Skip to main content

Iklan

Indonesia dan Misteri Kresek Hitam di Klasis Jakarta I

Kira-kira dua jam setelah sesi, panitia memberiku kresek hitam, isinya sungguh sangat mengagetkanku.

**

"Saya heran dan merenung; ribuan kali kalian didiskriminasi, dipersekusi, dihinakan, kok masih saja tetap krasan bergaul dengan kami di Indonesia. Masih tetap rela dan baik kepada kami. Ini menjadi perenungan teologis bagi saya," aku berkata pada puluhan pendeta dan majelis gereja GKI Klasis Jakarta I di salah satu hotel di kawasan Kramat Raya, Jumat (19/7).

Aku diminta secara khusus untuk menghantar sesi diskusi selama 2 jam. Topiknya "Merumuskan ulang suka cita dalam kepelbagaian," Mungkin aku satu-satunya orang Islam yang diundang berbicara di forum agung itu.

Di hadapan mereka aku bicara blak-blakan menyangkut dua aspek penting penyulut kekerasan dan intoleransi terhadap kekristenan di Indonesia.

Pertama adalah menyangkut doktrin teologis Islam yang hingga sekarang tidak bisa move on perihal klaim keselamatan dan kebenaran. Lebih dari 1430 tahun telah berlalu namun tidak ada perubahan signifikan menyangkut perumusan ulang atasnya. Kafir, kafir dan kafir selalu dihujankam kepada penganut selain Islam beserta konsekuensi logis kehidupan bermasyarakat.

Kedua, menyangkut kekuatiran banyak orang Islam Indonesia akan dijadikannya negara ini menjadi negara Kristen. Kekuatiran ini tentu agak menggelikan namun sayangnya hal ini tak pernah secara serius dibincang dan diurai lebih dalam hingga memunculkan kesalahpahaman.

Padahal apa yang selama ini dilakukan gereja dalam konteks NKRI, menurutku, justru ingin memastikan NKRI tidak jatuh menjadi negara Islam, namun kelompok Islam malah menganggapnya sebagai penghalang terbentuknya imperium Islam di Indonesia.

"Saya ingin melihat sejarah dari perspektif yang katakanlah antimainstream, bahwa selalu dikatakan kelompok Islam merupakan yang paling berjasa atas NKRI. Saya katakan, faktanya tidak sesederhana itu," aku kembali menandaskan.

Melihat lini masa sejarah, setidaknya ada 3 kali keberhasilan penggagalan Islamisasi NKRI di mana gereja (kelompok Kristen, juga Katolik) berperan sangat penting. Pertama, saat Piagam Jakarta coba diajukan pada tahun 1945. Kedua, pada saat kelompok Kristen bersama kalangan Nasionalis berhasil mengungguli faksi Islam di Konstituante saat perumusan dasar negara baru paruh akhir tahun 1955. Ketiga, saat Pilpres yang baru saja kita lalui.

"Ini adalah modalitas besar bagi konfidensi gereja untuk mengambil peran lebih aktif dalam merespon  situasi kontemporer intoleransi. Saya ingin ibu/bapak di sini bisa bercerita ke anak-cucu betapa gereja punya reputasi mentereng dalam soal ini," lanjutku, "agar mereka tahu sejarah agamanya dalam mempertahankan NKRI,"

Aku meminta peserta agar menjadikan gerejanya lebih militan lagi, bersatu padu dengan kelompok nasionalis dan Islam Progresif untuk menjaga kepelbagaian di Indonesia. "Ini perjalanan berat bagi kami orang Islam. Jangan pernah patah semangat dan menyerah pada kenakalan kami," aku agak memelas dan memohon. Entah apa yang ada di benak mereka. Aku tidak peduli.

Pak Sani, professor teknik dari Univ. Parahyangan Bandung, yang menjadi moderatorku membuka dua sesi pertanyaan. Banyak sekali yang merespon, hingga waktunya lebih dari dua jam. Jika tidak dihentikan, diskusinya mungkin bisa berlarut-larut.

"Okay mari kita akhiri sampai di sini," kata Pak Sani. Namun aku buru-buru menginterupsinya agar diberikan kesempatan mengucapkan kalimat penutup.

"Nganu.. Jika boleh, saya meminta forum ini ditutup dengan doa yang dipimpin pendeta paling senior di forum ini" ungkapku. Permintaanku diloloskan. Pak Sani kemudian meminta Pdt. Anton Pardosi memimpin. Doa dilarung dengan khidmat.

Setelah acara selesai, Loudy, salah satu panitia, tiba-tiba menanyai warna kesukaanku. "Aku lebih suka merah ketimbang hitam," jawabku pendek. Aku berfikir kaos acara ini akan terbuat dari kain adem dan nyaman. Lumayan untuk ganti baju selama perjalanan panjang.

Sejam kemudian bang Pontas, ketua panitia acara, menyerahkan kresek hitam berisi kotak. "Supaya Gus Aan bisa segera berkomunikasi dengan keluarga di rumah. Terimalah, gus," katanya dengan logat Batak kental.

Ternyata isinya bukan kaos yang aku kira sebelumnya.(*)

Comments

  1. Terus semangat Gus Aan, dlm pelayanan kpd. umat manusia GBU all

    ReplyDelete
  2. Gus Aan, salam pitepangan. Akuuur Gus dg apa yg dituliskan. Hidup ini hanya mampir "ngombe" (minum) bukan makan & bukan rebutan tempat duduk, kata pitutur Jawa. Pitutur Jawa yg lain...Agama itu "ageman" (baju) bukan RASA (jiwa).
    NKRI yg isinya keragaman, mmg punya konsekuensi "congkrah" (pertikaian) bila RASA tidak didewasakan oleh para pamongnya; "siga monyet ngagugulung kalapa" kata pitutur Sunda.
    Smoga jiwa para penghuni NKRI smakin dewasa. Nuwun. Berkah Dalem.

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …