Skip to main content

DARI NATAL HINGGA MADRASAH KADER NU ALUMNI PMII JAWA TIMUR




Apa hubungannya Natal dan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU)? Tidak ada sampai aku melakoni perjalanan dua hari ini.

**""

Aku senang sekali terlibat mewarnai Natal Peradi Surabaya. Menurut informasinya, ini natal warna-warni pertama yang mengundang teman-teman Islam di luar Peradi. Bagiku ini luar biasa karena semangat "sahabat" yang menjadi tema besar PGI-KWI terimplementasi dengan terobosan.

"Saya senang dengan Cak Haryanto. Ia muslim sejati. Kemuslimannya digunakan untuk menjadi rahmat bagi teman-teman profesi yang beragama Kristen," begitulah aku memuji ketua Peradi Surabaya, Jumat (10/1) di rumah makan Emerald Surabaya. 

Cak Haryanto, menurut Mbak Liana Wati --anggota Peradi yang berjemaat di Paroki SMTB-- justru mendorong anggota Peradi Kristen/Katolik agar menyelenggarakan perayaan Natal seperti ini. 

Bagiku ini menarik, mengingat sangat banyak orang Islam yang memilih bersikap sebaliknya. Aku berhutang banyak pada mas Johanes dan Romo Pras. Aku menikmati firman Tuhan yang disampaikan romo dengan gelar berderet ini.

Di hadapan undangan, aku berpesan agar Natal seperti ini, Natal warna-warni, ditradisikan oleh Peradi Surabaya dan ditiru organisasi profesi lainnya. Cukup banyak pengacara Islam yang hadir meski prosentasenya masih kalah jauh dengan yang belum hadir. 



"Bagi yang beragama Islam, mendatangi undangan itu wajib. Apalagi undangan menghadiri peringatan sosok suci yang juga ada dalam teologi Islam," kataku sembari menyitir ayat Natal di Surah Maryam. 

Natal juga menjadi bahan untuk menggodaku pagi ini, saat bertemu banyak alumni PMII di arena Madrasah Kader Nahdlatul Ulama. 


"Lohh... Jik Islam koen tibake An, luwih sering nang grejo timbang nang masjid," kata Faizin sembari ketawa ngakak. Faizin adalah ketua KPU Pasuruan yang juga teman di Tambakberas dulu. 

"Lho...lapo koen nang kene, An" tanya Yeni Lutfiana tak bisa menyembunyikan kekagetannya saat melihatku. Sebelumnya ia sempat heran melihat nama "Aan Anshori," di daftar absensi. "Apa ada Aan Anshori lain selain Aan Anshori ya?" 

Tak hanya Yeni yang kaget, Amik IKPMII Gresik juga tak menyangka ketemu denganku.

"Ya allooohhh... Isun sempat gak percoyo ndelok ente. Lapo awakmu melok ngene iki?" katanya, aku langsung memeluknya sembari menanyakan kabar. Keheranan yang sama juga hinggap ke Irul Giant IKAPMII Tuban hingga mas Amin Said Husni, ketua umum IKPMII Jawa Timur.
"Loh An, awakmu melok tah?" tanyanya heran.

Namun tak ada apresiasi yang lebih "menggairahkan," selain yang diberikan ketua IKPMII Jombang, mas Amir Maliki, saat foto peserta dari Jombang diposting di grup WA. 

"Tafadlol ya ikhwany, wah ada tokoh lgbt di sana ya," 

Aku hanya menjawabnya pendek. "Siapp mas yai.. Kan NU ngurusi semua yang diurusi Republik ini 😉"

Yang aku rasakan, mereka begitu hangat menyambutku, memberiku apresiasi dengan kapasitas dan pengalaman yang terkoleksi dalam memori mereka. Begitu membahagiakan. 



Aku harus berterima kasih pada Furi yang aku anggap sebagai jenderal rombongan peserta dari Jombang. Ia begitu sabar dan telaten membantu kami agar bisa ikut.

Aku sendiri memaknai keikutsertaanku dalam program doktriner NU ini sebagai upaya mendidikku rendah hati dan  mengasah kepekaan terhadap penderitaan liyan, sebagaimana yang aku pahami dari laku GD.

MC baru saja membuka acara. Lantunan al-Quran mulaiy disuarakan. Surah QS. Al-Hasyr 18-20. 

Aku harus mengakhiri status ini. 


-- at UNSURI Sidoarjo

Comments