Skip to main content

Mewahnya Gender di Bioskop XXI


Mungkin tidak banyak mahasiswa/i dari kampus Islam yang dapat menikmati tempat duduk ruangan belajar a la bioskop XXI; menjorok ke bawah dengan dosen di posisi terendah.

Model yang umum berlaku dalam pengajaran klasikal Islam adalah sebaliknya; guru di atas, sedangkan murid harus dlosoran di bawah; kiai/bu nyai di atas panggung, jamaahnya klesetan di tanah.

Model kedua inilah yang sebetulnya ditawarkan kepada saya saat mengampu sesi pengantar gender dan Islam, dalam Sekolah Gender dan Islam PMII Universitas Islam Malang, Minggu (6/1).

Saya menolak model ini karena ingin mencoba sesuatu yang baru. Kebetulan lokasi acaranya, di salah satu villa kawasan Junrejo Batu,mempunyai topologi tanah dengan kemiringan yang cukup asyik.

"Kita di luar saja. Aku di posisi bawah. Tolong taruh sepeda motor di sampingku dan papan tulis kecil untuk menempelkan metaplan yang aku buat," pintaku ke panitia.


Forum serasa seperti pengajian pagi yang dibatasi oleh waktu dan keterbatasan perangkat mengajar. Itu sebabnya saya harus ekstra selektif dalam dua hal; memilih apa saja yang ingin saya "dogmakan" ke mereka, dan berikut strateginya.

Saya mulai mengenalkan konsep gender dan sex dalam diskursus identitas "jenis kelamin".

"Seandainya ada orang yang bertanya pada kalian 'What is your sex?" dan 'What is your gender?' Adakah di antara kalian yang bisa mengidentifikasi perbedaannya? Sebab keduanya bisa diartikan 'Apa jenis kelaminmu?'" tanya saya.

Pertanyaan pertama merujuk pada jenis kelamin yang didasarkan pada indikator organ reproduksi yang kalian punyai. Jika kalian memiliki vagina, tambah saya, maka sangat mungkin seluruh Malang akan menyebutmu perempuan. Namun benarkah pemilik vagina akan selalu mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai perempuan?

"Belum tentuuuuuuuuu," jawab sebagian besar dari mereka.
"Cerdas!" jawab saya di mikrofon.

Gender adalah pengakuan personal pemilik tubuh atas "jenis kelaminnya" sendiri yang bisa jadi tidak sesuai dengan ornamen reproduksi yang dimilikinya.

Maka jika ada yang bertanya "What is your gender?" itu berarti kalian diberi kemerdekaan untuk menentukan siapa dirimu sesungguhnya; jenis kelaminmu. Pertanyaan "What is your gender?" lebih elegan untuk diucapkan karena lebih akomodatif, apresiatif dan memerdekakan.

Gender juga berarti pembedaan peran, status, dan fungsi seseorang berdasarkan organ reproduksi yang ia miliki. Dulu, yang punya penis dianggap atau merasa lebih superior dan berhak mendapatkan lebih ketimbang pemilik vagina. Sekarang tidak lagi sepenuhnya demikian.

Pembedaan status, peran dan fungsi di atas bersifat dinamis, tidak statis, dan selalu mengikuti perkembangan jamannya.

"Anyway, bagi perempuan, melahirkan itu kodrat atau pilihan?" tanya saya.

"Kodraaaaaaaaattt" jawab mereka serempak.

"Belum tentu," tiba-tiba ada suara lirih perempuan menyeruak di depan saya. Lirih karena ia nampak di selimuti kekuatiran atas pandangannya yang minor di forum tersebut.

Saya memintanya menjelaskan pandangan "nyelenehnya" itu dan direspon. Menurutnya, kodrat adalah situasi di mana orang tidak bisa memilih. Melahirkan bagi perempuan adalah pilihan karena ia bisa memutuskan apakah menggunakan rahimnya atau tidak.

"Punya rahim itu kodrat. Menggunakannya bereproduksi itu pilihan. Itu dua hal yang berbeda. Perempuan tetaplah bisa menjadi perempuan meski tidak melahirkan," ungkapnya. Forum terasa sepi.

"Adakah yang punya pandangan lain?" tanya saya lagi.

Forum semakin senyap.

"Jadi, melahirkan itu kodrat atau pilihan?" saya mengecek ulang
"Pilihaaaaaaaann," mereka serempak.
"Kalau kepemilikan rahim?" tanya saya melengking.
"Kodraaaaaat,"
"Pinteerr," saya mengapresiasi.

Saya melanjutkan. Tujuan dasar penciptaan manusia dalam alQuran, selain untuk mengabdikan diri sesuai nilai-nilai ketuhanan (liya'budun), adalah untuk saling mengenal. Semua ciptaan adalah setara tanpa memedulikan identitas gendernya. Ketakwaan ilahiyah, menurut saya, adalah satu-satunya yang membedakan mereka di hadapan Gusti.

"Menurutku, terdapat lima prinsip universal dalam al-Quran yang menjadi patokan utama dalam merumuskan hukum Islam," kata saya meneruskan.

Kelimanya adalah keesaan (tauhid), keadilan ('adl), memperlakukan orang lain dengan lebih baik (ihsan), kemanusiaan (karamah), dan cinta kasih (mawaddah wa rahmat.

Maka, jika ada siapapun yang mencoba menghukumi sesuatu atas nama Islam, maka kalian perlu mengeceknya dengan kelima prinsip tadi. Jika ada satu prinsip yang tidak terpenuhi maka kalian perlu mengkritisinya.

"Apakah permaduan perempuan memenuhi kriteria lima tadi?"
"Tidaaaaaak" serempak mereka menjawab.

"Jika perempuan punya kualitas agama lebih baik ketimbang laki-laki, apakah kalian setuju ia lebih berhak menjadi imam shalat laki-laki?" tanya saya.

Forum senyap.

Namun lagi-lagi, saya mendengar suara lirih perempuan di depanku. Lirih sekali.
"Setuju,"
-*--

Comments