Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2018

Kenapa Saya Tidak Bisa Ber-Tafsir LGBT di Aswaja Center?

Hari Rabu (17/1) jam 16:13, gadget saya berbunyi. Ada pesan WA masuk, dari Yusuf Suharto kawan saya:

"Mas Aan, atas nama panitia kami mengundang Mas Aan Ansori mengisi Seminar Tafsir LGBT pada Sabtu, 20 Januari 2018 ini. Semoga Mas Aan bisa nggih? Nanti ada Kiai Musta'in Syafii"

Pada pukul 17.14 di hari yang sama, saya balas.

"Wahh acara bagus. Aku senang ente mulai tertarik mengkaji isu ini. Sayangnya, aku terlanjur punya acara lain. Aku tunggu tulisannya ya.. Suwun."

Meski sudah menyatakan tidak bisa, sehari kemudian, Kamis (18/1) jam 11.20, ia tetap mengirimkan surat permohonan menjadi narasumber. Saya berfikir, kenapa tetap mengirimkan surat padahal saya tidak dapat hadir. Ini tentu agak di luar kelaziman. Akan tetapi saya melihat hal itu sebagai hasrat positif panitia yang menggebu-gebu.

Setelah saya baca, acara yang akan dilaksanakan nanti berbentuk "seminar" dengan judul "Tafsir LGBT dan Lintas Iman" Sayangnya, dalam surat tersebut…

Yang Terhormat Ibuku

Lihatlah perempuan yang aku lingkari. Itu adalah ibuku, Alfiyah. Ia putri kedua alm. Abdul Wahab, kiai kampung di Plemahan Sumobito Jombang yang pernah menjadi anggota DPR kabupaten dari Partai NU hasil Pemilu 1955.

Ibuku adalah kembang desa, suaranya merdu, dan sangat mandiri secara ekonomi. Ia bekerja menjaga toko pracangan yang ia bangun sejak dari nol di Pasar Mojoagung. Dalam aspek ekonomi, bapakku yang lebih fokus ngurusi politik dan perLSMan sangat beruntung mendapatkannya.

Entahlah, kenapa ibuku memilih dia dari sekian banyak laki-laki yang mengejarnya. Ibu tidak pernah bercerita padaku, kecuali bahwa hubungan mereka tidak direstui oleh ibu dari bapakku.

Nenekku, disamping sudah punya calon istri untuk bapakku, nampak cukup terancam dengan kosmpolitanisme ibuku. Ibuku itu sangat mudah bergaul dengan siapa saja. Yang aku ingat, setiap kali berjalan, ia selalu menyapa orang yang dikenalnya -bahkan ketika yang disapa itu tidak sedang melihatnya sekalipun.

Ia tidak segan bert…

NU Queer di Warung Daun

Saat usai perhelatan ngopi bareng di Warung Daun Kediri, Kamis (16/11), saya bilang ke Mas Sanusi, direktur LSM Suar, "Mas, kalau mau jujur, NU iki queer lho dalam isu LGBTIQ," ujar saya sembari terbahak-bahak. Queer itu istilah dalam dunia gender dan seksualitas yang merujuk pada sesuatu di luar kebiasaan, aneh, antik, unik, atau kontradiktif. Contoh gampangnya begini, Bunda Maria dipercaya mengandung tanpa proses yang ghalib, nah itu aneh, queer namanya. Atau, ada mobil yang bisa jalan dengan bahan bakar air, bukan bensin, itu juga queer. Atau, ada tiang listrik tetap kokoh berdiri sedangkan Fortunernya ringsek dan Setnov katanya benjol sebesar bakpao, itu juga queer, aneh bin ajaib. Dalam isu LGBTIQ, sikap PBNU sudah sangat tegas; menolak dan mengutuk keras. Bahkan merekomendasi Negara untuk aktif membantu rehabilitasi "penderitanya," Anda bisa cek pemberitaan sekitar 26 Februari 2016. Sungguhpun demikian, yang menarik, sikap ini tidak serta merta diikuti oleh j…