Skip to main content

Iklan

MODERASI BABI


Boleh percaya boleh tidak. Musuh bebuyutan si imut babi, salah satunya, adalah apapun yang merepresentasi dan mengaitkan dirinya dengan Islam. 

Jika mulai banyak orang Islam bisa berdamai dengan anjing maka terhadap babi, hampir tak ada yang berani bersuara selantang terkait, atau berpose demonstratif bersama, babi. 

Bisa dikatakan, babi adalah kelemahan paling menganga dalam bangunan konfidensi Islam. Sesakti apapun seseorang, setinggi langit keilmuan yang ia miliki, ia akan tunduk, lungkrah tak berdaya di hadapan babi. 

Hukum klasik Islam terlihat masih belum bisa move on merekonsiliasi binatang kiyut ini -- tak peduli berapa banyak jumlah Ph.D dan professsor hukum Islam yang berhasil diproduksi oleh sistem pendidikan modern.


Stigma terhadap babi begitu pekat dan tidak main-main. Siapapun yang berani mencoba menguliknya dalam rangka memoderasi hukum Islam atasnya, sedikittttttt saja, pasti aku terjungkal. Cobalah jika tidak percaya.

Namun kenapa perlu dimoderasi? Sebab stigma terhadap babi punya dampak serius terhadap orang yang berdekatan dengan binatang ini, baik mengkonsumsinya atau tak keberatan dengannya. Pada isu lain, metode moderasi juga nampak dilakukan NU saat berusaha menjinakkan kata "kafir"  dengan "muwaththinun," oleh NU beberapa waktu lalu.

Lihatlah yang pernah terjadi di salah satu mall di Makassar. Sekelompok orang Islam memaksa agar gerai kuliner babi ditutup secara sepihak. Aksi itu berhasil. 

Padahal, keharaman babi tidak serta merta membolehkan seorang Muslim bertindak aniaya terhadap hak orang lain yang berpandangan babi boleh dikonsumsi. Ini persis seperti analogi; ketidakbolehan orang Islam menghalangi atau mempersekusi orang beragama lain. Lakum dinukum waliya din. 


"Dunia Perbabian ini mmg  berat dan sensitif ya abangda. Didalam semua rangkaian adat batak, babi memiliki posisi yang strategis sehingga ketika isu pemusnahan babi di Sumut mencuat, spirit soliditas peradatan langsung menguat, abangda," kata temanku, dosen bermarga Purba --entah Purba nomor berapa.

Aku pun membalasnya, "Itu bagus. Jangan biarkan implementasi ngawur doktrin klasik kami menggerus local wisdom di sana. Pertahankan sampai titik darah penghabisan," 

Menurutku, tugas berat moderasi hukum Islam dapat diukur sejauhmana keberhasilannya mendorong sebanyak mungkin umat Islam untuk mampu berkata; bagimu daging babimu, bagiku engkau tetap saudaraku. 

Isn't that pretty, baby?


--warkop by pass Krian menikmati video clip agung Mariah Carey "Always My Baby"

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …