Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Dekri dan Eljibiti di Warkop Cak Cip

Jangan ngaku mahasiswa Univ. Darul Ulum (Undar) jika tidak kenal Cak Cip. Bagiku, ia adalah mahadosen semua jurusan untuk matakuliah kerendahan hati melalui secangkir kopi. Warkopnya tak pernah sepi meski kampus ini pernah sekarat gara-gara dualisme kepemimpinan.

Sedangkan Dekri? Ia adalah salah satu selebritis gerakan mahasiswa Undar pertengahan 90an saat aku masuk kampus ini. Nama lengkapnya Chalid Tualeka. Silahkan digoogling nama itu.

Kami beda jurusan. Jika ingatanku masih kuat, ia dulu sospol, sedangkan aku nyantri di menejemen informatika dan komputer, meski tidak rampung karena faktor ekonomi.

Dekri bukanlah orang lain bagiku meski kami beda organisasi ekstra kampus. Pasangannya, Pipit, punya dua almamater denganku; di PMII dan sama-sama pernah nyantri di Tambakberas.

Pagi tadi, Minggu (24/12), aku menemuinya di Cak Cip. Kebetulan tengah ada reuni akbar para alumni Undar. Aku sendiri meski tidak lulus D3 Mikom kampus ini tahun 95, namun aku kembali belajar pada 2010 di Fakult…

Donasi untuk Pembangunan Gereja GKJW Sumbermbag Malang

Kawan-kawan,

Beberapa hari lalu, saya dikontak oleh kawan saya, Cahyo Saputro, pendeta GKJW Sumbermbag Sitiarjo Sumbermanjing Malang bagian selatan. Ia menceritakan usahanya membangun sebuah pepantan (pos) dari gereja induk beberapa tahun ini.

Jauhnya lokasi gereja induk dengan rumah warga merupakan alasan pendirian pepantan tersebut. Para jemaat sudah membuat rencana dan prosesnya pembangunannya telah mencapai sekitar 75%.

Mereka sedang berusaha mendapatkan dana publik untuk menutup kekurangan biaya sekitar 20 jutaan, dari total anggaran sekitar Rp. 120 juta. Sudilah membantunya jika punya kelebihan rejeki.











Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silahkan kontak ke Pdt. Cahyo Saputro (Mbing) +62 812-3552-7946 081804325682 - 085334341225, atau Facebook Cahyo Saputro.


Terima kasih,


Aan Anshori
08155045039

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …

Test drive

Jsnsjsnsn.ssbs

Undangan Berpartisipasi Menerbitkan Buku Narasi Memori "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia"

KAWAN-KAWAN, setelah melalui proses panjang akhirnya kami bisa mengumpulkan sekitar 70an tulisan  narasi memori Tionghoa. Penulisnya datang dari latar belakang yang sangat beragam; pendeta, santri, bhante, seniman, guru, ustadz, dosen, teolog, pengacara, ibu rumah tangga, aktifis, mahasiswa, Kristen, Islam, Buddha, Khonghucu, agnostik, hetero, homo, Jawa, Madura, Tionghoa, campuran, dll. Tumplek blek.Sebagian nama penulis, bisa dicek di sini. Dan menariknya, mereka menulis secara sukarela alias tidak dapat honor.Tulisan-tulisan itu merupakan cerita personal masing-masing penulis kala bersinggungan dengan TIONGHOA. Ada suka, namun kebanyakan bercerita tentang duka.
Kini tulisan ini tengah dalam proses editing dan layout.
Jika Anda memandang proyek ini akan bermanfaat bagi peradaban, kami mengundang Anda untuk bisa lebih terlibat dalam penerbitan dan kampanye buku ini.
Caranya? Silahkan donasikan sebagian rejeki anda melalui BCA Prapen Surabaya nomor rekening 5120458304&#1…

Ave Maria dan Rumitnya Cicit Perempuan Nabi

Saya trenyuuuh menonton video yang viral dibagikan oleh akun FB Boedi Suhardi. Dalam video berdurasi 01:39 detik itu, seorang perempuan berjilbab sedang menyanyi Ave Maria di misa requirem, di Gereja Katedral Bogor. Perempuan yang tidak disebut namanya itu, menurut pengunggah status, adalah kawan dari almarhumah, Chatarina Suyanti. Entah siapa dia, saya tidak kenal. Yang saya tahu, dari ratusan komentar di status tersebut hampir semuanya menyatakan kekagumannya. Terhadap apa pastinya, saya juga tidak yakin. Namun hipotesis saya mengatakan, mereka tersihir oleh dua hal; keberaniannya menyanyikan Ave Maria dengan seluruh atribut muslimah yang ia kenakan di Katedral, serta suaranya yang sangat menyayat-nyayat. Nampak jelas ia begitu berduka dan mampu meluapkannya melalui nyanyian itu. Islam, perempuan, nyanyi dan pemakaman merupakan  diksi yang tidak bisa akur. Jika anda perempuan, jangan pernah berfikir untuk berani menyanyi lagu sedih di pemakaman orang Islam. Kenapa bisa demikian? Say…

Yang Terhormat Ibuku

Lihatlah perempuan yang aku lingkari. Itu adalah ibuku, Alfiyah. Ia putri kedua alm. Abdul Wahab, kiai kampung di Plemahan Sumobito Jombang yang pernah menjadi anggota DPR kabupaten dari Partai NU hasil Pemilu 1955.

Ibuku adalah kembang desa, suaranya merdu, dan sangat mandiri secara ekonomi. Ia bekerja menjaga toko pracangan yang ia bangun sejak dari nol di Pasar Mojoagung. Dalam aspek ekonomi, bapakku yang lebih fokus ngurusi politik dan perLSMan sangat beruntung mendapatkannya.

Entahlah, kenapa ibuku memilih dia dari sekian banyak laki-laki yang mengejarnya. Ibu tidak pernah bercerita padaku, kecuali bahwa hubungan mereka tidak direstui oleh ibu dari bapakku. Nenekku, disamping sudah punya calon istri untuk bapakku, nampak cukup terancam dengan kosmpolitanisme ibuku.

Ibuku itu sangat mudah bergaul dengan siapa saja. Yang aku ingat, setiap kali berjalan, ia selalu menyapa orang yang dikenalnya -bahkan ketika yang disapa itu tidak sedang melihatnya sekalipun. Ia tidak segan berter…

Analisis Pendek Cawabup Jombang --untuk Anggi Radar

Jombang ke depan butuh kepemimpinan yang lebih baik dari duet Nyono-Munjidah karena kabupaten ini punya berbagai persoalan, terutama layanan publik di hampir semua sektor.

Realitas politik hari ini masih menempatkan Nyono Suharly sebagai figur sentral yang punya kesempatan memenangkan pilkada. Peluang yang sama juga dimiliki oleh Munjidah -sungguhpun harus diakui keduanya termasuk bagian dari rezim hari ini.

Keduanya selama lima tahun telah menunjukkan kelemahan fundamental, yakni tidak mampu mengelola birokrasi yang bekerja dalam koridor tata pemerintahan yang transparan dan akuntabel.

Bagi saya, keduanya perlu memikirkan secara serius siapa yang akan digandengnya dengan cara menempatkan kepentingan perbaikan kabupaten ini sebagai prioritas -bukan sekedar hitungan politik menang-kalah.

Cawabup yang harus mendampingi haruslah figur kuat yang mampu memperkuat soliditas birokrasi dalam melayani kepentingan publik dengan sensitifitas terhadap keberadaan Jombang sebagai Kota Toleransi…

Tembok Ratapan di GKI Krian Sidoarjo

Sekuat memori ini mengingat, sudah lebih dari lima tahun saya keluar-masuk gereja --sebuah aktifitas tidak biasa untuk ukuran komunitas Islam-Sunni-Jawa. Ketertarikan saya dalam isu lintas iman barangkali menjadi faktor utamanya. Setiap aktifis tentu punya fokus ketertarikan pada isu yang berbeda. Ada kawan yang menemukan chemistry-nya pada persoalan agraria dan sumberdaya alam, buruh migran, kemiskinan, antikorupsi, hingga isu popok bayi di Sungai Brantas.

Sebagai muslim sejak baby, saya melihat kekristenan merupakan entitas unik dan rumit dalam belantara memori yang ditancapkan dalam kontestasi keagamaan -Islam vs non-Islam. Saya merasa Islam menaruh perhatian khusus terhadap kekristenan. Yakni, alih-alih meletakkannya dalam kerangka persekawanan, Islam cenderung memposisikan agama ini sebagai seteru abadi, setidaknya di Indonesia.

Coba tunjukkan, di negara mayoritas Islam mana yang punya rekor melampaui Indonesia dalam hal persekusi rumah ibadah Kristen dalam 17 tahun terakhir i…

Tembok Ratapan di GKI Krian Sidoarjo

Sekuat memori ini mengingat, sudah lebih dari lima tahun saya keluar-masuk gereja sebuah aktifitas tidak biasa untuk ukuran komunitas Islam-Sunni-Jawa. Ketertarikan saya dalam isu lintas iman barangkali menjadi faktor utamanya.

Setiap aktifis tentu punya fokus ketertarikan pada isu yang berbeda. Ada kawan yang menemukan chemistry-nya pada persoalan agraria dan sumberdaya alam, buruh migran, kemiskinan, antikorupsi, hingga isu popok bayi di Sungai Brantas.

Sebagai muslim sejak baby, saya melihat kekristenan merupakan entitas unik dan rumit dalam belantara memori yang ditancapkan dalam kontestasi keagamaan Islam vs non-Islam. Saya merasa Islam menaruh perhatian khusus terhadap kekristenan. Yakni, alih-alih meletakkannya dalam kerangka persekawanan, Islam cenderung memposisikan agama ini sebagai seteru abadi, setidaknya di Indonesia.

Coba tunjukkan di negara mayoritas Islam yang punya rekor melampaui Indonesia dalam hal persekusi rumah ibadah Kristen dalam 17 tahun terakhir ini? Saya…

Warna-Warni Menggemaskan di Joglo Sinau Gereja Bethany Gudo Jombang

Oleh: Oktavia Kristika Sari

“Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali”
                     K.H. Abdurahman Wahid

Pertikaian, satu kata yang mampu memecah belah persahabatan, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa yang besar sekalipun, termasuk Indonesia. Munculnya berbagai macam paham dan gerakan-gerakan adalah karena pertikaian dan untuk memicu pertikaian selanjutnya. Ingatkah kita apa yang terjadi setelah Indonesia merdeka? Pertikaian. Dan lagi-lagi agama dan kepercayaan lah pemicunya.

Selama 14 tahun setelah reformasi setidaknya 2.398 kasus kekerasan dan diskriminasi yang ada di Indonesia. Yayasan Denny JA mencatat dari jumlah itu paling banyak diskriminasi dilatarbelakangi keagamaan yaitu 65%. Konflik Maluku merupakan contoh konflik berlatar agama yang menimbulkan korban paling banyak yaitu  8000 - 9000 orang meninggal, 29.000 rumah terbakar, 47 masjid…

Siti Maryam yang Baru Aku Kenal

Beberapa hari lalu, saya diundang acara tujuh bulan kehamilan. Istilah kampungnya tingkeban. Dalam acara itu, para jamaah membaca al-Quran Surah Yusuf. Tidak banyak yang baca karena panjang dan sangat jarang muslim yang hafal --tidak seperti Surah Yaasin atau Waqiah. Dalam acara itu, napaknya hanya saya dan pemimpin upacara yang membaca Yusuf. Ini salah saru surah penting untuk dibaca saat kehamilan, lainnya adalah Surah Maryam. Dalam tradisi santri, jika dua surah ini dibaca terus menerus maka diharapkan jabang bayi akan seperti Nabi Yusuf atau Siti Maryam (SM). Saat kehamilan Cecil dan Galang, saya juga membacanya berkali.Nah, saat membaca Surah Maryam, saya agak kaget al-Quran ternyata menggambarkan berbeda dari apa yang saya persepsi tentang proses kehamilan SM. Yang saya percayai adalah SM hidup sendiri di pengasingan, lalu tuhan berbicara, hanya suara, lalu mengirim selarik sinar yang menuju ke perut SM --seperti di film2 fiksi. Padahal, sebagaimana diceritakan dalam al-Quran, A…

Jombang Darurat Kekerasan Seksual Anak

Kawan-kawan kasus ini menambah daftar kelam kondisi anak di Jombang, setelah sebelumnya terjadi pada pelajar ngaji. Aku mengecam keras praktek kekerasan seksual terhadap anak. Perlu dicatat, data yang aku kumpulkan menunjukkan sebagian besar pelaku kekerasan seksual anak, terutama perempuam, adalah orang dekat; kawan, keluarga, tetangga, bahkan pendidik. Mereka yang seharusnya melindungi justru berbalik memangsanya. Harus ada upaya konkrit dari seluruh pihak, terutama pemerintah dan organisasi masyarakat dan keagamaan. Pemkab perlu menyatakan darurat kekerasan seksual anak di Jombang, dan menyusun kerja-kerja implementatif, sebagaimana mereka merespon bahaya narkoba. Salah satu hal yang mendesak dilakukan adalah melengkapi seluruh RT/RW, PKK, Dasawisma dan sekolah, dengan kemampuan deteksi dini terjadinya kekerasan dalam keluarga. Jika perlu, pemkab bisa menggandeng NU, Muhammadiyah, gereja, dan institusi lain. Dengan adanya early warning system seperti itu, kekerasan seksual akan bis…

Rilis Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) terkait Pembubaran Seminar Pengungkapan Sejarah 1965/66 di LBH Jakarta

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh, Sebagaimana kita saksikan bersama, pagi tadi sekitar pukul 09.00, ratusan massa didukung oleh aparat keamanan dan militer melakukan blokade di areal LBH Jakarta. Tujuannya, agar pelaksanaan diskusi publik mengungkap Sejarah Genosida 1965/1966 oleh Forum 65 tidak terlaksana. Aparat bersama pendukungnya bahkan merangsek masuk gedung LBH dan terlihat mencopoti banner serta memaksa acara benar-benar tidak dilakukan. JIAD memandang aparat dan massa bertindak arogan dan sangat takut atas kegiatan tersebut. Hal ini sungguh tidak bisa dinalar; apa yang ditakutkan dari sebuah diskusi yang pesertanya kebanyakan telah lanjut usia? Sungguhlah aneh menyematkan tuduhan makar terhadap kegiatan ini mengingat PKI tidak pernah secara nyata dibuktikan keberadaannya. Penjelasan yang paling masuk akal pembubaran ini adalah ketakutan massal terbukanya aib Genosida 1965/66 yang dilakukan Negara kala itu. Sebagaimana hasil penyelidikan pro yustisia Komnas HAM, tela…

Inside-Ambon; Kala Perempuan Kristen-Islam berbagi Payudara

Oleh Ika Hattu, Jemaat GPM Rehoboth Ambon, mahasiswi Universitas Pattimura.Pada tanggal 25 Juli 2017, saya mengikuti training Penggerak Perdamaian dan Keragaman Berbasis Komunitas (Pelatihan Modul Deradikalisasi) yang dilaksanakan selama 4 hari. Penyelenggaranya PGI dan gereja saya, GKM Rehoboth Ambon.Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang peserta baik yang beragama Kristen Protestan maupun yang beragama Muslim pada lingkup daerah Maluku. Pada hari kedua tepatnya 26 Juli 2017 sesuai dengan jadwal kegiatan, kami mengikuti sesi "perjumpaan komunitas". Ada 3 komunitas yang akan kami datangi, diantaranya berlokasi pada Batu Merah - Masjid Agung AN-NUR dan Kantor Negeri Batu Merah, Latta- Jemaat Latta GPM Klasis Pulau Ambon Timur dan Komunitas Muslim Latta, dan Lorong Sagu-Paparisa markas komunitas "Ambon Bergerak"Sekitar Pukul 11.26 WIT kami pun sampai di Negeri Batu Merah dan langsung ke Masjid Agung AN-NUR. Kami berjumpa dengan Ustad Emang yang saat itu menyambut kami de…

Rafia Cooper dan Suaminya

"You want me to talk about us?" kata Walikota Culver City California, Jeffrey Cooper, sembari memandangi istrinya, Rafia, dari jarak yang agak jauh. Meminta konfirmasi pada perempuan ini.Meski datang bersamaan dalam forum kami namun Cooper dan istrinya duduk terpisah dua orang --suatu hal yang tidak lazim. Di Indonesia pejabat setingkat walikota pasti akan didudukkan berdampingan. Mungkin karena hal itu sudah menjadi protokol dalam acara formal. Namun acara kami di King Fahad Islamic Foundation Culver City bisa dikatakan formal sekaligus tidak formal. Formal karena banyak pejabat penting, salah satunya perwakilan FBI, hadir di sana. Dikatakan tidak formal sebab situasi forum berjalan sangat santai, seperti jagongan di balai RT. Hadir juga Kapolres Culver City bersama dua orang anak buahnya dengan pakaian preman dengan pistol dan lencana di pinggang.Forum yang dihelat Kamis (31/8) tersebut mendialogkan potret keragaman warga Culver City dan upaya pemerintah beserta stakeholde…

Dari Klenteng hingga Pastel; Bertemu Kilat Menonite di Philadelphia

Secara tak sengaja, saya bertemu sekte Kristen Menonite yang hampir semua jemaatnya adalah para diaspora Tionghoa di Philadelphia. Bagaimana kejadiannya?Rasanya, hidup saya takkan jauh dari komunitas agama, terutama yang berstatus minoritas. Tak peduli di mana pun saya berada, naluri selalu menuntun untuk bertemu mereka.Selama beberapa hari di Philadelphia untuk program IVLP, saya mengunjungi beberapa komunitas agama sebagaialmana yang telah ditentukan pihak penyelenggara, dalam hal ini Departement of State AS.Di luar acara tersebut, saya berusaha menemui komunitas Indonesia yang terpusat di South Philly --salah satu bagian Philadelphia. Hari pertama tiba kota multikultur ini, saya bertemu dengan komunitas Muslim di Masjid Al-Falah. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya merupakan kunci perjalanan selama di Amerika --untuk menghirup sebanyak mungkin apa yang terjadi di sana. Saya ikut yasinan, shalat dan berdiskusi dengan mereka. Adalah Henky Chiok, salah satu penerjemah kami, yang menjadi…

Al-Falah diantara Philadelphia dan Filadelfia

"Mas, aku jemput sekarang ya, mumpung aku senggang. Karena nanti malam kami ada yasinan di Masjid Al-Falah," pesan pendek masuk ke ponsel segera setelah aku mendapat free wifi hotel. Aku memang hanya mengandalkan internet gratisan selama di AS. Paket data di negeri ini lumayan mehong (mahal). Aku harus ngirit, hidup mengandalkan uang saku #IVLP yang tidak bisa dikatakan melimpah ruah. *haisPesan itu datang dari Mas Aditya, warga Suroboyo yang tinggal lama di Philly bersama istri dan seorang anak. "Aku melok Yasinan, Mas," sahutku tanpa berfikir panjang. Yasin adalah salah satu surat panjang yang wajib aku hapal jika ingin lulus Tsanawiyah di Tambakberas puluhan tahun lalu. Jangan tanya apakah aku paham artinya dan kandungannya, selain bahwa surat ini diyakini cukup ampuh mempermudah kepergian orang dari dunia ini. Setelah acara keliling kota singkat, kami pun meluncur ke Masjid al-Falah. Jangan dibayangkan masjidnya seperti Istiqlal. Untuk ukuran musholla di kampun…

Patung itu Harus Tetap Berdiri

Pertemuan yang diadakan di Klenteng Boen Bio, Selasa (8/8/17) ini berlangsung secara rapi dengan Mas Aan Anshori, ketua JIAD sebagai moderatornya. Pertemuan ini memang diadakan khusus untuk membicarakan polemik patung Tuban. Bangunan setinggi 30an meter yang disebut-sebut tidak nasionalis dan harus dirobohkan dalam waktu 7X24 jam itu menimbulkan beberapa perbincangan diantara masyarakat. Termasuk oleh aktivis lintas agama malam itu. “Hal ini bukan hanya menjadi masalah bagi masyarakat Tuban, tidak hanya masalah untuk etnis Tionghoa, atau umat klenteng Kwan Seng Bio, melainkan ini adalah masalah bangsa Indonesia”, ujar mas Aan. Kalimat itulah yang berkali-kali disampaikan pria berkacamata itu sebagai bentuk persuasi membangun kesadaran bersama forum masalah-masalah kebangsaan. Masalah ini bisa jadi pemicu masalah lain yang serupa, yang memungkinkan akan muncul di waktu-waktu mendatang. Untuk itulah ini masalah semua masyarakat, semua golongan, semua agama, bukan hanya kepentingan satu …

Beasiswa Short Course Gender dan Seksualitas 29-31 Juli 2017

Kami mengundang Anda yang berminat dalam isu gender dan seksualitas meraih kesempatan beasiswa short course selama 3 hari. Beasiswa yang meliputi; akomodasi selama pelatihan, dan dukungan transportasi lokal ini juga memberikan prioritas kepada Anda yang bekerja/belajar/beraktifitas di institusi/komunitas keagamaan. Hanya 20 orang (khusus JAWA TIMUR) yang akan mendapatkan beasiswa ini.Short course akan diampu oleh Dede Oetomo (founder GAYa NUSANTARA), Vivi Widyawati (feminis), Ahmad Zainul Hamdi (akademisi/aktifis CMaRS), Andreas Kristianto (teolog/GKI), Muhammad Iqbal (CMaRS) dan Aan Anshori (JIAD Jawa Timur). Materi short course meliputi; (1) Seks, Gender, dan Seksualitas; (2) Gender, Seksualitas dan Negara; (3) Gender, Seksualitas, dan Agama, (4) Gender, Seksualitas, dan Budaya, (5) Gender, Seksualitas, dan HAM.Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 29-31 Juli. Jika tertarik, Anda bisa mengisi formulir online di SINI, sedangkan petunjuk pengisiannya bisa didownload di SINI.Bata…

Seratus Orang Angkat Pena soal Tionghoa

Mereka di bawah ini adalah orang-orang yang akan menulis pengalamannya bersinggungan dengan identitas Tionghoa. Ada cerita tentang darah, air mata, selaput kehormatan yang terkoyak, dan juga harapan, mimpi dan kejujuran. Mereka yang tergabung dalam proyek penarasian memori; "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia" ini menulis secara sukarela, demi Indonesia yang lebih beradab.1. Yuliati Umrah, aktifis anak, Surabaya.
2. Supri, GUSDURian Banjarmasin
3. Ellen Nugroho, EIN Institute, Semarang
4. Michael Andrew, Aktivis Roemah Bhinneka dan Mahasiswa S1 Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Non-Frater/Non-Seminaris), Surabaya
5. Pdt. Surya G, GKI Semarang
6. Muhammad Bintang Akbar, mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah UNY, Jogja
7. Freddy Mutiara, dosen Ubaya
8. Willy P Samadhi, aktifis dan peneliti, Yogyakarta.
9. Rovien Aryunia, profesional SDM dan aktivis MAFINDO.
10. Priyo Sambadha, Puan Amal Hayati Ciganjur, Jakarta.
11. Kristanto Tatok, teolog, GUSDURia…