Skip to main content

Posts

Featured Post

Pernyataan Sikap Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) terkait pelarangan Sdr. Slamet untuk tinggal di Dusun Karet Bantul karena beragama Katolik

Pernyataan Sikap Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) terkait pelarangan Sdr. Slamet untuk tinggal di Dusun Karet Bantul karena beragama Katolik


Telah beredar luas di media sosial peristiwa pengusiran Sdr. Slamet dari dusun Karet Bantul Yogjakarta. Lelaki ini tidak diperkenankan tinggal di dusun tersebut dengan alasan tidak beragama Islam. Dusun Karet sendiri mengklaim memiliki aturan internal yang hanya memperbolehkan orang Islam saja tinggal di wilayah tersebut.

Meski dalam prosesnya, Pemkab Bantul telah memfasilitasi pertemuan antara pihak dusun, Slamet, dan instansi terkait, Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) menyatakan sikap sebagai berikut:


1. Mengecam aksi pelarangan sdr. Slamet untuk tinggal di dusun Karet Bantul. Hal tersebut merupakan bentuk nyata diskriminasi berbasis keyakinan/agama. Setiap orang punya hak untuk tinggal di mana saja sepanjang tidak melanggar hukum dan ketentuan yang telah disahkan pemerintah pusat dan daerah;

2. Peraturan Dusun Karet terkait pelara…
Recent posts

PENDETA LGBTIQ; STEVE (CLEMENT) SULEEMAN

Ia adalah alasanku ke Jakarta hari ini.
...

Baru kali ini berkereta menuju Jakarta di pagi hari. Baru kali ini pula aku harus ganti dua kereta untuk mencapainya. Beginilah enaknya hidup dekat 3 persimpangan jalur raksasa kereta api pulau Jawa; Babat, Jombang, dan Kertosono.

Di Jakarta nanti aku akan menghadiri acara emeritasi kependetaan seorang teman. Ia berbaik hati mengundangku meski aku bukan jemaatnya. Sungguh ini merupakan kehormatan bagiku. Jika ditelisik lagi, acara nanti akan menggenapi keterlibatanku dalam prosesi kependetaan di GKI. Maksudku, aku pernah diundang dalam 1 kali penahbisan, 3 kali peneguhan, dan (akan) sekali emeritasi.

Stephen Suleeman adalah satu-satunya pendeta yang akan masuk masa emeritus, yang aku kenal di GKI, yang aku panggil "Mas," Dua lain yang aku tahu; Pdt.Simon Filantropa dan Pdt. Budi GKI Gurah, masih aku panggil "Pak," Begitu pula dengan dua yang telah lulus emeritasi; Pak Stefanus dan (jika tidak salah) Pak Abdi -pendeta ya…

Rilis 'LINDUNGI KEHORMATAN YANG HIDUP DAN YANG MATI!"

*Rilis Jaringan Islam Antidiskriminasi Jawa Timur terkait Aksi Kekerasan Oknum Warga kepada Nurul Chakim, salah satu aktifis KontraS Surabaya, saat Mediasi Polemik Kuburan Kristen alm. Nunuk di Ngares Kidul Gedeg Mojokerto.*


*"LINDUNGI KEHORMATAN YANG HIDUP DAN YANG MATI!"*

Baru saja saya menelpon Fatkhul Khoir (Juir), Kontras Surabaya, yang ikut dalam rapat mediasi penyelesaian sengketa makam Kristen alm. Nunuk di Ngares Kidul Gedeg Mojokerto. Rapat mediasi dilaksanakan di balai desa Ngares, Kamis (28/2).

Juir tidak sendirian. Dia ditemani Chakim, kordinator Kontras Pos Jombang-Mojokerto, dan keluarga alm. Nunuk. Keluarga memang menunjuk Kontras Surabaya sebagai kuasa hukum keluarga dalam kisruh ini.

"Kim, kamu baik-baik saja?" saya mengirim pesan ke Chakim karena Juir mengaku sedang sibuk menulis kronologis kejadian yang menimpa Chakim baru saja.

"Agak pusing kepala iki, Kang Aan," balasnya. Lalu saya telpon dia.

Darinya, saya mendapat kabar bahwa rapa…

UAS, TAQIYYA DAN NAHDLATUL ULAMA

Betapa senangnya mengetahui Ustadz Abdus Somad (UAS) melakukan safari panjang, mengunjungi kiai-kiai NU, bahkan ke makam para pendiri NU di Jombang. Bahkan gelar ustadz yang disandang, kabarnya "dinaikkan," menjadi "syekh," --sebuah status relijius yang cukup tinggi ketimbang, katakanlah, "kiai," apalagi "gus,"

Kini UAS berubah menjadi SAS. Selamat.

Teman (T): Cak, UAS sowan kiai-kiai NU. Sampeyan seneng kan?
Saya (S): Biasa saja. Fulitik. Isuk dele, bisa jadi sore tempe.
T: Sampeyan meragukan ketulusan UAS?
S: Aku senang persowanan itu. Namun, hanya dia dan Gusti yang tahu tentang ketulusan itu. Terasa agak aneh saja melihat orang yang belum lama begitu bersemangat menggaungkan tegaknya negara Islam dan mencela keras rezim saat ini tiba-tiba berbalik 180 derajat. Namun jika Tuhan berkehendak seperti itu, siapa yang akan mampu menahanNya.


Sejujurnya, memoriku kembali mencoba menjumputi remahan tulisan menyangkut doktrin taqiyya dalam politik …

PERANG PUNK DAN BIROKRASI JOMBANG

Jika kamu berpenampilan a la anak punk; terlihat tidak intelektual, berbau lebus (nggak mandi 2-3 hari) dan berkeliaran di jalan-jalan protokol Kota Santri, maka siap-siap saja digaruk Satpol PP Jombang, seperti Fredi --bukan nama sebenarnya.

Dia teman ngopiku dua hari lalu, Minggu (3/2). Ia bercerita pengalamannya digelandang Satpol PP Jombang kemarin. Saat itu ia tengah ngopi di sekitar Ngrandu karena lelah setelah habis kulakan jeruk di sekitar lokasi itu.

Fredi ditangkap karena ikut-ikutan lari saat terjadi penggerebekan pengamen berpenampilan a la punk. "Pas enak-enak ngopi, aku ndelok arek-arek akeh sing mlayu. Aku yo melok mlayu sisan. Wedi onok opo-opo," katanya sembari menghisap Lucky Strike-nya dalam-dalam.

Fredi memang berpenampilan nyentrik. Rambut tipis samping dan membiarkan bagia atas serta belakangnya panjang. Tak lupa, ia juga mengecatnya. Sepatunya kets dipadu celana ketat agak kumal dengan atasan kaos Persebaya. Kulitnya hitam. Sekilas memang seperti ana…

Muslimah Lesbian di antara Dua GUSDURian

"Gus, saya berbeda," ia bersuara lirih tanpa menatap
Saya kaget, "Maksudnya?"
......

Kami baru bertemu dan berinteraksi sekitar dua jam ketika saya mengantarkan 150an kader PMII Jawa Timur berkunjung ke gereja GPdI Junrejo Batu, Minggu (6/1) Ia sendiri ikut membaur di acara tersebut. Bahkan membantu kami menjadi fotografer dadakan.

Wajahnya tergolong manis. Dibalut busana Islami yang sangat longgar dengan celana gombrong model Aladdin. Ia memakai sepatu sport besar, menjauhi kesan feminin sebagaimana perempuan kebanyakan yang saya tahu.

Dari caranya berbusana, ia nampak sangat ingin menutupi sesuatu dalam dirinya. Entah apa. Namun sejak menit pertama bertemu, dari busananya, sudah terasa ada yang berbeda. Saya merasakan itu.

"Saya lesbian, gus" ia menyeruput es kopi sama dengan yang saya pesan di salah satu food court dekat TMP Batu. Sesekali ia membetulkan letak jilbabnya yang nampak kedodoran. Ia sekali lagi terlihat mencoba begitu tenang saat men…

Mewahnya Gender di Bioskop XXI

Mungkin tidak banyak mahasiswa/i dari kampus Islam yang dapat menikmati tempat duduk ruangan belajar a la bioskop XXI; menjorok ke bawah dengan dosen di posisi terendah.

Model yang umum berlaku dalam pengajaran klasikal Islam adalah sebaliknya; guru di atas, sedangkan murid harus dlosoran di bawah; kiai/bu nyai di atas panggung, jamaahnya klesetan di tanah.

Model kedua inilah yang sebetulnya ditawarkan kepada saya saat mengampu sesi pengantar gender dan Islam, dalam Sekolah Gender dan Islam PMII Universitas Islam Malang, Minggu (6/1).

Saya menolak model ini karena ingin mencoba sesuatu yang baru. Kebetulan lokasi acaranya, di salah satu villa kawasan Junrejo Batu,mempunyai topologi tanah dengan kemiringan yang cukup asyik.

"Kita di luar saja. Aku di posisi bawah. Tolong taruh sepeda motor di sampingku dan papan tulis kecil untuk menempelkan metaplan yang aku buat," pintaku ke panitia.


Forum serasa seperti pengajian pagi yang dibatasi oleh waktu dan keterbatasan perangkat…

Nisan Salib; Mengurai Nalar "Kenapa Kami Ogah Mati Berdekatan dengan Kalian"

Setelah kasus penggergajian nisan salib di Kotagede mencuat beberapa waktu lalu, belasan lagi dirusak di Makam Girilaya Magelang, Rabu (2/1). Polisi yang tengah menyelidiki kasus ini menduga peristiwa ini berkaitan dengan vandalisme.

Girilaya sendiri adalah makam umum (TPU), yang artinya semua jenazah bisa dibumikan di sana. Tak peduli apapun agamanya.

Pengrusakan ini akan sangat sulit dicerna jika dilakukan kalangan Kristen sendiri atau non-Muslim lainnya. Bisa jadi pelakunya ateis, agnostik, atau seorang Muslim.

Tulisan ini hendak menyusuri kemungkinan warisan nalar keengganan sebagian besar Muslim melihat jenazah Islam-Kristen dicampur dalam satu komplek kuburan.

Hipotesis saya; sangat mungkin Pakta Umar (644 M) punya andil signifikan membentuk nalar segregatif umat Islam dalam mengatur pemakamannya bersama non-muslim, sehingga Peristiwa Kotagede mencuat. Namun, bagaimana hal ini bisa terjadi?

Saat Peristiwa Kotagede ramai di media sosial, aku tengah dalam perjalanan menuju Su…

Nisan Salib; Mengurai Nalar "Kenapa Kami Ogah Mati Berdekatan dengan Kalian"

Setelah kasus penggergajian nisan salib di Kotagede mencuat beberapa waktu lalu, belasan lagi dirusak di Makam Girilaya Magelang, Rabu (2/1). Polisi yang tengah menyelidiki kasus ini menduga peristiwa ini berkaitan dengan vandalisme.

Girilaya sendiri adalah makam umum (TPU), yang artinya semua jenazah bisa dibumikan di sana. Tak peduli apapun agamanya.

Pengrusakan ini akan sangat sulit dicerna jika dilakukan kalangan Kristen sendiri atau non-Muslim lainnya. Bisa jadi pelakunya ateis, agnostik, atau seorang Muslim.

Tulisan ini hendak menyusuri kemungkinan warisan nalar keengganan sebagian besar Muslim melihat jenazah Islam-Kristen dicampur dalam satu komplek kuburan.

Hipotesis saya; sangat mungkin Pakta Umar (644 M) punya andil signifikan membentuk nalar segregatif umat Islam dalam mengatur pemakamannya bersama non-muslim, sehingga Peristiwa Kotagede mencuat. Namun, bagaimana hal ini bisa terjadi?
-
Saat Peristiwa Kotagede ramai di media sosial, aku tengah dalam perjalanan menuju S…