Skip to main content

Posts

Featured Post

Kematian Berkabut; Refleksi Personal Menghormat Paskah

Dengan Blackberry jadul 9220, tulisan ini mulai saya ketik Jum'at pagi, 4 April 2015 sambil ngantor di Warkop Cak Freddy Pasar Legi.  Dua hari ke depan merupakan perayaan Paskah, hari dimana hampir semua umat Kristen mengimaninya sebagai tahapan penting laku Yesus.  Penyaliban, pemakaman hingga kebangkitan Yesus merupakan isu sentral dalam iman Kristen. Oleh penganutnya, Yesus merupakan sang juru selamat. Penyalibannya adalah pengorbanan yang tak terhingga. Setiap tetesan keringat, kucuran darah, serta cuilan daging yang terbawa cambuk duri milik eksekutor suruhan Pilatus, berharga untuk mempertebal keyakinan atas ajaran yang dibawanya. ------- Saya dididik sebagai muslim yang taat sejak kecil. Dalam banyak hal, pengajaran agama bersifat terbuka untuk didiskusikan. Fiqh, ilmu kalam, filsafat, tasawwuf, sira' atau bidang keilmuan lainnya. Namun jika terantuk urusan akidah, biasanya “lampu kuning” langsung menyala. Dalam serial Harry Potter, semua siswa boleh menjelajahi setiap l

Iklan

Recent posts

"Menemui" Pak SBY

Mungkin Pak SBY bukanlah sosok idola banyak orang akhir-akhir ini. Apalagi setelah ia dan partainya tengah menjalani lakon teraniya di balik isu kudeta. Persentuhan terakhirku dengan SBY secara maya terjadi beberapa waktu lalu. Ketika itu aku bersuara agak keras seputar keinginannya membangun museum dengan bantuan dana provinsi. Museum itu akan didirikan di kota kelahirannya, Pacitan. Pacitan bukanlah kota besar. Alih-alih, kabupaten ini termasuk kategori terpencil. Jauhnya minta ampun, terutama bagi orang yang belum pernah ke sana sebelumnya, sepertiku. Berkali-kali aku berpiki kota ini sangat cocok untuk pensiunan. Dekat pantai dan tidak terlalu ramai. "Selamat datang di Pacitan Bumi Kelahiran SBY Presiden Republik Indonesia yang ke-6" Aku melihat tulisan itu di balik kaca mobil yang aku tumpangi, Jumat (5/2/2021). Tanda sudah sampai Pacitan, setelah hampir dua jam aku tertidur melewati rute penuh kelokan dari Ponorogo. Ya, akhirnya aku bisa mencapai kabupaten itu. Satu-s

KECEMBURUAN MENYINGKIRKAN MEGHAN?

Masih soal Mehan-Harry sebab kisah Kaesang-Felli berlangsung antiklimaks, sedangkan Ata-Laurel terlalu normatif. Banyak sekali orang berspekulasi terkait kenapa Meghan "disingkirkan," oleh keluarga kerajaan Inggris hingga akhirnya ia memutuskan pindah ke Los Angeles sekeluarga. Oprah Winfrey mengupas habis masalah ini melalui pengakuan Meghan dan Harry dalam wawancara eksklusifnya. Yang cukup mengejutkanku, sekitar  menit 1:04:08 Oprah mengajukan pertanyaan tajam pada Harry apakah keluarga kerajaan menerima Meghan pada awalnya. "Yes, better than I expected," kata Harry. Menurutnya semua anggota keluarga menyambut Meghan dengan sangat baik.  "But it really changed after the Australia tour, after our Asia Pacific's tour," tambahnya.. "After I announced my pregnancy with Archie. That's our first tour.," Meghan menimpali pasangannya. "And, it was also the first time that family got to see how incredible she's with the job. And that b

Nanda dan Kernel GKI

Kabar gembira itu akhirnya datang padaku. "Mas, aku mau ditahbiskan," kata Firmanda. Jika boleh jujur, lebih dari 4 kali aku bertanya padanya kapan momentum paling didambakan seluruh kader GKI yang berproses menjadi pendeta tiba. Menjadi pendeta di GKI mungkin seperti mahasiswa Ph.D, atau orang yang sedang berproses menghafal al-Quran atau bait Alfiyah ibn Malik -- penuh onak dan duri; menuntut tidak hanya kecerdasan dan intelektualitas namun juga kedewasaan, kerendahan hati dan kesabaran yang hampir tak terbatas, tujuh puluh kali tujuh kali. Aku sendiri tidak yakin akan lolos jika mencoba. Entah faktor apa yang membuat Nanda mampu bertahan dalam proses panjang di GKI, namun marilah kita cukupkan untuk meyakini bahwa menjadi pendeta bukanlah proses yang sepenuhnya matematis dan logis, namun juga ada faktor lain, yakni divine calling. Faktor ini, meski minor, namun sangatlah menentukan. Divine calling, ibaratnya, adalah kernel -- unsur mahapenting dalam sistem operasi

VIDEO 416

Beberapa hari lalu, Pdt. Sisca dari Papua mengontakku sembari mengirimkan undangan. Isinya, undangan menghadiri ibadah perayaan ulang tahun GPI (Gereja Protestan di Indonesia) dan permintaan membuat video pendek ucapan selamat. Aku terperanjat saat melihat berapa usia gereja ini. "Hah?! 416 tahun? Tua sekali," batinku. Ini gereja paling tua yang pernah bersinggungan dengan kehidupanku.  Aku kemudian mengaktifkan kalkulator di gadget, menghitung 2021 dikurangi 416. Hasilnya 1605. Apakah ini tahun yang dianggap titik tolak pendirian gereja ini?  Dengan penasaran, aku berusaha mencari tahu informasi terkait GPI di internet. Tahun ini merujuk pada ibadah pertama De Protestantche Kerk in Nederlandsch-Indie di Benteng Victoria Ambon, Selasa 27 Februari.  Ibadah ini diklaim sebagai cikal bakal gerakan protestan di Indonesia, bahkan Asia. Kira-kira seratusan tahun sebelumnya, kerajaan Demak telah berdiri sebagai mercusuar politik islam di Jawa. Walisongo, sebelum akhirnya dipindah ke

PENGHORMATAN ATAS PARA KORBAN

MUNGKIN baru buku ini yang secara khusus berani menyenggol sisi gelap pesantren, kaitannya dengan kekerasan seksual. Minimnya kajian tentang isu ini di pesantren bukannya tanpa alasan. Salah satunya, sangat mungkin karena pesantren senantiasa dipersepsikan dekat dengan Nahdlatul Ulama, organisasi afiliasiku. Organisasi ini tidak hanya sangat besar  namun, yang lebih penting, ia kini tengah menangguk spotlight panggung politik nasional serta dianggap sebagai  dewa penyelamat bagi toleransi Indonesia.  Terasa ada kerikuhan, kesungkanan, jika kekerasan seksual dalam pesantren terlalu diekspose ke luar. Aib harus ditutupi, bukannya malah diumbar. Ketimpangan relasi perempuan atas lelaki bukannya tidak disadari oleh kalangan internal pesantren. Mereka sangat sadar.  Itu sebabnya kita perlu bergembira ria dengan munculnya gerakan, KUPI, misalnya. Singkatan dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia.  Hanya saja, suara-suara tajam mengecam berbagai kasus kekerasan seksual di pesantren, dari kala

MENGUKUR KADAR ELJIBITI DI KOHATI

"Sekarang, mari kita main survei kecil-kecilan. Silahkan masuk mentimeter untuk ikut polling ini. Jangan Kuatir, identitas kalian terlindungi," ucapku di akhir presentasi pada peserta sekolah gender Korps HMI-Wati (KOHATI) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya di layar zoom, Sabtu (27/2/2021). Sejak awal aku sudah deg-degan memikirkan apa hasilnya nanti. Yang terlintas, mereka akan memilih apa yang aku kuatirkan. Survei ini sebenarnya merupakan post-test untuk melihat sejauhmana materi yang aku sampaikan mendarat dengan baik. Acara tadi tidak hanya diikuti anak KOHATI saja. Peserta umum bisa ikut bergabung. Namun aku tidak bisa mengindentifikasi satu per satu mereka. Kekuatiranku makin bertambah manakala aku hanya memiliki waktu terbatas untuk mempresentasikan gagasanku. Bagaimana mengharapkan perubahan besar dalam waktu singkat? Perubahan pemikiran seseorang biasanya berjalan gradual, evolutif, bukan revolutif. Rupanya kekuatiranku tak terbukti. Banyak dari mereka menja

Majulah Pemudi-Pemuda Nahdlatul Ulama!

Sebagai anak aktifis NU, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus "terseret," juga di arena organisasi ini. Almarhum orangtuaku termasuk cukup aktif di NU Mojoagung, khusus kakek dan bapak; Kiai Abd. Wahab Babut Sumobito dan Mashudan Dar. Posisi terakhirnya, jika tidak salah, sekretaris Majelis Wakil Cabang -- kepengurusan level kecamatan. Itu sebabnya, barangkali hanya dia yang memiliki mesin ketik di desa kami, awal 80an. Aku kagum dengan kemampuan ngetiknya. Kelas 3 MI (SD) aku sudah bisa ngetik. Rumah kami sering ditempati aneka rapat. Aku tidak tahu rapat apa saja. Pokoknya ngomong politik dan kemasyarakatan. Tahun-tahun itu NU dan PPP memang seperti dua sisi matauang. Persis saat ini. NU dan PKB. Urusan organisasi dan partai politik campur-aduk. Setelah lulus MI, aku meninggalkan kecamatan Mojoagung. Keluar. Pergi ke pesantren hingga lulus SMA. Begitulah tradisi kami keluarga santri. Namun nampaknya tidak semua keluarga santri demikian. Ada banyak yang memilih mendidik

DILINDUNGI! Jangan Malah Digerayangi dan Dicabuli

*Rilis Jaringan Alumni Santri Jombang (JASiJO) terkait kekerasan seksual di pesantren Ngoro Jombang* *DILINDUNGI! Jangan Malah Digerayangi dan Dicabuli* Jaringan Alumni Santri Jombang (JASiJO) mengapresiasi kinerja kepolisian yang berhasil meringkus Subechan (50). Ia diduga kuat melakukan kekejian seksual terhadap belasan santriwati sejak dua tahun terakhir. Subechan adalah pimpinan pesantren, kiai, di kecamatan Ngoro Jombang. Peristiwa ini menunjukkan betapa rapuhnya perempuan dan anak di lingkungan pendidikan, bahkan dengan label pesantren sekalipun. Sebelumnya, peristiwa serupa terjadi di pesantren Shiddiqiyyah Ploso Jombang, yang hingga kini terkesan mandek penyelesaian hukumnya.  JASiJO mendukung kepolisian membongkar kasus ini secara lebih dalam. Sangat mungkin terdapat Korban lain dalam peristiwa ini. Penyelidikan dan penyidikan harus bersifat transparan dan akuntabel. Pelaku harus dihukum seberat-beratnya. Hak para Korban harus dipulihkan. Pemerintah kabupaten, Bupati dan DPRD,

TAK BISA JAUH-JAUH DARI SETIJADI

Entah siapa Setijadi itu. Yang pasti ia tentu lelaki. Aku berani bertaruh. Tak pernah aku bertemu dengannya, baik maya ataupun nyata.  Dua minggu lalu, aku diminta para senior Tionghoa menemani  perempuan Tionghoa, dosen di Singapura. Namanya Charlotte Setijadi. Never heard that name .  Saat aku lacak di Google Scholar, karyanya bertebaran bak cendawan di musim hujan. "Pinter sekali nonik satu ini," batinku. Forum online kami dengan tajuk " Menganalisis Survei Relasi Tionghoa-Non Tionghoa ," berjalan cukup lancar.  Ya, terbukti, Charlotte memang pintar. Kalau tidak, mana mungkin Prof. Robin Bush berkehendak menjadikannya sebagai asisten mengajar. Kami hanya bertemu maya saat itu. Tidak ada kontak lanjutan. Dua hari setelah itu, kira-kira, aku mendapat pesan privat di instagram, dari perempuan yang bukan temanku. Namanya Sasha. Ia memintaku bersedia menjadi salah satu narasumber untuk riset tesisnya, di UPH Jakarta. Ia mengambil jurusan komunikasi, sedang menulis ten