Skip to main content

Iklan

BULKONAH di IAIN MANADO


Betapa senangnya diriku. Bisa singgah lagi di institusi pendidikan tinggi Islam sementereng IAIN Manado. Dari banyak IAIN atau UIN yang aku pernah kunjungi. Rata-rata model arsitekturnya sama semua. 

Sangat mungkin ada panduannya dari “atas,” atau jangan-jangan kontraktor pelaksananya satu bendera. Terasa tidak kreatif. Entahlah.

Namun sore itu, Sabtu (15/2), aku disambut dengan sangat ramah oleh mas Sulaiman, dosen IAIN yang sehari sebelumnya bertemu denganku di acara bedah buku “Menafsir LGBT dalam Alkitab,” di GMIM Sion Winangun. 

Ia tidak sendirian ternyata. Telah hadir pula mas Ali, wakil dekan, yang ternyata orang Ngapak Brebes. Dunia sempit sekali memang.

Topik yang dibahas dalam forum diskusi dadakan ini seputar Guyonan Gus Dur dan relevansinya saat sekarang –merujuk pada semakin kuatnya intoleransi yang dilakukan banyak orang Islam, terutama pada kelompok Kristen. 

“Saya nggak pernah riset soal guyonan Gus Dur. Namun jika mau dikategorisasikan, saya baru mampu menemukan dua; as self-criticism dan counter Islamic legal opinion,” aku memulai setelah terlebih dahulu menyodorkan humor Gus Dur soal seberapa dekat agama-agama terhadap tuhannya. Hindu memanggil tuhannya dengan “om,” sedang Kristen kerap menyapa dengan “Bapak,”


“Kalau Islam, tuhannya jauuuhh. Manggilnya aja pakai toa,” begitu aku menirukan Gus Dur dan langsung disambut tawa peserta diskusi. 

Di titik ini, aku menyinggung problem musalla di Minahasa Utara di mana penggunaan toa dan speaker dianggap mengganggu kenyamanan lingkungan tersebut. 

“Mas, apa memungkinkan misalnya IAIN mengajukan fiqh sosial seputar penggunaan speaker luar dalam ritual dan dan dampaknya terhadap relasi kemajemukan? Kalau misalnya ada banyak orang Islam yang merasa bising dengan nyanyian orang Kristen dan meminta mereka mengecilkan volumenya, maka harusnya orang Islam tidak melakukan hal sama," kataku pada mas Ali dan Sulaiman. Keduanya merespon dengan argumentasi yang cukup rasional.


Aku selanjutnya mencontohkan dua humor Gus Dur yang aku anggap masuk kategori kedua – sebagai hukum Islam alternative. Dua humor tersebut adalah seputar jawaban Gus Dur ketika ditanya apakah doa orang Katolik/Kristen bisa “nyampek,” ke almarhum orang tuanya yang Muslim. Dan, guyonan tentang curhatan orang NU yang anaknya masuk Kristen.

“Lihatlah, jika dianalisis, Gus Dur seperti sedang menggoda hukum Islam klasik yang masih terlalu serius mewasiti relasi Islam-Kristen. Gus Dur menggunakan guyonan karena tahu betul masih banyak orang Islam yang cenderung tegang dalam membahas hal penting. Dari sini, kita mengenal jargon agung di kalangan NU; dari gegeran menjadi ger-geran” ujarku.

Untuk mengulik lebih dalam seputar maraknya intoleransi di Indonesia, dalam forum tersebut, mau tidak mau, aku juga harus  memapar agak mendalam seputar stigma; apa dan bagaiman makhluk ini bekerja mendorong sebuah peradaban menghancurkan dirinya sendiri.


Selama proses berlangsung, aku benar-benar tak tahan untuk tidak menjamah white-board yang ada di ruangan tersebut. Aku merasa lebih mampu menjelaskan gagasanku menggunakan apa yang disebut bulkonah; bulat, kotak dan panah.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …