Skip to main content

Menjemput Lailatul Qadar di GKJW Banyuwangi

Oleh. Subhan Bastomi

Malam itu, Sabtu (10/6), aku mendapat undangan dari sahabatku gus Aan hadir dalam sebuah acara yang sangat asing bagiku, beribadah dari dalam gereja. Jujur, itu pertama kali aku lakukan walaupun sebelumnya aku sering keluar masuk gereja, tapi malam ini berbeda karena sebelumnya aku hanya berfikir ketika gereja memanggilku itu berarti aku mendapat pekerjaan dan dapurku bisa mengepul. Maklum kita hanya lelaki pemuas (tembok) atau bahasa kerennya painters (tukang cat).

Sebelum berangkat aku sempat bingung baju apa yang harus kukenakan untuk menghormati mereka dan gus Aan tidak malu punya kawan seperti saya. Karena maaf, saya tidak punya baju yang sopan. Dalam lemari saya hanya bertumpukan kaus yang bertuliskan merk cat, beberapa jersey adventure trail dan mungkin itu yang menggambarkan pekerjaan dan hobi saya. Ada beberapa hem tapi sudah tidak proporsional dengan ukuran tubuh saya, cuma satu batik andalan tapi di saku depan pas di dada tertulis MWC NU Tegalsari beserta lambang jagad berbintang sembilan.

Saya merasa baju-baju sangat tidak mungkin, "Ahh masa bodolah tentang pakaian...yang penting pantes walaupun pepatah; mengatakan ajining rogo soko busono,"

Ketika sampai di gereja pas waktu berbuka puasa. Dari beberapa teman rombonganku mungkin aku yang paling pede, mungkin karena aku yang paling sering masuk gereja. Namun sungguh, saya agak ndredek ketika kami disambut dengan senyum dan pecah suasana ketika kami dihampiru Gus Aan dengan cerah-ceria khas beliau.

Dari raut wajahnya tercermin sebuah kalimat welcome in my home. Kami pun masuk ruang makan dan dikenalkan kepada pengurus jemaat serta pendeta Krispong. Mereka berkumpul menemani kami berbuka puasa. 

Ketika pendeta Kris berkata bahwa acara dimulai pukul 18.00, kami memohon izin sebentar untuk menunaikan sholat maghrib. Mereka mempersilahkan dengan penuh hormat seakan kami adalah rombongan Raja salman yang di sambut oleh para alumni 212.

Setelah sholat magrib kami sudah ditunggu jemaat gereja. Kami dipersilahkan duduk paling depan seperti seorang kiai yang hadir dalam pengajian peringatan hari besar Islam. Saya mencoba berdamai dengan keadaan memandang sekeliling sambil menghela nafas panjang.

Dalam hati saya berkata; "Sudah kafirkah aku?" Saya tidak lupa terus beristighfar. Bukan tanpa alasan aku berfikir seperti itu. Maaf, aku nyantri di PP Darussalam 6 tahun, setelah itu berlanjut di Pesantren Al-Falah Jember. Pendidikan awalku adalah TK Khadijah, MI Miftahul Ulum, MTs Al-Amiriyyah, MA Alamiriyyah -- semuanya berafiliasi dengan Lembaga Pendidikan Maarif NU.

Anda bisa bayangkan, dengan latar belakang seperti itu, barangkali sangat normal ketika terjadi pergumulan batin yang bermuara.  Suudzon dan khusnudzon campur aduk berproses menjadi rasa pengen kentut, kencing, menjadi satu dan tidak bisa keluar. (Coba anda bayangkan sejenak rasanya)

Tapi jujur saja, memang benar itulah yang saya alami dan insyaAllah akan menjadi cerita pengantar tidur bagi anak cucuku kelak.
Kemudian, sebagai pembuka kedua, sahabat kami yang hadir diperkenalkan oleh Pdt. Kris, serta diundang ke depan beserta Pdt. Natael untuk menjadi narasumber. Acara malam itu dalam rangka bulan Kesaksian dan Pelayanan (Kespel) dengan tema "Menyongsong Masa Depan NKRI".

Kemudian oleh Pdt. Kris, kami diperkenalkan satu persatu kepada seluruh jemaat yang hadir. Mereka menyambut dengan senyum ramah serta tepuk tangan tanda penghargaan bagi kami yang telah sudi nenghadiri dan menghormati acara yang mereka.

Pendeta Natael membuka saresehan pada malam hari itu dengan lembut khas seorang ayah yang sedang memberi petuah kepada anak anaknya. Beliau memaparkan tentang sejarah Pancasila, rumusan dasar dan keragaman idenya dalam tubuh BPUPKI masa itu.

Menurut Pdt. Natael, semua pada akhirnya bermuara pada satu rumusan lima sila yang terbingkai dalam Bhineka Tunggal Ika. Natae juga mengejawantahkan tentang konsep anak kandung dan anak angkat, mayoritas dan minoritas. Dia memberikan satu kesimpulan; kita adalah satu. Ada quote dari almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid; tidak penting apa agamamu, apa sukumu. Ketika engkau bisa berbuat baik, mereka tidak akan bertanya apa agamamu dan apa sukumu. Kemudian Pdt. Natael menutup sesinya dengan quote KH. Hasim Muzadi; "Pancasila bukan agama tapi tidak bertentangan dengan agama. Pancasila bukan jalan tapi titik temu antara semua perbedaan jalan, beda suku budaya agama dan bahasa. Hanya Pancasila yang mampu menyatukan,"

Kemudian sesi dilanjut oleh junior saya, Tedjo Rifa'i, mantan mubaligh cilik yang sangat kondang bahkan sering satu pentas dengan Rhoma Irama dengan Nada dan Dakwahnya. Sekarang job dakwahnya sepi. Dia yang pernah sedikit "murtad" kala bergumul di rayon Al Hikam PMII Unisma Malang, merupakan seorang  advokat yang punya hubungan baik dengan beberapa tokoh ring satu Banyuwangi.

Tedjo memang punya kualifikasi berbeda dengan yang lain. Ia pernah mengikuti beberapa kursus diantaranya diklat pengacara HAM dan kursus auditor hukum yang diammpu langsung oleh Prof. Jimly Assidiqi.

Malam ini dengan sedikit ndredeg dia membawakan tema sesuai dengan kualifikasinya yaitu tentang kesetaraan dan hak asasi manusia. Tema ini sangat matching dengan materi yang disampaikan oleh pemateri sebelumnya.

Forum berjalan khidmat dan audien semakin semangat karena materi Tedjo adalah pengetahuan penting yang bisa digunakan sebagai alat melawan bullying ataupun persekusi. Harus diakui, penyampaian materinya masih sangat normatif namun cukup lumayan. Saya meyakini Tedjo menyampaikannya sembari ndredeg, ngempet kentut dan kencing.

Sesi terahir yang sangat ditunggu-tunggu jemaat adalah pemaparan sahabat saya, Aan Anshori. Katanya dia NU tapi saya belum pernah tahu ia menunjukan kartanunya hehehe...

Dengan penuh antusias seluruh jemaat menyimak apa yang disampaikan beliau dengan gaya khas LGBT --walaupun sejatinya sudah terbukti ada Galang dan Cecil. Ia sangat komunikatif memaparkan tentang bahaya radikalisme dan data-data tentang perkembangan radikalisme di Indonesia.

Wow saya sangat ngeri dengan data tersebut dan saya hampir mengangkat tangan untuk ampun menyerah tidak kuat menahan emosi kebangsaan saya yang rasanya tercabik-cabik. Namun saya tetap tegar karena saya seorang Banser yang telah lulus Diklatsus.
Benar apa yang dikatakan gus Aan ketika kita mengupas kitab suci kita dengan setengah-setengah maka itulah yang terjadi, dan saya pernah mengalami fase itu.

Saya berfikir ketika hal tersebut tidak segera kita benahi maka ancaman serius sedang mengintai bumi kita tercinta ini. Maka ada hal hal yang harus kita mulai dari kita sendiri yaitu mencoba mengimplementasikan secara utuh apa itu rahmatan lil 'alamiin. Di sana tersimpan sebuah mutiara yang bernama cinta. Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Rumi bahwa Tuhan adalah segalanya Ia menganugerahi kebaikan kepada siapapun yang senantiasa tenggelam dalam lautan cinta.

Sesi dilanjut dengan tanya-jawab. Ada beberapa penanya mengungkap tentang apa yang pernah dia alami yang cukup membuat diri saya malu di hadapan tuhan. Sadar atau tidak aku atau pun kawanku yang lainnya sering bersuudzon tentang mereka. Padahal dari ungkapan mereka,  sebenarnya mereka lebih tahu dan lebih bisa mengamalkan apa itu ajaran agama kasih sebagai wujud inti dari rahmatan lil alamiin.

Bahkan jika mereka berkenan aku kan meminta maaf atas apa yang pernah aku prasangkakan terhadap mereka.

Ketika kita sadar bahwa manusia tercipta dengan segenap kekurangan; apakah pantas ketika kita selalu merasa "Akulah yang paling benar. Ketika engkau tidak seperti aku maka engkau kafir..?"

Harus kita ingat pula bahwa manusia dicipta dengan berbagai perbedaan dan bersuku-suku bangsa itu adalah haq (kebenaran). Mungkin sekarang ini urat malu kita sudah tertutup dan terlapisi lemak jahat, kolesterol atau asam urat yang menggerogoti sehingga urat malu kiat putus.

Puisi persaksian dari Taufiq WR Hidayat menjadi refleksi bahwa kita tidak akan sempurna menunaikan hidup ketika tanpa perbedaan yang saling melengkapi. Aku teringat sahabat karib saya, MHW, seorang pelukis seniman yang selalu mengajarkan cinta kasih terhadap saya. Teman saya ini terbiasa bekerja menghias ornamen pada pura seperti patung, atau pun altar untuk gereja, klenteng ataupun tempat-tempat ibadah lain.

Kadang setiap Natal dia mengajak saya untuk mendekor GPDI di Desa Jajag. Ia seorang hafidz al-Quran 30 juz (untuk yang ini hanya saya, istrinya dan Alloh saja yang tau serta itu alasan saya pake inisial).

MHW selalu mengajarkan kepada saya; cintailah apapun yang menurut nuranimu baik karena nurani tak pernah bohon. Yang membuat saya kadang merasa aneh, ketika dia melukis salib, Yesus atau ketika sedang membikin patung ogoh-ogoh, mulut MHW tidak pernah berhenti melafalkan ayat al-Quran yang dia hafal.

Saya kemarin bertanya pada dia apakah kamu tidak menista alquran dengan seperti itu? Dia hanya menjawab; fafirru ilallah (larilah menuju Allah). Jawaban itu seperti memukul telak uluhati saya karena baru sadar alam semesta beserta isinya adalah ciptaan tuhan dan hanya tuhan yang berhak menghakimi.

Pernahkah kita terfikir kenapa kita begitu mudah lupa akan perintah-perintah Allah di saat kita tersasar dan melakukan kesilapan yang berkali-kali? Pernahkah kita berfikir, kenapa begitu mudah kita melakukan perbuatan yang kita tahu akan dosanya dan silapnya? Pernahkan terlintas di benak kita kenapa kerap kali hati kita merasa begitu mudah untuk membeku hingga terlepas dari peluang-peluang membuat kebaikan?
Apakah yang telah terjadi saat itu? Apakah yang memberhentikan masa sehingga kita tersilap dan terus membuat kesilapan.

Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang telah melupakan (perintah-perintah) Allah, lalu Allah menjadikan mereka melupakan (amal-amal yang baik untuk menyelamatkan) diri mereka. Mereka itulah orang-orang yang fasik – derhaka” – Al- Hasyr: 19

Gereja beserta jemaatnya pada malam itu memberikan pelajaran kepada saya betapa berharganya sebuah kehidupan, indahnya toleransi dan sucinya cinta. Setelah sekian tahun saya tidak menulis, hari ini saya menulis dan ingin memprasastikan pengalaman berharga dalam hidup ini. Sebab dalam setiap fase kehidupan saya, harus ada prasasti yang bermanfaat untuk saya.

Maaf saudaraku aku pernah menista kalian. Maaf tuhanku, kami belum mampu mengurai benang kusut perselisihan. Semoga rahmatmu bisa kami implemetasikan terhadap sesama dengan penuh cinta.

Comments

Post a Comment