Skip to main content

Iklan

Ibn Hazm dan Anting untuk Emeritasi Pdt. Gerrit Singgih

Harusnya, aku menjadi salah satu pembedah buku keren milik Prof. Gerrit ini. Namun apa daya aku sudah terlanjur mengiyakan undangan dari PGIW Banten, Sabtu (14/9).

"Tapi bisakah hadir dalam emeritasiku, Gus?" tanya pendeta yang semakin flamboyan dengan antingnya. Aku segera mengubah jadwalku di Banten. Mempercepatnya agar bisa bablas ke Jogja hari Minggunya. Untung tiket kereta masih tersedia. Maka, besok malam aku akan bergerak menuju Lempuyangan dari Stasiun Senen. Padahal, saat menulis status ini, aku lagi berkereta ke Stasiun Senen.

Aku merasa harus datang pada momen penting temanku ini. Prof. Gerrit ditahbiskan di GPIB Makassar sekitar awal tahun 80an. Setelah itu dia diminta berdinas di wilayah akademik, di UKDW.

Aku mengenal professor ini secara tak sengaja. Adalah Hana Singgih, temanku alumni NMCP UI asal Makassar yang pertama kali menyebut namanya padaku ketika tahu aku bergerak di isu interfaith. Pak Gerrit masih saudaranya. Sama-sama bermarga Singgih, jika tidak salah.

Aku tak pernah secara langsung mengikuti kelasnya. Namun dalam pandanganku Professor Gerrit adalah sosok penting dalam kekristenan Indonesia. Tak terhitung lagi berapa pendeta dan teolog lulusan UKDW yang pernah menikmati kelas yang ia ampu.

Bersama Lail adikku, aku pernah diundang mengunjungi tempatnya bekerja di UKDW. Ruangan sederhana namun menyenangkan. Persinggunganku dengan professor ini semakin intens dalam mengkampanyekan pesan profetik agama supaya lebih ramah terhadap isu minoritas gender dan seksualitas. Kami tidak sendirian. Ada juga mas Steve Suleeman, pengajar STFT Jakarta yang lebih dulu emeritasi sebagai pendeta di GKI.

Secara personal, aku melihat "kesendirian," pak Gerrit hingga menjelang emeritasi merupakan pergulatan luar biasa dari professor ini dalam rangka mendedikasikan dirinya bagi ilmu pengetahuan dan imannya. Banyak sekali cendekiawan tersohor Islam klasik yang juga memilih hidup "sendiri" tanpa pasangan. Sebut saja Ibn Jarir al-Tabari, ibn Taymiyyah dan tentu saja Ibn Hazm.

Yang aku sebut terakhir tadi cukup unik. Pernah suatu ketika, sebagaimana ditulis Camilla Adang dalam "Ibn Hazm On Homosexuality; A Case- Study of Zàhirl Legal Methodology," Ibn Hazm menolak datang ke sebuah undang pesta.

Gara-garanya sepele. Ia takut tidak bisa menguasai dirinya karena ada cowok ganteng yang bisa membuat jantungnya berdebar-debar di pesta itu. Hazm dengan seluruh kepandaian yang ia miliki mematahkan argumen hukum Islam yang memvonis homoseksualitas dengan aneka pidana bunuh, misalnya dirajam, dibakar, atau dijatuhkan dari tempat tinggi dan ditimpuki batu setelahnya. Ia membahas pendapatnya itu di bab akhir kitab masterpiecenya al-Muhalla.

Sama seperti halnya Ibn Hazm, professor Gerrit juga mendedikasikan pikiran dan energinya untuk menyusun argumentasi biblikal agar bisa selaras dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan.

Aku sendiri menduga kuat ibn Hazm adalah seorang gay. Namun jangan pernah bertanya padaku apakah Professor Gerrit gay atau bukan. Aku tak berani lancang menjawabnya.

Sebagai seorang teman, aku cukupkan diriku bahagia melihatnya semakin ekspresif dengan politik ketubuhannya seperti sekarang. Jika boleh berharap ia akan tetap memakai anting saat emeritasinya. Syukur-syukur bisa ketemu seseorang yang mampu membuat hatinya berdebar seperti halnya Ibn Hazm.

Panjang umur perjuangan, Prof!

-- at GayaBaruMalam menuju Stasiun Senen.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …