Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2017

Doa Fitri dari Pdt. Ari Mustyorini

Sudah dua kali rombongan Forum Masyarakat Gresik Pecinta Keberagaman (FORMAGAM) bersilaturahmi lebaran ke rumah mertua saya di Ngampel Manyar Gresik. Tahun kemarin dan lebaran barusan. Formagam adalah motor gerakan toleransi di luar struktur negara, semacam FKUB swasta. Saat deklarasi beberapa tahun lalu, mereka memanfaatkan momentum kedatangan ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman dalam acara sahur bersama di Pemkab Gresik. Naskah deklasinya ditandatangani istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid.Saya masih ingat, kala itu, sempat dikritik paspampres gara-gara menyisipkan acara penandatangan deklarasi. Tidak sesuai rundown yang tertera. "Mas, harusnya kami diberitahu sejak awal supaya bisa lapor komandan," kata anggota paspampres sembari memfoto naskah deklarasi, 30 menit sebelum ditandatangani. Saya nyengir kuda. Panitia lokal berharap-harap cemas, kuatir nggak diloloskan. Mungkin itu sebabnya, saya merasa sangat dekat dengan Formagam hingga sekarang. Saya merasa dipelakukan seper…

The Eighty-four of Saints; Narasi Memori Tionghoa di Indonesia

Terima kasih bagi yang sudah berkomitmen untuk ikut project penarasian memori "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia".**Menjura1. Yuliati Umrah, aktifis anak, Surabaya.2. Supri, GUSDURian Banjarmasin3. Ellen Nugroho, EIN Institute, Semarang4. Michael Andrew, Aktivis Roemah Bhinneka dan Mahasiswa S1 Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Non-Frater/Non-Seminaris), Surabaya5. Pdt. Surya G, GKI Semarang6. Muhammad Bintang Akbar, mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah UNY, Jogja7. Freddy Mutiara, dosen Ubaya8. Eve Jap, sedang menyelesaikan tesis di STT Harvest9. Rovien Aryunia, profesional SDM dan aktivis MAFINDO.10. Priyo Sambadha, Puan Amal Hayati Ciganjur, Jakarta.11. Kristanto Tatok, teolog, GUSDURian Jatim.12. Andreas Kristianto, aktifis GKI, GUSDURian13. Affandi, dosen UNIM Mojokerto14. Antonius Herujiyanto, dosen Sanata Dharma15. Alim Tobing, SSi, Apt, RFP, Vihara BDC Surabaya16. Muliasari Kartikawati, dosen UC, GUSDURian Jombang17. Robi Dharmawan, GEMA…

Kunjungan Fitri dari Paroki

Saya merasa perlu mengabarkan moment ini. Lebaran hari kedua kemarin, rombongan Paroki Santa Maria Jombang mendatangi rumah saya di Mojongapit, Senin (26/6). Tidak tanggung-tanggung, mereka dipimpin langsung oleh dua orang romonya; Rm. Warno, yang senior, dan Rm. Sentosa, lebih muda.Saya anggap ini kunjungan spesial dan bisa dikatakan sebagai lawatan balasan. Natal tahun lalu saya dkk. diperkenankan bersilaturahmi ke Paroki. Saat itu Romo Warno terlihat kaget namun ia tampak sumringah, ada semburat kegembiraan. Wajahnya seakan berkata 'Hah? Dikunjungi orang Islam pas natalan di Paroki?  This could be too damn good to be true!'Romo Warno memang pantas terkejut, di tengah bombardiran fatwa haram mengucapkan 'selamat natal' dari MUI, lha kok malah ada anak muda datang berjamaah ke gereja hanya untuk melanggar fatwa haram itu. Kami saat itu datang tidak sembunyi-sembunyi. Sebaliknya, kunjungan kami bisa dikatakan demonstratif. Saya undang media dan liputannya menjadi headl…

Histori dan Memori: Undangan Menulis Pengalaman Bergumul dengan Tionghoa

Saat diundang BDC Surabaya mengisi forum diskusi "Tionghoa dalam Lintasan Sejarah Indonesia", Jum'at (22/6), begitu banyak refleksi personal dari peserta. Kebanyakan mereka adalah Tionghoa-non Muslim. Usai acara, saya ngobrol dengan beberapa peserta, terutama untuk mendorong mereka berani menuliskan pergumulannya dengan identitas ketionghoaan. Namun bagaimanapun, tradisi oral tidak akan bertahan lama sepanjang tidak dituliskan. Peradaban hanya akan kokoh jika ada pengalaman yang dirujuk sebagai pondasi. Undangan ini adalah ikhtiar menarasikan memori personal agar keragaman di Indonesia --terutama dalam isu Tionghoa-- menjadi lebih kaya dan semakin kokoh. Kami sadar, sangat mungkin narasi-narasi nanti berisi kepiluan dan kepedihan, namun bukankah hal itu akan menjadi lokomotif-ingatan utama agar cerita kelam tersebut tidak terulang kembali? Project ini bertajuk "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia".Siapa yang bisa menjadi penulis?
Anda tidak perlu terlebih …

Beasiswa Training Penggerak Perdamaian dan Keberagaman Berbasis Komunitas

Latar Belakang
Pandangan bahwa ideologi dan gerakan radikal menjadi ancaman terpenting bukanlah hal yang berlebihan, mengingat rentetan aksi terorisme pada tataran internasional, regional dan nasional tetap menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dalam konteks Indonesia, terorisme yang terjadi ditengarai meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif setelah reformasi bergulir, dan tidak dapat diabaikan bahwa gerakan terorisme tersebut membawa serta ideologi radikal yang mengancam kesatuan bangsa.      Ideologi-ideologi dan gerakan radikal tersebut dalam kenyataannya jelas telah mampu menggerakkan aktor-aktor dari masyarakat sipil menjadi pelaku teror dan radikalisme. Hal ini terlihat dengan semakin meluasnya praktek intoleransi yang semakin masif berlangsung.Berkembangnya aksi-aksi radikalisme dan terorisme ini pada akhirnya akan mengoyak kebinekaan, yang akibatnya, muncul ego sektarian, rasa curiga, bahkan aksi balas dendam. Jika ini terus dibiarkan maka dapat mengancam keutuhan…

Rilis Buka Bersama Kebangsaan bersama Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Kampung Pecinan Tambakbayan Bubutan Surabaya

Bertempat di Kampung Pecinan Tambakbayan Surabaya, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid melakukan buka bersama, Jumat (16/6). Acara ini dihadiri lebih dari seratus orang dari kalangan lintas agama, etnis maupun kelompok marginal lainnya.

Dalam pidatonya, ibu negara RI ke-4 menekankan pentingnya kesadaran berbangsa dan bernegara. Demokrasi dan kebhinnekaan adalah fitrah Indonesia. "Kita harus saling mengasihi, menyayangi dan menghormati di atas segenap perbedaan yang ada," kata Sinta Nuriyah.

Menurutnya, penyeragaman bertentangan dengan ruh bangsa ini dan perlu dilawan. Setiap orang perlu menyadari hal ini.

Menurut Irianto Susilo, salah satu panitia, kehadiran Sinta Nuriyah merupakan stimulasi luar biasa. Terutama untuk meneguhkan Demokrasi dan Kebhinnekaan yang tengah diobok-obok akhir-akhir ini;
"Kami masyarakat sipil Surabaya bersama Ibu Sinta berkomitmen menjaga Pancasila dan NKRI meski dengan taruhan nyawa sekalipun," kata salah satu aktifis Keuskupan Surabaya …

Menjemput Lailatul Qadar di GKJW Banyuwangi

Oleh. Subhan BastomiMalam itu, Sabtu (10/6), aku mendapat undangan dari sahabatku gus Aan hadir dalam sebuah acara yang sangat asing bagiku, beribadah dari dalam gereja. Jujur, itu pertama kali aku lakukan walaupun sebelumnya aku sering keluar masuk gereja, tapi malam ini berbeda karena sebelumnya aku hanya berfikir ketika gereja memanggilku itu berarti aku mendapat pekerjaan dan dapurku bisa mengepul. Maklum kita hanya lelaki pemuas (tembok) atau bahasa kerennya painters (tukang cat).Sebelum berangkat aku sempat bingung baju apa yang harus kukenakan untuk menghormati mereka dan gus Aan tidak malu punya kawan seperti saya. Karena maaf, saya tidak punya baju yang sopan. Dalam lemari saya hanya bertumpukan kaus yang bertuliskan merk cat, beberapa jersey adventure trail dan mungkin itu yang menggambarkan pekerjaan dan hobi saya. Ada beberapa hem tapi sudah tidak proporsional dengan ukuran tubuh saya, cuma satu batik andalan tapi di saku depan pas di dada tertulis MWC NU Tegalsari beserta…

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Rilis Konsolidasi Kebangsaan Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam acara Buka dan Sahur Keliling Ramadlan 2017 di Surabaya dan Sidoarjo

Salam Kebangsaan,Merespon situasi kebangsaan akhir-akhir ini, Ibu Negara RI-4 Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid akan mengunjungi Surabaya dan Sidoarjo. Kunjungan ini akan dikemas dalam acara konsolidasi kebangsaan bersama elemen masyarakat sipil di dua kota tersebut. Di Surabaya, Bu Sinta akan bertemu dan berdialog dengan komponen lintas agama/etnis dan masyarakat marginal di Kampung Pecinan Tambakbayan Alun-alun Contong Bubutan, Jumat (16/6) , jam 15-18.00, diakhiri buka bersama. Selain memberi santunan, kegiatan ini juga akan dimeriahkan  bazar lintas agama/etnis, art performances, barongsay, pembacaan macapat dan penyalaan 1000 lilinSelanjutnya pada 17 Juni dini hari, Bu Sinta dan rombongan akan meluncur ke Klenteng Teng Swie Bio di Jln. Imam Bonjol No.124 Krian Sidoarjo untuk sahur bersama para _dluafa_, tokoh lintas agama dan etnis, serta pemangku kebijakan. Acara yang juga dimeriahkan art performance dan santunan ini diperkirakan mulai sejak pukul 23.00 (16/8) hingga 04.00 (17/8).…

The Wiseman Sarkaman

Saya cukup kesulitan menemukan arti kata Sarkaman meski cukup banyak entrynya di Google. Nama ini terindeks bersama nama-nama ulama besar tanah Jawa dan Madura, utamanya dengan awalan mbah.Sarkaman adalah nama orang yang telah lama saya kenal. Lelaki berusia 63 tahunan ini hidup di lereng perbukitan Wonosalam, tepatnya di wilayah Bareng. Saya beranikan diri mengirim sms ke dia hanya untuk mengetahui arti nama itu."Mboten wonten artosipun Mas," jawabnya melalui pesan pendek.
Sarkaman bukanlah orang sembarangan. Ia pernah cerita betapa dulu banyak perwira kepolisian level kabupaten dan propinsi berkunjung ke rumahnya yang sangat sederhana, terutama untuk tujuan karir profesi. Bukan, Sarkaman bukan dukun, cenayang, atau kiai khos. Jauh dari itu.'Dulu saya ini dipasrahi oleh pak Kapolri untuk menjaga perkebunannya di wilayah sini," ujarnya. Barangkali faktor itulah yang menyebabkan ia dianggap dekat dengan orang nomor satu di Trunojoyo kala itu. Kalau ingin karir polisi…

Perihal Lesbian dalam Al-Quran

Kira-kira seminggu lalu saya menghadiri undangan Mas Dede Oetomo, dedengkot aktifis LGBT. Founder GAYa Nusantara ini melaunching gerakan baru untuk mempromosikan hak ketubuhan dan seksualitas di komunitas muslim, namanya kerennya Coalition for Sexuality and Bodily Rights in Moslem Society, disingkat CSBR. Dalam pertemuan di Perpus Bank Indonesia Surabaya itu saya bertemu banyak sekali aktifis dari berbagai sektor, utamanya yang concern dalam isu LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex, Queer). Secara reflek, gaydar saya mendeteksi tidak sedikit dari mereka yang berorientasi seksual homo, baik gay maupun lesbian. Gaydar merupakan kemampuan built-in yang dimiliki seorang homoseksual. Dengannya, seseorang mampu mendeteksi (awal) orientasi seksual orang lain; apakah dia hetero, homo atau biseksual tanpa perlu bertanya kepada yang bersangkutan. Meski bukan gay, saya tertarik melatih kemampuan ini. Mentor awal saya adalah Dv. Dia perempuan dan seorang L; kode umum untuk menye…