Skip to main content

Iklan

Beasiswa Training Penggerak Perdamaian dan Keberagaman Berbasis Komunitas

Latar Belakang
Pandangan bahwa ideologi dan gerakan radikal menjadi ancaman terpenting bukanlah hal yang berlebihan, mengingat rentetan aksi terorisme pada tataran internasional, regional dan nasional tetap menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dalam konteks Indonesia, terorisme yang terjadi ditengarai meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif setelah reformasi bergulir, dan tidak dapat diabaikan bahwa gerakan terorisme tersebut membawa serta ideologi radikal yang mengancam kesatuan bangsa.      

Ideologi-ideologi dan gerakan radikal tersebut dalam kenyataannya jelas telah mampu menggerakkan aktor-aktor dari masyarakat sipil menjadi pelaku teror dan radikalisme. Hal ini terlihat dengan semakin meluasnya praktek intoleransi yang semakin masif berlangsung.

Berkembangnya aksi-aksi radikalisme dan terorisme ini pada akhirnya akan mengoyak kebinekaan, yang akibatnya, muncul ego sektarian, rasa curiga, bahkan aksi balas dendam. Jika ini terus dibiarkan maka dapat mengancam keutuhan NKRI.

Menyadari makin meningkatnya radikalisasi melalui aksi-aksi kekerasan berbasis agama dan keyakinan di Indonesia, menjadikan sebuah keprihatinan tersendiri bagi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Sebagai sebuah lembaga keumatan, PGI tetap berkeinginan memberikan kontribusi penyelesaian persoalan-persoalan ditengah kehidupan berbangsa.

Salah satu kontribusi PGI atas maraknya kasus intoleransi yang berujung pada radikalisme tersebut, mendasari PGI bersama dengan lembaga-lembaga keumatan lain seperti NU, KWI, Walubi, PHDI dan Matakin, melakukan penyusunan modul “Agama-agama Melawan Intoleransi dan Radikalisme”.

Penyusunan modul yang telah dibuat ini bebasis pada pembentukan komunitas muda lintas iman dan agama sebagai agen perubahan dan agen perdamaian untuk menjadi komunitas pioneer yang toleran. Maka dalam proses pelatihan dan sosialisasi modul ini, sekaligus juga menjadi sarana membentuk komunitas-komunitas antar iman muda yang akan menjadi fasilitator perdamaian dan kelompok yang toleran bagi komunitas mereka berasal dan diutus.

PGI menyadari bawah bekerja di hulu untuk menangani masalah intoleransi dan radikalisme adalah pekerjaan yang tidak mudah. Dibutuhkan sebuah revolusi mental umat beragama untuk menyadari keberagaman yang menjadi esensi dan kekayaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, perlu upaya komprehensif dari berbagai pihak untuk mencegah gerakan radikalisme dan terorisme semakin berkembang yang dapat mengancam NKRI.

Tujuan
1. Mengenal dan memahami berbagai gerakan radikalisme berbasis identitas primordial yang berkembang di indonesia.
2. Belajar dan hidup bersama antar agama sebagai jalan mengurangi kecurigaan antar kelompok yang menjadi dasar bisa saling menghargai dan anti pada tindakan intoleransi
3. Membentuk komunitas lintas iman sebagai wadah kader-kader lintas iman agar bisa menjadi pioneer perdamaian.
4. Membentuk dan membangun kapasitas bagi kader yang bisa melakukan sosialisasi konsep toleransi dan melakukan kampanye tentang hidup di dalam kebhinnekaan.

Strategi Pelaksanaan
Persiapan
Perekrutan pemuda lintas agama yang dilakukan di daerah tempat pelaksanaan pelatihan. Rekrutmen ini dilakukan bersama dengan lembaga mitra di daerah pelaksanaan kegiatan. 
Pelaksanaan pelatihan modul toleransi kepada para pemuda pilihan yang akan menjalankan live in.

Lokasi live-in akan ditentukan di daerah pelaksanaan kegiatan yang mengambil rumah ibadah, pesantren, perkampungan masyarakat dan lain-lain yang disesuaikan untuk mencapai tujuan kegiatan.

Peserta
Peserta terdiri dari 35 orang (dari komunitas lintas iman/agama dan keseimbangan jender) di wilayah Jawa Timur. Mereka adalah kelompok usia muda antara 20-30 tahun.

Live In 
Live in adalah strategi yang dipilih untuk proses training ini. Strategi ini mejadi pilihan untuk memaksimalkan interaksi dan ralasi para peserta dengan masyarakat yang dikemuadian hari akan manjadi ruang bagi kampanye-kampanye perdamaian dan  melawan radikalisme.

Selama live-in kegiatan yang akan dilakukan oleh para pemuda lintas agama antara lain FGD : focus group disscusion (diskusi terarah) membahas isu-isu dan strategi adaptasi/bahan modul pelatihan untuk memperdalam pemahaman tentang hidup bersama dalam keberagaman dsb. Penyusunan strategi aksi yang dapat dilakukan bersama untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama sebagai bentuk kampanye mengembangkan hidup toleran dan perdamaian dalam bingkai kebhinnekaan.

Gerakan Aksi dan Kampanye
Pelaksanaan gerakan aksi pada akhir puncak live in sesuai rancangan aksi saat FGD seperti : gotong royong membersihkan tempat ibadah lintas agama, pembuatan gambar, publikasi atau kreasi ruang publik dengan tema kebersatuan dalam keberagaman.

Mengunjungi situs-situs keagamaan yang ada di daerah lokasi kegiatan (makam Gus Dur, GKJW Mojowarno dan Pura Amartya Ngepeh).

Monitoring dan Evaluasi
Identifikasi hasil dampak pelatihan dan kegiatan live in serta aksi nyata melalui kuesioner

Tempat Pelaksanaan 
Training ini akan dilaksanakan di Klenteng Hong San Kiong Gudo Jombang, Jawa Timur pada tanggal 11-14 Juli 2017.

Pelaksana
Kegiatan ini dilaksanakan oleh PGI bekerjama dengan GUSDURian Jombang dan Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur.

Fasilitator
- Pdt. Penrad Siagian (PGI)
- Aan Anshori (JIAD)
- Amin Siahaan (JKLPK)

Pendaftaran
Pendaftaran dapat dilakukan melalui formulir online SEBELUM tanggal 5 Juli 2017. Hanya pelamar terpilih yang akan dihubungi panitia. Bagi pelamar terpilih, panitia akan menanggung akomodasi selama training, live in, field trip dan dukungan transportasi lokal.

Kontak Panitia
Affandi 085649770810 (WA) 
Susi 081217604928

Penutup
Demikian kerangka acuan ini dibuat untuk menjadi panduan pelaksanaan kegiatan.

Comments

  1. Apakah kegiatan ini terbuka untuk semua kalangan baik pekerja maupun mahasiswa?

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …