Skip to main content

Iklan

MERAGUKAN AGAMA SENDIRI, BOLEHKAH?

Matahari sudah membumbung cukup tinggi. Makin lama sinarnya membuat wajahku panas. Aku pun terbangun. Begitulah alarm natural di kamarku.

Aku melihat whatsapp, puluhan pesan telah masuk. Hampir semuanya seputar urusan hari permaafan formal internasional. Namun ada satu yang menarik; urusan meragukan iman.

Oh ha, Mentari bukanlah nama sebenarnya. Kami tidak pernah bertemu fisik, hanya di FB saja.

---

Mentari: Assalamualaikum Gus.
Minal Aidin wal Faizin
Maaf lahir batin..🙏
Gus, saya boleh curhat dikit Ndak? Beberapa bulan lalu saya baca tulisan seorang fisikawan, bahwa bumi ini sudah terbentuk jutaan tahun. Manusia pertama sendiri diperkirakan 250 ribu tahun. Tapi agama baru hitungan 8-9 ribu tahun.

Ditambah lagi sy melihat ada banyak bentuk kekurangan dalam agama. Soal poligami dan perbudakan misalnya. Setelah membaca itu jujur sy menjadi agnostik.

Sebenarnya sy masih percaya Tuhan, tapi saya ragu pada agama. Mohon pencerahannya Gus. Bantu saya kembali yakin pada agama ini. Sy fakir ilmu, sy tidak tahu bacaan apa yg bisa mengembalikan keyakinan saya pada agama. Mohon petunjuk Gus 🙏

Aan: Hai Mentari.. Selamat menikmati liburan lebaran ya...
Waaahh kereen bacaanmu. Begini.
Menurutku, kita selalu punya ruang untuk meragukan apapun, termasuk agama. Aku melihatnya hal itu bagian dari pendewasaan imani.

Perbudakan, perang, poligami, aahh.... Kamu tahu, betapa sulitnya aku sendiri menghadapi hal2 tersebut dalam konstelasi keimanan dan keislamanku.

Aku tidak tahu apakah aku harus bersedih atau gembira dengan situasimu saat ini. Namun menurutku tugas utama manusia adalah menjadi manusia; memanusiakan manusia --tak peduli ia punya agama atau tidak; berpoligami atau tidak; percaya kuburan atau tidak, atau yang lain ya...

Intinya, tugas kita adalah BERBUAT BAIK (menjadi rahmat bagi semuanya) sebagaimana tugas Gusti.

Maka, aku sangat bersedih manakala situasimu saat ini memengaruhimu menjalankan tugas sebagai manusia.

Teruslah meragukan keimananmu NAMUN jangan pernah RAGU sedetikpun untuk menjalankan misimu sebagai manusia ya.

Thank youuu

Mentari: Terharu sy bacanya gus..
Makasih banyak pencerahannya..🙏

Aan: :)

---

Lamat-lamat aku dengar Nirwana dari Gigi. Rupanya Amiroh tengah bekerja keras dengan berkas-berkasnya.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …