Skip to main content

Menyidang Djarot di Masjid Tebuireng

Pesona Ahok memang luar biasa. Akibat sentuhan tangan dingin Buni Yani, skandal al-Maidah 51 di Kepulauan Seribu ini menggaung hingga masjid Tebuireng. Ya, pesantren Tebuireng Jombang.
Sehari setelah saya dan teman-teman lintas agama Jombang nyambangi Gus Dur, datanglah Jarot dan rombongan ke Tebuireng. Ia didampingi istrinya, Happy Farida.

Mereka diterima oleh Gus Solah (GS), panggilan akrab KH. Salahuddin Wahid. Hujan deras bahkan tidak menghalangi mereka nyekar makam Mbah Hasyim, Yai Wahid, dan tentu saja Gus Dur.
GS sendiri bahkan mengantar Djarot ke makam meski hujan tak bisa diajak kompromi. Dalam seminggu terakhir ini, hujan memang terlihat mesra dengan Tebuireng, seperti surat dan prangko; nempel terus.
Salut saya untuk GS yang masih mau menerima Jarot, calon wakil gubernur Jakarta mendampingi Ahok. Padahal, seminggu sebelum demo 4 November, dia bersama para tokoh Islam Jombang menggelar konferensi pers meminta Ahok dipolisikan gara-gara skandal 51. Dalam skema besar huru-hara Ahok, kita bisa dengan mudah menebak posisi pengasuh Tebuireng ini.
Namun GS adalah GS yang pantang menolak tamu yang berkunjung ke ndalem Tebuireng. Beberapa kali ia menandaskan itu saat saya berkesempatan sowan ke GS. Silahkan saja saja digoogling, begitu variatifnya tokoh nasional yang pernah ke Tebuireng.
Keramahan GS terasa kontras dengan materi khutbah di masjid dalam pesantren, di mana Djarot, rombongan juga ikut Jumatan di sana.
Dari beberapa teman yang hadir saat itu, khatib Jumat bersemangat meyakinkan jamaah agar terus meneladani Mbah Hasyim, termasuk dalam memilih pemimpin publik. Dan akhirnya bisa ditebak, khatib Jum'at pun menyinggung al-Maidah 51. Menurutnya, urusan memilih pemimpin adalah hal yg serius bagi umat yg beriman. Ayat memilih pemimpin sebagaimana al-Maidah 51 sama dengan ayat perintah puasa, yakni diawali 'yaa ayuhalladhina amanu' (Hai orang-orang yang beriman).
"Ayat ini banyak dilupakan oleh ulama kita, khususnya yang sok pluralis, sehingga Allah memakai cara lain untuk 'mempromosikan' ayat ini," kata khatib sebagaimana ditulis Fatoni Mahsun, aktifis GP Ansor Jombang Kota, yang mengaku ikut Jumatan di sana.
Saya tidak menemukan tanggapan GS maupun Djarot terkait 'sidang Jum'at' ini di media massa. Tapi tentu kita semua tidak sulit membayangkan perasaan Jarot 'dikuliti' secara searah seperti itu.
Lalu, siapa sebenarnya khatib Jum'at yang begitu 'heroik' menggunakan masjid Tebuireng untuk mengobarkan semangat 4 November, tepat di hadapan pasangan Ahok ini?
AMS YANG KENES
Ia adalah Ahmad Musta'in Syafi'i (AMS). Bergelar doktor, kerap dipanggil kiai haji, dan al-hafidz -sebutan untuk orang yang hafal al-Quran. Selain mengajar di pascasarjana Univ. Hasyim Asy'ari, ia bisa dikatakan salah satu sosok penting di Madrasat al-Quran Tebuireng.
Saya biasa memanggilnya Pak Tain (PT) karena merasa mengenalnya sejak lama. kerap saya undang di beberapa kajian dan seminar pada awal tahun 2000an. Pemikirannya yang menyegarkan dengan bebatan gaya bicara ceplas-ceplos membuat saya kagum.
Di lingkungan sayap intelektual muda NU tahun-tahun itu, nama PT  tidaklah asing. Dulu ada jurnal pemikiran GERBANG milik Elsad Surabaya dan PT kerap menjadi redaksi ahli di beberapa edisi, jika tidak salah.
Selain punya kolom khusus di harian Bangsa dan portal bangsaonline hingga saat ini, nama PT semakin meroket ketika ikut bertarung di politik elektoral wilayah Jawa Timur melalui Partai Demokrat. Sayang ia gagal melenggang ke Senayan.
Nasib baik nampaknya masih berpihak padanya. Pada 2 Maret 2012 PT akhirnya dilantik sebagai anggota DPR dari Fraksi Demokrat, menggantikan Sutjipto, S.H., M.Kn. yang meninggal dunia. Oleh partainya, ia ditempatkan di Komisi XI yang membidangi keuangan, perencanaan pembangunan, dan perbankan.
Kiprahnya sebagai legislator mungkin tidak terlalu tampak di publik. Namun tidak berarti kekiaiannya diabaikan di internal Demokrat, atau saat SBY berkuasa. PT pernah diberitakan didaulat memberi ceramah agama pada acara buka bersama di rumah dinas Ketua DPR, Marzuki Alie, Rabu (25/7/) 2012 lalu. Hadir di sana presiden, wapres, pemimpin lembaga tinggi negara dan anggota kabinet.
Saat haul Gus Dur ke-4 di Tebuireng yang dihadiri Presiden SBY Januari 2014, PT-lah yang mendapat kehormatan memberi ceramah agama, menggantikan posisi Habib Lutfi yang berhalangan hadir.
Saya yang ketika itu hadir di TBI nderekke rombongan Ciganjur agak terkejut dengan  pergantian ini. "Kok Pak Tain?" batin saya. Tentu kapasitasnya sangat mumpuni, namun bagi saya dia masih kurang sepuh untuk menghantar refleksi. Dia pun berpidato singkat saja. Belakangan saya cukup mafhum kenapa ia dipilih di haul itu; SBY, atau siapa saja, akan lebih nyaman bersama orang yang dikenalnya secara dekat.
Dua momentum tersebut rasanya sudah cukup menjelaskan relasi PT dengan SBY. Relasi ini sekaligus mengajak kita berfikir kritis; siapa yang diuntungkan dengan sikapnya akhir-akhir ini yang begitu menggebu menggesek sentimen muslim dan non-muslim dalam pilkada Jakarta.
MISTERI KONSPIRASI
Sehari setelah mengerjai Djarot di masjid Pesantren Tebuireng, PT kabarnya menandaskan sikap kerasnya itu ketika mengisi acara Rijalul Ansor, forum pengajian GP Ansor Jombang di Masjid Jami' Alun-alun Jombang. "Jadi bagi kami umat Islam, wajibnya memilih pemimpin muslim itu seperti wajibnya ibadah-ibadah yang lain seperti puasa," ujarnya sebagaimana ditulis Rojiful Mamduh, wartawan dan aktifis NU, yang hadir dalam forum tersebut. Ia kerap membagikan liputan-liputannya via Whatsapp.
Yang mengagetkan, dalam liputan Rojif, PT mengaku GS sebenarnya tidak berkenan menerima Djarot, namun menolak tamu bukanlah hal elok.
GS, menurut PT, lantas memerintahkannya menjadi khatib Jumat di mana Djarot ikut di masjid tersebut. "Padahal sebenarnya bukan jadwalku khutbah," katanya. Hari itu Jum'at Kliwon, jadwal PT Jum'at Wage.
Bagi saya, ada kesan kuat PT mencitrakan tindakannya mengerjai Djarot adalah konspirasi dengan GS. Ia cukup konfiden memposisikan dirinya sebagai pion untuk melaksanakan "tugas" dari GD, adik Gus Dur ini.
Benarkah demikian? Dengan penasaran memburu, saya mengontak GS, mengkonfirmasi kebenaran peran ayah Ipang Wahid ini dibalik naiknya MS sebagai khatib Jum'at. "Tidak benar, saya tidak pernah ikut-ikut soal siapa yang jadi khotib Jum'at di masjid TBI," ujarnya singkat melalui Whatsapp.
SIAPA YANG BERBOHONG?
Lantas kenapa PT bisa mendaku dirinya menerima perintah itu? Hanya ada tiga kemungkinan; pertama, dia berbohong, dan mencatut nama GS untuk melegitimasi tindakannya. Kedua, ia dibohongi oleh -katakanlah- pengurus masjid yang mencatut nama GS. Ketiga, GS lupa kalau pernah memberi mandat PT untuk menjadi khatib. Entah mana yang benar. Allohu ya'lamu bihi.
Namun secara personal saya lebih mempercayai sosok GS yang pantang mempermalukan tamunya, apalagi dengan menggunakan mimbar suci Jumatan di masjid yang jaraknya kurang dari 15 meter dari komplek sakral kuburan kakek-buyutnya.
Bagi saya praktek PT yang membully tamu Tebuireng menunjukkan ia tidak cukup tahu tentang Mbah Hasyim, terutama menyangkut etika (adab). PT barangkali sengaja lupa cerita Mbah Hasyim dan kentongan. Saat itu, kakek GS tersebut meminta musholla di sekitar Tebuireng memasang kentongan saat karibnya, Kiai Faqih Maskumambang Gresik akan mengunjungi Tebuireng. Padahal Mbah Hasyim dikenal tidak sepakat kentongan digunakan sebagai instrument penanda masuknya waktu solat, sebagaimana posisi beduk. Mbah Hasyim melakukan itu untuk menghormati tamu yang juga wakilnya sebagai rois akbar NU.
Saya sulit untuk tidak mengatakan prilaku PT ini sebagai sinyal mengerasnya aspek formalistik dalam dirinya, mengalahkan keadaban. Menegakkan ayat tuhan terkait kepemimpinan non-muslim adalah hak siapapun termasuk PT. Namun mengulitinya di atas mimbar Jumat di mana Jarot ada, sungguh bukan cara yang terhormat karena tidak fair. Wacagub pasangan Ahok ini tidak mendapat kesempatan sama untuk menyampaikan pandangannya di forum tersebut. PT menghajar Jarot ketika tangan dan kaki mantan walikota Blitar ini terikat di atas sajadah.
Mungkin PT sangat terobsesi menuai pujian para pihak yang menjadi lawan politik Ahok, atau ia tengah membayar hutang budi pada SBY, bapak AHY yang juga maju di pilkada DKI.
Level PT terasa jauh di bawah Djarot, yang meskipun dipermalukan secara kasar, namun tetap meneruskan acara nyekarnya di Tebuireng. Padahal ia barangkali sangat pantas meninggalkan pesantren legendaris tersebut karena telah dipermalukan.
Saya merasa, jangankan meneladani Mbah Hasyim, untuk mengikuti jejak GS saja PT kedodoran. GS tidak mempermalukan Jarot meski secara politik ia berbeda pandangan.  Sedangkan PT? Ia bahkan terkesan meng-ghasab nama GS untuk mempermalukan tamu Tebuireng.
Kesimpulan sementara saya; orang bisa sedemikian kalap jika masih menyimpan residu sengatan partai politik. Cirinya, kerap mendahulukan fiqh ketimbang akhlak. Wallohu A'lam.

Comments