Skip to main content

Iklan

DRAMA PEMBEBASAN DI JAZZ


Doktrin kelima dari 9 nilai utama Gus Dur adalah pembebasan. Kata ini dalam bahasa Inggris bisa dipadankan dengan "to liberate," artinya, menurut Webster, " to free (someone or something) from being controlled by another person, group, etc."

Doktrin ini, dengan demikian, mendorong setiap kader GDian untuk senantiasa bekerja melakukan pembebasan dalam hal apa saja. Misalnya, jika kamu melihat ada salah satu dari pasangan yang hidup menderita dalam relasi pacaran, maka tugasmu adalah memerdekakan salah satunya dari penderitaan. 



"Kenapa kamu tetap bersamanya padahal menderita?" tanya kader kepada Korban. 
"Aku suka dia, mas," katanya menunduk.
"Aku tahu, namun seyakin apa rasa sukamu padanya pantas dibalas dengan penderitaan seperti ini? Lihatlah, ia sedang bergandengan dengan orang lain," tambah kader.
"Duuhh mas.. Sesak dada ini," ia membuang muka.

"Kenapa kamu tidak memilih orang lain yang jelas lebih menyayangimu?" Kader terus memburu.
"Emang ada yang seperti itu?" Korban setengah tak percaya.
"Ada dong... Dia lho nggak jauh darimu. Selalu ada untukmu. Mungkin kamu tak merasakan," Kader mulai menjelaskan.
"Mas, aku tahu siapa dia namun aku tak yakin dia seperti itu. Apalagi ia telah menjadi milik orang lain," segera Korban membuang muka dari hujaman tatapan Kader.



Hujan pun mulai turun, persis yang aku alami di Warkop Kulit dekat IAIN Kediri saat ini. 

Atas budi baik Yuska, aku nebeng mobilnya menuju IAIN Kediri. Sebagai salah satu presidium GDian Jawa Timur, ia memang berencana hadir di IAIN Kediri. Dengan mengendari Jazz, kami menuju Kediri, pusat sinode denominasi "Gudang Garam" di mana aku menjadi salah satu dari jutaan jemaatnya.

Di mobil itulah aku terjebak dalam drama singkat pembebasan. Kisahnya sebagaimana gambar percakapan yang aku unggah.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …