Skip to main content

Posts

Featured Post

13+16+7

Ini adalah kombinasi baru berkaitan dengan sosok yang dihormati ratusan juta orang Islam. Termasuk bagiku. Bagi mereka mengetahui lebih dalam sosok yang dianggap suci dalam sebuah agama adalah hal fundamental, termasuk dalam Islam. Darinya diharapkan kita bisa mengambil teladan (uswah) agar menjadi pribadi yang lebih baik. Nabi Muhammad (NM), oleh para pengikutnya, telah dipercaya sebagai profil sempurna. Sosoknya dianggap representasi utama untuk menuju Tuhan. Itu sebabnya, semakin banyak pengetahuan yang dicecap darinya, semakin seseorang lebih mengenalnya. Dan, semakin dalam pengetahuan terkait dirinya semakin terbuka peluang seseorang bisa menjadi rahmatan lil 'alamin . Beberapa waktu lalu aku telah menuliskan sekitar 13 perempuan yang pernah hidup di sekeliling Nabi --baik sebagai istri maupun selir. Sembilan dari mereka, dalam tradisi Muslim-Sunni, dikenal sebagai ummahat al-mu'minin (mothers of believers). Tiga orang meninggal sebelum Nabi. Satu yang lain adalah Maria

Iklan

Recent posts

ANGGRA DAN PACARAN BEDA AGAMA

Cukup sering aku merasa hidupku seperti dikelilingi de javu --semacam perasaan menempuh dan mengalami hal sama. Salah satunya, peristiwa yang terjadi pada Jumat (27/8). Aku bersama anak-anak muda, mahasiswa/i, menonton film yang pernah aku tonton bersama anak muda lainnya 9-10 tahun lalu. Judulnya 3 dunia 2 hati 1 Cinta. Film jadul yang dibintangi Reza Radian dan Fira Basuki ini bercerita tentang lika-liku asmara beda agama antara Rosyid dan Delia; Islam dan Katolik. BBukan tanpa sebab aku dan puluhan anak=anak Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Univ. Darul Ulum dan Univ. Wahab Chasbullah memilih film ini. Aku ingin mendorong mereka berani mengeksplorasi isu terlarang ini. Dalam benak mereka, aku yakin, pacaran beda agama bukanlah hal yang patut dibanggakan. Alih-alih, hal tersebut bisa dianggap sebagai tanda penggelinciran iman; mencari kesengsaraan. "Lha wong pacaran seagama saja belum tentu lancar apalagi beda agama," kira-kira-kira demikian yang ada dalam b

I Will Not Make It Easier For You

Sejak kemarin pikiranku agak terganggu dengan peristiwa di Menganti Gresik. Seorang bayi meninggal, agamanya Kristen, dan tidak boleh dimakamkan di desanya. Dari data kartu keluarga yang aku dapatkan, adik bayi ini adalah satu-satunya anak yang beragama Kristen. Ia punya tiga saudara/i. Semuanya Islam. Ayah ibunya Kristen. Status tiga anaknya yang Islam menurutku cukup unik. Sangat mungkin orang tuanya sangat memahami situasi yang akan dihadapinya saat mereka tetap berkristen -- situasi yang kini menimpa adik bungsu mereka. Aku berpikir kenapa ada komunitas Islam setega itu, melarang warganya mendapatkan hak yang setara, gara-gara tidak seagama. Peristiwa ini sekaligus menambah daftar praktek diskriminasi pemakaman di Jawa Timur. Sebelumnya, dua warga desa Sooko Mojokerto juga dilarang dimakamkan di desanya, karena keduanya bukan Islam. "Bagaimana terlukanya seandainya orang Islam diperlakukan seperti itu?" batinku. Pastilah sangat menyakitkan. Meskipun pada akhirnya adik bay

Come Sunday; "Korupsi Iman," Jemaat sebagai Taruhan

Apa yang paling menangkutkan seseorang selain kehilangan pengikut? Apalagi jika hampir semua aspek kehidupannya terkoneksi dengan mereka --dari harga diri kehormatan hingga periuk nasi. Ini adalah tulisan ketiga (terakhir) dari serial "Tiga Korupsi Selama PPKM," Tulisan pertama di https://www.facebook.com/1561443699/posts/10225288208663186/?app=fbl dan ini yang kedua https://www.facebook.com/1561443699/posts/10225288226143623/?app=fbl Hari Minggu malam, (26/7), aku menonton film apik, "Come Sunday," menceritakan sosok kontroversial Carlton Pearson. Orangnya masih hidup hingga sekarang  Pearson adalah pendeta dengan jemaat sekitar 6000 orang, melayani di the Higher Dimensions Evangelistic Center Incorporated --sebelum akhirnya berubah menjadi Higher Dimensions Family Church. Gereja ini merupakan salah satu yang terbesar di daerah Tulsa Oklahoma Amerika. Seperti halnya pendeta pada umumnya, Pearson juga mengkhotbankan ajaran; Yesus sebagai juruselamat; siapapun yang m

WUJUDKAN TEMPAT PEMAKAMAN UMUM (TPU) DESA SOOKO KECAMATAN SOOKO MOJOKERTO

Press Rilis Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur "WUJUDKAN TEMPAT PEMAKAMAN UMUM (TPU) DESA SOOKO KECAMATAN SOOKO MOJOKERTO" Jaringan Islam Antidikriminasi (JIAD) Jawa Timur mendukung upaya serius GUSDURian Mojokerto dalam upaya pemberian keadilan akses pemakaman bagi warga non-Islam desa Sooko kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. Upaya ini merupakan rentetan terjadinya diskriminasi jenazah bu Emi dan Pak Totok yang tidak bisa dimakamkan di desanya sendiri karena alasan agamanya (cek beritanya di https://tinyurl.com/yhsdhvm2) Beberapa hari lalu, GUSDURian Mojokerto secara resmi mengirimkan surat ke otoritas desa Sooko. Isinya, terkait klarifikasi seputar status tanah makam desa; apakah khusus untuk warga Islam saja atau terbuka bagi semua warga desa.  Hingga saat ini surat tersebut belum direspon oleh Kepala Desa tanpa alasan yang jelas. Padahal sebenarnya masalah ini tidak perlu terjadi manakala pemerintahan desa bersetia pada empat pilar bangsa; Pancasila, UUD

ISMAIL ATAU ISHAQ? TIGA FAKSI ISLAM DAN UPAYA PEMBACAAN ULANG

Dalam drama percobaan penyembelihan oleh Abraham, siapapun yang Anda dukung; apakah Ishaq atau Ismail, aku sama sekali tidak keberatan. Sepenuhnya aku bisa memahami hal itu. Aku sungguh sangat senang seandainya kita bisa tumbuh dan berkembang sampai pada posisi Gus Dur dalam urusan ini;“Dua-duanya, baik Ismail maupun Ishaq, tidak jadi disembelih. Jadi buat apa diributkan,” Bagi banyak orang, posisi Gus Dur memang terasa lebih menenangkan, lebih rekonsiliatif, ketimbang kita gegeran karena terperosok dalam rezim binerik --Ishaq atau Ismail. Yang hendak aku tawarkan dalam tulisan ini adalah seputar cara pandangku kenapa Islam terasa lebih memilih Ismail ketimbang Ishaq dalam drama percobaan penyembelihan oleh bapaknya, atas nama perintah Tuhan. Sebagai catatan, aku belum membaca semua karya tulis di Google Scholar berkaitan dengan topik ini. Sehingga bisa jadi telah ada sarjana yag relah menulisnya namun belum aku sebut karyanya. Untuk hal ini, aku minta maaf. BASIS AWAL Aku mencukupkan

Ada Yesus dan Petrus dalam kata Id(ul) Adha dan Id(ul) Fitri

Seorang kawan, cewek lulusan Teologi UKDW yang jadi PNS di Kemenag, mengingatkanku; penulisan yang benar adalah "iduladha," atau "idulkurban," -- bukan "idul adha," atau "idul kurban," "Digabung ya, gus, tidak dipisah," tulisnya di wall FBku. Aku merasa seperti penjual soto Lamongan yang sedang menerima order nasi dan kuah soto dicampur, dijadikan satu --padahal biasanya terpisah. Aku tak hendak mendebatnya selain mengatakan aku masih menunggu penjelasan dari KBBI kenapa dua diksi tersebut harus digabung, padahal "biasanya," terpisah.  "Mungkin KBBI tidak siap berpisah, takut LDR, Feb," kataku mencoba jenaka.  Selama ini ku selalu mengartikan kata "id," dalam dua hari raya dengan kata "kembali,"; Idul Fitri berarti "Kembali ke fitrah penciptaan manusia," dan Idul Adha bermakna "Kembali berkorban," Namun siang ini, rasanya aku harus mengoreksi pemahamanku terkait kata "id,&

SAAT KELAS KAMI MEMBAHAS PENYALIBAN DAN KENAIKAN

Bagaimana respon mahasiswa Kristen kelas Religion Ciputra saat mengetahui lebih dalam sikap Islam mainstream seputar kenaikan dan penyaliban Yesus? Serta, bagaimana respon teman mereka yang Islam ketika tahu AlQurannya terasa affirmatif atas kematian a la trinitarian? ** Hari-hari menjelang berakhirnya semester ini, aku mengajak kelas Religionku berefleksi minggu lalu. Refleksinya seputar bertemunya dua perayaan suci islam-Kristen; Idul Fitri dan Kenaikan Yesus. Lebih dari 85 persen penghuni kelas kami adalah pengikut Yesus, baik Katolik maupun Protestan. "Gimana ibadahmu saat perayaan Kenaikan? Apa yang disampaikan pendetamu?" tanyaku pada salah satu mahasiswa. "Nggak tahu pak, saya nggak ke gereja," katanya pendek. Rupanya ia bukanlah satu-satunya yang tidak ke gereja. Masih ada beberapa yang lain. Namun sebagian mahasiswa tetap beribadah, baik online maupun offline. Aku undang beberapa dari mereka menjelaskan linimasa, setidaknya dimulai dari Jumat Agung, Paskah

Kematian Berkabut; Refleksi Personal Menghormat Paskah

Dengan Blackberry jadul 9220, tulisan ini mulai saya ketik Jum'at pagi, 4 April 2015 sambil ngantor di Warkop Cak Freddy Pasar Legi.  Dua hari ke depan merupakan perayaan Paskah, hari dimana hampir semua umat Kristen mengimaninya sebagai tahapan penting laku Yesus.  Penyaliban, pemakaman hingga kebangkitan Yesus merupakan isu sentral dalam iman Kristen. Oleh penganutnya, Yesus merupakan sang juru selamat. Penyalibannya adalah pengorbanan yang tak terhingga. Setiap tetesan keringat, kucuran darah, serta cuilan daging yang terbawa cambuk duri milik eksekutor suruhan Pilatus, berharga untuk mempertebal keyakinan atas ajaran yang dibawanya. ------- Saya dididik sebagai muslim yang taat sejak kecil. Dalam banyak hal, pengajaran agama bersifat terbuka untuk didiskusikan. Fiqh, ilmu kalam, filsafat, tasawwuf, sira' atau bidang keilmuan lainnya. Namun jika terantuk urusan akidah, biasanya “lampu kuning” langsung menyala. Dalam serial Harry Potter, semua siswa boleh menjelajahi setiap l

"Menemui" Pak SBY

Mungkin Pak SBY bukanlah sosok idola banyak orang akhir-akhir ini. Apalagi setelah ia dan partainya tengah menjalani lakon teraniya di balik isu kudeta. Persentuhan terakhirku dengan SBY secara maya terjadi beberapa waktu lalu. Ketika itu aku bersuara agak keras seputar keinginannya membangun museum dengan bantuan dana provinsi. Museum itu akan didirikan di kota kelahirannya, Pacitan. Pacitan bukanlah kota besar. Alih-alih, kabupaten ini termasuk kategori terpencil. Jauhnya minta ampun, terutama bagi orang yang belum pernah ke sana sebelumnya, sepertiku. Berkali-kali aku berpiki kota ini sangat cocok untuk pensiunan. Dekat pantai dan tidak terlalu ramai. "Selamat datang di Pacitan Bumi Kelahiran SBY Presiden Republik Indonesia yang ke-6" Aku melihat tulisan itu di balik kaca mobil yang aku tumpangi, Jumat (5/2/2021). Tanda sudah sampai Pacitan, setelah hampir dua jam aku tertidur melewati rute penuh kelokan dari Ponorogo. Ya, akhirnya aku bisa mencapai kabupaten itu. Satu-s