Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2017

Dari Klenteng hingga Pastel; Bertemu Kilat Menonite di Philadelphia

Secara tak sengaja, saya bertemu sekte Kristen Menonite yang hampir semua jemaatnya adalah para diaspora Tionghoa di Philadelphia. Bagaimana kejadiannya?Rasanya, hidup saya takkan jauh dari komunitas agama, terutama yang berstatus minoritas. Tak peduli di mana pun saya berada, naluri selalu menuntun untuk bertemu mereka.Selama beberapa hari di Philadelphia untuk program IVLP, saya mengunjungi beberapa komunitas agama sebagaialmana yang telah ditentukan pihak penyelenggara, dalam hal ini Departement of State AS.Di luar acara tersebut, saya berusaha menemui komunitas Indonesia yang terpusat di South Philly --salah satu bagian Philadelphia. Hari pertama tiba kota multikultur ini, saya bertemu dengan komunitas Muslim di Masjid Al-Falah. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya merupakan kunci perjalanan selama di Amerika --untuk menghirup sebanyak mungkin apa yang terjadi di sana. Saya ikut yasinan, shalat dan berdiskusi dengan mereka. Adalah Henky Chiok, salah satu penerjemah kami, yang menjadi…

Al-Falah diantara Philadelphia dan Filadelfia

"Mas, aku jemput sekarang ya, mumpung aku senggang. Karena nanti malam kami ada yasinan di Masjid Al-Falah," pesan pendek masuk ke ponsel segera setelah aku mendapat free wifi hotel. Aku memang hanya mengandalkan internet gratisan selama di AS. Paket data di negeri ini lumayan mehong (mahal). Aku harus ngirit, hidup mengandalkan uang saku #IVLP yang tidak bisa dikatakan melimpah ruah. *haisPesan itu datang dari Mas Aditya, warga Suroboyo yang tinggal lama di Philly bersama istri dan seorang anak. "Aku melok Yasinan, Mas," sahutku tanpa berfikir panjang. Yasin adalah salah satu surat panjang yang wajib aku hapal jika ingin lulus Tsanawiyah di Tambakberas puluhan tahun lalu. Jangan tanya apakah aku paham artinya dan kandungannya, selain bahwa surat ini diyakini cukup ampuh mempermudah kepergian orang dari dunia ini. Setelah acara keliling kota singkat, kami pun meluncur ke Masjid al-Falah. Jangan dibayangkan masjidnya seperti Istiqlal. Untuk ukuran musholla di kampun…

Patung itu Harus Tetap Berdiri

Pertemuan yang diadakan di Klenteng Boen Bio, Selasa (8/8/17) ini berlangsung secara rapi dengan Mas Aan Anshori, ketua JIAD sebagai moderatornya. Pertemuan ini memang diadakan khusus untuk membicarakan polemik patung Tuban. Bangunan setinggi 30an meter yang disebut-sebut tidak nasionalis dan harus dirobohkan dalam waktu 7X24 jam itu menimbulkan beberapa perbincangan diantara masyarakat. Termasuk oleh aktivis lintas agama malam itu. “Hal ini bukan hanya menjadi masalah bagi masyarakat Tuban, tidak hanya masalah untuk etnis Tionghoa, atau umat klenteng Kwan Seng Bio, melainkan ini adalah masalah bangsa Indonesia”, ujar mas Aan. Kalimat itulah yang berkali-kali disampaikan pria berkacamata itu sebagai bentuk persuasi membangun kesadaran bersama forum masalah-masalah kebangsaan. Masalah ini bisa jadi pemicu masalah lain yang serupa, yang memungkinkan akan muncul di waktu-waktu mendatang. Untuk itulah ini masalah semua masyarakat, semua golongan, semua agama, bukan hanya kepentingan satu …