Skip to main content

Seratus Orang Angkat Pena soal Tionghoa

Mereka di bawah ini adalah orang-orang yang akan menulis pengalamannya bersinggungan dengan identitas Tionghoa. Ada cerita tentang darah, air mata, selaput kehormatan yang terkoyak, dan juga harapan, mimpi dan kejujuran.

Mereka yang tergabung dalam proyek penarasian memori; "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia" ini menulis secara sukarela, demi Indonesia yang lebih beradab.

1. Yuliati Umrah, aktifis anak, Surabaya.
2. Supri, GUSDURian Banjarmasin
3. Ellen Nugroho, EIN Institute, Semarang
4. Michael Andrew, Aktivis Roemah Bhinneka dan Mahasiswa S1 Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Non-Frater/Non-Seminaris), Surabaya
5. Pdt. Surya G, GKI Semarang
6. Muhammad Bintang Akbar, mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah UNY, Jogja
7. Freddy Mutiara, dosen Ubaya
8. Willy P Samadhi, aktifis dan peneliti, Yogyakarta.
9. Rovien Aryunia, profesional SDM dan aktivis MAFINDO.
10. Priyo Sambadha, Puan Amal Hayati Ciganjur, Jakarta.
11. Kristanto Tatok, teolog, GUSDURian Jatim.
12. Andreas Kristianto, aktifis GKI, GUSDURian
13. Affandi, dosen UNIM Mojokerto
14. Antonius Herujiyanto, dosen Sanata Dharma
15. Alim Tobing, SSi, Apt, RFP, Vihara BDC Surabaya
16. Muliasari Kartikawati, dosen UC, GUSDURian Jombang
17. Robi Dharmawan, GEMA INTI Jawa Timur, Surabaya
18. Adi Sujatmika Tjiong (Acong), blogger, dosen Ubaya, relawan Savy Amira Surabaya, co-founder & kontributor growthia.net, penggiat kebhinnekaan.
19. Aan Anshori, JIAD, GUSDURian Jombang
20. Sujoko Efferin, dosen Ubaya.
21. Michelle Angelia, mahasiswi S2 Ubaya
22. Mefangna Wibowo, mahasiswi S2 Ubaya
23. Pietra Widiadi, aktifis lingkungan
24. Herman Saputra Kwan, pengusaha dan aktivis sosial, Surabaya.
25. Virgo TS Anggoro, aktifis, penatua GKI Madiun
26. M. Cheng Hoo Djadi Galajapo, Pelawak (penuntun laku di segala waktu) , Surabaya
27. Pdt. Reza Syaranamual, konselor aktifis perdamaian, Maluku.
28. Hillary Syaranamual, penggiat interfaith, Ambon.
29. Rahmat Hidayat, S2 Filsafat Agama UIN Sunan Ampel, Surabaya.
30. Kartika Ratnasari, pendidik anak berkebutuhan khusus, Mojokerto.
31. Samanera Chang Shi, BDC Surabaya
32. Deddy Marciano, dosen Ubaya, konsultan keuangan
33. Advent Sarbani, Akademi Sekretaris Widya Mandala Surabaya
34. Erfan Sutono, M.H., Generasi Muda Khonghucu.
35. Sugiandi Surya Atmaja, MATAKIN, Jakarta.
36. Ongky Setio Kuncono aktifis dialog antar iman, dosen Agama Khonghucu di berbagai perguruan tinggi.
37. Ronald Hartono, Gema INTI Makassar, Sulsel
38. Arif Muzayin, aktifis Post Institute, Blitar
39. Iryanto Susilo, aktifis Rumah Bhinneka, alumni Sinlui 81, Surabaya.
40. Js. Inggried Budiarti, rohaniawan, aktif di DPK&FKDM Tegal Jawa Tengah
41. Putu Anom Mahadwartha, dosen Ubaya, konsultan, Surabaya
42. Astuti Parengkuh, aktifis perempuan dan anak, Solo
43. Laili Anisah, aktifis perempuan, studi S2 Ilmu Hukum UGM, Jombang
44. Abaz Zahrotien, M.Hum, Jurnalis, GUSDURian Temanggung
45. Aang Fatihul Islam, dosen STKIP Jombang.
46. Najib Ilmi, penggerak Jaringan GUSDURian Malang
47. Heri Pratono, dosen Ubaya, pemerhati multikultiralisme, Surabaya.
48. Liza Kusuma, ibu rumah tangga, penggiat pluralisme dan kebangsaan, Surabaya.
49. Tonny Dian Effendi, dosen HI dan peneliti pada pusat kajian Etnis dan Diaspora Sosial Universitas Muhammadiyah Malang
50. Debby R Santosa, wiraswasta, anggota Perhimpunan Indonesia Tionghoa Malang Raya
51. Halim Eka Wardhana, redaktur bulletin berkala PSMTI Cirebon.
52. Pdt. Steve Suleeman, teolog dan dosen STT Jakarta, aktifis gender dan seksualitas.
53. Shitavadhani Devi, pengusaha, Notaris/PPAT, dosen dan aktivis, Surabaya
54. Djoko Pratomo, penggerak FORMAGAM, GKI Gresik
55. Daisy Irawan, saintis CIFOR, Bogor
56. Woro Wahyuningtyas, aktifis, Direktur JKLPK, Jakarta
57. Linna Gunawan, pendeta di GKI Kayu Putih, Jakarta
58. Novita Sutanto, pendeta di GKI, Jakarta
59. Dian Lestariningsih, peneliti dan nona Rumah Lestari, Jogja
60. Abel Kristofel, mahasiswa teologi di Malang
61. Carmia, mahasiswi teologi, Malang
62. Rebeca Harsono, aktivis pembela hak perempuan, mendamping Cina  Benteng, Tangerang
63. Soka Handinah Katjasungkana  aktivis LBH APIK Semarang
64. Fitria Sari, aktivis hak reproduksi perempuan, Pasuruan.
65. Dede Oetomo, dosen, aktifis dan pendiri GAYa NUSANTARA, Surabaya
66. Vivid Sambas, penggiat perdamaian, Surabaya
67. Siti Mazdafiah, penggiat perempuan di Savy Amira, Surabaya
68. Dony Setyawan, penulis dan pendeta di GKJ, Salatiga
69. Olin Monteiro, aktivis perempuan, Jakarta
70. Maria Engeline Santoso, dosen UI, Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN), Depok
71. Irmia Fitriyah, feminis, Surabaya
72. Damairia Pakpahan, aktivis perempuan, Jogja
73. Eddy Suprapto, aktivis dan jurnalis, Jakarta
74. Poedjiati Tan, dosen UC, aktivis, penulis dan co-founder www.konde.com, Surabaya
75. Khanis Suvianita, aktifis dan dosen, Surabaya
76. Renata Arianingtyas, aktifis HAM, Jakarta
77. Zastrouw al-Ngatawi, budayawan NU, Jakarta
78. Dhyana Wijayanti, pendidik dan penulis, Klaten
79. Putri Widi Saraswati, dokter, feminis, Bandung.
80. Agnes Dwi Rusjiati, koordinator Aliansi Bhinneka Tunggal Ika Jogjakarta
81. Rika Theo, jurnalis, tengah studi S3 di Belanda
82. Nina Rossina, ibu rumah tangga, bekerja di LSM pertanian, Bali
83. Abigail Soesana, dosen dan aktifis kebhinnekaan, Surabaya
84. Humam Rimba, koordinator Jaringan GUSDURian Kebumen
85. Shantoy Hades, aktifis, Jogja
86. Vania Sharleen, S.Si (Teol), mahasiswa paskasarjana S-2 Teologi UKDW, Yogyakarta
87. Hemasari Dharmabumi, Advokat, Komunitas Hukum Padjajaran, Bandung
88. Azharul Husna, relawan perempuan untuk kemanusiaan, Aceh
89. Suma Mihardja, aktifis HAM, Jakarta
90. Jenni Anggita, mahasiswi S2 Cultural Studies UI, Depok
91. Joe Sava Budirianto, aktifis GKI, mahasiswa akuntansi Unika Darma Cendika, Surabaya
92. RT. Sudarno Hadipuro, pelestari budaya Jawa, Batu
93. Harijanto Tjahjono, dosen Ubaya, Surabaya
94. Adrianus Yosia, pengamat budaya, GKKK Ambon
95. Shinta Lesmana Hoo, accounting, Bogor.
96. Kusuma Budi P, konsultan IT, Bekasi
97. Cut Marini, Lakpesdam NU, Aceh.
98. Pdt. Firman Adi Kristiyono, Jaringan GUSDURian, Banyumas
99. Yerry Wirawan, dosen sejarah di Yogyakarta
100. Handoko Wibowo, aktivis HAM, Batang.

Comments