Skip to main content

Iklan

Rafia Cooper dan Suaminya

"You want me to talk about us?" kata Walikota Culver City California, Jeffrey Cooper, sembari memandangi istrinya, Rafia, dari jarak yang agak jauh. Meminta konfirmasi pada perempuan ini.

Meski datang bersamaan dalam forum kami namun Cooper dan istrinya duduk terpisah dua orang --suatu hal yang tidak lazim. Di Indonesia pejabat setingkat walikota pasti akan didudukkan berdampingan. Mungkin karena hal itu sudah menjadi protokol dalam acara formal.

Namun acara kami di King Fahad Islamic Foundation Culver City bisa dikatakan formal sekaligus tidak formal. Formal karena banyak pejabat penting, salah satunya perwakilan FBI, hadir di sana. Dikatakan tidak formal sebab situasi forum berjalan sangat santai, seperti jagongan di balai RT.

Hadir juga Kapolres Culver City bersama dua orang anak buahnya dengan pakaian preman dengan pistol dan lencana di pinggang.

Forum yang dihelat Kamis (31/8) tersebut mendialogkan potret keragaman warga Culver City dan upaya pemerintah beserta stakeholder lain. Kami peserta IVLP memang tengah berbagi pengalaman terkait kehidupan umat Islam di kota ini.

Cooper yang sebelumnya merupakan wakil walikota ini dengan cerdas memapar berbagai upaya yang dilakukan warga dan pemerintahannya. Kesuksesan dan tantangan ia sampaikan dengan santun dan penuh apresiasi.

Saat ia selesai menjawab pertanyaan kami. Ia kemudian menoleh ke istrinya yang memang tengah memperhatikan Cooper. Terus terang saja, saat pasangan ini memasuki forum, saya terus memperhatikannya.

Rafia dan Cooper menarik perhatian saya karena perempuan ini bukan "white people". Wajahnya yang terlihat sangat Timur Tengah ini berpadu dengan penampilan yang jauh dari kesan formal. Rafia begitu tampak sangat percaya diri meskipun ia tidak banyak bicara kecuali perkenalan singkatnya. "My name is Rafia Cooper. I am his wife," ujarnya sembari menunjuk lakinya sembari tersenyum.

Saya melacak sedikit tentang perempuan ini, yang ternyata berkecimpung di usaha permata (jewelry). Alih-alih glamour, Rafia bisa dikatakan cenderung lebih menonjol aspek seninya. Saya mengenal beberapa perempuan yang berkecimpung di dunia art. Dan kesemuanya selalu mempunyai ciri konfidensi tinggi.

"You want me talk about us?", saya kira, merupakan pertanyaan konfirmasi Cooper atas keinginan istrinya yang meminta agar laki-laki tersebut bercerita tentang hubungannya kepada kami. " Why don't you tell them about us?" Mungkin kalimat itu yang saya perkirakan disampaikan Rafia pada suaminya.

"I am Jews and my wife is Muslim," ungkap Cooper. Kami pun sontak manggut-manggut dan memberi applaus.

Rafia seperti ingin menyampaikan kepada kami; keragaman Culver City juga menancap abadi dalam relasi personal suami-istri ini. Perkawinan   pelangi ini rasanya menjadi kawah pendadaran bagi anak-anak mereka mencecap kebaikan dari dua sumber; Yahudi dan Islam.

"Mom, can I have your picture both?" saya meminta izin setelah bersantap siang. Selanjutnya saya pun melakukan stalking ke instagram perempuan ini.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …