Skip to main content

Iklan

Rilis Cap Go Meh Lintas Agama Surabaya di Kampung Pecinan Tambakbayan

Ratusan orang dari berbagai etnis dan agama merayakan Cap Go Meh di Tambakbayan Surabaya, Minggu (12/2). Tambakbayan selama ini dikenal sebagai kampung pecinan. Hampir 80% penduduknya keturunan Tionghoa dari kalangan miskin.

"Kami memilih Tambakbayan karena masih ada praktek diskriminasi terhadap mereka," kata Yuska, panitia acara. Tidak semua warga Tambakbayan memiliki identitas diri (stateless) karena berbagai faktor, salah satunya stigma atas Tionghoa saat Orde Baru berkuasa. Problem ini, lanjutnya, berimplikasi terhadap pemenuhan hak-hak dasar mereka.
Padahal dalam sejarah Indonesia, kontribusi kelompok Tionghoa tidak bisa diabaikan begitu saja. "Jauh sebelum republik ini berdiri hingga proklamasi, mereka terlibat dalam setiap perjuangan," tandas Aan Anshori, presidium Jaringan Islam Antidiskriminasi Jawa Timur, ketika berbicara dalam sesi diskusi.
Meskipun keberadaan Tionghoa sudah lama dan membaur, namhb stigma dan kebencian terhadap mereka masih terawat hingga sekarang. Aan  selanjutnya memaparkan riset Wahid Institute 2016, di mana hampir 60% muslim mengaku punya kelompok yang dibenci, setidaknya dengan tiga ciri; Tionghoa, non-muslim dan komunis. Menurut Aan, hasil riset ini patut direfleksikan serius dalam kerangka menjaga kemajemukan Indonesia.
Pdt. Simon Filantropa dari GKI yang tampil sebagai pembicara kedua, meminta zemua pihak tidak takut berbuat baik. Salah satunya dengan terus menyebarkan gagasan keberagaman. "Ingat ya, diam ketika ada penindasan bisa dianggap mengamini penindasan tersebut," ujar anggota FKUB Jawa Timur ini.
Acara ini dibuka dengan sembahyang Cap Go Meh serta dimeriahkan atraksi barongsai, pembacaan puisi dan pembagian santunan. Suasana semakin heroik saat seluruh hadirin berdiri menyanyikan Indonesia Raya dan Padamu Negeri.
Selain warga Tambakbayan, acara Cap Gomeh yang mengambil tema "Kami Tidak Pernah Lelah Mencintai Indonesia" ini didukung oleh puluhan organisasi. Yakni, Roemah Bhinneka, WKRI, PMKRI, GMKI, JIAD, Jenggolo Manik, JAI, Jaringan GUSDURIan, Gema INTI, BEC, Pemuda Katolik dan Formagam. (Aan Anshori - 08155045039)

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …