Skip to main content

Iklan

Patung itu Harus Tetap Berdiri

Pertemuan yang diadakan di Klenteng Boen Bio, Selasa (8/8/17) ini berlangsung secara rapi dengan Mas Aan Anshori, ketua JIAD sebagai moderatornya. Pertemuan ini memang diadakan khusus untuk membicarakan polemik patung Tuban.

Bangunan setinggi 30an meter yang disebut-sebut tidak nasionalis dan harus dirobohkan dalam waktu 7X24 jam itu menimbulkan beberapa perbincangan diantara masyarakat. Termasuk oleh aktivis lintas agama malam itu. “Hal ini bukan hanya menjadi masalah bagi masyarakat Tuban, tidak hanya masalah untuk etnis Tionghoa, atau umat klenteng Kwan Seng Bio, melainkan ini adalah masalah bangsa Indonesia”, ujar mas Aan.

Kalimat itulah yang berkali-kali disampaikan pria berkacamata itu sebagai bentuk persuasi membangun kesadaran bersama forum masalah-masalah kebangsaan. Masalah ini bisa jadi pemicu masalah lain yang serupa, yang memungkinkan akan muncul di waktu-waktu mendatang.

Untuk itulah ini masalah semua masyarakat, semua golongan, semua agama, bukan hanya kepentingan satu kelompok orang. Masalah yang dituding JIAD merupakan kasus yg dipengaruhi juga oleh benih-benih ISIS ini pun juga disepakati oleh beberapa jaringan yang datang dalam pertemuan kali ini.

Forum malam itu dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari JIAD, MATAKIN, CMARS, GUSDURian Surabaya, GUSDURian Sidoarjo, aktifis Roemah Bhineka, Perwakilan NU, aktifis Tionghoa, serta perwakilan agama Tao, serta beberapa alumni training penggerak Perdamaian Jombang.

Pertemuan ini dimulai dengan penyingkapan sejarah oleh Tjong Ping. Mantan pengurus Klenteng Kwan seng Bio itu (Teguh Prabowo) berkata “Polemik tidak lebih dari persoalan administratif pemberian Izin Penderian Bangunan (IMB) dikarenakan belum adanya pengesahan pengurus Yayasan Klenteng baru, yang berhak mengajukan IMB kepada pemerintah”.

Jadi klenteng pengurus yayasan yang lama sebenarnya sudah selesai masa tugasnya sejak 2012. Masalah ini memang menjadi besar denga adanya beberapa kelompok orang yang mempermasalahkan hal ini atas nama nasionalis Indonesia. Sehingga yang menjadi penting juga dalam pertemuan kali ini diungkapkan bahwa patung tersebut bukanlah patung jenderal perang biasa, melainkan salah satu dari dewa sembahan umat Konghucu.

Pjs. Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Jawa Timur, bapak Ongky S.Kuncono mengatakan Dewa Kwan Kong bagi umat Khonghucu merupakan sosok yang sangat dihormati di seluruh dunia.

Kwan Kong adalah pribadi yang dianut dari sudut kebenaran dan keadilan yang dicerminkannya. Tak hanya dewa milik agama Khonghucu, dewa Kwan Kong juga merupakan junjungan penganut Tao.

Patung dewa ini memang tidak dapat disamakan dengan patung Jendral Sudirman yang notabenenya adalah pahlawan Nasionalis. Sedangkan Patung Dewa Kwan Seeng Tee (Kwan kong) merupakan patung dengan identitas agama tertentu.

Ongky menambahkan umat klenteng Kwan Seng Bio saat ini berharap agar pengurus baru segera dilantik sehingga bisa mengurus administrasi pendirian patung tersebut.

Dari segenap peserta yang hadir dalam pertemuan kali ini terlihat tidak ada satupun yang setuju jika patung tersebut dirobohkan. Semua peserta serempak dan bersehati mendukung berdirinya patung tersebut.

Tidak hanya masalah diskriminasi dan nasionalisasi, perobohan patung ini juga akan menimbulkan kepedihan bagi masyarakat karna sebagaimana diketahui bahwa patung tersebut telah tercatat MURI sebagai patung tertinggi se ASEAN, dengan tinggi 30 meter.

Acara ini ditutup dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama seluruh peserta dengan khidmat. Dengan satu harapan keadilan dan persatuan benar-benar akan tercapai dimulai dari orang-orang peduli dan memilih untuk tinggal diam.(vivi)

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …