Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

Iklan

MERABA PERABA

Mau ngompori orang Katolik aaah....

Ini adalah kartun di Peraba III Juli 1968, majalah yang berafiliasi ke Katolik. Kartun tersebut berisi kritikan kepada politisi Islam yang selalu ngotot memasukkan Piagam Jakarta dalam aturan formal Indonesia. 
Kartun tersebut, secara khusus, adalah perayaan "kemenangan," kelompok nasionalis ketika berhasil mengKO kelompok Islam dalam pertarungan Piagam Jakarta di pembahasan GBHN MPRS 1968. 
Aku melihat betapa ekspresifnya Peraba menarasikan gagasannya. Ekspresi ini di mata kelompok Islam dianggap cuka yang dilelehkan di atas luka, sebelum cuka lain disiramkan di tahun berikutnya. 
Cuka ini membuat banyak politisi Islam semakin jengkel terhadap Katolik sekaligus memupuk keyakinan akan kekalahan Islam melawan non-Islam. 
Kelompok Islam pantas meradang atas kekalahan yang tidak terduga ini, setidaknya karena dua hal. Pertama, kelompok Islam sangat yakin mampu memenangkan Piagam Jakarta setelah membabat habis --hingga ke akar-akarnya-- pendukung u…

Mei 98 di Surabaya; Raja Pengemis dan Vagina Yang Terkoyak

Bulan Mei baru saja pergi. Namun memori kelamnya tetap tinggal di sana. Abadi. Di bulan itu, titik penting dalam sejarah peradaban Indonesia dimulai.Saat itu Orde Baru tumbang digantikan Reformasi. Ibarat bayi yang lahir, transisi ini diiringi oleh pertaruhan nyawa. Ada darah yang meleleh, terutama dari tubuh banyak perempuan Tionghoa. Lelehan ini menuntut kita untuk terus terjaga dan berefleksi.Meski terus menjadi kontroversi karena tidak pernah terselesaikan secara hukum, aroma kekerasan seksual Mei 1998 di Surabaya tetap menyeruak, melalui laporan TGPF Komnas HAM dan Komnas Perempuan.Catatan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) menyebut korban terbanyak ada di Jakarta, sekitar 152 orang. Di Solo, Medan dan Surabaya secara akumulatif ada 16 korban. Menurut penelitian Usman Hamid dkk. terdapat 2 korban di Surabaya. Namun benarkah hanya dua, dan sejauhmana kebenarannya?Geger Dunia Persilatan
Dari disertasi Jemma Purdey, Anti-Chinese Violence in Indonesia, 1996-1999, dapat diketahui k…

CERITA DI KILOMETER 44

Hari ini, usiaku bertambah (atau berkurang?). Jika dihitung, sudah 44 tahun aku hidup dan berproses di dunia ini. Entah berapa ratus film yang sudah aku tonton. Yang terakhir, tadi jam 23.30, berjudul "The Visitor," Betapa aku sangat menyukainya. 

Tak pernah menyangka aku bisa menikmati hidup penuh liku-liku. Dididik dalam tradisi Islam-Sunni yang relatif ketat, termasuk dengan aneka pengalaman yang ada di dalamnya. Tanpa pernah merasa akan berada dalam sebuah situasi di mana aku mulai mempertanyakan doktrin-doktrin klasik  yang telah lama terinstal.
Masih terasa sekali memori betapa aku merasa tidak senang dengan orang yang  berbeda agama, khususnya Kristen, dan juga Tionghoa. Memori masa kecilku yang sering mengolok waria dan ikut sekumpulan orang dewasa memburu anjing --untuk dibunuh ramai-ramai, masih juga mengendap di otakku. 
Aku sungguh bersyukur dengan memori tersebut, yang telah menjadi modalitasku untuk bisa berdamai dengan hal-hal tersebut, pada akhirnya. 
Tuhan meman…

MENGHORMAT SUMATERA BARAT

Aplikasi Injil berbahasa Minangkabau seketika lenyap dari playstore setelah surat Gubernur Sumatera ramai di media sosial. 

Siapapun pejabat publiknya ---apalagi selevel menteri-- sepanjang KTPnya tidak Islam, akan mengkeret jika disomasi untuk urusan yang dianggap sensitif. 
Pancasila, UUD 45, UDHR, dan aneka kovenan yang menjamin kesetaraan dan kemerdekaan ekspresi keagamaan, minggir dulu. Fokus utama Menteri, bagaimana agar si Bungsu di Sumatera Barat yang susah dewasa berhenti tantrum karena fobia.
Ini tidak berarti  sang menteri takut, namun sebaliknya, aku melihat ia merupakan kakak yang sangat perhatian pada adiknya. Tidak tega melihat si bungsu kepanasan melihat ada alkitab berbahasa Minang. Pak Menteri seperti tengah menjalankan perannya sebagai seorang Katolik sejati; work out his own salvation with fear and trembling (Phillipians 2 12).

Benarlah adanya. Orang yang sedang tantrum karena fobia tidak boleh dibully, dimaki, dicemooh atau dikritik. Itu sangatlah tidak bijak. Semakin…

ANDAI GUS DUR PAKAI FACEAPP

Aku tidak bermaksud kurang ajar, namun seandainya Gus Dur masih hidup, punya banyak waktu main gadget dan mencoba FaceApp untuk mengetahui bagaimana akan tampak dalam wujud feminin, sangat mungkin akan mirip gambar ini; foto ibunya -- bu nyai Solichah putri KH. Bisri Syansuri --kiai yang kabarnya sangat kokoh menjaga ortodoksi hukum Islam. 

Dalam hukum Islam bergaya ortodok, perempuan adalah sepenuhnya penjaga medan domestik, bukan di arena publik. 
Namun lihatlah putrinya, tampil berpidato di hadapan para habib dan banyak kiai, saat acara majelis ta'lim di Masjid Luar Batang Penjaringan Jakarta Utara. Entah tahun berapa. 
Di forum tersebut, beliau setidaknya mengutip dua petuah yang kerap dinisbatkan kepada Sayyidina Ali karrama allohu wajhah menyangkut betapa pentingnya ilmu pengetahuan ketimbang harta benda. Mungkin dalam konteks kekinian; betapa pentingnya tembus Scopus, Sinta 1, 2 dan Sinta 3. 
Bu nyai Solichah dalam pandanganku tergolong sakti. Betapa tidak, saat NU mengalami ko…

PUASA DAN KETAKUTAN DUA JIWA

Santy Winarta, Religion F, Univ. Ciputra Surabaya, IG @santywinarta

MENURUT saya, selain melakukan ibadah, puasa dapat diartikan sebagai cara kita untuk menghargai sesama kita, berpuasa bagi saya adalah sebuah kewajiban dari seseorang beragama, namun semua itu kembali lagi pada setiap individu yang melaksanakannya. 
Saya memiliki teman seorang Muslim, pencitraannya sangat besar, ia mengaku berpuasa kepada banyak orang dan teman-temannya, namun pada kenyataannya ia tidak pernah berpuasa sama sekali, bagi saya hal tersebut tidak baik, lebih baik mengakui bahwa dirinya tidak berpuasa, namun yang saya jengkelkan, ia seringkali mengolok-olok temannya yang sedang tidak berpuasa. 
Kemudian saya juga memiliki pengalaman yang dapat dikatakan menyenangkan karena memiliki teman-teman yang baik, dan dapat dikatakan menyedihkan karena saya sebagai seseorang yang berpuasa sendirian. Hal itu dimulai dari pertemanan saya.
Saya memiliki banyak teman nasrani, dapat dikatakan bahwa ketika saya pergi, saya a…

MENAGIH KIDUNG SELAIN LADY AISYAH

Nama (Lady) Aisyah (LA) kini tengah viral. Kisah romansanya bersama sang suami, Nabi Muhammad (NM), dipahat dalam alunan lagu. Umat Islam Indonesia pasti gembira memiliki satu lagi tambahan kidung "Mazmur," modern yang mengambil setting romantika NM. 

LA adalah istri ketiga dalam sejarah rumah tangga NM. Itu artinya, ia merupakan istri kedua NM dalam sejarah poligininya. Jumlah pasti berapa banyak perempuan yang bisa dikaitkan dengan romantika NM masih tetap menjadi perdebatan. Para sejarahwan Islam dan Barat belum satu suara. Masih ada dispute hingga hari ini.
LIMA KLASIFIKASI Para perempuan dalam sejarah romantika NM terbagi menjadi 5 kuadran --  sebagaimana dinyatakan QS. 33.50/49. Pertama, adalah mereka (para perempuan) yang telah diberi mas kawin oleh NM. Kedua, para budak yang menjadi miliknya dan perolehan dari peperangan. Ketiga, para sepupu NM --baik dari jalur ayah maupun ibu -- yang ikut hijrah (ke Madinah). Keempat, para perempuan mukmin (al-Quran menggunakan kata m…

JUMAT AGUNG DAN TIGA KELOMPOK ISLAM

Hari ini Jumat Agung di tengah pandemi Corona. Dua ribuan tahun lalu, pada hari yang sama, banyak orang berkumpul menyaksikan seorang manusia menjalani penghukuman yang sangat kejam, sebelum akhirnya diarak dan mati di kayu salib. Disalib adalah simbol penghukuman paling nista, paling dihindari. Hampir tidak ada yang berani ngomong dengan bangga dan riang gembira, "Asyikkk, aku besok disalib,"

Namun demikian, ribuan tahun kemudian, manusia yang disalib tersebut berubah menjadi figur sentral, manifestasi Illah sempurna dengan darah dan dagingnya, dan memiliki miliaran pengikut. 
Peristiwa penyaliban Yesus yang menjadi titik sentral keimanan pengikutnya, secara bersamaan juga menjadi poin krusial yang dipersoalkan doktrin mainstream agama sesudahnya, Islam, agamaku. Doktrin tersebut diajarkan bahwa Yesus tidak disalib. Dia diselamatkan Allah dari penghinaan tentara dan komplotannya. Dalam teksnya, AlQuran jelas mengecam siapapun yang membuat plot untuk menghancurkan Yesus. 

Hingg…

CORONA. LGBT dan KEWARASAN KITA

Kadang kita merasa sudah berfikir waras menghadapi corona, sewaras cara kita menyikapi LGBT. Namun benarkah demikian?

*** Barusan aku pulang dari jalan-jalan, ngopi di dekat Stadion, Selasa (31/3). Warkopnya sepi, hanya ada 3 orang denganku, ditambah penjualnya. Jadi 4 orang.
Warkop ini adalah satu-satunya yang buka dan berwifi dari puluhan yang bisa aku temukan sepanjang Jl. Gus Dur hingga Jl. Hasyim Asyari dekat perempatan Mojosongo. Puluhan warkop terkena dampak meranggasnya corona di areal Jombang Kota. 
Aku membayangkan bagaimana nasib warkop-warkop yang selama ini menyangga denyut peradaban Kota Santri ini. Ya, akses high speed wifi membuat banyak orang lebih teredukasi, setidaknya mereka, para users warkop, bisa berproses secara online, termasuk keranjingan game, mengakses jurnal internasional, maupun sekedar menziarahi situs-situs dewasa macam pornhub atau xhamster.
"Aku dikurung tidak boleh keluar rumah dan menerima tamu selama 14 hari, gus," tiba-tiba teman dekatku meng…

COVID19 MUSUH KITA, BEGINI AKIBATNYA?

Banyak orang kaget kenapa ada warga yang sampai setega itu pada mayat terinfeksi covid19. Saya sendiri kaget dengan kekagetan mereka. Kaget karena kenapa mereka kaget dengan buah yang telah mereka tanam sendiri. Bukankah pagi, siang, sore dan malam hari mereka tidak henti-hentinya kampanye betapa jahatnya covid19? Jahat melampaui segala ragam penyakit yang tersedia. Bukankan mereka, kita semua, meletakkan covid dalam area peperangam dalam imajinasi kita? Ia adalah musuh, amarah Tuhan, dan entitas di mana semua kemarahan dan kebodoham kita kumpulkan di dalamnya. Kita bahkan rela menggelorakan perang padanya. 

Kita ogah salaman maupun berdekatan dengan orang lain karena dalam alam bawah sadar kita, setiap orang adalah inang dari covid19, musuk kita yang tidak tampak. 
Kita yang terbiasa visual menjadi amat frustasi karena covid19 bergerak tanpa bayangan, tidak bisa terdeteksi dengan mudah. Akan lebih mudah bagi kita seandainya ia berwujud nyata. Jelas bentuknya, alamatnya, sehingga memuda…

TAKUT MATI

Seluruh histeria global terkait corona sebenarnya bermuara pada satu hal; takut mati. Namun kadang seseorang terlalu takut mengakuinya, lalu membungkusnya dengan argumentasi yang canggih-canggih. 

Namun pagi ini, aku tak menyangka akan "ditampar," oleh seorang nenek, saat kami berdua asik berbelanja di stand aneka sayur Pasar Legi Jombang. Kejadiannya dua jam lalu. 
"Mbak, pertimbangkan untuk memakai masker. Situasinya sudah seperti ini lho," kataku pada pemilik stand sembari menyerahkan uang Rp.2.000 untuk seikat serai. 
"Aku pengen, dik, tapi aku sulit bernafas," jawabnya dengan tetap meladeni pembeli lainnya.
Tiba-tiba seorang nenek di depanku, yang asyik memilih tomat menimpali kami tanpa rasa bersalah. Ia dengan ketus berpandangan tidak perlu memakai masker. 
"Nggak usah pakai. Kayak kita nggak percaya Tuhan saja. Masih ada Tuhan," ujarnya. 
Kami pun terus berdiskusi sembari tetap memastikan kebutuhan kami terlayani dengan baik. Aku pergi meningg…

SUGENG KUNDUR TUTOR BAHASA INGGRISKU

Barusan aku tahu KH. Nur Akhlis, wakil ketua PCNU Kab. Kediri telah meninggal dunia. Berita ini benar-benar mengagetkanku. Sebab dalam memoriku, pria ini akan immortal persis seperti gambaran 25 tahun lalu. Ceria, ganteng, smart, supel dan punya dedikasi. 

Aku mengenalnya sebagai "mister," Akhlis, tutorku bahasa Inggris dalam 2 dari 3 fase di BEC Pare Kediri. Aku masuk kursusan legendaris itu kira-kira September 1994, setelah bosan menjadi penjaga portal galian C di dekat makam Sunan Drajat Lamongan. Saat itu aku baru lulus SMA. Bingung mau ke mana; takut kuliah karena nggak punya biaya, ingin kerja namun masih sangat hijau. 
Akhirnya ada kawanku SMA, alm. Zainul Muttaqin putra KH. Nurcholish Klinterejo, mengajak untuk kursus di BEC Pare. Aku menyelesaikannya tepat waktu dengan hasil yang lumayan. Menyandang the best four dari 200 peserta kursus angkatanku. 
Aku sadar ada kontribusi besar dari Mr. Akhlis dalam capaian itu. Selama diajar olehnya aku merasa akrab dengannya meski …

TOLONG GUS

Aku tak tahan untuk tidak menuliskannya. Cerita ini --cerita tentang keinginan seorang ayah agar anaknya bisa dikembalikan sebagai perempuan "sejati," yang feminin dan menyukai lawan jenis. Bukan sebaliknya.

"Tolong gus...." ia memohon begitu tulusnya dengan intonasi tersebut.
Aku benar-benar bingung dan trenyuh atas permohonan ini. Intonasi itu mengingatkanku pada Priam, raja Troy, ketika memohon kepada Achilles agar dizinkan membawa pulang mayat Hector anaknya. Mayat itu tergeletak bersimbah darah di depan tenda Achilles setelah keduanya duel satu lawan satu.
Aku bingung karena aku bukan Achilles dan ia juga bukan Priam, King of Troy.
---
Ini adalah kedatangannya kedua kali ke rumahku. Kedatangan yang pertama sekitar setahun lalu. Ia bersama istri dan putrinya yang ia minta aku "sembuhkan,"
Saat itu sang putri, sebut saja Steve, baru saja bertengkar hebat dengannya. Terjadi kontak fisik, meski keduanya saling menyesali atas peristiwa itu sesudahnya. Sang b…

Jawa KW yang Keminter

Betapa senang dan masygulnya aku menerima tawaran dari mas Otto, tokoh senior kelompok Penghayat Jawa Timur. Doktor ini memintaku bersedia menjadi pembicara dalam musyawarah Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) -- semacam federasi kelompok penghayat yang punya kepengurusan hingga level pusat.

Aku masygul karena organisasi tersebut telah aku anggap pewaris dan pelestari tradisi dan spiritualitas Jawa. Core of the core.
Ya, gara-gara ada "Jawa"nya itulah aku merasa galau, sebab aku juga Jawa namun kerap merasa minder dengan kejawaanku.
"Ngapunten, saya nggak bisa bahasa Jawa, apalagi jika disuruh menulis, apalagi jika ditanya filosofi dan hal subtil lainnya. Saya merasa Jawa KW," ujarku memulai sesi. Entah apa yang ada dalam pikiran ratusan orang di hadapanku, Kamis (12/3), di Malang.

Tak ada yang lebih ironis ketimbang Jawa sepertiku, jika dipikir; dididik lebih takut nggak bisa ngaji Arab ketimbang nggak mampu menulis honocoroko; dilatih untuk lebih tahu sejara…

TERLALU SEKSI, TERUSIR DARI KOLAM RENANG

Dulu, aku pernah membaca berita seorang pria harus dideportasi dari Saudi Arabia gara-gara gantengnya keterlaluan. Otoritas setempat menganggap pria tersebut dapat mengganggu ketertiban umum, membuat perempuan dan laki-laki di sana susah berkonsentrasi jika ada dia. 

Namun siapa sangka hal yang sama terjadi pada diriku saat menikmati kolam renang sebuah hotel dekat Terminal Bratang Surabaya beberapa hari lalu. 

Aku menginap di hotel tersebut tiga hari untuk sebuah training. Dari sejak hari pertama aku telah menggunakan kolam tersebut. Layaknya para perenang, aku hanya memakai celana dalam saja. Tak mungkin aku memakai sarung dan berbaju koko atau bercelana panjang saat renang. Karena pasti akan dijadikan bahan tertawaan. 
Hari ketiga, pagi hari sekitar pukul tujuh, aku turun dari kamar menuju kolam renang. Memakai handuk dan kaos serta sandal hotel. 
Aku melihat gerombolan ibu-ibu berbaju renang syar'i telah lebih dulu tiba. Suara percakapan mereka keras sekali. Aku tak ambil pusing, …

COBAAN ITU BERNAMA SITTI HIKMAWATTY

Sitti artinya "lemah," bahasa Jawa dari tanah. Kata Siti juga disematkan pada Maryam, ibunya Yesus, dalam narasi Islam Jawa yang aku pahami. Sedangkan kata Hikmawatty berasal dari kata dasar hikmat -- artinya kebijaksanaan. 

Sitty Hikmawaty (SH) adalah anugerah yang diberikan Tuhan pada kita. Ia menjadi martir agar kita bisa mengukur sejauhmana kita bijak dalam merespon persoalan, termasuk persoalan hamil di kolam renang yang pernah dilontarkannya. 

Kita menjadi kalap dan merisak hingga yang bersangkutan dan lembaganya kedodoran dan akhirnya minta maaf. Padahal SH adalah "utusan," Tuhan agar kita bijak dan rendah hati untuk tidak terlalu mengagung-agungkan sains. Sain boleh diikuti namun sebagai orang yang percaya kemahakuasaan Tuhan, kita akan dicap sombong jika Tuhan adalah seturut dan sejalan sepenuhnya dengan logika sains. 

Dengan logika sains, banyak orang tidak percaya tuhan yang tidak bisa diverifikasi secara pasti. Tuhan rasanya lebih tinggi dari sains. Bukan …

BANGUN SAMUDRA; CERITA ADIK DAN KAKAK

Dua hari belakangan ini, Facebookdome  gempar oleh foto mas Bangun Samudra (MBS), seorang muallaf yang kini kerap diundang ceramah ke sana-sini. Pokok kegemparan tersebut salah satunya bersumber dari foto poster pengajian yang ia akan isi. Di poster tersebut MBS ditulis "mantan Pastor," dan "S3 Vatican," -- dua hal yang jelas perlu diluruskan dan telah dilakukan dengan baik oleh teman-teman Katolik. MBS bukan mantan pastor dan bukan S3 Vatikan.

Kok bisa dua hal itu muncul? Bisa jadi MBS yang mengaku dan meminta demikian, atau mungkin narasi itu merupakan kekreatifan panitia pengajian. 
Panitia acara apapun memang dituntut sekreatif mungkin agar acaranya laku. Namun terkadang mereka lupa bahwa siapapun tidak bisa serta merta menyematkan sesuatu yang bukan tempat. Jika hal itu dilakukan maka sudah barang tentu akan jadi bahan tertawaan dan cemoohan. Persis seperti kejadian ini. Memalukan.
Memang memalukan, persis seperti yang pernah terjadi padaku saat masih Tsanawiyah …