Skip to main content

Siti Maryam yang Baru Aku Kenal

Beberapa hari lalu, saya diundang acara tujuh bulan kehamilan. Istilah kampungnya tingkeban. Dalam acara itu, para jamaah membaca al-Quran Surah Yusuf.

Tidak banyak yang baca karena panjang dan sangat jarang muslim yang hafal --tidak seperti Surah Yaasin atau Waqiah.

Dalam acara itu, napaknya hanya saya dan pemimpin upacara yang membaca Yusuf. Ini salah saru surah penting untuk dibaca saat kehamilan, lainnya adalah Surah Maryam.

Dalam tradisi santri, jika dua surah ini dibaca terus menerus maka diharapkan jabang bayi akan seperti Nabi Yusuf atau Siti Maryam (SM). Saat kehamilan Cecil dan Galang, saya juga membacanya berkali.

Nah, saat membaca Surah Maryam, saya agak kaget al-Quran ternyata menggambarkan berbeda dari apa yang saya persepsi tentang proses kehamilan SM. Yang saya percayai adalah SM hidup sendiri di pengasingan, lalu tuhan berbicara, hanya suara, lalu mengirim selarik sinar yang menuju ke perut SM --seperti di film2 fiksi.

Padahal, sebagaimana diceritakan dalam al-Quran, Allah mengirim RuhNya (rukhana) dalam bentuk manusia utuh dan sempurna untuk menemui SM. Al-Quran  terjemahan Depag, menafsirkan ruh itu adalah Jibril. Jadi, bisa dikatakan, Allah meminta Malaikat Jibril turun ke bumi dalam bentuk manusia untuk menemui SM.

Saya selalu percaya agama harus selaras dengan sains. Jika bertabrakan, hemat saya, sains yg lebih unggul. Misalnya, jika bumi --katakanlah-- menurut Kitab Suci adalah datar, dan sains menyatakan sebaliknya, maka sains yang lebih didahulukan.

Nah dalam konteks SM, saya sejak dulu mempercayai Isa lahir dari ibu yg masih perawan, tanpa campur tangan laki-laki. Kun fa yakun. Mak bedunduk hamil. Tentu hal ini terasa agak janggal secara sains. "Opo yo onok, wong wedok meteng tapi nggak ada yang ngetengi (laki2, maksudnya)?" begitu kira2 perkiraan omongan bakul lijo saat ada orang yang mengabarkan perempuan bisa hamil tanpa "sentuhan laki-laki".

Namun khusus SM, rasanya, kita kerap merasa kuasa Tuhan bisa membuat pengecualian, meski sekali lagi, agak bertabrakan dengan hukum alam soal reproduksi.

Nah, ayat tentang Ruh Allah (rukhana, Jibril, Gabriel) yang menjelma sebagai manusia utuh nan sempurna yang datang menemui SM ini, jujur saja, mengganggu pikiran saya. Bagaimana jika Gabriel versi manusia ini hetero dan SM juga hetero? Siapa yang berani menjamin keduanya tidak saling terpikat, atau memastikan Gabriel langsung balik kanab pulang setelah mengatakan kepada SM, "Innama anaa rasulu rabbiki, liahaba laki ghulaman zakiyya (Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci)"?

Apakah tidak mungkin Tuhan, melalui teks tersebut, sebenarnya ingin memberi semacam kode bahwa proses kelahiran Isa tidak menabrak hukum alam?

Ah, Tuhan seperti tengah memainkan teka-teki.

*KRD berhenti di Stasiun Tarik

Comments