Skip to main content

Iklan

ADA GUS DUR DAN LGBT DI LEDALERO


"Gus Dur biasanya tidur di Ledalero kalau ke sini meski sudah disediakan hotel," kata Eddy Kurniawan, mantan aktifis FPPI yang kini menjabat sebagai sekretaris GP Ansor Kabupaten Sikka, tadi malam saat mengajakku ngopi di Maumere kemarin malam.

Barangkali itu sebabnya, menurut pria ini, hubungan Katolik dan NU di Sikka sangat baik. Pokoknya kalau NU yang berkehendak, mereka pasti mendukung. "Itu yang saya rasakan," kata pria jebolan ITATS Surabaya yang keluarganya sudah 5 generasi tinggal di Sikkan. 


Sayangnya, aku baru tahu informasi ini setelah meninggalkan STFK Ledalero. Jika tidak, aku akan meminta cerita soal Gus Dur dan Ledalero kepada mas Otto Madung, pater temanku saat penelitian di Polgov UGM yang kini telah menjadi ketua sekolah mentereng itu. 

Seperti halnya Gus Dur yang sangat apresiatif terhadap perbedaan identitas gender dan orientasi seksual, STFK Ledalero pun demikian. Sekolah ini, sepengetahuanku, merupakan satu-satunya sekolah tinggi teologi yang berani memfasilitasi bedah buku "Menafsir LGBT dalam Alkitab," Sabtu (15/2). 


"Mungkin sebentar lagi mas Otto akan dapat surat peringatan dari Vatikan karena berani menggelar acara yang sangat jelas berkaitan dengan LGBT," kataku di atas panggung. Lelaki ganteng ini terlihat senyum-senyum saja dari kejauhan. 

Tidak kurang 700 orang hadir dalam Bedah buku milik Prof. Gerrit Singgih ini  Aulanya penuh. Yang menarik, dan tidak pernah aku jumpai di acara sama sebelumnya, sekolah tinggi Katolik ini juga memperbolehkan para transpuan dari Fajar SIKKA tampil di panggung. Mereka menampilkan paduan suara sungguh indah diiringi musik para frater.

"Saya Katolik taat, berdevosi kepada bunda Maria. Saya menemukan tuhan dalam kewariaan saya. Terima kasih kepada Ledalero yang terus bergandengan dengan kami," kata Mayora, aktifis Fajar SIKKA, saat menjadi penangggap. 

Aku melihat wajah Katolik yang berbeda. Wajah yang lebih humanis dan bersahabat. Mayora juga bercerita akan ada ada pertandingan bola voli antara para waria dan mahasiswa. Aku membayangkan suasananya pasti seru. 


"Saya dan teman-teman waria bisa ikut beribadah dan pelayanan tanpa harus ribet soal pakaian. Kami memakai busana perempuan. Dan diterima dengan baik," katanya padaku. 

Isu LGBT memang sangat pelik jika dikaitkan dengan agama. Ketika MPH PGI memilih bersuara agar gereja mengakhiri stigma terhadap kelompok minoritas gender dan seksualitas, kelompok Islam memilih sebaliknya. 

"...tegas menolak praktik Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender sebagai perilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan fitrah manusia. PBNU juga menilai, praktik-praktik kelompok tersebut adalah sebuah penodaan kehormatan kemanusiaan," aku mengutip sikap resmi PBNU yang pernah dikeluarkan untuk menanggapi derasnya data persekusi yang dikucurkan Khanis. 

Itu sebabnya sebagai orang Islam, lanjutku, aku merasa punya kewajiban melacak problem dogmatis dalam al-Quran menyangkut isu LGBT, untuk selanjutnya berupaya menemukan serum antibiotiknya.

"Saya teringat Gus Dur. Dia ini pusakanya NU dan mau menerima LGBT. Malah pernah datang ke kontes putri waria Indonesia," kataku. 

Kita tahu, monumen agung kebencian banyak orang Islam (juga tidak sedikit orang Kristen) sering ditautkan pada teks terkait Lut (Sodom dan Gomora). Dalam alQuran, kisah ini dinarasikan dalam episode pendek yang menawarkan eksplorasi lebih lanjut. "Eksplorasi ke teks Taurat, Zabur dan Injil merupakan bagian dari doktrin keimanan Islam yang meminta pemeluknya agar mengimani tiga kitab tersebut selain al-Quran," kataku.

Nah, tafsiran pak Gerrit menyangkut kisah Sodom dan Gomora -- Kitab Kejadian 19-- memperkaya perspektifku untuk melihat ulang kisah Lut. "Ini terkait sosial injustice, inhospitality, dan gang rape. Bukan soal LGBT," katanya. 

Pater Otto Madung ikut memberikan komentar. Dia menduga isu LGBT adalah mainan politik para oligarki ketika butuh kambing hitam maupun pengalihan isu. "Menurut saya kok begitu, Mas Aan," katanya.


Aku setuju dengannya sembari menambahkan hipotesisku sendiri. LGBT adalah salah satu target dari kelompok Islam-politik, atau gerakan Islamisme, yang menguat sejak 22 tahun terakhir ini. 

Gerakan ini akan mengidentifikasi beberapa kelompok sebagai musuhnya; non-muslim, Tionghoa, Komunisme, LGBT dan dua kelompok Islam minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah. 

Kenapa mereka membenci kelompok LGBT? Simple saja.  Islamisme selalu menjadikan patriarki klasik sebagai denyut jantungnya. Patriarkhi model ini sangat menjaga dua hal; maskulinitas dan reproduksi. 

Mereka merasa terhina jika ada laki-laki yang kemayu dan/atau berorientasi seksual homo. Bagi cita-cita politik mereka, menang secara kuantitatif di hadapan agama lain adalah keharusan. Reproduksi biologis adalah kanal utamanya. Itu sebabnya, relasi seksual non-prokreasi sebagaimana yang mereka pahami dari homoseksualitas dianggap akan mengganggu jalan kesuksesan menaklukkan dunia secara kuantitatif.


"Saya suka STFT Ledalero. Katoliknya keren. Mau menerima para waria dan mendiskusikan tentang LGBT," batinku sembari mengingat teman-teman Muslim dan Kristen yang berfikiran terbuka.

Aku merasa spirit Gus Dur sangat kuat di sekolah ini. Spirit mau berkorban demi orang lain. Persis seperti yang dilakukan STFK Ledalero. 

"Soal pengorbanan, saya kok merasa Gus Dur mengikuti Yesus ya, Mo. Memanggul salib," kataku pada Pater Bernard. Ia mengangguk dan tersenyum.


-- at 30.000 feets of NAM Air from Maumere to Denpasar.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …