Skip to main content

Iklan

Kunjungan Fitri dari Paroki

Saya merasa perlu mengabarkan moment ini. Lebaran hari kedua kemarin, rombongan Paroki Santa Maria Jombang mendatangi rumah saya di Mojongapit, Senin (26/6). Tidak tanggung-tanggung, mereka dipimpin langsung oleh dua orang romonya; Rm. Warno, yang senior, dan Rm. Sentosa, lebih muda.

Saya anggap ini kunjungan spesial dan bisa dikatakan sebagai lawatan balasan. Natal tahun lalu saya dkk. diperkenankan bersilaturahmi ke Paroki. Saat itu Romo Warno terlihat kaget namun ia tampak sumringah, ada semburat kegembiraan. Wajahnya seakan berkata 'Hah? Dikunjungi orang Islam pas natalan di Paroki?  This could be too damn good to be true!'

Romo Warno memang pantas terkejut, di tengah bombardiran fatwa haram mengucapkan 'selamat natal' dari MUI, lha kok malah ada anak muda datang berjamaah ke gereja hanya untuk melanggar fatwa haram itu.

Kami saat itu datang tidak sembunyi-sembunyi. Sebaliknya, kunjungan kami bisa dikatakan demonstratif. Saya undang media dan liputannya menjadi headline di Radar Jombang besoknya. Masih saya simpan kliping korannya.

Saat datang ke rumah saya malam itu, Romo Warno dan warga Katolik tengah berusaha menampilkan keseimbangan dalam berelasi. Keseimbangan ini merupakan barometer etis dalam tata krama. Maksudnya, alangkah tidak beradabnya kita yang hanya mau disowani namun enggan sowan balik. Jika rumah atau tempat ibadahmu pernah dikunjungi penganut agama lain, maka sebenarnya kita telah berhutang kunjungan-balik kepada mereka. Sesimpel itu menurut saya.

"Eh Mo, tahu nggak, tempat duduk sampeyan itu persis dengan posisinya Modik pas main ke sini," kata saya. Modik adalah call sign Romo Didik, vikaris jenderal keuskupan Surabaya sebelum akhirnya digantikan Romo Eko. Modik memang pernah mampir ke rumah, bersama kawan saya Tatiek dan Kiky.

Malam itu ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal, terutama seputar intoleransi dan inisiatif kami dalam merespon hal itu. Saya bilang akan mengadakan kegiatan "Walk for Peace" pertengahan Juli ini ---semacam kunjungan anak muda lintas iman ke beberapa rumah ibadah Jombang untuk belajar singkat tentang agama-agama. Termasuk kunjungan ke Paroki Santa Maria.

Melihat Romo Warno sangat apresiatif mendengar hal itu, saya langsung menimpali, "Tapi nganu, mo, kami datang ke Paroki pas jam makan siang ya, sekalian minta makan siang. Anggaran kami mepeeeet banget,"

Saya ngomongnya sembari cengar-cengir. Tanpa beban sama sekali. Rasa malu dan sungkan telah saya amputasi sedemikian pendek untuk mengatakan hal itu. "Oh siap Gus.. Kami senang dan siap. Ada lagi yang harus kami persiapkan?" jawabnya balik. Saya sempat mikir, "Busyet ..wong iki tengah menyindirku (nglulu, bahasa Jawa) atau serius nanya ya?" Saya memang hanya butuh makan siang saja di Paroki untuk aspek logistik.

Tak seberapa lama kemudian, datanglah Pendeta Kristian Muskanan, gembala Gereja Bethel Indonesia Jemaat Diaspora. Ia datang bersama istrinya. Pak Kris yang tahun lalu menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) cabang Jombang, adalah pendeta yang memimpin doa saat aqiqahnya Galang.

Selang sesaat setelah Pak Kris dan istrinya pamit pulang karena ada tamu, rombongan Katolik juga minta undur diri.

"Boleh pulang tapi tolong saya minta doanya ya, Mo, agar rumah ini menjadi lebih barokah," ujar saya. Romo Warno mempersilahkan Romo Sentosa memimpin doa. Kami semua khusuk mengamininya, terutama saya.

Saya bersyukur mendapat kunjungan fitri dari paroki. Ke depan, jika ada pemuka agama lain atau penghayat kepercayaan datang ke rumah saya, pasti saya akan minta mereka berdoa di rumah saya.

Comments

  1. Ini adalah contoh Sillaturahmi antar umat beragama yang seharusnya di lakukan oleh Kita semua untuk memperkokoh Bhineka Tunggal Ika dan terwujudnya kerukunan antar Umat beragama di Indonesia Negara Kita yang sangat Kita cintai ini.

    ReplyDelete
  2. Ini adalah contoh Sillaturahmi antar umat beragama yang seharusnya di lakukan oleh Kita semua untuk memperkokoh Bhineka Tunggal Ika dan terwujudnya kerukunan antar Umat beragama di Indonesia Negara Kita yang sangat Kita cintai ini.

    ReplyDelete
  3. Ini adalah contoh Sillaturahmi antar umat beragama yang seharusnya di lakukan oleh Kita semua untuk memperkokoh Bhineka Tunggal Ika dan terwujudnya kerukunan antar Umat beragama di Indonesia Negara Kita yang sangat Kita cintai ini.

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …