Skip to main content

Iklan

BERAGAMA DALAM ENAM PURNAMA

Oleh Celestine

Prolog; Celestine, bukan nama sebenarnya, adalah salah satu mahasiswiku di Kelas Religion semester lalu. Aku tidak tahu apa agamanya. Mungkin Protestan atau Katolik --dua agama mayoritas di kelas. Ia menulis refleksi ini sebagai bagian tugas UAS. Aku senang membacanya. Judul aku tambahkan untuk melengkapi tulisan. -- Aan Anshori



*****
Setelah mengikuti kelas Religion bersama teman-teman dengan berbagai agama, tentunya memiliki kesan tersendiri bagi saya. Seumur hidup saya, saya belum pernah sekalipun membahas tentang agama bersama dengan teman-teman yang memiliki agama berbeda dengan saya. 

Tetapi, di semester ini, saya diberikan kesempatan untuk merasakan bagaimana berinteraksi, membicarakan soal kepercayaan saya dan orang lain dan mengetahui lebih dalam mengenai agama atau kepercayaan orang lain serta pandangan agama lain terhadap agama yang saya percayai. 

Dengan pertemuan-pertemuan yang dilakukan setiap minggunya, kuliah umum, dan doa yang bergiliran antar agama setiap minggunya, saya merasakan indahnya persatuan. Walau hanya sekali dalam seminggu, tetapi persatuan antar agama sangat dirasakan didalam kelas. 

Saat berdiskusi atau mendengarkan teman-teman yang beragama lain bercerita tentang agamanya, saya merasakan kedekatan antar agama di dalam kelas. Saya merasa tidak ada jarak ataupun penghalang antar agama selama kelas berlangsung. 

Kami semua dapat bersatu, mengutarakan pendapat, mendengarkan pendapat agama lain, dan sama-sama saling mengetahui agama-agama lain. Saya juga merasakan bagaimana selama ini saya salah dalam memandang agama lain dan juga bagaimana agama lain memandang agama saya. 

Menurut saya, belajar bersama teman-teman yang tidak se-agama dengan saya merupakan suatu hal yang sangat berkesan. Tidak hanya ilmu tentang beragama yang didapat dari dosen, tetapi juga ilmu sosial yang secara tidak langsung saya pelajari selama perkuliahan Religion ini. 

Jika sebelumnya saya merasa tidak peduli dengan tata cara berdoa ataupun apapun itu tentang agama lain, sekarang saya sadar bahwa penting untuk mengetahui paling tidak beberapa hal penting untuk menghormati agama lain. Misalnya waktu sholat bagi agama Islam. Menurut saya waktu sholat teman-teman kita yang muslim penting untuk kita ketahui. 

Sebagai mahasiswa Universitas Ciputra, saya mengikuti berbagai organisasi dan kepanitiaan acara-acara yang ada di Universitas Ciputra. Dalam penyelenggaraan acara, khususnya saat perencanaan rundown acara, perlu ada waktu sholat bagi saudara-saudara kita yang beragama Islam. Maka dari itu saya rasa mengetahui waktu sholat mereka sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman nantinya. 

Saya memaknai pembelajaran ini sebagai suatu proses mempelajari asal-usul, ciri-ciri dan struktur asasi agama-agama dengan maksud untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya yang sebenarnya serta sejauh mana hubungan agama yang satu dengan agama yang lain sehingga dapat diungkapkan pentingnya agama bagi pemeluknya masing-masing. Sehingga dari pembelajaran ini saya tahu apa saja hal-hal yang dapat memecah belah manusia antar agama di Indonesia. 

Pada saat saya berada di dunia kerja nanti, saya yakin apa yang saya pelajari saat ini sangat berguna untuk saya kedepannya. Saat di dunia kerja nanti, saya akan berhadapan dengan banyak sekali orang dengan latar belakang dan sifat yang berbeda-beda. 

Tetapi, selama pembelajaran ini saya rasa saya sudah dilatih untuk bekerja sama dan hidup berdampingan dengan teman-teman agama lain bahkan masuk dan memahami tempat ibadah mereka. Meskipun saya masih harus banyak belajar, tetapi dengan pembelajaran ini sudah sangat memberikan bekal untuk masa depan saya nantinya.

Dari pembelajaran ini, saya memetik banyak hal-hal positif. Yang pertama, saya menjadi mengerti bagaimana beragama yang baik, yaitu tetap taat kepada agama saya dan juga menghormati agama lain disekitar saya karena Indonesia adalah negara majemuk yang memiliki banyak perbedaan yang perlu dipersatukan. Yang kedua, saya belajar bagaimana bersikap yang benar saat menghadapi atau berhubungan dengan panganut kepercayaan lain. 

Saat berhadapan dengan seseorang yang beragama lain, harusnya saya tidak takut atau menjaga jarak selama saya tidak berbuat hal-hal yang dapat menyakiti hati orang tersebut terkait kepercayaannya. Saya percaya, semua agama mengajarkan setiap manusia di dunia ini untuk berbuat baik. Hanya saja terkadang ada beberapa oknum yang menyalahartikan ajaran agamanya dan berbuat sesuatu yang salah dengan mengatasnamakan agamanya. 

Yang ketiga, saya belajar banyak untuk melihat agama saya dari sudut pandang yang berbeda. Saya belajar memahami orang-orang beragama yang berbeda dengan saya. Saya belajar mengerti bagaimana cara mereka memandang agama saya dan bagaimana saya harus bersikap agar mereka tidak salah menilai ajaran agama saya.

Pada intinya, saya sangat bersyukur telah diberikan kesempatan untuk melewati pembelajaran ini selama beberapa bulan. Banyak sekali hal-hal positif yang saya dapatkan dari pembelajaran ini, tidak hanya mengenai teori tetapi juga praktik langsung yang dapat langsung saya rasakan. Saya berharap saya dapat turut menyebarkan dampak positif dari pembelajaran ini kepada orang-orang disekitar saya sehingga tidak ada lagi isu-isu perpecahan bangsa yang dikarenakan perbedaan agama. (*)

Foto: presentasi kelompok "Ritual Agama-agama"

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …