Skip to main content

Iklan

Inside-Ambon; Kala Perempuan Kristen-Islam berbagi Payudara

Oleh Ika Hattu, Jemaat GPM Rehoboth Ambon, mahasiswi Universitas Pattimura.

Pada tanggal 25 Juli 2017, saya mengikuti training Penggerak Perdamaian dan Keragaman Berbasis Komunitas (Pelatihan Modul Deradikalisasi) yang dilaksanakan selama 4 hari. Penyelenggaranya PGI dan gereja saya, GKM Rehoboth Ambon.

Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang peserta baik yang beragama Kristen Protestan maupun yang beragama Muslim pada lingkup daerah Maluku.

Pada hari kedua tepatnya 26 Juli 2017 sesuai dengan jadwal kegiatan, kami mengikuti sesi "perjumpaan komunitas". Ada 3 komunitas yang akan kami datangi, diantaranya berlokasi pada Batu Merah - Masjid Agung AN-NUR dan Kantor Negeri Batu Merah, Latta- Jemaat Latta GPM Klasis Pulau Ambon Timur dan Komunitas Muslim Latta, dan Lorong Sagu-Paparisa markas komunitas "Ambon Bergerak"

Sekitar Pukul 11.26 WIT kami pun sampai di Negeri Batu Merah dan langsung ke Masjid Agung AN-NUR. Kami berjumpa dengan Ustad Emang yang saat itu menyambut kami dengan ramah. Dia merupakan wakil imam dan salah dari 3 penghulu di sana.

Ustad Emang ini meskipun berasal dari Sulawesi Tenggara tetapi sudah dari kecil menetap di Batu Merah karena nenek dan ibunya lahir di Batu Merah. Ustad ini kemudian menceritakan sekilas tentang sejarah Masjid Agung An-Nur Bangunan yang kami singgahi ini sudah didirikan sejak tahun 1575.

Yang menarik, dalam perjalanannya, masjid ini pernah direnovasi dan melibatkan umat Kristen dari Negeri Passo dan Negeri Ema --keduanya merupakan pela dari Batu Merah.

Setelah kami berbincang dengan Pak Ustad kami pun ke Kantor Negeri Batu Merah dan berbincang dengan Ketua Saniri yang biasa dipanggil om Ongen. Dia menceritakan bagaimana pengalaman masa lalu Negeri Batu Merah menjadi beban moral bagi warganya karena seringkali dicap sebagai pembawa kerusuhan padahal sebenarnya dikambinghitamkan.

Satu pesan Om Ongen, kita tidak boleh mendengar hasutan politik dalam negeri ini melainkan kita harus lebih memperkuat tali persaudaran hubungan Pela-Gandong.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Latta dan kami tiba sekitar Pukul 13.30 WIT di Gereja Elohim Jemaat Latta Klasis Pulau Ambon Timur, kami berjumpa dengan Ketua Majelis Jemaat Latta Pak Edi, Pemerintah Negeri Latta yang diwakili oleh Pak Nus Syauta dan Komunitas Muslim Latta yang diwakili oleh Pak Maman dan Ibu Li. Saat itu kami dipandu oleh moderator Pdt. Jacky Manuputty.

Kami pun berbincang mengenai hubungan persaudaraan masyarakat Latta Kristen dan Muslim yang semakin hari semakin erat, salah satu buktinya yaitu pada bulan Februari 2017 adanya sidang tahunan klasis Pulau Ambon Timur yang dihadiri oleh perwakilan 27 Jemaat dilaksanakan di Jemaat Latta Gereja Elohim. Pada saat itu, komunitas muslim Latta menyambut peserta sidang dengan menyanyi dan memainkan alat musik.

Ketua Majelis Pak Edi juga sangat bangga sudah melayani 3 tahun di sini. Dia terpukau dengan kerukunan antar agama di Latta ini, karena dia juga seorang yang berpindah agama dari Muslim ke Kristen lalu menjadi Pendeta dan berasal dari Suku Jawa. Pak Nus juga menambahkan bahwa relasi lintas agama ini sudah ada sejak dulu dan harus dipertahankan keserasian sosial ini untuk dikelola secara bersama-sama.

Pak Maman pun turut berbagi pengalaman mengenai kerukunan ini, dimana dulu terjadinya kerusuhan warga muslim Latta harus mengungsi ke tempat yang lebih aman karena takut akan tetapi Kepala Pemerintah Desa Latta yang saat itu menjabat Pak Robert datang ke tempat pengungsian untuk meminta warga muslim Latta balik.

Sangat terharu warga muslim saat itu karena mereka tak menyangka Kepala Desa datang atas nama warga Latta dan meminta mereka balik. Bukan hanya itu saja kerukunan yang terjadi di Latta sungguh membuat saya kagum. Ibu-ibu muslim menyusui bayi Kristen sebaliknya ibu-ibu Kristen menyusui bayi muslim.

Kami berbincang ria hingga pukul 16.00 WIT kami harus melanjutkan perjalanan kami ke komunitas selanjutnya di Lorong Sagu yaitu Paparisa Ambon Bergerak (PAB) merupakan komunitas terakhir yang kami kunjungi. Kami tiba disitu sekitar Pukul 16.48 WIT dan disambut Kak Pierre yang biasanya dijuluki Bapak Komunitas PAB.

Lelaki ini menceritakan PAB dimulai tahun 2009. Mereka mempromosikan perdamaian Ambon melalui media sosial. Ada banyak komunitas yang tergabung di sana; Komunitas Rap, Komunitas Band, Komunitas Mobil dan Komunitas Sastra.

PAB banyak diisi anak-anak muda yang punya tujuan sama untuk memajukan Ambon dan mempererat hubungan persaudaraan baik Kristen maupun Muslim. Banyak hal yang sudah dilakukan Ambon Bergerak diantaranya kegiatan Save Aru.

Dan banyak juga penghargaan yang didapat Ambon Bergerak ini diantaranya juga yaitu Anugerah Komunikasi Indonesia, Komunitas Pengguna Sosial Media Terbaik. Kak pierre juga menyatakan bahwa dari HOBI dapat menyatukan perbedaan. Jangan kita termakan isu-isu yang ingin menghancurkan generasi oenerus Maluku -- lebih khususnya Ambon. Ingat slogan kita 'ale rasa beta rasa, sagu salempeng patah dua'.

Saya merasa menemukan beberapa hal di 3 tempat tadi. Pertama, generasi penerus Ambon semakin berkembang tanpa melihat kelamnya masa lalu. Mereka lebih terfokus untuk hidup pada hubungan pela-gandong yang mempersatukan, juga berkolaborasi hobbi untuk menghilang perbedaan.

Kedua, bagi saya, keterbukaan sangatlah penting untuk membangun sebuah relasi yang kuat. Kita Maluku tidak boleh lagi tenggelam dalam dendam masa lalu, biarkanlah itu menjadi masa lalu. Saat ini kita harus berbenah diri lebih baik dalam menciptakan kedamaian dan kerukunan, hilangkan ketakutan dan kecurigaan.

Beta cinta Maluku.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …