Skip to main content

Senjata dan Kepanikan di Joglo Kembar Klaten

Berbeda dengan aksi di Jombang, Surabaya atau Timor Leste yang lebih meriah, refleksi di Klaten berjalan minimalis, Jumat (12/5). Kami hanya berkumpul, menyanyikan Indonesia Raya, berdoa dua kali untuk Indonesia yang lebih adil dan bebas intolerans.

Saya sempat berorasi selama lebih dari 20 menit. Sesi tanya-jawab dan refleksi dari peserta gagal dilakukan. Bahkan kami pun terpaksa menunda penyalaan lilin karena buru-buru membubarkan diri.
Begitu banyak aparat --baik dari kepolisian maupun militer, berseragam maupun berpakaian preman. Saya sendiri melihat beberapa polisi membawa senjata laras panjang yang biasa dipakai Brimob, berjaga diujung gang masuk.
Saya sendiri sudah merasa tidak enak saat Gus Marzuki dan Mas Purnawan Kristianto berdiskusi agak lama dengan perwira polisi (Kasatintelkam?) sebelum acara berlangsung. Mereka berdua kelihatan serius sekali. Saya melihat mereka sambil memilih njagongi para peserta yang mulai berdatangan.
"Aparat agak keberatan dengan acara 1000 lilin. Katanya, tidak perlu ada penyalaan karena akan ada kelompok yang ingin membubarkan acara ini," kata salah satu panitia kepada saya.
Dalam laman FBnya, Purnawan Kristianto, menulis agak panjang terkait hal ini. Penggiat lintas iman Klaten asal GKI Jago ini mengungkap lebih dalam. Menurutnya, "Gagasan menggelar diskusi ini muncul karena Gus Aan Anshori  kebetulan sedang ada di Klaten. Dia mau njagong manten sahabatnya, Andreas Kristanto.
Teman-teman, jaringan Gusdurian Klaten ingin memanfaatkan kedatangannya untuk adakan diskusi santai. Temanya tentang radikalisme dan analisis kritis paska pembubaran HTI.
Malam sebelum acara, tetiba muncul gagasan untuk penyalaan lilin untuk NKRI Damai.  Informasi acara ini disebar lewat WA. Begitu tahu ada kata "HTI"  dan "penyalaan lilin, maka intel polisi dan kodim njenggirat. Mereka langsung siaga.
Mereka menelepon Gus Marzuki, penanggungjawab acara, minta ketemu di lokasi. Gus Mar lalu ngajak saya untuk bernegosiasi dengan intel. Kami ketemu Kasatintel polisi dan dua stafnya. Intinya mereka minta acara ini dibubarkan. Alasannya karena tidak ada izin.
Kami menolak. Alasannya ini adalah karena ini adalah pertemuan rutin. Sebelum-sebelumnya juga tidak pernah izin.
Intel beralasan bahwa situasinya rawan. Mereka bilang, kelompok radikal sudah bereaksi karena tema acara ini yaitu HTI dan Penyalaan Lilin. Mereka takut acara ini memicu ketegangan. Saya bilang, acara ini tidak akan memobilisasi massa. Kami hanya akan berdoa dan berdiskusi. Masak begitu saja dapat menciptakan ketegangan?
Mereka lalu minta acara dipindah ke tempat tertutup. Saya menolak karena tempat yang dipakai sudah ruang privat, bukan ruang publik.
"Apakah bapak dapat menyediakan tempat tertutup sekarang juga?" pancingku.
"Wah tidak bisa" balas mereka.
"Kalau begitu, kami tetap adakan diskusi di sini."
Lalu, nego berlanjut.
Polisi minta acara penyalaan lilinnya saja yang dibatalkan. Fokus utama kami memang bukan penyalaan lilin, seperti di tempat lain. Kalau tujuan utamanya adalah penyalaan lilin, kami akan menyiapkan di tempat terbuka dan menggalang massa lebih banyak. Ide penyalaan ini baru muncul beberapa jam sebelum acara.
Akhirnya kami berkompromi. Pertimbangan kami, penyalaan lilin itu hanya aksi simbolik. Tidak esensial. Kami mempertimbangkan keselamatan orang-orang yang akan datang. Kasihan kalau terjadi intimidasi. Ada beberapa anak kecil juga yang datang.
Kami lalu tinggalkan para intel untuk mulai acara. Kami mulai dengan menyanyi Indonesia Raya dengan sikap sempurna. Lalu kami bergandengan tangan berdoa untuk kedamaiam NKRI dan keadilan ditegakkan.
Setelah itu Gus Aan Anshori sharing tentang kegelisahannya atas radikalisme. Selama Gus Aan ngomong, intel mepet aku terus. Dia minta acara segera diakhiri. Saya sudah tidak bisa berkonsentrasi menyimak paparan gus Aan, sebab harus berkali-kali mengamati pergerakan di luar tempar pertemuan.
Usai sharing dari Gus Aan, Gus Mar memberi kode agar  segera akhiri acara tanpa dialog.
Aku ajak seluruh peserta bergandengan tangan membentuk lingkaran besar. Kami menyanyikan bersama-sama lagu Bagimu Negeri dengan kidmad. Beberapa wartawan televisi mengambil gambar momen. Kami lalu membubarkan diri dengan tertib.
Setelah melayani wawancara dari wartawan, kami bergeser ke tempat lain untuk nongkrong santai. Saat keluar Joglo saya baru sadar kalau dijaga banyak polisi berlaras panjang dan tentara. Gara-gara diskusi itu, tampaknya malam tadi Klaten siaga satu."
Kami terus melanjutkan acara hingga usai meskipun selesai sedikit lebih awal. Setiap peserta tentu memendam rasa tidak puas, namun wajah mereka tetap menyiratkan kegembiraan ---semacam perasaan suka cita bisa berkumpul dengan kawan-kawan yang berpandangan sama.
Gus Marzuki berkali-kali minta maaf kepada saya. Guilty feeling. Saya tahu itu. Namun saya justru sangat mengapresiasi acara ini. "Di tempat lain, Gus, saya yakin acara tak berijin di tengah situasi panas seperti ini -apalagi bertempat di Klaten, kemungkinan besar akan dibubarkan paksa ormas intoleran," kataku saat menuju pesantrennya di Wonosari.
Benar, malam itu juga, saya dikabari bahwa Tegal dan Solo gagal menyuarakan solidaritasnya karena tidak mendapat izin. Di Pantai Losari Makassar hari ini malah jauh lebih mengenaskan; diobrak-abrik lasykar fentung.

Comments