Skip to main content

Iklan

TEMANI KAMI MENJADI DEWASA

MAAFKAN KAMI, selama hampir sebulan penuh telah membuat republik ini menjadi panggung bagaimana kesalehan kami tercitrakan.
Jika boleh jujur, ingin rasanya menutup mukaku ini karena rasa malu. Betapa tidak, tigapuluh hari kalian harus menenggang manifestasi praktek spiritualitas yang menurutku kurang dewasa. Istirahat kalian tidak cukup nyaman karena loud speaker masjid dan musalla menyalak lebih lama. Belum lagi tradisi patrol membangunkan sahur yang tak pernah absen sejak dini hari.
Yang paling memilukan barangkali tayangan-tayangan di layar televisi. Ceramah agama kerap didominasi konten yang  mengunggul-unggulkan produk sendiri tanpa intensi merangkul produk lain. Itu belum seberapa. Penayangan artis-artis muallaf menghiasi televisi sungguhlah sebuah hal yang tidak bisa dikatakan toleran. Coba bayangkan, bagaimana perasaan kita jika misalnya pada saat menjelang natal, televisi menayangkan para artis yang berpindah keyakinan dari Islam dan bangga dengan hal itu. Piye perasaanmu? Baguslah jika biasa-biasa saja meski aku yakin stasiun TV itu akan digeruduk dan disomasi sesegera mungkin.
Maafkan kami, selama Ramadlan ini layanan publik, seperti biasa, beroperasi setengah hati karena alasan puasa. Itupun kami minta agar dimaklumi. Kami juga memaksa halus kalian untuk praktek pemerintahan kabupaten/kota yang dengan entengnya menutup warung, restoran, karaoke, dan lokasi-lokasi yang dituding sebagai sumber maksiat. Bahkan terkadang penutupan itu dilakukan dengan paksa. "Khusus untuk non-Muslim," begitu bunyi spanduk yang susah payah dipasang depan rumah makan di wilayah Sumatera.
Maafkan kami karena sempat membuat Republik ini geger dengan peristiwa 21-22 Mei lalu. Ramadlan senyatanya tidak cukup membuat kami kuat menahan amarah dan akal sehatnya. Begitu banyak yang ditangkap karena jutaan hoax dimuntahkan dan selalu saja simbol-simbol agamaku muncul di sana. Itu belum termasuk bom gagal di pospam Kartasura Solo kemarin.
Maafkan kami yang tak pernah meminta maaf atas hal itu. Sungguh.
Rasa bersalah semakin membuncah manakala, seperti biasanya, kalian tetap baik pada kami. Gereja, klenteng, vihara, dan bangunan-bangunan suci kalian buka dengan hati bersuka-cita sembari menyediakan takjil, sahur bahkan bingkisan lebaran, untuk kami. Sungguh sebuah level kebaikan yang nyaris tak mungkin kami balas. Mungkinkah kami, orang Islam, membuka rumah dan komplek tempat ibadah kami agar kalian bisa merayakan hari suci kalian? Mungkin saja, namun teologi kami tidak pernah diarahkan ke sana. Kami mungkin terlalu jaim dan kuatir untuk itu. Kami takut terlihat rapuh ketika hendak mencintai
Maafkan kami, karena dipastikan seluruh hal di atas akan terulang lagi tahun depan. Entah sampai kapan.
Terima kasih, jangan lelah menemani kami menjadi dewasa.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 2019.
-at Kauman Mojoagung Jombang

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …