Skip to main content

TOLONG GUS


Aku tak tahan untuk tidak menuliskannya. Cerita ini --cerita tentang keinginan seorang ayah agar anaknya bisa dikembalikan sebagai perempuan "sejati," yang feminin dan menyukai lawan jenis. Bukan sebaliknya.

"Tolong gus...." ia memohon begitu tulusnya dengan intonasi tersebut.

Aku benar-benar bingung dan trenyuh atas permohonan ini. Intonasi itu mengingatkanku pada Priam, raja Troy, ketika memohon kepada Achilles agar dizinkan membawa pulang mayat Hector anaknya. Mayat itu tergeletak bersimbah darah di depan tenda Achilles setelah keduanya duel satu lawan satu.

Aku bingung karena aku bukan Achilles dan ia juga bukan Priam, King of Troy.

---

Ini adalah kedatangannya kedua kali ke rumahku. Kedatangan yang pertama sekitar setahun lalu. Ia bersama istri dan putrinya yang ia minta aku "sembuhkan,"

Saat itu sang putri, sebut saja Steve, baru saja bertengkar hebat dengannya. Terjadi kontak fisik, meski keduanya saling menyesali atas peristiwa itu sesudahnya. Sang bapak, panggil saja Priam, begitu frustasi melihat Steve tidak juga kembali ke "kodrat,"nya sebagai perempuan pada umumnya.  Keduanya sama-sama emosional dan sedikit lepas kendali. 

"Dari dulu aku selalu diajak ayah berkunjung ke kiai-kiai pilihan ayah, aku turuti. Sekarang giliranku mengajak ayah ke kiaiku, namanya Gus Aan," Steve bercerita. 

Priam sangat berharap ada kekuatan dari langit, semacam larikan roh kudus, yang bisa membuat Steve putrinya menjadi apa yang ia idealkan. Itu sebabnya ia meretas kekuatan tersebut melalui kanal para kiai-kiai, para orang-orang tua. Dari mereka, Priam berharap Steve akan sembuh. 

Kecintaan Priam terhadap putrinya membuat pria ini begitu sangat bersemangat mengubah Steve. Namun sayangnya kecintaan ini malah membuat Steve begitu tertekan.

"Nek koyok ngene aku tak bunuh diri aja, gus" katanya sembari mendengus di hadapan kami bertiga. Terdengar ada sesenggukan tangis. Tidak dari Steve namun dari orang di sampingnya. Sang ibu. 

Perempuan ini terus mengelus Steve sembari menangis. Menangis dan menangis. Ia tampak sedang mentransfer energi kedamaian kepada putrinya ini. Cinta mati betul kedua orang ini pada Steve, batinku.


"Mas, tak banyak kiai, gus atau ustadz yang pernah belajar ilmu gender dan seksualitas, meski mereka menguasai fikih," kataku. 

Tanpa ilmu tersebut, tambahku, fikih hanya akan menjadi arena penghakiman bagi Steve.  Jika diteruskan, itu berarti sampeyan berdua harus siap-siap kehilangan Steve. Entah mereka siap atau tidak. Ibunya makin tersengguk-sengguk.

"Sampeyan itu wataknya keras, mas. Pemberani. Ksatria. Siapapun akan sampeyan hadapi sepanjang sampeyan tidak merasa bersalah. Sampeyan juga perlu menyadari Steve mewarisi itu. Aku nyuwun tulung, jangan bersikap keras pada Steve," pintaku.

Selanjutnya aku memberikan perspektif SOGIE-SC pada mereka. Steve tentu  sudah menguasai ilmu tersebut dan aku meyakini ia sudah menyampaikan ke orang tuanya. Selain SOGIESC, aku juga menawarkan cara pandang baru dalam berislam, khususnya dalam perspektif keadilan minoritas gender dan seksualitas.

Meyakinkan mereka tentu tidaklah mudah, sesulit meyakinkan orang yang bertuhan secara membabi buta dalam isu corona. Padahal aku merasa sudah sangat gamblang dan rasional menjelaskan hal tersebut.

Malam itu, Priam melakukan resistensi padaku di hadapan anak dan istrinya. ia menahan rasa marah yang meluap-luap dan terlihat sangat kecewa dengan "kiai," yang dianggapnya tidak sejalan dengan pikirannya.

Aku diam saja sembari tersenyum, mendengarkan ia membentak-bentakku, di rumahku. Aku meminta maaf padanya karena tidak seperti yang ia bayangkan, sembari terus mempersilahkannya berbicara, mengeluarkan uneg-unegnya. 

Dalam hatiku, aku hanya membatin, betapa Tuhan sangat menyayangiku dengan cara memberiku tamu yang unik pada tuan rumahnya. Kadang aku masih suka senyum-senyum sendiri mengingatnya.

Ketiganya lalu pamit pulang. Priam nampak begitu bersalah padaku. Berkali-kali ia minta maaf. Namun aura kemaraham tetap tinggal di raut wajahnya. 

"Ndak popo mas, aku bisa memahami sampeyan kok. Tolong jangan ada lagi kekerasan saat berbeda pandangan dengan Steve," ujarku. ".... Mbak, aku nitip bojo sampeyan dan Steve ya. Siramlah air kala mereka sedang panas," kataku pada perempuan ini. Ia hanya mengangguk sambil terus menyeka matanya dengan tisu.

Itu kejadian setahun lalu. 


Sore itu, Priam datang membawa seplastik besar krupuk menemuiku kembali. Aku benar-benar tidak menyangka. Pengharapanku pupus setelah peristiwa itu.

"Mas, aku senang sampeyan ke sini lagi. Sungguh," ujarku menyapanya. Ia langsung meminta maaf.

Jika boleh jujur, tiga hari sebelum Priam ke sini, aku merasa telah mendapat pertanda dari alam raya. Secara tak sengaja, aku melihat postingan di IG Steve. Mereka sekeluarga tampak sedang menunggu makanan di meja restoran. Uniknya, tidak hanya ada Priam, istrinya dan Steve di foto itu. Ada satu sosok perempuan berwajah oriental feminim duduk di samping Steve. 

Kami segera larut dalam obrolan yang bernas, penuh canda diselingi negoisasi-negoisasi agak alot.

"Tolong ya gus...."
(*)

Comments