Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2017

Dibawah Lindungan Dua Anjing

Hari ini, Kamis (23/2), merupakan akhir dari perjalanan saya. Sejak hari Minggu (19/2), saya keluar rumah menuju Lumajang dan Jember. Pagi ini, saya memulai hari dengan menikmati secangkir kopi. Karena masih berstatus tamu, kopiku dibuatkan Mas Doni, suami Pdt. Nicky. Ritual ngopi menjadi semakin istimewa karena saya menikmatinya dengan penjagaan dua anjing di depan saya. Jaraknya 3-4 meter. Yang lebih kecil sekitar 7-8 meter. Entah siapa nama mereka. "Biasane kalau ada orang asing masuk sini, pasti menyalak-nyalak keras, bersahutan. Namun kenapa tidak ke sampeyan ya Mas," kata Doni. Selama tinggal di komplek GKJW Sidoreno, aku melihat ada sekitar 3-4 anjing yang setia menjaga kawasan itu. Tadi malam ada tiga anjing yang 'ikut' jagongan saya dengan dua orang warga Sidoreno.Kok tidak takut anjing? Ah, Siapa bilang. Sampai hari ini pun aku terus berusaha mengikis stigma yang ditempelkan ke binatang tersebut di memoriku. Buas, ancaman digigit, menjijikkan, perwujudan se…

Rilis Cap Go Meh Lintas Agama Surabaya di Kampung Pecinan Tambakbayan

Ratusan orang dari berbagai etnis dan agama merayakan Cap Go Meh di Tambakbayan Surabaya, Minggu (12/2). Tambakbayan selama ini dikenal sebagai kampung pecinan. Hampir 80% penduduknya keturunan Tionghoa dari kalangan miskin.

Rilis Perayaan Imlek Lintas Agama Jombang bersama Sinta Nuriyah Wahid

Puluhan orang dari beragam agama dan etnis menggelar Imlek 2568 bersama Sinta Nuriyah Wahid, Minggu, 5/2.

Menyidang Djarot di Masjid Tebuireng

Pesona Ahok memang luar biasa. Akibat sentuhan tangan dingin Buni Yani, skandal al-Maidah 51 di Kepulauan Seribu ini menggaung hingga masjid Tebuireng. Ya, pesantren Tebuireng Jombang. Sehari setelah saya dan teman-teman lintas agama Jombang nyambangi Gus Dur, datanglah Jarot dan rombongan ke Tebuireng. Ia didampingi istrinya, Happy Farida.

Darah Promotheus di Warkop Tebuireng

Saya tersanjung dengan tulisan ini meski ada beberapa yang terasa berlebihan dan perlu dikoreksi. Terima kasih, Tessa.
Saya merasa hanyalah seorang santri kalong, bukan keluarga, apalagi pure blood Tebuireng. That's away of my league.Khusus untuk urusan darah daging ini kita memang perlu hati-hati. Gara-gara darah, Nusron terpaksa perlu mengupload foto ijasah dan akte lahirnya --hanya untuk menegaskan kata "wahid' bukanlah kegenitannya agar dianggap trah Ciganjur. Gara-gara (garis) darah pula, kontestasi Sunni-Syiah yang bersimbah darah sepertinya akan terus langgeng hingga kiamat.Saya memang kerap ke Tebuireng  untuk berbagai kebutuhan. Intensitas kunjungan saya meningkat karena sejak tiga bulan lalu, saya 'nyantri' di Univ. Hasyim Asy'ari.  Setiap Sabtu dan Minggu harus masuk kelas  Hukum Keluarga Islam untuk mendengar dosen dan berdiskusi dengan merekaHarap juga diketahui, salah satu kesenangan saya adalah mengantar orang-orang berkunjung ke komplek pemaka…

Memenjarakan Diri di Rutan Gresik

Hampir berusia setengah abad, baru kemarin saya berlama-lama dalam penjara. Itu pun harus terlebih dahulu memacu motor dengan jarak 150an kilometer pulang pergi. Saya berangkat jam 5.45 agar bisa tiba di Rumah Tahanan (rutan) Cerme Gresik pukul 8.30. Maklum waktu besuknya hanya sampai 11.30.Saya memang janjian dengan teman-teman Forum Masyarakat Gresik Cinta Keberagamaan (Formagam) - kumpulan penggiat lintas iman Gresik di mana saya ikut membidani kelahirannya beberapa tahun lalu- untuk mengunjungi Khosyiah.Khosyiah adalah teman baik kami. Di mata saya, ia adalah sosok aktifis lugu, sangat sederhana namun punya komitmen kuat terhadap nasib orang dan temannya. Khosiah tidak bisa mengendarai motor, apalagi mobil. Jadi jangan tanya apakah dia punya dua kendaraan itu karena jawabnya adalah; tidak punya. Identitas-identitas itulah yang membawanya harus meringkuk di penjara karena dikibuli karibnya. Ia terperosok dalam kubangan huru-hara P2SEM yang membuat tidak sedikit teman-teman saya sat…

Rilis Jaringan Alumni Santri Jombang (JAS-iJO) terkait Ahok dan KH. Ma'ruf Amin

Mencermati panasnya polemik Ahok dan Kiai Ma'ruf Amin dalam persidangan kasus dugaan penodaan agama, kami perlu menyatakan sikap sebagai berikut:1. Meminta semua pihak menahan diri untuk tidak saling melukai secara verbal, dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan. Kami meyakini ada dua kekuatan besar yang tengah berusaha kuat membenturkan massa NU untuk meraup keuntungan politik dalam pilkada Jakarta. Dua kekuatan tersebut adalah partai politik oportunis dan kelompok yang selama ini kerap melakukan praktek intoleransi2. Jas Ijo sepenuhnya bersikap tunduk kepada KH. Mustofa Bisri dan kiai-kiai lain yang mengedepankan; persatuan dan kesatuan bangsa, menjaga akhlak dan keikhlasan berkhidmat perjuangan, dan menolak penghalalan segala cara dalam berpolitik.3. Mengapresiasi penuh seluruh kekuatan Nahdliyyin yang tetap setia membela muru'ah para kiai.4. Mengapresiasi Ahok dan pengacaranya yang telah meminta maaf kepada Kiai Ma'ruf atas apa yang mereka anggap tidak p…