Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2020

Iklan

TAKUT MATI

Seluruh histeria global terkait corona sebenarnya bermuara pada satu hal; takut mati. Namun kadang seseorang terlalu takut mengakuinya, lalu membungkusnya dengan argumentasi yang canggih-canggih. 

Namun pagi ini, aku tak menyangka akan "ditampar," oleh seorang nenek, saat kami berdua asik berbelanja di stand aneka sayur Pasar Legi Jombang. Kejadiannya dua jam lalu. 
"Mbak, pertimbangkan untuk memakai masker. Situasinya sudah seperti ini lho," kataku pada pemilik stand sembari menyerahkan uang Rp.2.000 untuk seikat serai. 
"Aku pengen, dik, tapi aku sulit bernafas," jawabnya dengan tetap meladeni pembeli lainnya.
Tiba-tiba seorang nenek di depanku, yang asyik memilih tomat menimpali kami tanpa rasa bersalah. Ia dengan ketus berpandangan tidak perlu memakai masker. 
"Nggak usah pakai. Kayak kita nggak percaya Tuhan saja. Masih ada Tuhan," ujarnya. 
Kami pun terus berdiskusi sembari tetap memastikan kebutuhan kami terlayani dengan baik. Aku pergi meningg…

SUGENG KUNDUR TUTOR BAHASA INGGRISKU

Barusan aku tahu KH. Nur Akhlis, wakil ketua PCNU Kab. Kediri telah meninggal dunia. Berita ini benar-benar mengagetkanku. Sebab dalam memoriku, pria ini akan immortal persis seperti gambaran 25 tahun lalu. Ceria, ganteng, smart, supel dan punya dedikasi. 

Aku mengenalnya sebagai "mister," Akhlis, tutorku bahasa Inggris dalam 2 dari 3 fase di BEC Pare Kediri. Aku masuk kursusan legendaris itu kira-kira September 1994, setelah bosan menjadi penjaga portal galian C di dekat makam Sunan Drajat Lamongan. Saat itu aku baru lulus SMA. Bingung mau ke mana; takut kuliah karena nggak punya biaya, ingin kerja namun masih sangat hijau. 
Akhirnya ada kawanku SMA, alm. Zainul Muttaqin putra KH. Nurcholish Klinterejo, mengajak untuk kursus di BEC Pare. Aku menyelesaikannya tepat waktu dengan hasil yang lumayan. Menyandang the best four dari 200 peserta kursus angkatanku. 
Aku sadar ada kontribusi besar dari Mr. Akhlis dalam capaian itu. Selama diajar olehnya aku merasa akrab dengannya meski …

TOLONG GUS

Aku tak tahan untuk tidak menuliskannya. Cerita ini --cerita tentang keinginan seorang ayah agar anaknya bisa dikembalikan sebagai perempuan "sejati," yang feminin dan menyukai lawan jenis. Bukan sebaliknya.

"Tolong gus...." ia memohon begitu tulusnya dengan intonasi tersebut.
Aku benar-benar bingung dan trenyuh atas permohonan ini. Intonasi itu mengingatkanku pada Priam, raja Troy, ketika memohon kepada Achilles agar dizinkan membawa pulang mayat Hector anaknya. Mayat itu tergeletak bersimbah darah di depan tenda Achilles setelah keduanya duel satu lawan satu.
Aku bingung karena aku bukan Achilles dan ia juga bukan Priam, King of Troy.
---
Ini adalah kedatangannya kedua kali ke rumahku. Kedatangan yang pertama sekitar setahun lalu. Ia bersama istri dan putrinya yang ia minta aku "sembuhkan,"
Saat itu sang putri, sebut saja Steve, baru saja bertengkar hebat dengannya. Terjadi kontak fisik, meski keduanya saling menyesali atas peristiwa itu sesudahnya. Sang b…

Jawa KW yang Keminter

Betapa senang dan masygulnya aku menerima tawaran dari mas Otto, tokoh senior kelompok Penghayat Jawa Timur. Doktor ini memintaku bersedia menjadi pembicara dalam musyawarah Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) -- semacam federasi kelompok penghayat yang punya kepengurusan hingga level pusat.

Aku masygul karena organisasi tersebut telah aku anggap pewaris dan pelestari tradisi dan spiritualitas Jawa. Core of the core.
Ya, gara-gara ada "Jawa"nya itulah aku merasa galau, sebab aku juga Jawa namun kerap merasa minder dengan kejawaanku.
"Ngapunten, saya nggak bisa bahasa Jawa, apalagi jika disuruh menulis, apalagi jika ditanya filosofi dan hal subtil lainnya. Saya merasa Jawa KW," ujarku memulai sesi. Entah apa yang ada dalam pikiran ratusan orang di hadapanku, Kamis (12/3), di Malang.

Tak ada yang lebih ironis ketimbang Jawa sepertiku, jika dipikir; dididik lebih takut nggak bisa ngaji Arab ketimbang nggak mampu menulis honocoroko; dilatih untuk lebih tahu sejara…

TERLALU SEKSI, TERUSIR DARI KOLAM RENANG

Dulu, aku pernah membaca berita seorang pria harus dideportasi dari Saudi Arabia gara-gara gantengnya keterlaluan. Otoritas setempat menganggap pria tersebut dapat mengganggu ketertiban umum, membuat perempuan dan laki-laki di sana susah berkonsentrasi jika ada dia. 

Namun siapa sangka hal yang sama terjadi pada diriku saat menikmati kolam renang sebuah hotel dekat Terminal Bratang Surabaya beberapa hari lalu. 

Aku menginap di hotel tersebut tiga hari untuk sebuah training. Dari sejak hari pertama aku telah menggunakan kolam tersebut. Layaknya para perenang, aku hanya memakai celana dalam saja. Tak mungkin aku memakai sarung dan berbaju koko atau bercelana panjang saat renang. Karena pasti akan dijadikan bahan tertawaan. 
Hari ketiga, pagi hari sekitar pukul tujuh, aku turun dari kamar menuju kolam renang. Memakai handuk dan kaos serta sandal hotel. 
Aku melihat gerombolan ibu-ibu berbaju renang syar'i telah lebih dulu tiba. Suara percakapan mereka keras sekali. Aku tak ambil pusing, …