Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2018

DARI PAYAKUMBUH KE SINLUI; LGBT DAN WAJAH MILENIAL

Meski sama-sama bisa dikategorikan sebagai generasi millenial, namun dua kelompok beda agama di dua kota merespon isu LGBT secara kontras.

Di Payakumbuh, Rabu (7/11), ratusan anak-anak muda bersama orang dewasa turun ke jalan mengecam LGBT dengan segala argumentasinya. Mereka berdemonstrasi dalam rangka deklarasi perang terhadap apa yang dianggapnya sebagai penyakit masyarakat. LGBT disejajarkan dengan minuman keras, perjudian serta perzinahan.

Penyejajaran ini sungguh problematik mengingat ada pemaksaan logika di dalamnya. Sejak kapan transgender, lesbian, homoseksual maupun biseksual adalah kejahatan? Jangankan masuk dalam dalam aktifitas pidana, terkategorisasi sebagai penyakit mental pun tidak, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Tampak sangat jelas anak-anak millenial Payakumbuh tersebut belum mendapatkan edukasi tentang konsep dasar gender dan seksualitas dalam diri manusia.

Sungguhpun demikian, mereka tidak bisa disalahkan karena guru-guru mereka juga terlalu malas belaja…

Satu Melawan Enam; Ada Tionghoa di Gereja Jawa

Setelah sempat jeda cukup lama, bedah buku narasi memori "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia," kembali disulut lagi. Penyelenggaranya, gabungan beberapa organisasi dengan tim kecil dari GUSDURian Klaten dan GKJ Karangdowo, Sabtu (3/11), di Aula Klasis Klaten Timur dekat stasiun Klaten.

Kerja kilat beberapa hari membuahkan forum diskusi yang gayeng dengan Pak Yahya Yusuf dari UKDW sebagai pembedahnya. Ya, Tionghoa dibincang di gereja Jawa.

Enam penulis yang semuanya bukan-Tionghoa hadir memberi kesaksian atas apa yang mereka tulis. Gus Jazuli Klaten hadir memberikan sambutan dan mengikuti bedah buku sampai selesai.

Kerennya buku ini, aku kira, terletak dari kejujuran para penulis menarasikan kisah hidupnya ketika bersinggungan dengan kelompok Tionghoa. Lail, salah satu penulis misalnya, perlu menapaktilasi kembali persahabatannya dengan Lily, teman Tionghoanya, yang telah terputus 25 tahun agar tulisannya selesai. "Saya bersusah payah mencarinya kembali agar bisa…

Kafir dan Ogah Masuk Gereja: Upayaku Memuaskan Yuli

Seorang perempuan muda, Yuli namanya, berdiri untuk bertanya pada sesi kedua seminar nasional Sumpah Pemuda bersamaan dengan ulang tahun ke-70 Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Lucas Surabaya, Minggu (28/11), di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Setelah menceritakan sedikit pergumulan keluarganya, dia menyodorkan dua pertanyaan kepadaku. "Anak saya berumur 4 tahun pernah bertanya kenapa saya dan kakaknya memilih kafir dan tidak masuk Islam. Bagaimana menjelaskan persoalan keyakinan pada anak seusia dia?" katanya.

Lalu ia dengan masygul menceritakan ayahnya yang tidak mau masuk ke dalam gereja saat ia menerima pemberkatan perkawinan. Yuli nampak masih sangat heran bagaimana hal itu bisa terjadi pada seorang ayah ketika putrinya melangsungkan salah satu momen terpenting dalam hidupnya.

"Mbak, saya bukan psikolog dan belum pernah mengalami hal itu. Tapi saya percaya dua peristiwa yang kamu alami pasti sangat berat," aku mulai me…