Skip to main content

Iklan

TERLALU SEKSI, TERUSIR DARI KOLAM RENANG


Dulu, aku pernah membaca berita seorang pria harus dideportasi dari Saudi Arabia gara-gara gantengnya keterlaluan. Otoritas setempat menganggap pria tersebut dapat mengganggu ketertiban umum, membuat perempuan dan laki-laki di sana susah berkonsentrasi jika ada dia. 

Namun siapa sangka hal yang sama terjadi pada diriku saat menikmati kolam renang sebuah hotel dekat Terminal Bratang Surabaya beberapa hari lalu. 


Aku menginap di hotel tersebut tiga hari untuk sebuah training. Dari sejak hari pertama aku telah menggunakan kolam tersebut. Layaknya para perenang, aku hanya memakai celana dalam saja. Tak mungkin aku memakai sarung dan berbaju koko atau bercelana panjang saat renang. Karena pasti akan dijadikan bahan tertawaan. 

Hari ketiga, pagi hari sekitar pukul tujuh, aku turun dari kamar menuju kolam renang. Memakai handuk dan kaos serta sandal hotel. 

Aku melihat gerombolan ibu-ibu berbaju renang syar'i telah lebih dulu tiba. Suara percakapan mereka keras sekali. Aku tak ambil pusing, melewati mereka, berjalan menyusuri kolam renang menuju ujung. 

Aku membuka handuk dan kaos. Meletakkannya di meja yang disediakan dan menuju bibir kolam renang.

"Ya Alloh..." Aku mendengar suara perempuan memekik. Aku tak merasa itu ditujukan padaku. Bisa jadi mereka tengah berkomunikasi di internal. 

Aku berenang menyelesaikan beberapa laps hingga kemudian petugas menghampiriku di pinggir kolam. 

"Pak, mohon maaf, kalau berenang harus memakai pakaian renang," katanya agak kikuk.

Aku kaget. 

"Apa aku terlihat memakai baju kantor, mas?" kataku sembari tersenyum. 

"Ibu-ibu di sana keberatan dengan pakaian bapak," katanya tak mampu menyembunyikan perasaan bersalahnya. 
"Oohhh Ok. Aku selesaikan dua putaran lagi ya," kataku.


Aku tahu kalau petugas tahu aku biasanya memakai apa yang aku kenakan saat berenang sejak hari pertama. Mungkin ia juga merasa tidak enak dengan ibu-ibu tersebut. 

Sejenak aku sempat berfikir untuk menolak keinginan mereka. Aku juga punya hak atas kolam ini. Jika mereka merasa terganggu, mereka bisa berpura-pura tidak melihatku. 

Namun aku segera menyadari mereka pasti sangat tidak nyaman melihat ada laki-laki bercelana dalam, tidak mereka kenal, harus satu kolam dengan mereka. Sangat mungkin mereka merasa jijik, malu atau bahkan tidak kuat atas pesona yang aku miliki, sehingga memilih bersikap destruktif atas apa yang tidak mereka ingini.

Sikap seperti ini kurang lebih mencerminkan keinginan kuat menjaga kemurnian diri maupun identitas kelompok; yang bisa diterima adalah mereka yang lebih kurang sama dengan identitas mereka. 

Sungguhpun demikian, aku tetap merasa bersalah jika harus membuat mereka tidak nyaman. Bayangkan saja, mereka harus bersusah payah mengatasi ketidakpercayaan diri dengan cara membungkus tubuhnya --berjilbab lengkap layaknya hendak ke pengajian-- hanya agar bisa menikmati kolam renang semi-publik bersama laki-laki lain. 

Mereka adalah Korban!

Tidak ada satu agamapun yang mampu membuat perempuannya begitu tidak percaya diri pada tubuhnya sendiri kecuali agamaku yang ditafsirkan secara menyedihkan. 

Itu sebabnya, betapa tidak beradabnya aku jika membuat mereka semakin tidak nyaman saat menikmati sedikit kemerdekaannya di kolam renang.

Aku lantas keluar dari kolam itu. Menuju kursi dan meja malas. Aku sengaja membiarkan tubuhku terbuka sembari membaca beberapa pesan di handphone. Setelah beberapa saat, aku beranjak dari kursi menuju pintu keluar kolam, yang itu berarti harus melewati gerombolan ibu-ibu tadi. 

Sempat aku berfikir untuk membebat bagian bawah tubuhku dengan handuk. Namun aku urungkan. Aku melenggang di hadapan mereka tetap menggunakan celana dalam sembari menenteng handuk dan kaos. 

Apakah kemahaseksian itu nyata justru saat ia terusir, tidak ada, kalah? 

Aku lega telah menulisnya.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …