Skip to main content

Iklan

Rilis Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) terkait Pembubaran Seminar Pengungkapan Sejarah 1965/66 di LBH Jakarta

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,

Sebagaimana kita saksikan bersama, pagi tadi sekitar pukul 09.00, ratusan massa didukung oleh aparat keamanan dan militer melakukan blokade di areal LBH Jakarta. Tujuannya, agar pelaksanaan diskusi publik mengungkap Sejarah Genosida 1965/1966 oleh Forum 65 tidak terlaksana.

Aparat bersama pendukungnya bahkan merangsek masuk gedung LBH dan terlihat mencopoti banner serta memaksa acara benar-benar tidak dilakukan. JIAD memandang aparat dan massa bertindak arogan dan sangat takut atas kegiatan tersebut. Hal ini sungguh tidak bisa dinalar; apa yang ditakutkan dari sebuah diskusi yang pesertanya kebanyakan telah lanjut usia?

Sungguhlah aneh menyematkan tuduhan makar terhadap kegiatan ini mengingat PKI tidak pernah secara nyata dibuktikan keberadaannya. Penjelasan yang paling masuk akal pembubaran ini adalah ketakutan massal terbukanya aib Genosida 1965/66 yang dilakukan Negara kala itu. Sebagaimana hasil penyelidikan pro yustisia Komnas HAM, telah terjadi pelanggaran HAM berat dalam berbagai bentuk, diantaranya; penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, penghilangan paksa, sampai perbudakan.

Atas hal ini, JIAD menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Mengecam pembubaran acara tersebut karena bertentangan secara nyata atas kemerdekaan menyampaikan pendapat;

2. Meminta Presiden Jokowi bersungguh-sungguh melaksanakan mandat Nawacita dalam penegakan HAM, dalam hal ini memastikan keadilan bagi Korban 65/66 secara hukum;

3. Mengajak masyarakat untuk bersikap arif dan jujur dalam menyikapi masa lalu, dan tidak menggunakan kekerasan dalam menyikapi perbedaan. Pengungkapan kebenaran dalam Genosida 65/66 akan membebaskan bangsa ini dari belenggu kutukan masa lalu.

Wallohul muwaffiq ilaa aqwamith thoriq Wassalamualaikum warihmatullohi wabarokatuh

Surabaya, 16 September 2017

Aan Anshori

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …