Skip to main content

Iklan

PERNYATAAN SIKAP JARINGAN ISLAM ANTIDISKRIMINASI (JIAD) TERKAIT PELARANGAN NATAL DI SUMATERA BARAT DAN HIMBAUAN MUI JAWA TIMUR


JIAD bersyukur peristiwa pelarangan Natal di dua kabupaten di Sumbar mencuat ke publik setelah sekian lama luput pengamatan. Pelarangan ini tidak bisa diterima, baik secara nalar maupun konstitusi. Keduanya menjamin kemerdekaan beragama/berkeyakinan sekaligus ekspresinya. 

JIAD sangat menyayangkan respon Negara yang terkesan lembek menghadapi masalah ini. Negara dan aparatusnya perlu belajar lagi tentang Pancasila dan Konstitusi; bahwa apapun perikatan/perjanjian/kesepakatan yang bertentangan dengan Pancasila dan Konstitusi tidaklah bisa dibenarkan. 

Dulu ada kasus, seorang Katolik dilarang tinggal di pemukiman Muslim di Bantul atas dasar tradisi dan kesepakatan. Namun Negara hadir dan senyatanya menyelesaikan masalah itu. Kuncinya ada di aparat negara. Keengganan mereka justru menimbulkan spekulasi sejauhmana radikalisme menelusup di tubuh negara? 


Negara perlu segera turun tangan ikut memastikan umat Kristiani di dua kabupaten tersebut terpenuhi hak-haknya. Biarlah Natal tahun ini menjadi Natal tragis terakhir kali yang tidak boleh terulang lagi ke depannya.

Sebagai bagian dari masyarakat Islam Indonesia, JIAD menyerukan agar umat Islam berhenti menghentikan segala persekusi dan diskriminasi terhadap Kekristenan dan pemeluk agama lain. Islam tidak bisa lagi disandera untuk memuntahkan narasi egoistik penuh kebencian terhadap anak bangsa yang berbeda agama/keyakinan. Berhentilah merongrong Pancasila dan kebhinnekaan dengan membawa-bawa Islam. 

Perongrongan Pancasila lainnya muncul di Jawa Timur dalam bentuk himbauan MUI yang melarang orang Islam mengucapkan selamat Natal. Himbauan ini sangat berpotensi memecah belah keluarga besar Indonesia. Tidak ada manfaatnya sama sekali dan malah justru menimbulkan kemudlaratan. Itu sebabnya himbauan ini tidak perlu diikuti. 

Sebaliknya JiAD menyerukan kepada setiap muslim agar tidak perlu takut mengucapkan "Selamat Natal," dan menghadiri undangan perayaannya sebagaimana yang pernah dicontohkan almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan ribuan pengikutnya (GUSDURian). Dalam konteks ini, JIAD mengamini dawuh Gus Dur; semakin tinggi kadar keislaman seseorang, harusnya, semakin besar pula rasa toleransinya.



Makam Gus Dur, 22 Desember 2019.

Aan Anshori
Kordinator JIAD
085780314559 (WA)

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …