Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

TAKUT MATI

Seluruh histeria global terkait corona sebenarnya bermuara pada satu hal; takut mati. Namun kadang seseorang terlalu takut mengakuinya, lalu membungkusnya dengan argumentasi yang canggih-canggih. 

Namun pagi ini, aku tak menyangka akan "ditampar," oleh seorang nenek, saat kami berdua asik berbelanja di stand aneka sayur Pasar Legi Jombang. Kejadiannya dua jam lalu. 
"Mbak, pertimbangkan untuk memakai masker. Situasinya sudah seperti ini lho," kataku pada pemilik stand sembari menyerahkan uang Rp.2.000 untuk seikat serai. 
"Aku pengen, dik, tapi aku sulit bernafas," jawabnya dengan tetap meladeni pembeli lainnya.
Tiba-tiba seorang nenek di depanku, yang asyik memilih tomat menimpali kami tanpa rasa bersalah. Ia dengan ketus berpandangan tidak perlu memakai masker. 
"Nggak usah pakai. Kayak kita nggak percaya Tuhan saja. Masih ada Tuhan," ujarnya. 
Kami pun terus berdiskusi sembari tetap memastikan kebutuhan kami terlayani dengan baik. Aku pergi meningg…

SUGENG KUNDUR TUTOR BAHASA INGGRISKU

Barusan aku tahu KH. Nur Akhlis, wakil ketua PCNU Kab. Kediri telah meninggal dunia. Berita ini benar-benar mengagetkanku. Sebab dalam memoriku, pria ini akan immortal persis seperti gambaran 25 tahun lalu. Ceria, ganteng, smart, supel dan punya dedikasi. 

Aku mengenalnya sebagai "mister," Akhlis, tutorku bahasa Inggris dalam 2 dari 3 fase di BEC Pare Kediri. Aku masuk kursusan legendaris itu kira-kira September 1994, setelah bosan menjadi penjaga portal galian C di dekat makam Sunan Drajat Lamongan. Saat itu aku baru lulus SMA. Bingung mau ke mana; takut kuliah karena nggak punya biaya, ingin kerja namun masih sangat hijau. 
Akhirnya ada kawanku SMA, alm. Zainul Muttaqin putra KH. Nurcholish Klinterejo, mengajak untuk kursus di BEC Pare. Aku menyelesaikannya tepat waktu dengan hasil yang lumayan. Menyandang the best four dari 200 peserta kursus angkatanku. 
Aku sadar ada kontribusi besar dari Mr. Akhlis dalam capaian itu. Selama diajar olehnya aku merasa akrab dengannya meski …

TOLONG GUS

Aku tak tahan untuk tidak menuliskannya. Cerita ini --cerita tentang keinginan seorang ayah agar anaknya bisa dikembalikan sebagai perempuan "sejati," yang feminin dan menyukai lawan jenis. Bukan sebaliknya.

"Tolong gus...." ia memohon begitu tulusnya dengan intonasi tersebut.
Aku benar-benar bingung dan trenyuh atas permohonan ini. Intonasi itu mengingatkanku pada Priam, raja Troy, ketika memohon kepada Achilles agar dizinkan membawa pulang mayat Hector anaknya. Mayat itu tergeletak bersimbah darah di depan tenda Achilles setelah keduanya duel satu lawan satu.
Aku bingung karena aku bukan Achilles dan ia juga bukan Priam, King of Troy.
---
Ini adalah kedatangannya kedua kali ke rumahku. Kedatangan yang pertama sekitar setahun lalu. Ia bersama istri dan putrinya yang ia minta aku "sembuhkan,"
Saat itu sang putri, sebut saja Steve, baru saja bertengkar hebat dengannya. Terjadi kontak fisik, meski keduanya saling menyesali atas peristiwa itu sesudahnya. Sang b…

Jawa KW yang Keminter

Betapa senang dan masygulnya aku menerima tawaran dari mas Otto, tokoh senior kelompok Penghayat Jawa Timur. Doktor ini memintaku bersedia menjadi pembicara dalam musyawarah Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) -- semacam federasi kelompok penghayat yang punya kepengurusan hingga level pusat.

Aku masygul karena organisasi tersebut telah aku anggap pewaris dan pelestari tradisi dan spiritualitas Jawa. Core of the core.
Ya, gara-gara ada "Jawa"nya itulah aku merasa galau, sebab aku juga Jawa namun kerap merasa minder dengan kejawaanku.
"Ngapunten, saya nggak bisa bahasa Jawa, apalagi jika disuruh menulis, apalagi jika ditanya filosofi dan hal subtil lainnya. Saya merasa Jawa KW," ujarku memulai sesi. Entah apa yang ada dalam pikiran ratusan orang di hadapanku, Kamis (12/3), di Malang.

Tak ada yang lebih ironis ketimbang Jawa sepertiku, jika dipikir; dididik lebih takut nggak bisa ngaji Arab ketimbang nggak mampu menulis honocoroko; dilatih untuk lebih tahu sejara…

TERLALU SEKSI, TERUSIR DARI KOLAM RENANG

Dulu, aku pernah membaca berita seorang pria harus dideportasi dari Saudi Arabia gara-gara gantengnya keterlaluan. Otoritas setempat menganggap pria tersebut dapat mengganggu ketertiban umum, membuat perempuan dan laki-laki di sana susah berkonsentrasi jika ada dia. 

Namun siapa sangka hal yang sama terjadi pada diriku saat menikmati kolam renang sebuah hotel dekat Terminal Bratang Surabaya beberapa hari lalu. 

Aku menginap di hotel tersebut tiga hari untuk sebuah training. Dari sejak hari pertama aku telah menggunakan kolam tersebut. Layaknya para perenang, aku hanya memakai celana dalam saja. Tak mungkin aku memakai sarung dan berbaju koko atau bercelana panjang saat renang. Karena pasti akan dijadikan bahan tertawaan. 
Hari ketiga, pagi hari sekitar pukul tujuh, aku turun dari kamar menuju kolam renang. Memakai handuk dan kaos serta sandal hotel. 
Aku melihat gerombolan ibu-ibu berbaju renang syar'i telah lebih dulu tiba. Suara percakapan mereka keras sekali. Aku tak ambil pusing, …

COBAAN ITU BERNAMA SITTI HIKMAWATTY

Sitti artinya "lemah," bahasa Jawa dari tanah. Kata Siti juga disematkan pada Maryam, ibunya Yesus, dalam narasi Islam Jawa yang aku pahami. Sedangkan kata Hikmawatty berasal dari kata dasar hikmat -- artinya kebijaksanaan. 

Sitty Hikmawaty (SH) adalah anugerah yang diberikan Tuhan pada kita. Ia menjadi martir agar kita bisa mengukur sejauhmana kita bijak dalam merespon persoalan, termasuk persoalan hamil di kolam renang yang pernah dilontarkannya. 

Kita menjadi kalap dan merisak hingga yang bersangkutan dan lembaganya kedodoran dan akhirnya minta maaf. Padahal SH adalah "utusan," Tuhan agar kita bijak dan rendah hati untuk tidak terlalu mengagung-agungkan sains. Sain boleh diikuti namun sebagai orang yang percaya kemahakuasaan Tuhan, kita akan dicap sombong jika Tuhan adalah seturut dan sejalan sepenuhnya dengan logika sains. 

Dengan logika sains, banyak orang tidak percaya tuhan yang tidak bisa diverifikasi secara pasti. Tuhan rasanya lebih tinggi dari sains. Bukan …

BANGUN SAMUDRA; CERITA ADIK DAN KAKAK

Dua hari belakangan ini, Facebookdome  gempar oleh foto mas Bangun Samudra (MBS), seorang muallaf yang kini kerap diundang ceramah ke sana-sini. Pokok kegemparan tersebut salah satunya bersumber dari foto poster pengajian yang ia akan isi. Di poster tersebut MBS ditulis "mantan Pastor," dan "S3 Vatican," -- dua hal yang jelas perlu diluruskan dan telah dilakukan dengan baik oleh teman-teman Katolik. MBS bukan mantan pastor dan bukan S3 Vatikan.

Kok bisa dua hal itu muncul? Bisa jadi MBS yang mengaku dan meminta demikian, atau mungkin narasi itu merupakan kekreatifan panitia pengajian. 
Panitia acara apapun memang dituntut sekreatif mungkin agar acaranya laku. Namun terkadang mereka lupa bahwa siapapun tidak bisa serta merta menyematkan sesuatu yang bukan tempat. Jika hal itu dilakukan maka sudah barang tentu akan jadi bahan tertawaan dan cemoohan. Persis seperti kejadian ini. Memalukan.
Memang memalukan, persis seperti yang pernah terjadi padaku saat masih Tsanawiyah …

ADA GUS DUR DAN LGBT DI LEDALERO

"Gus Dur biasanya tidur di Ledalero kalau ke sini meski sudah disediakan hotel," kata Eddy Kurniawan, mantan aktifis FPPI yang kini menjabat sebagai sekretaris GP Ansor Kabupaten Sikka, tadi malam saat mengajakku ngopi di Maumere kemarin malam.

Barangkali itu sebabnya, menurut pria ini, hubungan Katolik dan NU di Sikka sangat baik. Pokoknya kalau NU yang berkehendak, mereka pasti mendukung. "Itu yang saya rasakan," kata pria jebolan ITATS Surabaya yang keluarganya sudah 5 generasi tinggal di Sikkan. 

Sayangnya, aku baru tahu informasi ini setelah meninggalkan STFK Ledalero. Jika tidak, aku akan meminta cerita soal Gus Dur dan Ledalero kepada mas Otto Madung, pater temanku saat penelitian di Polgov UGM yang kini telah menjadi ketua sekolah mentereng itu. 
Seperti halnya Gus Dur yang sangat apresiatif terhadap perbedaan identitas gender dan orientasi seksual, STFK Ledalero pun demikian. Sekolah ini, sepengetahuanku, merupakan satu-satunya sekolah tinggi teologi yang ber…

NYALI YUDIAN WAHYUDI

Baru saja dilantik sebagai kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Yudian Wahyudi telah melakukan gebrakan pertama. Dalam sebuah wawancara, pria jebolan Harvad Law University ini menyatakan agama merupakan musuh terbesar Pancasila. 

Sontak banyak pihak kelojotan. Terutama kelompok-kelompok yang selama ini terindikasi getol menelikung Pancasila, baik terang-terangan maupun diam-diam. Mereka ngamuk membabi buta karena topengnya terbuka sedikit. Saking geramnya, Sekjen MUI Anwar Abbas bahkan meminta Jokowi mengganti Yudian. 
"Kalau benar beliau punya pandangan seperti itu maka tindakan presiden yang paling tepat untuk beliau adalah yang bersangkutan dipecat tidak dengan hormat," kata Abbas.
Yudian bukanlah anak kemarin sore yang tidak mengerti pasang surut dinamika agama dan Pancasila dalam sejarah Indonesia. Saya meyakini dia sangat paham dua entitas ini punya relasi yang campur aduk layaknya lagu Def Leppard "When love and hate collide," bahkan hingga sekarang. 
Seja…

MODERASI BABI

Boleh percaya boleh tidak. Musuh bebuyutan si imut babi, salah satunya, adalah apapun yang merepresentasi dan mengaitkan dirinya dengan Islam. 

Jika mulai banyak orang Islam bisa berdamai dengan anjing maka terhadap babi, hampir tak ada yang berani bersuara selantang terkait, atau berpose demonstratif bersama, babi. 
Bisa dikatakan, babi adalah kelemahan paling menganga dalam bangunan konfidensi Islam. Sesakti apapun seseorang, setinggi langit keilmuan yang ia miliki, ia akan tunduk, lungkrah tak berdaya di hadapan babi. 
Hukum klasik Islam terlihat masih belum bisa move on merekonsiliasi binatang kiyut ini -- tak peduli berapa banyak jumlah Ph.D dan professsor hukum Islam yang berhasil diproduksi oleh sistem pendidikan modern.

Stigma terhadap babi begitu pekat dan tidak main-main. Siapapun yang berani mencoba menguliknya dalam rangka memoderasi hukum Islam atasnya, sedikittttttt saja, pasti aku terjungkal. Cobalah jika tidak percaya.
Namun kenapa perlu dimoderasi? Sebab stigma terhadap ba…

SERU PASUKAN BIRU DI GKJW WARU

Adakah yang paling membahagiakan selain bisa mengajak banyak orang datang ke tempat yang paling mereka takuti karena dogma –dan akhirnya ketakutan tersebut tidak terbukti? Pastilah ada kebahagiaan lain selain hal tersebut. Namun bagiku hari ini, Sabtu (8/2), adalah hari bahagiaku.


Aku berhasil mengajak 50 orang pasukan biru, sebutan untuk para kader PMII, untuk bisa duduk di ruang ibadah GKJW Waru belajar tentang hadits dalam perspektif keadilan perempuan. 
Maksudnya gereja menyelenggarakan kelas tersebut? Tidak. 

Sebagaimana yang aku tulis di status kemarin, aku meminta panitia Sekolah Islam dan Gender untuk mencari gereja terdekat sebagai tempat sesiku berlangsung. Akhirnya, mereka mendapatkan GKJW Waru. Lokasinya berjarak 7-8 kilometer dari tempat utama. 
"Begitu mendapat kabar akan ada kunjungam dari teman-teman PMII, kami langsung rapat dan memutuskan oke. Kami senang gereja ini berguna, terutama bagi teman-teman Muslim," kata Pdt. Adi dalam sambutannya. 

Saat selesai sambut…

BULKONAH di IAIN MANADO

Betapa senangnya diriku. Bisa singgah lagi di institusi pendidikan tinggi Islam sementereng IAIN Manado. Dari banyak IAIN atau UIN yang aku pernah kunjungi. Rata-rata model arsitekturnya sama semua. 

Sangat mungkin ada panduannya dari “atas,” atau jangan-jangan kontraktor pelaksananya satu bendera. Terasa tidak kreatif. Entahlah.
Namun sore itu, Sabtu (15/2), aku disambut dengan sangat ramah oleh mas Sulaiman, dosen IAIN yang sehari sebelumnya bertemu denganku di acara bedah buku “Menafsir LGBT dalam Alkitab,” di GMIM Sion Winangun. 
Ia tidak sendirian ternyata. Telah hadir pula mas Ali, wakil dekan, yang ternyata orang Ngapak Brebes. Dunia sempit sekali memang.
Topik yang dibahas dalam forum diskusi dadakan ini seputar Guyonan Gus Dur dan relevansinya saat sekarang –merujuk pada semakin kuatnya intoleransi yang dilakukan banyak orang Islam, terutama pada kelompok Kristen. 
“Saya nggak pernah riset soal guyonan Gus Dur. Namun jika mau dikategorisasikan, saya baru mampu menemukan dua; as se…

DARI NATAL HINGGA MADRASAH KADER NU ALUMNI PMII JAWA TIMUR

**""
Aku senang sekali terlibat mewarnai Natal Peradi Surabaya. Menurut informasinya, ini natal warna-warni pertama yang mengundang teman-teman Islam di luar Peradi. Bagiku ini luar biasa karena semangat "sahabat" yang menjadi tema besar PGI-KWI terimplementasi dengan terobosan.
"Saya senang dengan Cak Haryanto. Ia muslim sejati. Kemuslimannya digunakan untuk menjadi rahmat bagi teman-teman profesi yang beragama Kristen," begitulah aku memuji ketua Peradi Surabaya, Jumat (10/1) di rumah makan Emerald Surabaya. 
Cak Haryanto, menurut Mbak Liana Wati --anggota Peradi yang berjemaat di Paroki SMTB-- justru mendorong anggota Peradi Kristen/Katolik agar menyelenggarakan perayaan Natal seperti ini. 
Bagiku ini menarik, mengingat sangat banyak orang Islam yang memilih bersikap sebaliknya. Aku berhutang banyak pada mas Johanes dan Romo Pras. Aku menikmati firman Tuhan yang disampaikan romo dengan gelar berderet ini.
Di hadapan undangan, aku berpesan agar Natal seperti…

NATAL DAN PANCASILA-NIAL

Aku sedang berkereta menuju rumah saat ini. Perjalanan panjang Batu-Malang-Ponorogo-Jogjakarta-Purwokerto berakhir sore ini di warkop dekat stadion Jombang. Aku dkk. GDian Jombang akan rapat persiapan Haul Gus Dur yang rencananya akan diselenggarakan secara sederhana saja. 

Besok sore, aku diundang menghadiri acara Natal Peradi Surabaya. Mungkin ini natalan lintas agama pertama kali yang dilakukan organisasi advokat ini. Aku senang sekali sewaktu diajak mendiskusikan acara ini oleh salah satu pengurusnya untuk mempersiapkan acara ini. 
"Undanglah teman-teman Islam dan agama lain pas natalan, mas. Natalan versi 4.0 adalah perayaan yang juga didesain untuk menselebrasi kuatnya relasi Kristen-Islam ditengah kecamuk situasi intoleransi," kataku padanya. Ia menyambutnya gembira. 
Aku juga sudah mengontak beberapa adik-adikku di Surabaya, para Gusdurian, untuk bisa hadir dalam perayaan tersebut. Kehadiran mereka sangatlah penting untuk mengimbangi eskalasi intoleransi. Bayangkan saja…

BERAGAMA DALAM ENAM PURNAMA

Oleh Celestine

Prolog; Celestine, bukan nama sebenarnya, adalah salah satu mahasiswiku di Kelas Religion semester lalu. Aku tidak tahu apa agamanya. Mungkin Protestan atau Katolik --dua agama mayoritas di kelas. Ia menulis refleksi ini sebagai bagian tugas UAS. Aku senang membacanya. Judul aku tambahkan untuk melengkapi tulisan. -- Aan Anshori


***** Setelah mengikuti kelas Religion bersama teman-teman dengan berbagai agama, tentunya memiliki kesan tersendiri bagi saya. Seumur hidup saya, saya belum pernah sekalipun membahas tentang agama bersama dengan teman-teman yang memiliki agama berbeda dengan saya. 
Tetapi, di semester ini, saya diberikan kesempatan untuk merasakan bagaimana berinteraksi, membicarakan soal kepercayaan saya dan orang lain dan mengetahui lebih dalam mengenai agama atau kepercayaan orang lain serta pandangan agama lain terhadap agama yang saya percayai. 
Dengan pertemuan-pertemuan yang dilakukan setiap minggunya, kuliah umum, dan doa yang bergiliran antar agama setiap m…