Skip to main content

Iklan

PUASA DAN KETAKUTAN DUA JIWA

Santy Winarta, Religion F, Univ. Ciputra Surabaya, IG @santywinarta


MENURUT saya, selain melakukan ibadah, puasa dapat diartikan sebagai cara kita untuk menghargai sesama kita, berpuasa bagi saya adalah sebuah kewajiban dari seseorang beragama, namun semua itu kembali lagi pada setiap individu yang melaksanakannya. 

Saya memiliki teman seorang Muslim, pencitraannya sangat besar, ia mengaku berpuasa kepada banyak orang dan teman-temannya, namun pada kenyataannya ia tidak pernah berpuasa sama sekali, bagi saya hal tersebut tidak baik, lebih baik mengakui bahwa dirinya tidak berpuasa, namun yang saya jengkelkan, ia seringkali mengolok-olok temannya yang sedang tidak berpuasa. 

Kemudian saya juga memiliki pengalaman yang dapat dikatakan menyenangkan karena memiliki teman-teman yang baik, dan dapat dikatakan menyedihkan karena saya sebagai seseorang yang berpuasa sendirian. Hal itu dimulai dari pertemanan saya.

Saya memiliki banyak teman nasrani, dapat dikatakan bahwa ketika saya pergi, saya adalah seorang muslim sendiri, ketika mereka mengajak saya makan siang, saya selalu bilang, “Aku ndak isa makan ya, soale aku puasa,” 

Kemudian banyak dari mereka yang kaget, merasa sungkan untuk makan siang di depanku. 
Namun aku tetap merasa biasa saja dan menyuruh mereka makan, saya berkata “Lho ndapapa makan'o, aku kan uda niat, jadi ndak pengen,” 

Kemudian mereka makan di depan saya, ada dari mereka berkata “San, kenapa kamu gak pindah ke Kristen/ Katolik aja? Sekarang lho temen-temenmu gak ada yang Islam, percuma tho, kaya gini kamu ya keliatan kasian,”

Lantas saya berkata “Sebenernya ya gimana, aku nunggu pasangan hidupku aja, kalo memang dapet Nasrani, ya aku baru pindah, kalo pindah sekarang ga ada yang tak ikuti," 

Banyak dari mereka berkata “Lho kan ada kita, San, kita lho mau bantu kamu, kamu ya mesti nemeni kita ke gereja,"

Sejujurnya saya merasa bersalah sebagai seorang muslim, bukannya pergi untuk sholat tarawih tetapi saya malah pergi ke gereja bersama teman saya. 

Namun senangnya ketika mereka hendak makan malam yang biasanya jam 4 atau setengah 5, mereka rela berkorban untuk makan setengah 6 agar dapat menemani saya berbuka puasa, mereka juga rela mengantri hingga setengah 7, karena biasanya rumah makan sangat antri ketika berbuka puasa. 

Suatu ketika saya dihadapkan dengan pilihan yang sulit, ketika suatu hari teman saya berkata “San, ayo besok cari makan di Pandaan,” 

Aku menjawab “Lho gaisa, next time ae, aku lagi puasa," Kemudian teman saya berkata “Bolong o aja lho, aku juga sering nemeni kamu berbuka, mosok sekarang kamu gak mau nemeni aku?” 

Hati saya terketuk dan saya mulai merasa sedih. Keesokan harinya, saya memutuskan untuk tidak berpuasa dan menemaninya pergi makan. Kemudian saya melihat wajah mereka sangat senang. Di titik ini saya mulai bertanya, dosakah saya karena tidak berpuasa, atau berpahala kah saya karena telah membuat orang lain senang?

Sebenarnya ketika berpuasa, saya merasakan perang batin yang teramat keras, mulai dari teman-teman saya yang makan di depan saya, saya tidak bisa sholat terawih karena tidak ada temannya, dan saya merasa aneh ketika datang ke Masjid tanpa teman. 

Kemudian teman saya berkata “San, tak temeni ta sholat tarawih? Kan kamu selalu nemeni aku ke gereja, cuma'e aku gaisa lho,” Lantas saya membawa mukena 2 dan meminjamkannya satu ke dia.

Saya pergi ke masjid dengannya, ia menemaniku sholat terawih, dan saat itu belum selesai, ia berkata “Iki opo seh san, kok sujud bolak balik, capek aku tuh,” Aku tertawa kepadanya.

Dari sini saya mulai memahami, mengapa teman yang berbeda keyakinan dengan saya, mau mengantarkan saya beribadah, mau menemani saya berbuka puasa, dan mau menerima diri saya dengan segala perbedaan yang ada, namun mengapa teman yang seiman dengan saya tidak mau merangkul saya dan memilih untuk mengucilkan saya?

Saya seringkali menangis di depan ayah saya karena saya merasa dikucilkan, dan banyak dari teman-teman saya melihat saya dari ras dan agama, kemudian ayah saya berkata, “Ya mau gimana lagi, sampai kapanpun Jawa dengan Tionghoa itu kaya merah sama hijau, ga akan pernah bersatu, cuma tergantung gimana caramu bertoleransi” katanya. 

Saya seringkali merasa bahwa orang Tionghoa dapat menerima orang Jawa, namun tidak bisa kebalikannya, orang Jawa tidak mau menerima orang Tionghoa. Ketika kita belum mengenali seseorang, kita tidak akan pernah tahu bagaimana sifat dia. 

Saya merasa sangat nyaman dengan teman-teman saya yang berbeda keyakinan dengan saya, karena mereka dapat menghargai saya dan menerima saya lebih dari siapapun bahkan melebihi orang yang beriman dengan saya. 

Saya teringat lagi dengan Nadia Nada, ia pernah berkata padaku “San, sejujure aku pertama kali mau temenan sama kamu tu takut, soale aku dirasisi sama Cina, tapi ternyata kamu tu baek orang e," 

Lalu aku berkata “Lho, Nad, aku ini netral orang'e, aku ga liat orang dari ras, cuma e gimana ya, kalo kamu baik aku ya baik, kamu jahat ya ya uda gak usa temenan,”

Kemudian saya pernah sekelas dengannya, saya mengajaknya berkelompok dan pada saat itu kelompoknya kurang 3, saya mengajak 3 teman saya untuk sekelompok bareng, dan si Nada ini lucu banget, dia berkata “San, aku takut sungguhan lho mbek temenmu, nanti aku dirasisi,” 

Kemudian aku berkata “Coba ya liaten, mereka ini baik-baik nemen, liaten tah,” Nada selanjutmya merasakan bahwa teman-teman saya baik dan tidak membedakan. Saya merasa bahwa saya dan Nada memiliki pikiran yang sama, sama-sama takut untuk dirasisi. 

Dari sini saya merenung, sebenarnya bukan rasis, itu hanya sesuatu ketakutan yang ada di dalam pikiran kita, dan harus segera kita hilangkan. 

Kemudian ketika mengerjakan tugas, saya mengajak Nada untuk bergabung di zoom dengan teman-teman saya, Nada ini merasa sangat takut, namun teman-teman saya sangat menerimanya. 

Di akhir kegiatan Nada selalu bertanya “San, piye temen-temenmu, ndak papa ta ada aku?” Teman-teman saya menerima dia dengan baik hati.

Saya juga terbiasa berbuka puasa dengan Nada, namun tampaknya puasa kali ini tidak bisa, karena sebuah pandemi Covid-19 ini menjadikan jarak saya jauh dengannya. (*)

Comments

  1. Tulisan simple, lika liku yg agak menggambarkan pengalaman saya

    ReplyDelete
  2. Artikel yang bagus.polos..apa adanya...bhineka tunggal Ika.

    ReplyDelete
  3. suka cerita" kayak gini pak , terkadang juga masi kentel banget rasisme di sekitar saya pak, mau mencoba netral tapi kok saya yg jadi object wkwkw

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …