Skip to main content

Iklan

MENUKAR DOA DI GKI BONDOWOSO


Rekor terbaikku dimintai doa lintas agama adalah ketika menghantar emeritasi Pdt. Prof. Gerrit di GPIB Malioboro beberapa bulan lalu. Sebelumnya, saya kerap memimpin doa umum lintas agama, mewakili orang Islam. 

Namun kemarin malam, Sabtu (21/12), ada permintaan agak unik dari kawanku, Pdt. Martin, yang melayani di GKI Bondowoso. 

"Aku nang grejo, gus. Persiapan natalan. Tak tunggu ndek sana ya. Tolong arek-arek diberi doa agar persiapan natal kami lancar," begitu kira-kira tulinya di WA. Aku hanya ngakak saja. 

Hari itu, aku sudah niatkan untuk mampir ke GKI Bondowoso. Tiga kali aku ke Bondowoso namun belum pernah ke gerejanya Marti. Padahal aku berkali-kali bekerja bersamanya di banyak event. Maka, setelah mengisi acara BAMAG setempat di GPIB Bondowoso, aku meminta Afif, kordinator GUSDURian setempat, mengantarku. 

"Nggak pakai helm, Fif," tanyaku.
Ia hanya meringis. "Aman mas,"

Aku pun tiba di gereja mungil. Martin menyambutku dan mengantarkan ke dalam. Aku melihat beberapa remaja sedang berlatih menyanyi. Yang lainnya sibuk menata dekorasi. 

Orang Kristen itu seperti film India. Kawinan, nyanyi. Berduka, nyanyi. Pokoknya tidak ada satupun ritual yang meninggalkan nyanyian. "Pantas kalian terlihat tegar meski kerap dipersekusi," godaku. Mereka tertawa.


Saya kemudian ngobrol dengan nonik-nonik yang ada di sana. Mereka bercerita tentang persekusi yang dialami saat di sekolah. "Dulu pas aku ikut pelajaran agama, guruku tiba-tiba menyuruhku syahadat. Yo tak jawab; yak apa nek bapak ae sing masuk Kristen," ujarnya disambut tawa kami.

Martin selanjutnya meminta pemain musik melakukan perform lagu di hadapanku. Saya tahu, ia ingin menghormatiku dan Afif sebagai tamu. Ia suguhkan sebuah lagu. Ia sendiri yang menyanyi. Suaranya bagus sekali. Membuatku iri.

"Opo iku judule?" tanyaku setengah berbisik kepada nonik yang duduk di belakangku. 
"Atas Bumi nan Permai," jawabnya pendek.

Waktu semakin larut. Aku harus bergeser ke Library Cafe di pinggiran kota untuk memantik diskusi seputar Gus Dur dan Natal. Puluhan anak-anak GUSDURian sudah menunggu. Aku berharap Pdt. Martin segera menerima pamitku dan tidak menagih doaku. 

Ternyata aku salah.

"Rek..rek.. Ayo ngumpul mrene. Kita minta Gus Aan berdoa untuk kelancaran persiapan natal kita," ujarnya sembari memegang mic.

Aku berfikir keras, apa yang harus aku sampaikan dalam doa ini. Aku tidak mau doa biasa-biasa saja. Berbahasa Arab, membiarkan mereka tidak paham dan aku langsung bisa pergi secepatnya. "Tidak. Aku tak mau seperti itu. Aku ingin doaku berkesan dan dipahami," batinku. 

"Bro, iki serius tah?" aku mengkonfirmasi lagi.
"Lho serius iki," ujarnya
"Cara Islam?" aku memastikan
"Cara Islam," Martin menjawab mantap.

Ia serahkan mic ke aku. Memegangnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kananku membuka al-Quran. Aku pilih satu ayat, membaca potongan tiap kata berbahasa Arab dan langsung aku terjemahkan Indonesia, seperti orang yang sedang membaca kitab kuning.

"Idz qolati malaikatu/ ketika malaikat berkata. Ya maryamu/hai Maryam. Inna alloha/sesungguhnya Gusti, yubassiruki/memberimu kabar gembira, bikalimatihi/dengan kehadiran KalimatNya..." aku mulai membacakan firman Al-Quran menyangkut narasi kehadiran Yesus. 

Aku sengaja demikian untuk memberikan konteks doa yang aku akan naikkan. 

"Gusti, mereka ini, Pdt. Martin dan jemaatnya adalah orang-orang baik. Aku bersaksi untuk itu. Mereka bekerja siang malam untuk merayakan kelahiran seseorang yang telah Engkau firmankan dalam al-Quran. Berilah mereka kekuatan agar acara Natal mereka lancar. Aku dan Afif senang diterima mereka dengan baik. Sebagai ciptaanMu kami berdua juga merasa senang atas Natal tahun ini. Semoga perayaan ini dan perayaan lainya semakin menguatkan relasi Islam-Kristen,"

Itu salah satu potongan doa yang aku ingat. Selebihnya tersimpan dalam CCTV GKI. Mungkin. 

Pdt. Martin selanjutnya gantian mendoakan kami berdua. Aku mengamini secara khusyu', sekhusyuk waktu aku mengamini doa kiaiku.

Setelah bertukar doa. Aku pamit. 

"Gak sido turu pastoriku?" ia bertanya.
"Kapan-kapan ae yo. Aku tak nerusno turu nang Ijen," jawabku.

Aku dan Afif berlalu. Memacu motor membelah dinginnya Bondowoso menuju arena pengajian lainnya.(*)

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …