Skip to main content

Iklan

Rilis Buka Bersama Kebangsaan bersama Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Kampung Pecinan Tambakbayan Bubutan Surabaya


Bertempat di Kampung Pecinan Tambakbayan Surabaya, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid melakukan buka bersama, Jumat (16/6). Acara ini dihadiri lebih dari seratus orang dari kalangan lintas agama, etnis maupun kelompok marginal lainnya.

Dalam pidatonya, ibu negara RI ke-4 menekankan pentingnya kesadaran berbangsa dan bernegara. Demokrasi dan kebhinnekaan adalah fitrah Indonesia. "Kita harus saling mengasihi, menyayangi dan menghormati di atas segenap perbedaan yang ada," kata Sinta Nuriyah.

Menurutnya, penyeragaman bertentangan dengan ruh bangsa ini dan perlu dilawan. Setiap orang perlu menyadari hal ini.

Menurut Irianto Susilo, salah satu panitia, kehadiran Sinta Nuriyah merupakan stimulasi luar biasa. Terutama untuk meneguhkan Demokrasi dan Kebhinnekaan yang tengah diobok-obok akhir-akhir ini;
"Kami masyarakat sipil Surabaya bersama Ibu Sinta berkomitmen menjaga Pancasila dan NKRI meski dengan taruhan nyawa sekalipun," kata salah satu aktifis Keuskupan Surabaya ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Aan Anshori, aktifis GUSDURian yang juga sterring committe acara. Menurutnya bangsa ini tengah mengalami cobaan serius dalam mengelola keragaman dan intoleransi. Ia yang menyerukan seluruh elemen masyarakat sipil untuk bersatu padu menjaga Pancasila dan NKRI dan tetap mengedepankan dialog dalam menyelesaikan berbagai praktek kekerasan maupun persekusi atas nama apapun.

"Kami mendesak aparat hukum tetap waspada dan tidak membiarkan siapapun menyebar kebencian atas nama apapun," ujar mantan aktifis PMII ini. Demokrasi menurutnya adalah cara paling beradab bagi Indonesia untuk mengelola kebhinnekaan secara setara.

Selain orasi dari istri Gus Dur, acara yang didukung 50 elemen ini juga diisi berbagai penampilan kesenian lintas etnis, agama dan kepercayaan.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …