Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2019

Yesus Garis Lengkung atau Isa Garis Lurus?

Setelah membikin "keributan," di GKI Jombang, aku kini berangkat menuju Purwokerto. Di kota tersebut aku diajak Pdt. Maria dan Pdt. Dimas untuk bikin goro-goro; memperkuat relasi Kristen-Islam dengan cara mendiskusikan topik yang agak-agak nyrempet bahaya, yakni menyangkut kenaikan Yesus/Isa.

Aku harus mencatat, topik polemis antara Islam-Kristen biasanya cenderung dihindari. Takut nanti malah gegeran. Ketakutan itu aku kira wajar karena sangat mungkin muncul dari model pemikiran yang sejak awal bias dan cenderung kaku dalam melihat sebuah persoalan. Bias dalam arti; pemikiran tertentu selalu lebih dianggap lebih unggul ketimbang lainnya, dan kebiasan ini, lebih jauh, diterapkan kaku tidak hanya secara murni, namun juga sepenuhnya konsekuen.

Jadinya ya mesti gegeran, ilok-ilokan, krayah-krayahan, dan cokotan-cokotan. Apalagi hingga saat ini Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi belum punya kewenangan untuk menangani perselisihan pandangan, misalnya, "Apakah Yesus/Isa …

MERAGUKAN AGAMA SENDIRI, BOLEHKAH?

Matahari sudah membumbung cukup tinggi. Makin lama sinarnya membuat wajahku panas. Aku pun terbangun. Begitulah alarm natural di kamarku.

Aku melihat whatsapp, puluhan pesan telah masuk. Hampir semuanya seputar urusan hari permaafan formal internasional. Namun ada satu yang menarik; urusan meragukan iman.

Oh ha, Mentari bukanlah nama sebenarnya. Kami tidak pernah bertemu fisik, hanya di FB saja.

---

Mentari: Assalamualaikum Gus.
Minal Aidin wal Faizin
Maaf lahir batin..🙏
Gus, saya boleh curhat dikit Ndak? Beberapa bulan lalu saya baca tulisan seorang fisikawan, bahwa bumi ini sudah terbentuk jutaan tahun. Manusia pertama sendiri diperkirakan 250 ribu tahun. Tapi agama baru hitungan 8-9 ribu tahun.

Ditambah lagi sy melihat ada banyak bentuk kekurangan dalam agama. Soal poligami dan perbudakan misalnya. Setelah membaca itu jujur sy menjadi agnostik.

Sebenarnya sy masih percaya Tuhan, tapi saya ragu pada agama. Mohon pencerahannya Gus. Bantu saya kembali yakin pada agama ini. Sy fakir…

TEMANI KAMI MENJADI DEWASA

MAAFKAN KAMI, selama hampir sebulan penuh telah membuat republik ini menjadi panggung bagaimana kesalehan kami tercitrakan. Jika boleh jujur, ingin rasanya menutup mukaku ini karena rasa malu. Betapa tidak, tigapuluh hari kalian harus menenggang manifestasi praktek spiritualitas yang menurutku kurang dewasa. Istirahat kalian tidak cukup nyaman karena loud speaker masjid dan musalla menyalak lebih lama. Belum lagi tradisi patrol membangunkan sahur yang tak pernah absen sejak dini hari. Yang paling memilukan barangkali tayangan-tayangan di layar televisi. Ceramah agama kerap didominasi konten yang  mengunggul-unggulkan produk sendiri tanpa intensi merangkul produk lain. Itu belum seberapa. Penayangan artis-artis muallaf menghiasi televisi sungguhlah sebuah hal yang tidak bisa dikatakan toleran. Coba bayangkan, bagaimana perasaan kita jika misalnya pada saat menjelang natal, televisi menayangkan para artis yang berpindah keyakinan dari Islam dan bangga dengan hal itu. Piye perasaanmu? …

NU dan Pancasila; Membayar Hutang Sejarah Yang Tidak Mudah

SELAMA ini, NU dikenal sangat getol menyuarakan pembelaannya terhadap Pancasila. Keberpihakannya semakin mencolok saat gelombang khilafah berusaha melumat Bangsa ini, dilumat untuk tunduk pada Islam politik. Sangat sulit untuk tidak melihat NU tampil sebagai satu-satunya ormas Islam "ivy league," yang membabati gerogotan kanker tersebut saat lainnya diam dan malas. Kenapa NU bisa sedemikian ngototnya membela Pancasila, vis a vis melawan tubuh Islamnya sendiri? Menurut saya, NU sedang membayar hutang sejarahnya. Sejak menit pertama perumusan Pancasila Juni 1945, melalui wakilnya, Wahid Hasyim, NU mendukung ideologi Islam sebagai platform utama Pancasila. Bersama-sama wakil Muslim-Nasionalisnya, ia setuju Piagam Jakarta tercantum dalam sila pertama, presiden haruslah orang Indonesia asli yang beragama Islam. Dua hal penting ini adalah cerminan betapa elit Islam kala itu menganggap kelompoknya punya jasa lebih besar, jumlah lebih banyak, ketimbang kelompok lainnya. Seandainy…