Skip to main content

Iklan

LINDUNGI KOTA SANTRI(WATI) DARI KEJAHATAN SEKSUAL


Rilis Jaringan Alumni Santri Jombang (JASiJO)



LINDUNGI KOTA SANTRI(WATI) DARI KEJAHATAN SEKSUAL


Setelah dihantam kasus kekerasan seksual massal di SMPN 6 setahun lalu, Kota Santri kembali didera cobaan yang sama. Kali ini santriwati salah satu pesantren di kawasan Ploso Jombang menjadi Korban kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh salah satu elit pesantren tersebut. Polisi sendiri sudah menetapkan MS, diduga pelaku, sebagai tersangka. 

Berkaitan dengan hal tersebut, Jaringan Alumni Santri/wati Jombang (JASiJo) menyatakan sikap sebagai berikut:

 1.  Mengecam aksi kekerasan seksual terhadap Korban santriwati
 2. Mengapresiasi kesigapan Polres Jombang dalam merespon kasus ini serta berani membongkar seluruh skandal yang telah berlangsung lama. JASiJo berkeyakinan masih ada Korban lain dalam skandal ini. Kepolisian juga tidak perlu minder dan takut mengingat kasus ini melibatkan "orang besar"
 3. Mendukung kepolisian untuk memberikan keadilan publik dan Korban dengan cara mempertimbangkan untuk menahan tersangka mengingat ancaman pidananya lebih dari 5 tahun serta agar mempermudah proses penyidikan
 4. Mendorong Pemkab Jombang  lebih serius memastikan semua institusi pendidikan, khususnya pesantren, untuk memperbaiki sistemnya agat terbebas dari potensi praktek kekerasan, termasuk kekerasan seksual, utamanya terhadap anak
 5. Mendesak pemerintah dan DPR agar segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual


Jombang, 5 Desember 2019

Aan Anshori 

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …