Skip to main content

NATAL DAN PANCASILA-NIAL


Aku sedang berkereta menuju rumah saat ini. Perjalanan panjang Batu-Malang-Ponorogo-Jogjakarta-Purwokerto berakhir sore ini di warkop dekat stadion Jombang. Aku dkk. GDian Jombang akan rapat persiapan Haul Gus Dur yang rencananya akan diselenggarakan secara sederhana saja. 

Besok sore, aku diundang menghadiri acara Natal Peradi Surabaya. Mungkin ini natalan lintas agama pertama kali yang dilakukan organisasi advokat ini. Aku senang sekali sewaktu diajak mendiskusikan acara ini oleh salah satu pengurusnya untuk mempersiapkan acara ini. 

"Undanglah teman-teman Islam dan agama lain pas natalan, mas. Natalan versi 4.0 adalah perayaan yang juga didesain untuk menselebrasi kuatnya relasi Kristen-Islam ditengah kecamuk situasi intoleransi," kataku padanya. Ia menyambutnya gembira. 

Aku juga sudah mengontak beberapa adik-adikku di Surabaya, para Gusdurian, untuk bisa hadir dalam perayaan tersebut. Kehadiran mereka sangatlah penting untuk mengimbangi eskalasi intoleransi. Bayangkan saja, tiap hari, selalu saja tersedia berita intoleransi terhadap Kristiani yang dilakukan banyak orang Islam; GPdI di Bantul, restriksi perayaan natal di Dharmasraya dan Sijunjung, Perumahan di Rajeg dan masih banyak lagi. 

Bayangkan jika persekusi semacam ini berlangsung aktif sejak akhir 90an hingga sekarang. Bayangkan bagaimana situasi psikologis banyak orang Kristen terhadap orang Islam di Indonesia. Itu sebabnya, aku sangat bisa memahami jika ada orang Kristen yang punya persepsi minor terhadap Islam. Lha wong wajah agamaku lebih banyak ditampilkan dengan mengerikan dan tidak ramah. 


Maka, kunjungan Natal oleh teman-teman GDian adalah ijtihad kecil-kecilan agar wajah Islam kembali bersahabat. Upaya ini tentulah tidak mudah karena setiap saat resiko akan siap menghempaskan mereka. Di Jakarta, ada anak GDian yang diwarning keluarganya. Sokongan biaya kuliahnya terancam gara-gara ia sering keluar-masuk gereja melakukan kerja-kerja lintasiman. Di daerah Jawa Tengah, ada ketua forum lintasagama mengundurkan diri untuk meredam gejolak pascavideo ucapan natalnya di gereja sempat viral. Sangat mungkin ia mengalami banyak perisakan. 

Sebagaimana Sudarto Toto yang menjadi tersangka Polda Sumbar, bagiku, mereka adalah para martir bagi agamanya. Mereka memilih jalan sunyi aktifisme untuk mengembalikan marwah Islam, melawan narasi antikeberagaman dari saudaranya sendiri, ketimbang sekedar menumpahkan uneg-uneg dan kemarahannya di media sosial. 

Aku merasa ada masalah serius dalam tubuh Islam Indonesia menyangkut Pancasila. Masalah itu bernama Islamisme, atau dalam bahasa sederhananya; serba Islam --dengan asumsi agama lain jahat dan lebih rendah. Masalah ini harus dipecahkan.


Diskusi pembumian Pancasila di lembaga-lembaga keislaman, jika tidak bisa dikatakan sepi, berjalan agak lamis, yakni masih menganggap Pancasila sebagai yang-sakti sekaligus, diam-diam, meyakininya sebagai jalur legitimatif menegakkan Islamisme. 

Pancasila model lamis inilah yang, terus terang saja, cukup sulit "disembuhkan," termasuk di kalangan milenial Islam. Padahal di kalangan milenial Kekristenan dan agama lain, Pancasila terasa lebih dipahami sebagaimana yang diinginkan oleh para pendiri bangsa ini.

Bagaimana kontestasi dua milenial dalam mengusung model Pancasila yang berbeda ini? Mari kita diskusikan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya hari Minggu ini.

-- at Stasiun Nganjuk bersama KA Anjasmoro

Comments