkali masih berkaitan dengan kehidupan beragamanya. Ajaran agama yang seharusnya mengangkat dan memuliakan manusia (baca: perempuan) sebagai kholifah fil ardh justru membelenggu perempuan, dan menjadikannya sebagai obyek, terdiskriminasi dan tersubordinasi. Dan pandangan seperti ini sedang terus kita kampanyekan secara luas agar muncul kesadaran dan kepedulian dari semua pihak.

Meneguhkan Kembali Peran Ulama Perempuan
Kongres Ulama Perempuan Indonesia ( KUPI) berlangsung di tengah kita pada tanggal 25-27 April 2017. Dalam kongres ini, hadir ulama perempuan dari berbagai wilayah yang ada di Indonesia. Tidak hanya itu para ulama laki-laki pun banyak yang tertarik menghadiri perhelatan ini.

Hal yang patut membanggakan kita semua adalah KUPI dilakukan pertama kali dan dihadiri ulama-ulama perempuan yang berasal dari negara-negara di asia. Saya melihat sekurangnya ada 700an ulama berkumpul di sana, kebanyakan perempuan. Hal ini tentunya menunjukkan ada banyak perempuan yang memiliki kapasitas keilmuan dan kesadaran -- bahwa ada banyak persoalan umat yang membutuhkan jawaban. Agaknya KUPI menjawab situasi ini secara tepat melalui tema yang dipilih; meneguhkan kembali peran ulama perempuan. Karena peran mereka selama hampir tak terlihat dan seakan tenggelam dalam arus peradaban.

Pada kongres ini pemikiran dan gagasan dipertemukan dan  diperdebatkan dalam format pencarian solusi berbasis kebangsaan dan kemanusiaan. Meskipun, dalam forum ini sempat muncul perdebatan seputar definisi ulama. Tarik ulur tak bisa dielakkan oleh karena banyak peserta yang masih meragukan kapasitas masing-masing.

Memang, selama ini kata ulama kerap merujuk  pada kata ‘alim, yaitu seorang yang memiliki pengetahuan, ulama adalah orang yang dianggap menguasai ilmu-ilmu agama Islam. Sehingga wajar jika sempat terjadi kegalauan di antara para peserta terkait apakah mereka layak menjadi peserta dan disebut ulama?

Saya sendiri pada awalnya merasa tidak cukup pantas menjadi peserta kongres, dan sempat ingin mendaftarkan diri sebagai peninjau seperti halnya teman-teman aktifis perempuan dan para ulama laki-laki yang menghadiri kegiatan kongres.
Dalam kongres ini, sempat muncul gagasan meredefinisi kata ulama. Ulama yaitu seseorang yang memiliki pengetahuan dan  keahlian tertentu dan menggunakan keahlian tersebut untuk kemaslahatan umat. Akan tetapi bagi saya, merujuk pada fiqih sosial yang dikenalkan oleh al mukarrom alm. KH. Sahal Mahfudz. Beliau berpendapat, fiqh sebagai hukum islam sudah seharusnya mengalami reinterpretasi makna atas teks yang ada dan disesuaikan dengan konteks sosial. Fiqih menurutnya perlu dihadirkan sebagai panduan etika sosial kemasyarakatan. Fiqih sosial bahkan kadangkala hadir sebagai kritik dan kontrol atas penyimpangan yang terjadi akibat kemerosotan perilaku beragama. Dan dari sinilah kemudian muncul istilah kesalehan individual dan kesalehan sosial. Dan ulama memiliki peran penting dalam mewujudkan kesejahteraan sosial.

Selain itu, merujuk pada Imam As-Subkhi  bahwa mujtahid tidak harus laki-laki, boleh perempuan asal memiliki kualifikasi seorang mujtahid.

Desa Menantang Ulama Perempuan
Terdapat 9 tema berbasis yang menjadi bahan untuk merumuskan pandangan keagamaan dan rekomendasi ulama dalam KUPI. Masing-masing peserta dipersilahkan memilih isu sesuai dengan konsen dan ketertarikannya. Saya sendiri memilih tema pemberdayaan perempuan untuk pembangunan desa yang berkeadilan: perspektif ulama perempuan. Bagi saya, persoalan-persoalan yang ada di desa merupakan cerminan dan cikal bakal persoalan yang dihadapi bangsa ini.

Jika negara merupakan hulu maka desa adalah hilirnya.  Kalau persoalan bisa diselesaikan di tingkat desa maka persoalan dapat dicegah agar tidak membesar.
Sesuai dengan spirit disahkannya UU 6/2014 tentang Desa semua warga desa memiliki kewajiban untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan penganggaran pembangunan desa. Sayangnya selama ini, proses perencanaan penganggaran pembangunan desa banyak mengeksklusi banyak kelompok, dan bahkan tidak sedikit yang tertinggal dalam implementasi pembangunan desa.

Persoalan-persoalan di desa sama rumitnya dengan persoalan di level kenegaraan, hanya saja yang membedakan adalah skalanya, level desa harusnya lebih mudah untuk diselesaikan. Problem pelayanan kebutuhan dasar, pemenuhan hak kesehatan, pendidikan dan layanan administrasi kependudukan masih sulit diakses. Belum selesai persoalan pemenuhan kebutuhan dasar, kita dihadapkan pada persoalan radikalisme di desa. Pencegahan radikalisme ini juga harus menjadi prioritas ulama perempuan dari berbagai latar belakang organisasi keagamaan yang ada di desa.

Pertanyaannya adalah sejauh mana peran ulama perempuan di desa atau mungkin pertanyaan yang hampir sama yaitu sejauh mana eksistensi ulama perempuan di desa? Mampukah ulama perempuan menjadi garda terdepan dalam menangkal radikalisme di desa? Selain mendorong pemerintah desa melaksanakan pemerintahan desa yang inklusif dan akuntabel agar tidak ada warganya yang tertinggal dalam proses pembangunan desa.

Teknologi adalah Koentji!
Satu tema yang menurut saya penting dan belum menjadi fokus pembahasan dalam KUPI adalah pemanfaatkan teknologi informasi dalam berdakwah. Menurut saya ini penting. Jika boleh disebut sebagai sebuah jihad, maka jihad media ini merupakan kewajiban --sebagai tantangan dan juga peluang.

Kita perlu menyadari pertarungan ide dan gagasan akhir akhir ini terjadi media teknologi informasi. Jika media teknologi informasi melalui aplikasi media sosial komunikasi menjadi area pertarungan maka kita harus menyiapkan diri untuk itu. Sebagai alat kampanye dan advokasi, media ini penting kita kuasai agar tidak dikontrol pihak-pihak yang berseberangan ideologi dengan apa yang diperjuangan ulama perempuan Indonesia.

Akhir kata, saya ucapkan selamat dan sukses  kepada Rahima Rumah Bersama, Alimat, Yayasan Fahmina sebagai penyelenggara dan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamiy selaku tuan rumah. KUPI tidak hanya ajang berbagi ilmu dan pengalaman, mempertemukan ide dan gagasan, akan tetapi telah berhasil  mempertemukan para ulama perempuan dengan latar belakang organisasi keagamaan yang beragam namun dengan tekad dan ikrar yang satu yaitu membebaskan umat manusia dari segala bentuk ketidak adilan atas dasar agama, ras, bangsa, termasuk jenis kelamin.(*)

Monday, May 22, 2017

Konstruksi Gelap Pemurtadan Rosnida

NAMA Rosnida tiba-tiba mencuat ke publik. Dosen Fakultas Da'wah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Aceh ini dianggap “mempermalukan” institusi tempat ia mengajar. Doktor jebolan Flinders University ini -bahkan- dituduh telah melukai dan tidak menghormati tradisi Aceh. Media online beraliran kanan menudingnya telah melakukan pemurtadan terhadap mahasiswanya. Kenapa demikian?

Sebenarnya persoalannya “cukup sepele”, Rosnida mengajak beberapa mahasiswanya berkunjung ke salah satu gereja di Aceh. Dalam refleksinya sebagaimana dimuat australiaplus.com, kunjungan tersebut dalam rangka belajar gender dari perspektif agama. Dia sekaligus ingin mengenalkan arti toleransi terhadap agama lain.

Melalui kunjungan itu, dia berharap mahasiswanya lebih bisa memahami keragaman yang ada. Rosnida nampak sekali terkesan dengan kehidupan yang ia alami sewaktu tinggal bersama keluarga Kristen di Adelaide.[3] Dia mengungkapkan pentingnya memahami dan mengenal tradisi agama lain.

Sangat mungkin dia meyakini bahwa koeksistensi sulit terjadi jika tidak saling memahami. Rosnida meniscayakan silaturahmi adalah kunci. Namun dia agaknya lupa jika hidup di Aceh, sebuah etalase penting penerapan syariat Islam formal di Indonesia.

Aceh memang eksotik. Keberadaannya sebagai wajah Islam-normatif tidak henti-hentinya menjadi gunjingan banyak orang. Dalam banyak hal, Islam Aceh terasa masam dan tidak ramah, baik terhadap perempuan maupun kelompok non-muslim.

Pascatulisan reflektifnya beredar di jejaring sosial, ia dikecam banyak orang. Pengecamnya mungkin semakin gusar saat menjumpai foto “intimidatif”dalam tulisan itu; beberapa mahasiswi berderet di bangku gereja, dengan laki-laki tampak berdiri seperti tengah menjelaskan sesuatu. Tidak hanya kecaman, Rosnida juga mendapat ancaman bunuh. Otoritas kampus tempat ia mengajar juga bersiap-siap memberikan sanksi terhadap perempuan ini.

Publik tentu bertanya-tanya, bagaimana mungkin mengunjungi sebuah rumah ibadah agama lain (gereja) mendorong banyak pihak merasa histeris hingga sampai ada yang mengancam-bunuh Rosnida? Bagaimana sesungguhnya potret konstruksi teks suci (al Qur’an) yang dipahami para pembenci tindakan Rosnida?

Mengokohkan Pertahanan
Muslim meyakini al Qur'an merupakan kitab suci, petunjuk bagi pemeluknya. Ia berstatus sempurna dengan masa keberlakuan tak terbatas. Al-Quran sendiri diimani sebagai panduan hidup yang bersifat pasti, mengikat dan selaras jaman (shalih li kulli zaman wa makan). Di dalamnya terdapat banyak ayat yang menyeru penghormatan terhadap keragaman, komitmen menjunjung tinggi -baik keadilan maupun kemanusiaan.

Meskipun demikian, harus diakui bahwa al Quran juga memuat tidak sedikit teks -yang jika dipahami secara literal- terasa problematis dan bernuansa konfrontatif terhadap pemeluk agama/keyakinan lain.
Jika kita percaya setiap ayat mempunyai latar belakang pewahyuannya (asbab an nuzul ), saya menduga teks problematis tersebut diturunkan dalam rangka merespon kejadian tertentu kala itu.

Sungguhpun demikian, jika teks-teks problematis tersebut dikunyah mentah maka pengerasan sikap intolerani di internal muslim akan terjadi. Apalagi jika pengunyahnya mengesampingkan prinsip-prinsip universal -seperti keadilan, kesetaraan, pembebasan dan kemanusian- yang banyak bertaburan dalam al-Quran.

Pembenci aksi Rosnida sangat mungkin mengawali sikapnya dengan mengunci persepsi bahwa umat Islam punya derajat lebih tinggi dibanding umat sebelumnya.[4] Status "beriman (islam)" dan "tidak beriman" merupakan dua kata kunci krusial sebagai pembeda. Dan, terdapat garis demarkasi tegas dengan berbagai konsekuensi yang harus ditanggung. Non muslim derajatnya dianggap “lebih rendah”.

Dalam pidana Islam, jika muslim-merdeka (bukan budak) membunuh muslim-merdeka lainnya, pelaku dikenakan hukum qishash (bunuh). Namun hal ini tidak berlaku jika muslim membunuh kafir.[5] Upaya membentengi solidaritas di internal umat islam dibebat dalam sebuah esprite de corps; persaudaraan sejati dilandaskan pada kesamaan keyakinan.[6]

Sangat kecil -untuk tidak mengatakan tidak ada- celah kebolehan bersekutu dengan non-muslim. Garisnya dianggap sangat tegas dan bersifat oposisi biner; jika tidak bagian dari kami (minna), maka ia berada di kelompok mereka (minhum).

Untuk menjaga kesatuan barisan, seringkali diserukan agar umat Islam tetap berpegang teguh di jalan tuhan.[7] Mereka juga diharuskan memelihara solidaritas dengan cara saling tolong-menolong dalam kebaikan, bukan dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. [8] Tidak ada wilayah abu-abu antara yang beriman dan tidak. Semua dibuat terang.

Mendefinisikan Musuh
Kuatnya pembentengan akidah ini memantik pertanyaan sederhana; siapakah yang dipersepsi sebagai musuh Islam sehingga perlu benteng kokoh seperti ini?

Ada banyak kategori tentunya. Secara umum, tidak sedikit muslim yang mempersepsi musuh Islam adalah para pihak yang tidak mau menerima syariat Islam; menolak bertuhan kepada Alloh dan mengingkari Muhammad sebagai utusannya.

Salah satu tugas penting orang beriman adalah mengajak non muslim untuk masuk Islam. Kita bisa mendapati teks yang mengabarkan jika kelompok Yahudi, Nasrani atau agama Pagan tidak mau berpindah ke Islam, mereka diwajibkan membayar jizyah --semacam biaya untuk mendapatkan proteksi, baik dari serangan musuh atau dalam rangka menjalankan keyakinannya. Diperangi merupakan opsi terakhir seandainya mereka menolak ajaran Islam dan tidak mau membayar jizyah.[9]

Khusus menyangkut Kekristenan, menjadi penting diketahui bahwa sikap al-Qur'an terbaca cukup konfrontatif terhadap siapapun yang mengimani Isa (Yesus) sebagai Anak Allah.[10] Klaim kafir juga siap dilabelkan bagi para pihak yang menyatakan; sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putera Maryam[11], plus terhadap siapa saja yang mengimani bahwa Allah merupakan salah satu dari yang tiga (tsalitsu tsalatsah).[12] Kekristenan yang kukuh dengan pemahaman ini dianggap menyekutukan Allah. Kompensasinya sangat jelas; terkutuk di neraka.[13]

Agaknya, para penentang Rosnida mendapati kenyataan bahwa kebenaran-teks menyangkut posisi Yesus/isa dalam iman kristiani telah terkonfirmasi dengan realitas saat ini. Di Indonesia, ajaran trinitas yang mendasarkan pada pandangan Athanasius dianut oleh banyak denominasi gereja. Athanasius sendiri menjelaskan pandangannya; "that we worship one God in Trinity, and Trinity in unity. Neither confounding the Person, nor the dividing the substance (essense). For there is one Person of the Father, another of the Son, and another of the Holy Ghost. But Godhead of the Father, of the Son and of the Holy Ghost is all one, the glory equal, the Majesty coeternal”. [14] Terjemahannya kira-kira demikian, "Kita menyembah satu Allah dalam ketritunggalanNya, dan ketritunggalan dalam keesaanNya, tanpa mencampurbaurkan kepribadian, dan tidak memisahkan hakikatnya. Karena di sana ada satu pribadi dari Bapa, yang lain dari Anak, dan yang lain dengan Roh Kudus. Tetapi Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah Esa dengan kemuliaan yang sama dan kewibawaan yang sama kekalnya" [15]

Dalam ajaran ini, kekristenan telah mendeklarasikan teologinya; Tuhan itu Esa dengan 3 kepribadian. Yesus dianggap pribadi otonom yang sehakikat dengan Allah Bapa maupun Roh Kudus. Meskipun demikian, bagi yang terbiasa berlogika biner, konsep trinitas mungkin terasa agak membingungkan. Mereka yang sejak awal tidak hendak membuka pikirannya akan serta-merta mendapati kesan ada tiga tuhan. Lebih jauh, kesan ini telah dianggap cukup mengkonfirmasi status kekafiran agama Kristen.

Saat Nabi ditanya para sahabat perihal jalan lurus (shirat al mustaqim)[16], Nabi mengkonfirmasi bahwa ketidaklurusan itu merujuk pada Yahudi dan Nasrani.[17] Tidak berhenti sampai di situ, kelompok kafir juga tercitrakan miring, setidaknya jika kita membaca literal beberapa ayat lain dalam al-Quran. Kelompok ini dianggap mempunyai penyakit kronis dalam hati menyangkut keimanan.[18] Status fasik (perverted transgressor) juga akan disematkan bagi siapapun yang mengingkari ajaran Islam.[19]

Orang Kafir juga diumpamakan sebagaimana ternak yang tidak menggubris gembalanya disebabkan ketulian, kebisuan dan kebutaan mereka.[20] Selain dianggap sebagai orang yang tidak bisa dipercaya[21], mereka digambarkan laksana makhluk terburuk (dawaab) di sisi Allah, karena kekafirannya.[22] Kebaikan apapun, sepanjang dilakukan oleh seorang kafir dianggap tidak akan berarti apapun. Sebagaimana debu yang ringkih saat angin merenggutnya.[23]

Stigmatisasi terhadap kelompok kafir, terutama Kristen juga dilanggengkan dengan cara menanamkan sejak dini bahwa melihat orang yang disalib (yandzuru al mashlub) menyebabkan muslim mudah lupa dalam belajar.[24]

Dua Ujung Tombak
Berbagai deskripsi minor atas non-muslim tersebut masih dipertegas melalui seruan agar muslim tidak mencintai orang-orang yang menentang Alloh dan Rasulnya, meski sekalipun penentang tersebut merupakan bapak, ibu atau keluarganya.[25] Dalam al-Quran juga ditemukan dua hal penting menyangkut bagaimana 'seharusnya' muslim bersikap terhadap non-muslim.

Pertama, tidak menjadikan non-muslim sebagai teman, apalagi memposisikan mereka sebagai pemimpin umat Islam.[26] Orang beriman diperingatkan keras untuk tidak sekali-kali mengambil teman kepercayaan dari kalangan luar Islam (kafir). Pasalnya, mereka dipersepsi lebih senang melihat muslim menderita. Meskipun non-muslim terlihat baik namun kebencian dan apa yang tersembunyi di hati mereka jauh lebih besar.[27] Orang-orang kafir dianggap musuh nyata [28], dan penolong setan untuk melawan tuhannya.[29] Kebencian serta permusuhan diantara orang beriman dan kafir akan tetap abadi selamanya sampai orang kafir masuk Islam.[30]

Kedua , muslim “diperintahkan” untuk memerangi dan berbuat keras terhadap orang kafir yang ada di sekitar muslim. [31] Tuntunan bersikap keras (asyidda’) terhadap orang kafir dan berkasih sayang kepada sesama muslim juga termaktub dalam al-Quran.[32]

Bagi para pembenci Rosnida, upaya terakhir 'melindungi kesucian' identitas umat Islam dari anasir-anasir non-muslim diwujudkan dalam bentuk pemberlakuan sanksi tegas. Mereka yang melanggar garis demarkasi dianggap sama dengan musuh. Menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin atau teman kepercayaan membuat muslim sama seperti mereka.[33] Status kemuslimannya terenggut karena dianggap telah keluar dari Islam (riddah ). Perlu diketahui, kemurtadan merupakan pidana serius dalam islam, selain pembunuhan dan pemberontakan. Pelakunya bisa dikenai hukuman mati.

What's Next?
Ayat-ayat di atas jelas akan memantik silang pendapat di kalangan umat Islam sendiri. Yang tidak setuju cara baca-literal akan berupaya keras 'menyelaraskan', atau bahkan menutupinya sembari menuding pengecam Rosnida sebagai pihak yang justru mempermalukan Islam.

Bagi mereka yang memilih literalis, maka akan terus mewariskan pemahamannya sembari meyakini Islam tidak hanya merupakan al-din (agama) namun juga al-daulah (negara).

Teks-teks problematis-konfrontatatif tersebut bisa kita anggap semacam pecahan berlian. Jika kita gagal memperlakukannya secara bijak, maka akan menorehkan luka bagi banyak orang.

Saya sendiri lebih memilih membingkai dan menjadikan ayat-ayat di atas sebagai bahan renungan; benarkah Tuhan sungguh memerintahkan kita berbuat buruk terhadap sesama hanya karena perbedaan keyakinan? Saya tidak percaya Tuhan akan sepicik itu.

Wallohu a’lam (*)

_________________________________

[*] Pernah dimuat di situs resmi Pesantren Tebuireng – dan dibaca lebih dari 2.000 kali- sebelum akhirnya dibredel tanpa pemberitahuan kepada saya, cek http://tebuireng.org/konstruksi-gelap-pemurtadan-rosnida/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter
[2] Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur, GUSDURian, peneliti di Pusat Kajian Pesantren & Demokrasi (PKPD) Tebuireng Jombang. Kontak 08155045039 | aan.anshori@tebuireng.org – aan.anshori@gmail.com | @aananshori
[3] Oasis 2013 Inspiring Hospitality and Well Being, Flinders University, hal 14.
[4] QS.3:110
[5] Pandangan ini dianut oleh Syafii, Maliki dan Hambali. Agaknya pendapat ketiganya didasarkan pada peristiwa penikaman terhadap seorang ummu walad oleh majikannya sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abbas. Lihat Sunnah Abu Dawud,
Book 38, Number 4348 http://www.usc.edu/org/cmje/religious-texts/hadith/abudawud/038-sat.php . Namun Imam Abu Hanifah berpandangan lain. Meski tidak diqishash – menurut Hanafi- pelaku tetap harus dipenjara. Lihat Dr. Musthafa Dib Al-Bugha, Al-Wafi: Syarah Hadits Arbain Imam An-Nawawi , Mizan, 2007, hal 141. Belakangan, cendekiawan muslim seperti Mahmut Syaltout berpendapat muslim yang membunuh siapapun harus diqishash,
[6] QS. 49:10
[7] QS. 3:103. Dalam Tafhim al-Qur’an , Al Maududi mendefinisikan
hab li allah sebagai berikut; “Allah's cord" is the way of life prescribed by Him. It is a "cord" because it keeps intact the relations of the Believers with Allah and also binds and unites them into a community, http://www.englishtafsir.com/Quran/3/index.html Akses 12 Januari 2015.
[8] QS. 5:2
[9] QS. 9:29
[10] QS. 9:30
[11] QS. 5:17
[12] QS. 5:73
[13] QS. 10:70
[14] An Ancient Profession of Faith in the Trinity From the "Athanasian" Creed, http://www.ewtn.com/faith/teachings/GODC2.HTM Akses 11 Januari 2015.
[15] Yohanes BM, Pengantar Ajaran Tentang: Trinitas, http://yohanesbm.com/index.php?option=com_content&task=view&id=103 Akses 11 Januari 2015
[16] QS. 1:6-7
[17] Bukhari Vol.4 56:662
[18] QS. 2:10
[19] QS. 2:99, QS. 3:110.
[20] QS. 2:171
[21] QS. 3:73
[22] QS.8:55
[23] QS. 14:18
[24] Az-Zarnuji, Terjemah Ta’lim Muta’allim , Mutiara Ilmu, hal 101.
[25] QS. 58:22
[26] QS. 5:51
[27] QS.3:118
[28] QS.4.101
[29] QS.25:55
[30] QS.60:4
[31] QS. 9:123
[32] QS. 48:29 Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menautkan ayat tersebut dengan QS.5:54
[33] QS. 5:51

Dari mana Pesona Lady Sukayna Bermula?

TULISAN SAYA tentang kontroversi Lady Sukayna al-Husayn diakses lebih dari 6000 kali dalam waktu kurang dari 10 hari. Terima kasih.  Ini rekor baru melampaui artikel lain saya, Mewahidkan Nusron.

Ada banyak yang belum bisa menerima potret Lady Sukayna dalam tulisan tersebut. "Mana mungkin cicit Nabi bisa sesembrono itu? Tidak patuh pada suami dan mempermalukan keluarga besarnya," kira-kira demikian.

Faksi ini berusaha sekuat tenaga menolak citra-sungguh Sukayna karena berbeda dengan imajinasi idealitas perempuan/istri yang selama ini ada.

MADINAH KOTA RAMAH GENDER
Encyclopaedia of Islam tidak menyebut pasti di mana Sukayna lahir dan kapan. Ini agak aneh mengingat buku berjilid-jilid ini dikenal cukup komplit. Namun berpijak pada wilayah di mana keluarga Sukayna hidup
sebelum Peristiwa Karbala, maka saya meyakini Sukayna lahir dan besar di Madinah

Anda tahu, pada zaman Nabi, Madinah dikenal unik dan sangat kontras dengan Makkah dalam hal kuatnya kultur patriarkhal. Madinah lebih kosmopolit dan -katakanlah- relatif sensitif gender. Para perempuannya lebih ekspresif, laki-lakinya tidak bebal dan egois. Bahkan transgender bisa hidup berdampingan dan malahan bersosialita dengan para istri
nabi

Sedangkan Makkah justru sebaliknya. "We men of Quraysh dominate our women," kata Umar bin Khattab. Itulah kenapa ia kaget dan gusar sekali mendapati perempuan Madinah yang dianggap suka membantah laki-laki dan protesan. Misalnya saja, dalam hal nusyuz atau seputar tarik-ulur kebolehan suami menyodomi istri.

"When we arrived in Medina we saw that Ansar let themselves be
dominated by theirs. Then our women began to copy their habits,"
kritik Umar seperti direkam Sahih Bukhari dalam hadith panjang yang
dinarasikan Abdullah bin Abbas.

Umar memang pantas kuatir karena istrinya sendiri, yang diam-diam
ternyata mengagumi style perempuan Madina, sudah berani memprotesnya ketika merasa diperlakukan tidak adil. Umar dikenal resisten terhadap
gaya egalitarian Nabi terhadap perempuan. Kelak saat menjadi khalifah kedua, Umar dikenal memiliki kebijakan cukup represif terhadap perempuan.

Fetima Mernissi sendiri membungkus cara pandang Umar bin Khattab kira-kira demikian; Islam hanya mengatur urusan publik dan
spiritualitas an sich. Sedangkan urusan privat --rumah tangga, tetap
disandarkan sepenuhnya pada tradisi pra-Islam, yang misoginis
sebagaimana saat ini. Bagi saya, perspektif Umar ini merupakan langkah mundur.

Nah, Lady Sukayna hidup dalam sisa-sisa kejayaan feminisme awal Islam Madinah.

DIRAWAT AJARAN MUHAMMAD
Di samping itu, ia juga tumbuh dikelilingi komunitas ahl al-bayt yang terkenal pandai merawat warisan ajaran positif buyutnya, Muhammad SAW, termasuk dalam hal bagaimana memperlakukan perempuan.

Nabi diceritakan bukan tipikal suami yang antikritik dari para istrinya. A’isha, istri Nabi, pernah memprotes suaminya karena dianggap tidak sensitif gara-gara sering menceritakan mendiang Khadijah dihadapannya.

Hafsa, istri nabi yang lain, pernah merajuk pada suaminya. Ketika Umar bin Khattabm ayah Hafsah, meminta Nabi menggunakan cara laki-laki Quraisy untuk menundukkan istri-istrinya, Nabi hanya tersenyum, emoh mengikuti saran Umar.  .

Nabi bahkan pernah dikabarkan meminta Umar berhenti memukul
perempuan-perempuan yang ikut takziyyah ke makam Ruqayya, putri Nabi. Umar rupanya tidak suka melihat perempuan menangis-duka di kuburan. "Let them weep, Umar. But beware of braying of Satan" cegah Nabi.

Lady Sukayna juga sangat mungkin tahu cerita betapa buyutnya, Muhammad SAW, membiarkan rombongan perempuan Madinah dan Makkah berjalan di depan rombongan laki-laki Anshar dan Muhajirin saat mengarak perkawinan nenek-kakeknya, Fatimah-Ali, menuju masjid Madinah.

Formasi perempuan di depan laki-laki, menurut saya, merupakan simbol 'sepele' yang punya makna serius dalam arus besar perubahan yang dinginkan Islam seputar relasi laki-laki dan perempuan, sebelum akhirnya dibonsai Umar.

Pendek kata, Lady Sukayna tumbuh dan berkembang dengan hal-hal itu.

Disamping itu, saya meyakini ia secara khusus mewarisi keberanian dari bapak dan ibunya. Al-Husayn, bapaknya, dikenal sosok pemberani dan ekspresif dalam menyatakan ketidaksetujuannya pada rezim Umayyah, ketimbang kakaknya –al-Hassan- yang cenderung pacifis dan
kompromistis.

Meski ibunya meninggal dunia setahun pasca-Karbala, karena kedukaan mendalam ditinggal suaminya, namun darah seni ibunya mengalir deras di nadi Lady Sukayna. Itu pula yang menjelaskan alasan nama Sukayna terbakukan dalam A History of Arabian Music to the XIIIth Century karya George Farmer.

Di buku ini, ia tercatat sebagai sosok penting supporter kesenian, bersama-sama nama-nama lain, seperti A'isha bint Abu Bakar, al-Hasan, Sa'ad bin Abi Waqqas, A'isha bint Sa'd, Mus'ab bin al-Zubair, A'isha bint Talhah, dan Abdallah ibn
Ja'far.

ANTARA ZAYNAB DAN KARBALA
Pelacakan saya menunjukkan Peristiwa Karbala tidak bisa diabaikan dalam pembentukan watak dan karakter Lady Sukayna. Karbala merupakan tragedi pembantaian massal keluarga Sukayna oleh rezim Umayyah yang dipimpin Yazid I. Perbedaan pandangan politik menyebabkan lebih dari 70an orang terbunuh mengenaskan, termasuk ayahnya sendiri dan 17 orang saudara Sukayna.

Sukayna ada di sana menyaksikan kekejaman itu.

Dia bersama yang selamat –kebanyakan perempuan—ditawan dan mengalami berbagai pengalaman yang tidak mengenakkan. Dengan tubuh terluka, mereka diarak menuju Kufah -170 km utara Baghdad Irak. Tawanan perempuan dipaksa tidak mengenakan burqa untuk dipermalukan di hadapan
publik. Yang lebih menyesakkan, mereka diarak bersama puluhan penggalan kepala milik ayah dan saudara-saudaranya.

Ada sosok penting yang juga ikut ditawan, yakni Lady Zaynab, tantenya Sukayna, cucu Nabi Muhammad. Zainab dikenal sebagai the heroine of Karbala mengingat jasa besarnya melindungi para tawanan. Dia tidak hanya seorang ibu rumah tangga handal namun juga seorang intelektual cum tukang debat handal dengan keberanian mengagumkan.

Historikus seperti Badr Shahin dan Ibrahim Muhammad Khalifeh mendeskripsikannya 'She was marvellous in intelligence and cleverness".

Kepiawaiannya berdebat dan orasi pernah ditulis oleh Ali Qa'emi,
sebagaimana dikutip Peter Chelkowski, "There was no other more eloquent woman than Zaynab; when she spoke, men held their breath. One person who heard her speak said, 'I swear to God that I have never heard a woman with such lucid, clear, and accurate language and such logical rhetoric in my life,"

Zaynab mendemonstrasikan kemampuan-kemampuannya ini untuk melindungi dan membebaskan para tawanan dari rezim Yazid I. Beberapa kali ia
bentrok argumen dengan khalifah Yazid I dan lingkaran elitnya di
hadapan publik maupun pengadilan.

Sewaktu para tawanan dan yang tewas dihadapkan ke pengadilan, Khalifah Yazid hadir dan menginspeksi jejeran kepala di lantai sembari memukul-mukulkan tongkatnya ke kepala-kepala tersebut. Rupanya Yazid terganggu saat mendengar ada yang keberatan atas tingkahnya itu.

Siapa perempuan arogan ini? “ Yazid bertanya keras ke kerumunan
perempuan yang juga hadir menyaksikan.

Lady Zaynab langsung berdiri, menghampiri Yazid face to face, "Kenapa tanya ke mereka? Tanya langsung ke aku dong. Aku kasih tahu; Aku adalah cucu Muhammad, anak Fatimah. Ayo mau tanya apa ke aku, Yazid?"

Pengunjung sidang sontak tercengang dengan keberanian Zaynab yang terus berorasi menyatakan sikapnya.

Ia juga sengit melawan petinggi anak buah Yazid yang meminta Fatimah bint Husayn, tawanan perempuan paling muda (dan cantik), saudari Lady Sukayna, untuk dijadikan selir/istri. “Orang Damaskus tidak pantas
(worthy) dan juga tidak punya otoritas untuk itu,” ketus jawabnya.

Mendengar hal tersebut, Yazid langsung berusaha membela anak buahnya dengan mengatakan dialah yang berwenang dan satu-satunya orang yang bisa menentukan semuanya di sidang. Dengan sinis, Lady Zaynab membalasnya, “You, a commander who has authority, are vilifying unjustly and oppress with your authority,"

Masih banyak sekuel indah perlawanan Lady Zainab pasca-Karbala yang saya yakini disaksikan para keponakannya, termasuk Lady Sukayna. Kita rasanya tidak akan kesulitan membayangkan betapa kuatnya pengaruh peristiwa-peristiwa ini menggurati pribadi Lady Sukayna saat dewasa .

Apalagi, setelah para tawanan dibebaskan, Lady Zaynab mengajak Sukayna menjelajahi Mesir dan menetap di sana beberapa tahun. Gubernur Mesir menjadikan Zainab sosok penting sebagai sumber pengetahuan bagikeluarga dan warganya.

ANTIBIOTIK POLIGINI
Dalam konteks poligini, saya punya hipotesis personal; semakin
perempuan punya posisi tawar --terutama dari aspek ekonomi atau status sosial, serta pendidikan dan keberanian, maka (harusnya) semakin kecil kemungkinan ia bersedia dimadu. Saya menyebutnya sebagai tiga
antibiotik poligini.

Beberapa perempuan kontemporer yang memiliki antibiotik ini ini, saya
kira, adalah Dewi Yull dan Maia Esthianti. Keduanya menolak tunduk
pada hasrat-kuno-laki-laki yang ditawarkan suami mereka; Ray Sahetapy dan Ahmad Dhani.

Dari mana Sukayna memiliki antibiotik ini? Harus diakui terdapat
banyak versi kisah hidup Sukayna. Namun saya belum pernah menemukan cerita di mana ia hidup meringkuk di bawah rezim poligini. Belum pernah. Dugaan saya, monogami adalah prinsip utama perempuan ahl al-bayt –yang mewarisi darah suku Quraish.

Perempuan Quraish dikenal tangguh, terhormat, dan punya self esteem kuat. Dengan kualifikasi mentereng seperti itu, amatlah wajar jika perempuan Quraysh punya kontrol penuh pada dirinya untuk menentukan; dengan siapa mereka menikah dan bagaimana mereka ingin diperlakukan. Beberapa dari mereka malah dikenal punya banyak suami (tidak dalam arti poliandri), misalnya Khadijah dan Sukayna.

Saya melacak dua perempuan Qurays yang kemungkinan besar menjadi patron Sukayna dalam monogami; Khadijah bint Khuwaylid –buyutnya,
istri Muhammad SAW, dan Fatimah bint Muhammad –neneknya, istri dari Ali bin Abi Thalib. Keduanya berhasil membangun keluarga monogami hingga akhir hayat.

Lebih jauh, Khadijah malah justru terlihat sangat percaya diri menyatakan perasaan cintanya pada Muhammad. Beginilah ucapannya saat bertemu Muhammad atas jasa Nufaysa, teman Khadijah yang juga mak
comblangnya.

"O son of my uncle! I love you for your kinship with me, and for that
you are ever in the center, not being a partisan among the people for
this or for that. And I love you for your trustworthiness, and for the
beauty of your character and the truth of your speech."

Saya kira, hanya perempuan pilih-tandinglah yang berani menyatakan
gejolak hatinya tanpa pernah merasa minder menerima resiko penolakan.

Prinsip “ogah-dimadu” juga diikuti oleh Fatimah, putri Khadija dan
Nabi. Saat mengarungi biduk rumah tangganya dengan Ali, ia tidak
terima akan dipoligini, dan melaporkannya ke Muhammad SAW. Nabi kemudian mengatakan siapapun yang menyakiti Fatimah berarti menyakiti dirinya. Ali pun surut. Belakangan, setelah Fatimah tiada, Ali melakukan poligini.

Lady Sukayna –sebagaimana Khadijah, Fatimah dan tantenya, Lady Zainab- dikenal antipoligini. Ia bahkan terkesan melampaui zamannya dalam upaya melindungi hak-haknya dalam perkawinan. Sulit membayangkan ada perempuan yang sukses bernegoisasi dengan laki-laki terkait monogami hingga level perjanjian pra-nikah. Tidak mudah juga menemukan
perempuan di Semenanjung Arabia pada tahun 700an masehi yang berani membawa laki-laki ke pengadilan gara-gara kepergok selingkuh.

KABUT “TAK BER-CHADOUR"
Integritas, keberanian, dan intelektualitas Lady Sukayna bahkan
mengilham berdirinya sebuah majlis taklim perempuan di Rawalpindi
Pakistan, semacam forum khusus di mana anggotanya bisa bertukar
gagasan, menyanyikan pujian, bahkan menghelat perayaan bagi Lady Sukayna. Rata-rata mereka tidak memakai burqa, jilbab atau chadour -pakaian khas yang biasa dikenakan perempuan Iran.

Detil ringan yang belum terpecahkan hingga saat ini adalah Lady Zaynab
digambarkan selalu memakai chador, dan jika sosoknya begitu kuat memahat kepribadian keponakannya, kenapa Lady Sukayna memilih tidak
berchadour? Apakah ini berkaitan dengan pengalaman pahitnya saat
dipaksa tidak berhijab oleh tentara Yazid? Apakah ia tengah melawan
sesuatu dengan menjadi barza? Ikuti tulisan selanjutnya. Wallohu
a’lam.

Bahan Bacaan

1. Mernissi, F., 1996. Women's rebellion & Islamic memory.

 2. Mernissi, F., 1991. The veil and the male elite: A feminist
interpretation of women's rights in Islam. Basic Books.

 3. A. Arazi, Sukayna bt. Al-husayn, Lewis, B. and Pellat, J.S., The
Encyclopedia of Islam, vol. VIII, (Leiden: EJ Brill & London:
Luzac&Co, 1971).

 4. Bahrul Uloom, Mohammad, the Tale of the Martyrdom of Imam Hussain: "The Kerbala Epic", [translation by Najim al-Khafaji], London : AB Cultural Institute for Arabic, 1977.

5. Pinault, D., 1998. Zaynab Bint Ali and the Place of the Women of
the Households of the First Imams in Shi'ite Devotional Literature.
Women in the Medieval Islamic World, ed. Gavin RG Hambly (New York: St. Martin's, 1998), pp.80-81.

6. Hyder, S.A., 2006. Reliving Karbala: Martyrdom in South Asian
Memory. Oxford University Press.

7. Aisha Othman, Reflections of a Wayfarer: Poetry of Islamic
Excellence, 2010, ISBN: 9781452007472.

8. Abd al-Malik Ibn Hishām and Isḥāq, M.I., 1967. The life of
Muhammad. Pakistan Branch, Oxford University Press.

9. Talhami, G., "Sukayna". 2012. Historical dictionary of women in
the Middle East and North Africa. Scarecrow Press.

10. Farmer, H.G., Weir, R., MA, B. and GRATITUDE, I.T.O., 1929. A
History of Arabian Music to the XIIIth Century.

10. Hamdar, A., 2009. Jihad of Words: Gender and Contemporary Karbala Narratives. The Yearbook of English Studies, pp.84-100.

11. Chelkowski, Peter. "Iconography of the Women of Karbala: Tiles,
Murals, Stamps, and Posters." The Women of Karbala: Ritual Performance and Symbolic Discourses in Modern Shi'i Islam, ed. Kamran Scot Aghaie (Austin: U of Texas P, 2005)

12. Rowson, Everett K. "The Effeminates of Early Medina." Journal of the American Oriental Society 111, no. 4 (1991): 671-93.

13. Stowasser. B.F., 1994. Women in the Qur’an, Tradition, and Interpretation. Oxford University Press.
 
14. Abbas, Shemeem Burne, “Sakineh The Narrator of Karbala: An
Ethnographic Description of a Women's Majles Ritual in Pakistan”, in Aghaie, Kamran Scot, ed. The Women of Karbala: Ritual Performance and Symbolic Discourses in Modern Shi'i Islam. University of Texas Press,
2009.

15. W. Montgomery Watt, "Khadija", the Encyclopaedia of Islam,
Brill-Leiden, Vol.IV.

16. L. Veccia Vaglieri, "Fatima", the Encyclopaedia of Islam New
Edition, Vol.II. p.841-859, Brill-Leiden.

17.  L. Veccia Vaglieri, "Husayn N. 'Ali B. Abi Talib", The Encyclopaedia of Islam New Edition, p.607-615, Brill-Leiden

18. Al-Mufid, S., 1981. Kitāb al-irshād: the Book of Guidance into the Lives of the Twelve Imams. Tahrike Tarsile Quran. Translated by I.K.A. Howard, University of Edinburgh

19. Hatab, Z., 1978. Evolution of the Structures of the Arab Family.
Al-Raida Journal, pp.8-9.

20. Dictionary, M.W.S.C., 1996. Merriam-Webster. Incorporated 10th
edition edition.

21. Aceh, A., 1971. Sekitar Masuknja Islam ke Indonesia. Ramadhani.

22. Hilloowala, Y., 1993. Women's role in politics in the medieval Muslim world.

23. Madelung, W., 2012. Husayn B.‘Ali: Life and Significance in Shi
‘ism. This is an edited version of an article originally published in the Encyclopedia Iranica on December 15, 2004 available at http://www.
iranicaonline.org; print, 12, p.2.
   

24. “Sukayna”, http://en.mobile.wikishia.net/view/Sukayna

25. Yasin T. Al-Jibouti, “Khadijah bint Khuwaylid”,
https://www.al-islam.org/articles/khadijah-daughter-khuwaylid-wife-prophet-muhammad-yasin-t-al-jibouri

26. Aan Anshori, “Warna-warni Waria Zaman Nabi; Dari Makcomblang
hingga Pengusiran”,
http://www.rappler.com/indonesia/124228-waria-zaman-Nabi-muhammad

26. Book of Oppression, No. 2468, Sahih Bukhari,http://sunnah.com/bukhari/46/29

Thursday, May 18, 2017

KUPI Dan Perjuangan Panjang Kaum Tertindas

Kata KUPI mirip dengan 'kopi'. KUPI sendiri singkatan dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia. Ketika kami berangkat ramai-ramai dengan semangat membara dari Jombang menuju Cirebon lewat jalur utara (kota Babat) karena di jalur selatan sudah tidak ada lagi tiket, ada seorang saudara lelaki yang bilang begini; "Wah ikut KUPI pasti tidak ngantuk karena minum kopi terus,"

Kami berempat dari Jombang  menanggapi komentar tadi dengan senang dan sebagai penyemangat agar kami bisa mengikuti kegiatan ini dengan baik sampai selesai.

Susah payah mencari tiket adalah keberuntungan bagi kami karena semula kami akan berangkat berlima, namun seorang yang lain tidak kebagian tiket akhirnya tidak jadi berangkat.

Kereta yang kami tumpangi bernama HARINA. Karena tidak kebagian tiket eksekutif akhirnya kami berempat membeli tiket bisnis, itu pun tidak bisa satu gerbong. Bagi kami tak apa, yang penting kami bisa sampai tujuan dengan lancar dan tidak ada halangan apapun.

Perjalanan Jombang-Cirebon  membutuhkan waktu 6 jam. Bagi kami perjalanan itu tidak terlalu jauh, apalagi melelahkan. Yang memberatkan adalah meninggalkan suami, meninggalkan santri, mengajar/mengaji dan tugas keseharian yang lain selama 4 hari.

Bahkan ada seorang sepupuku rela meninggalkan joko kecil-nya yang mau dikhitan demi KUPI. Adalah suami-suami yang baik yang merelakan para istri pergi tholabul ilmi di perhelatan pertama di dunia ini. Terima kasih suamiku, Anda adalah lelaki sejati yang tidak egois, tidak hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri, akan tetapi lelaki pejuang yang  peduli terhadap kepentingan agama dan bangsanya ---sebagaimana ajararan Rosululloh SAW. Tanpa dukunganmu aku adalah perempuan yang (di)lemah(kan).

Mungkin sama dengan peserta yang lain, ketika saya mendaftarkan diri sebagai peserta dan harus mengisi data, saya ragu-ragu; layakkah saya masuk dalam kategori ulama --apalagi menjadi peserta kongres?

Tanggal 25 Mei 2017 adalah hari yang membuat saya sangat bergetar dan bersemangat untuk bangkit kembali menyuarakan isu perempuan. Sebagai catatan, pada tahun 1990-2000 saya pernah aktif bersama P3M dan selanjutnya bersama Rahima.

Pada hari pertama saya mengikuti seminar internasional di IAIN Cirebon sebagai penggembira dan pada malam hari saya mengikuti pembukaan kongres di pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon.

Sambutan ketua panitia Dr. Badriyah Fayumi dan pengasuh Pesantren Kebon Jambu, ibu Nyai Masriyah Amfa, membuat batin saya tersentak dan ingin bangkit lagi. Saya semakin sadar bahwa betapa uluran tangan dan pikiran kita sangat dibutuhkan untuk membela nasib kaum perempuan yang termarginalkan serta masih dianggap manusia nomor dua!

Demi kemaslahatan hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara, sambutan yang indah dan renyah untuk didengarkan. Dan yang membuat pembukaan kongres lebih sempurna adalah sholawat Samawa dan Musawa yang didendangkan para santriwati yang cantik nan salehah.

Beberapa hal yang sempat terekam oleh ingatan saya mulai dari pembukaan hingga penutupan adalah; pertama, kenapa disebut KUPI? Karena di Indonesia kalau disebut ulama, pasti berjenis kelamin laki-laki. Padahal, keulamaan perempuan sudah dimulai sejak zaman Nabi.

Di arena KUPI inilah perempuan mendeklarasikan diri untuk menunjukkan eksistensi keulamaannya. Ulama perempuan eksis dan akan eksis terus untuk menciptakan cita-cita Islam. KUPI datang karena keterpanggilan Islam dan sejarah. KUPI milik bersama dan berusaha mewujudkan cita-cita besar dan impian bersama.

Kedua, bahwa persoalan diskriminasi, kooptasi serta perendahan terhadap perempuan adalah massif terjadi. Kita wajib ikut memikirkan sekaligus memperjuangkan agar perempuan segera bisa keluar dari jerat tersebut --sebagaimana yang diperjuangkan Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, maraknya pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak-anak adalah masalah besar yang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memeranginya. Kita perlu mengusulkan kepada pemerintah dan pembuat UU agar segera membuat peraturan supaya pelakunya ditindak seberat- beratnya. Maraknya pelecehan lebih karena lemahnya UU negara kita sehingga dampaknya terhadap anak-anak dan perempuan sangat besar dan panjang.

Betapa hati ini sangat tersayat ketika ada peserta KUPI dari belahan bumi Sumatera melaporkan bahwa ada seorang laki-laki di daerahnya memperkosa lebih dari 5 anak dan beberapa perempuan remaja. Lima dari mereka kini hamil. Bagaimana cara meminta pertanggung jawaban? Apabila harus mengawini yang satu bagaimana nasib yang lain? Apalagi pelaku tersebut bukan termasuk laki-laki berada secara ekonomi.

Padahal, mengawinkan pelaku dengan korban pemerkosaan sama dengan menjerumuskn mereka dari satu lubang buaya ke lubang buaya lainnya.

Keempat, persoalan lain yang juga menghebohkan adalah masalah perkawinan bawah umur. KUPI merekomendasikan kepada pemerintah agar usia perkawinan dinaikkan menjadi 18 tahun. Perdebatan pun terjadi karena kenyataan di lapangan juga tak semudah memukul palu dalam menentukan UU.

Oleh karena itu, yang harus diupayakan adalah menyadarkan masyarakat kita; sadar pendidikan, sadar kesehatan, sadar pentingnya kesejahteraan keluarga, dan kesadaran-kesadaran kritis lainnya. Bagi saya, peran ulama perempuan sangatlah penting untuk ikut membangun kesadaran-kesadaran tersebut.

Selain itu, dari presentasi ibu Dr. Rofi'ah dan K.H. Husein Muhammad saya sempat mencatat beberapa hal, antara lain; pertama, peran iman dan takwa (tauhid ) dalam memperlakukan ma'ruf (baik) kepada perempuan. Pertanyaan kritisnya; kenapa seringkali terjadi perlakuan tidak ma'ruf terhadap perempuan oleh orang yang mengerti tentang ajaran keimanan dan ketakwaan? Misal KDRT, poligami, kooptasi, pemaksaan untk hubungan seks --padahal kondisi istri sedang sakit atau lelah, dan kekerasan-kekerasan lainnya dengan mengatasnamakan ajaran agama.

Kedua, pentingnya keadilan substantif bagi perempuan agar mendapatkan hak sepenuhnya. Sebab, ketika KEADILAN itu HILANG maka korban yang paling berat adalah perempuan.

Ketiga, pentingnya pemahaman teks yang akomodatif terhadap perempuan agar kaum perempuan juga turut aktif membela haknya dan kaumnya. Harus kita akui, perempuan masih sering terjerat problem internal maupun eksternal

Keempat, bahwa pada kenyataannya perempuan itu terus-menerus direndahkan karena sistem, misalnya sistem/struktur sosial PATRIARKI (al-Abawi). Al-Abawi adalah sebuah sistem yang meletakkn laki-laki sebagai penentu kebijakan/otoritas apapun -- baik dalam rumah tangga maupun masyarakat.

Lebih lanjut, dalam sistem ini, perempuan dinafikan pendapatnya. Perempuan hanya menerima apa kata laki-laki. Sistem ini berbau jahiliyah yang oleh karenanya harus dikritisi dan dilemahkan. Jika tidak, hal itu akan mengembalikan nasib perempuan pada era jahiliyah (jahiliyah modern) dan perjuangan Islam akan sia-sia.

Sebagai kata akhir dalam catatan ini, rasa syukur kepada Allah SWT. dan terima kasih kepada panitia yang menunjuk saya sebagai salah satu pembaca Ikrar Keulamaan Perempuan. Terima kasih pula kepada yg meminta saya memberikan testimoni tentang kongres ini. Dalam testimoni itu saya mengatakan bahwa KUPI bukan sekedar konggres, akan tetapi saya lebih setuju disebut sebagai Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia.

Sekian semoga bermanfaat.

Salam KUPI.

Umdatul Choirot
Pengasuh PP As-Sa’idiyyah 2 Bahrul ‘Ulum Tambakberas.
Jombang, 1 Mei 2017.

Wednesday, May 17, 2017

Mewahidkan Nusron

Aksi berani Nusron Wahid menghadapi wakil MUI dan beberapa narasumber dalam kisruh 'penistaan agama' oleh Ahok di ILC menuai banyak simpati dan kecaman. Dengan stylenya yang meledak-ledak, Ketua PBNU ini mengingatkan para pihak agar tidak sembarangan memaksakan tafsir atas al-Quran. Menurutnya, hanya Allohlah yang punya otoritas final atas kebenaran ayat-ayatNya, bukan MUI.

Selama ini, kiprah Nusron dalam membela kelompok minoritas bisa dikatakan belum ada yang melampaui. Saya masih ingat gerakannya dalam kasus Yasmin maupun Cikeusik. Atas sikapnya ini, khususnya saat Ahok dihajar dengan isu SARA, berhamburan meme dan broadcast di social media dan private chat service yang isinya mengkritik Nusron, dari aspek materi hingga pribadi mantan Ketua umum GP Ansor ini.

Oleh banyak orang, Nusron dituduh kerap mengkapitalisasi nama 'Wahid'. Bagi kalangan muslim-sunni-nahdliyyi, apalagi yang berlatar belakang pesantren, WAHID adalah semacam jaminan mutu yang kerap dinisbatkan ke kiai Wahid Hasyim, putra hadratusy syaikh Hasyim Asy'ari salah satu pendiri NU asal pesantren Tebuireng.

Abdurrahman Wahid, Salahuddin Wahid, Lily Wahid, Umar Wahid, Alissa Wahid, Yenny Wahid, Anita Wahid, Inayah Wahid, Ipang Wahid adalah sekian banyak individu yang menyandang gelar 'wahid' karena aspek biologis.

Begitu kuatnya pengaruh klan Wahid di komunitas Islam Indonesia, membuat saya kerap mencandai peserta kelas pemikiran Gus Dur di beberapa daerah. 'Kalau nama belakang kalian tidak ada WAHID-nya, kalian harus  menghasilkan karya tulis agar bisa dikenang", begitulah saya meminjam pesan Imam Ghazali.

Wahid: Biologis vs Ideologis
Bisakah seseorang menyandang status Wahid (via Gus Dur) meski ybs bukan keturunannya? Kita tentu bisa bersilang pendapat, namun istilah 'anak' tidak selalu dimaknai sebagai keturunan biologis. Kita tentu sangat sering mendengar istilah 'anak tuhan', 'anak sekolah', 'anak jalanan'. Kesemuanya itu tidak merujuk pada relasi genetis. Adalah hal yang mustahil jika tuhan, sekolah dan jalanan bisa melahirkan atau mengadopsi anak, setidaknya untuk saat ini. Bagi saya menjadi anak ideologis Wahid (via Gus Dur) merupakan keniscayaan.

Sepanjang keterlibatan saya di Jaringan GUSDURian dan berinteraksi dengan istri dan putri-putri GD, saya mengumpulkan serpihan informasi menyangkut kehendak GD atas sosok ideal dari -katakanlah- para anak (ideologis)nya.

Kita tahu Gus Dur adalah marja' bagi tidak sedikit orang. Merupakan hal lumrah bagi mereka untuk merasa seperti dia. Ada yang cukup memakai kaos bergambar GD, mengiriminya alfatihah tiap hari, atau dengan cara menziarahi makamnya di Tebuireng.

Bahkan, saya pernah menjumpai sekumpulan orang keturunan Tionghoa yang menyanyikan Indonesia Raya dekat pusara GD, di saat ratusan peziarah lain khusyuk mengaji. Pendek kata, setiap orang, sekali lagi, punya cara masing-masing untuk jadi anak-anaknya.

Saya pernah mendengar bahwa GD selalu mendorong siapapun, termasuk anak-anaknya, untuk menjadi sosok yang orisinal alias menjadi diri mereka sendiri.

Orisinalitas tersebut menurut saya merupakan konsep yang menarik karena mengandung dua hal. Pertama, setiap orang punya sesuatu yang bersifat unik -sesuatu yang tidak mungkin ditiru karena kemusykilannya, biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat given, misalnya ciri fisik maupun hal-hal sejenis. Anda tidak perlu memaksakan diri sebagai hetero -hanya karena GD seorang hetero- untuk meneladaninya. Atau, ngotot punya 4 orang anak perempuan seperti halnya Gus Dur.

Kedua, orisinilitas justru perlu dipahami sebagai kesungguhan meneladani sesuatu yang memang memungkinkan. Menurut Alissa Wahid dalam Bapakku Bukan Perekayasa Konflik, para anak ideologis Gus Dur bisa diukur melalui kesungguhannya meneladani dua hal; karakter dan nilai-nilai dasar Gus Dur.

"Kalau memang mengaku sebagai penerus Gus Dur, jalani saja apa yang selama ini diteladankan Gus Dur: integritas terhadap nilai-nilai dasar Gus Dur, demi umat. Tunjukkan bahwa mereka berjuang berlandaskan prinsip ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, persaudaraan. Tunjukkan bahwa mereka punya karakter sederhana, sikap ksatria, dan bertumpu pada kearifan tradisi. Tunjukkan saja bahwa mereka memang tidak terlibat korupsi, bertindak demi rakyat. Tunjukkan saja pembelaan kepada semua kaum minoritas yang akhir-akhir ini makin muram nasibnya di Indonesia. Itu cukup untuk mengambil hati rakyat," ujarnya dalam tulisan yang diunggah 26 Februari 2013 lalu.

Nusron yang Wahid
Entah apakah Nusron Wahid termasuk dalam kategori di atas. Namun pembelaannya terhadap kesetaraan hak politik seorang Kristen-Tionghoa menjelang pilkada Jakarta patut kita apresiasi, pada saat yang lain memilih bergerombol di barisan silent majority.

Mungkin saya berlebihan, namun lantangnya Nusron membela hak politik Ahok mengingatkan saya akan kiprah Gus Dur dalam Kasus Tabloid Monitor pada 1990 silam. Pembelaan cucu hadratusy syaikh ini terus berlanjut pada sengkarut perkawinan Konghucu Lany Guito dan Budi Wijaya tahun 1996, goyang ngebor Inul, hingga tindakan 'bunuh diri' membela Korban 65 --tanpa mempedulikan persepsi publik atas dirinya.

Ke-wahid-an Nusron jelas tidak bersangkutan secara genetis dengan keluarga Gus Wahid Hasyim. Untuk hal ini, baik Nusron, Alissa Wahid, bahkan Gus Salahuddin Wahid telah mengklarifikasinya.Namun jika boleh jujur, dalam kasus ini, saya agak kesulitan untuk tidak memasukkan Nusron sebagai anak ideologis Wahid melalui jalur Gus Dur.

Wallohu A'lam.

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun.

Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Saya sendiri mengetahui perempuan khoriqul 'adah (diluar kebiasaan) ini dari dua karya Fatima Mernissi, intelektual-feminis perempuan kelahiran Maroko; The Veil and Male Elite dan Women's Rebellion and Islamic Memory. Rasa penasaran yang sedemikian besar telah menuntun saya mengecek jati diri Sukayna ke Encyclopaedia of Islam terbitan Brill-Leiden maupun sumber lain.

MENOLAK TUNDUK
Berbeda dengan Lady Di dan Gaga, Lady Sukayna hidup jauh sebelum mereka. Ia masih ingusan saat pembantaian Karbala -sejarah paling kelam dalam perang sipil yang melibatkan keturunan Nabi Muhammad pada 680 Masehi.

Lady Sukayna adalah cicit Rasululloh Muhammad, cucu Fatimah, putri Sayyida Husayn dan Rabab bint al-Amr al-Kays dari klan Kalb. Sukayna atau Sakina adalah nama laqab (julukan), nama aslinya menurut kitab al-Fihrist adalah Umayma, sedangkan menurut Isfahani dalam kitab Aghani, Amina.

Namun bukan statusnya sebagai cicit Nabi yang mengesani. Saya tidak terlalu silau dengan ornamen seperti itu. Kekagetan dan kekaguman saya terletak pada bagaimana sejarah memotret tindak-tanduknya yang kontroversial.

Sukayna digambarkan sebagai perempuan cerdas, jenaka, yang cantiknya di atas rata-rata. Tidak hanya itu, ia adalah jago debat yang mematikan. Mernissi mendeskripsikan perempuan ini dengan kalimat– an explosive mixture of physical attractiveness, critical intelligence, and caustic wit.

Jika anda membayangkan Sukayna hidup dengan burqa yang membungkus rapat tubuhnya, Anda salah. Ia tidak mengenakannya! Jangankan burqa, berkerudung pun tidak. Itu sebabnya  Sukayna dikategorikan sebagai barza, sebutan mentereng untuk perempuan (dan laki-laki) dengan konfidensi tinggi; wajahnya tidak disembunyikan, kepalanya ogah ditundukkan.

Seorang barza dikenal memiliki nyali tinggi berbalut kemampuan artikulasi intelektual yang indah dan 'mematikan'. Dalam bayangan pendek saya, ia kira-kira seperti Najwa Sihab saat menguliti para tamunya di program Mata Najwa.

ANTRIAN PENYAIR 
Rumah perempuan cicit nabi yg hidup 1336 tahun lalu tak pernah sepi didatangi para penyair yang hampir semuanya laki-laki. Lady Sukayna yang dikenal sebagai penyair seperti halnya ibunya, memang punya ruang khusus (salon) di rumahnya, yang berguna sebagai forum terbuka bagi para penyair mendemonstrasikan kemampuannya. Selalu banyak yang mengantri masuk.

Namun hanya yang lolos seleksi saja yang boleh naik panggung di mana Sukayna sendiri yang menjadi panselnya. "Was it you who wrote the following verses?" tanyanya pada seorang penyair dan Sukayna memberinya panggung serta uang sebagai apresiasi karyanya.

Meski hampir setengah abad hidup sebagai muslim, saya belum bisa percaya telah ada forum keren seperti itu di Madinah ribuan tahun lalu --dengan cicit perempuan Rasululloh yang tidak berjibab itu sebagai host-nya. That's too good to be true.

Sukayna juga kerap mendatangi forum penyair kota. Di sana ia duduk sejajar dengan nama-nama kondang, sudah pasti laki-laki, seperti Djanr, al-Farazdak, Kuthayyir, Djamil, maupun sosok seperti al-Ahwas.

BACA JUGA: Dari mana Pesona Lady Sukayna Bermula?

Ia juga tak segan menantang debat siapa saja yang bersuara miring terhadap almarhum ayah dan kakeknya, Husayn bin Ali dan Ali bin Abi Thalib. Kiprahnya yang sedemikian rupa membuatnya enggan bergabung dengan para sosialita aristokrat di Hijaz, meskipun ia sendiri adalah salah satunya.

MONOGAMI HARGA MATI
Bagi dia, berdiskusi dengan para tokoh dan menghelat acara kebudayaan dengan para penyair, seniman, dan penyanyi, merupakan prioritas. Itu sebabnya, ia mengajukan perjanjian pra-nikah pada setiap laki-laki yang ingin meminangnya. Salah satu isinya, memperbolehkan Sukayna tetap mengeskpresikan kehendaknya sebagaimana ia sebelum menikah, termasuk untuk tetap berteman dengan karibnya, Ummu Manshuz.

Ia juga meminta tidak dibebani aneka macam pekerjaan yang jamak dilakukan kebanyakan istri kala itu. Dan, jangan pernah berfikir untuk bisa mempoligini Sukayna, sebab klausul itu juga ia masukkan kontrak pra-nikah.

Apakah ada pria yang mau menikahinya dengan syarat berat tersebut? Ada, namanya Zayd bin Umar, cucu Utsman bin Affan, khalifah ketiga.

Ada cerita menarik tentang Zayd. Setelah setuju dengan perjanjian pra-nikah yang diajukan, Sukayna menegaskan kembali bahwa tidak ada perempuan lain kecuali dirinya. Ia juga mewanti-wanti suaminya agar tidak mendekati jawari - sebutan budak perempuan untuk tujuan seks. Namun toh Zayd akhirnya terpeleset juga.

Sukayna dikabarkan menangkap basah suaminya bersama salah satu jawari dan membawa kasus ini ke pengadilan. Maka gemparlah seisi kota waktu itu.

Hakim pengadilan tidak kuasa menolak kasus ini karena sudah ada perjanjian pra nikah sebelumnya. Saat memimpin sidang, istri hakim bahkan ikut hadir mendampingi suaminya, saking penasarannya. Tak terkecuali gubernur, yang merasa perlu mengirim intelnya untuk memberikan update persidangan.

Dan Anda tahu apa yang diteriakkan Sukayna ke suaminya di hadapan hakim? Begini, "Look as much as you can at me today, because you will never see me again!".

MENYIBAK TIRAI
Saya tidak tahu bagaimana kasus tersebut berakhir. Namun yang pasti, ketegasan, kemerdekaan dan kemandiriaan Sukayna sebagai perempuan sesungguhnya jamak ditemui pada Islam awal. Para perempuan Madinah bisa berekspresi setara dengan laki-laki di hampir semua sektor.

Dalam riset panjangnya, Dr. Akram Nadwi, sarjana asal India, berhasil mendokumentasikan sejarah cendekiawan muslim perempuan dalam karyanya setebal 40 jilid. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan yang berjasa besar dalam mereservasi hadith.

Lantas kenapa kita (terutama umat Islam) tidak pernah tahu mereka?

Entahlah, namun -menurut Mernissi- hal ini merupakan imbas  suksesnya bangsa Arab menyembunyikan dan mengingkari  sejarah eksistensi perempuan Arab. Keberadaan mereka semakin terlindas seiring menguatnya ekspansi imperium Islam.

Saya sendiri mengamini tesisnya, Cyntia Enloe menyatakan; No society can be militerized without changing conceptions of masculinity and feminity. Dan jilbab atau sebutan lain, bagi Mernissi, merupakan salah satu instrumen ampuh perubah konsep tersebut.

Dengan jilbab, saat itu, perempuan ditertibkan pikirannya; bahwa tubuhnya adalah sumber dosa dan rasa malu sehingga perlu rapat dibungkus. Ajaran larangan keluar rumah bagi perempuan digemakan massif. Tujuannya, agar perempuan  tidak aktif lagi di arena publik.

Ada kekuatiran besar dalam diri laki-laki dunianya akan remuk redam jika banyak perempuan teracuni virus Sukayna. Tidak ada satu pun lelaki bejat di dunia ini yang senang tertangkap basah istrinya saat beradu peluh dengan jawari. Semakin bodoh perempuan, semakin leluasa lelaki memegang kendali. Bisa dikatakan, konstruksi pewajiban jilbab dalam lintasan historis Islam lebih bersifat politis ketimbang moral.

Diam-diam, saya merasa praktek eliminasi progresifme perempuan juga dilakukan Orde Baru dengan cara menyangkal dan menyembunyikan sejarah gerakan perempuan Orde Lama, sebagaimana riset Saskia E. Wieringa maupun Ruth McVey. Wallohu a'lam.

---------;;---------
Daftar bacaan

1. Mernissi, F., 1996. Women's rebellion & Islamic memory.

2. Mernissi, F., 1991. The veil and the male elite: A feminist interpretation of women's rights in Islam. Basic Books.

3. A. Arazi, Sukayna bt. Al-husayn, Lewis, B. and Pellat, J.S., The Encyclopedia of Islam, vol. VIII,(Leiden: EJ Brill & London: Luzac&Co, 1971).

4. Wieringa, S.E., 1995. The politicization of gender relations in Indonesia. The Indonesian women's movements and Gerwani until the New Order State.

5. Wieringa, S.E., 1993. 2 Indonesians womens organization-GERWANI and the PKK. Bulletin of Concerned Asian Scholars, 25(2), pp.17-30.

6. McVey, R., 1990. Teaching modernity: the PKI as an educational institution. Indonesia, (50), pp.5-27.

7. Zalewski, M. and Enloe, C., 1995. Questions about identity in international relations. International relations theory today, pp.279-305.

8. Sayyida Sakina bint Al-Husayn http://www.mazaratmisr.org/ahl-ul-bayt/sayyida-sakina-bint-al-husayn/

9. Mohammed Hashas, Fatema Mernissi: The Pride of Islamic Feminism in Modern Times, 
http://www.resetdoc.org/story/00000022606

10. Jameela Jones, The Sahabiyat, http://www.irfi.org/articles/articles_851_900/sahabiyat.htm

Sunday, May 14, 2017

Senjata dan Kepanikan di Joglo Kembar Klaten

Berbeda dengan aksi di Jombang, Surabaya atau Timor Leste yang lebih meriah, refleksi di Klaten berjalan minimalis, Jumat (12/5). Kami hanya berkumpul, menyanyikan Indonesia Raya, berdoa dua kali untuk Indonesia yang lebih adil dan bebas intoleransi.

Saya sempat berorasi selama lebih dari 20 menit. Sesi tanya-jawab dan refleksi dari peserta gagal dilakukan. Bahkan kami pun terpaksa menunda penyalaan lilin karena buru-buru membubarkan diri.

Begitu banyak aparat --baik dari kepolisian maupun militer, berseragam maupun berpakaian preman. Saya sendiri melihat beberapa polisi membawa senjata laras panjang yang biasa dipakai Brimob, berjaga diujung gang masuk.

Saya sendiri sudah merasa tidak enak saat Gus Marzuki dan Mas Purnawan Kristianto berdiskusi agak lama dengan perwira polisi (Kasatintelkam?) sebelum acara berlangsung. Mereka berdua kelihatan serius sekali. Saya melihat mereka sambil memilih njagongi para peserta yang mulai berdatangan.

"Aparat agak keberatan dengan acara 1000 lilin. Katanya, tidak perlu ada penyalaan karena akan ada kelompok yang ingin membubarkan acara ini," kata salah satu panitia kepada saya.

Dalam laman FBnya, Purnawan Kristianto, menulis agak panjang terkait hal ini. Penggiat lintas iman Klaten asal GKI Jago ini mengungkap lebih dalam. Menurutnya, "Gagasan menggelar diskusi ini muncul karena Gus Aan Anshori  kebetulan sedang ada di Klaten. Dia mau njagong manten sahabatnya, Andreas Kristanto.
Teman-teman, jaringan Gusdurian Klaten ingin memanfaatkan kedatangannya untuk adakan diskusi santai. Temanya tentang radikalisme dan analisis kritis paska pembubaran HTI.

Malam sebelum acara, tetiba muncul gagasan untuk penyalaan lilin untuk NKRI Damai.  Informasi acara ini disebar lewat WA. Begitu tahu ada kata "HTI"  dan "penyalaan lilin, maka intel polisi dan kodim njenggirat. Mereka langsung siaga.

Mereka menelepon Gus Marzuki, penanggungjawab acara, minta ketemu di lokasi. Gus Mar lalu ngajak saya untuk bernegosiasi dengan intel. Kami ketemu Kasatintel polisi dan dua stafnya. Intinya mereka minta acara ini dibubarkan. Alasannya karena tidak ada izin.

Kami menolak. Alasannya ini adalah karena ini adalah pertemuan rutin. Sebelum-sebelumnya juga tidak pernah izin.

Intel beralasan bahwa situasinya rawan. Mereka bilang, kelompok radikal sudah bereaksi karena tema acara ini yaitu HTI dan Penyalaan Lilin. Mereka takut acara ini memicu ketegangan. Saya bilang, acara ini tidak akan memobilisasi massa. Kami hanya akan berdoa dan berdiskusi. Masak begitu saja dapat menciptakan ketegangan?
Mereka lalu minta acara dipindah ke tempat tertutup. Saya menolak karena tempat yang dipakai sudah ruang privat, bukan ruang publik.

"Apakah bapak dapat menyediakan tempat tertutup sekarang juga?" pancingku.
"Wah tidak bisa" balas mereka.
"Kalau begitu, kami tetap adakan diskusi di sini."

Lalu, nego berlanjut.

Polisi minta acara penyalaan lilinnya saja yang dibatalkan. Fokus utama kami memang bukan penyalaan lilin, seperti di tempat lain. Kalau tujuan utamanya adalah penyalaan lilin, kami akan menyiapkan di tempat terbuka dan menggalang massa lebih banyak. Ide penyalaan ini baru muncul beberapa jam sebelum acara.

Akhirnya kami berkompromi. Pertimbangan kami, penyalaan lilin itu hanya aksi simbolik. Tidak esensial. Kami mempertimbangkan keselamatan orang-orang yang akan datang. Kasihan kalau terjadi intimidasi. Ada beberapa anak kecil juga yang datang.

Kami lalu tinggalkan para intel untuk mulai acara. Kami mulai dengan menyanyi Indonesia Raya dengan sikap sempurna. Lalu kami bergandengan tangan berdoa untuk kedamaiam NKRI dan keadilan ditegakkan.

Setelah itu Gus Aan Anshori sharing tentang kegelisahannya atas radikalisme. Selama Gus Aan ngomong, intel mepet aku terus. Dia minta acara segera diakhiri. Saya sudah tidak bisa berkonsentrasi menyimak paparan gus Aan, sebab harus berkali-kali mengamati pergerakan di luar tempar pertemuan.

Usai sharing dari Gus Aan, Gus Mar memberi kode agar  segera akhiri acara tanpa dialog.

Aku ajak seluruh peserta bergandengan tangan membentuk lingkaran besar. Kami menyanyikan bersama-sama lagu Bagimu Negeri dengan kidmad. Beberapa wartawan televisi mengambil gambar momen. Kami lalu membubarkan diri dengan tertib.

Setelah melayani wawancara dari wartawan, kami bergeser ke tempat lain untuk nongkrong santai. Saat keluar Joglo saya baru sadar kalau dijaga banyak polisi berlaras panjang dan tentara. Gara-gara diskusi itu, tampaknya malam tadi Klaten siaga satu."

Kami terus melanjutkan acara hingga usai meskipun selesai sedikit lebih awal. Setiap peserta tentu memendam rasa tidak puas, namun wajah mereka tetap menyiratkan kegembiraan ---semacam perasaan suka cita bisa berkumpul dengan kawan-kawan yang berpandangan sama.

Gus Marzuki berkali-kali minta maaf kepada saya. Guilty feeling. Saya tahu itu. Namun saya justru sangat mengapresiasi acara ini. "Di tempat lain, Gus, saya yakin acara tak berijin di tengah situasi panas seperti ini -apalagi bertempat di Klaten, kemungkinan besar akan dibubarkan paksa ormas intoleran," kataku saat menuju pesantrennya di Wonosari.

Benar, malam itu juga, saya dikabari bahwa Tegal dan Solo gagal menyuarakan solidaritasnya karena tidak mendapat izin. Di Pantai Losari Makassar hari ini malah jauh lebih mengenaskan; diobrak-abrik lasykar fentung.