Skip to main content

Iklan

CERITA DI KILOMETER 44


Hari ini, usiaku bertambah (atau berkurang?). Jika dihitung, sudah 44 tahun aku hidup dan berproses di dunia ini. Entah berapa ratus film yang sudah aku tonton. Yang terakhir, tadi jam 23.30, berjudul "The Visitor," Betapa aku sangat menyukainya. 

Tak pernah menyangka aku bisa menikmati hidup penuh liku-liku. Dididik dalam tradisi Islam-Sunni yang relatif ketat, termasuk dengan aneka pengalaman yang ada di dalamnya. Tanpa pernah merasa akan berada dalam sebuah situasi di mana aku mulai mempertanyakan doktrin-doktrin klasik  yang telah lama terinstal.

Masih terasa sekali memori betapa aku merasa tidak senang dengan orang yang  berbeda agama, khususnya Kristen, dan juga Tionghoa. Memori masa kecilku yang sering mengolok waria dan ikut sekumpulan orang dewasa memburu anjing --untuk dibunuh ramai-ramai, masih juga mengendap di otakku. 

Aku sungguh bersyukur dengan memori tersebut, yang telah menjadi modalitasku untuk bisa berdamai dengan hal-hal tersebut, pada akhirnya. 

Tuhan memang penuh teka-teki. Bagaimana tidak, aku kini malah justru didekatkan dengan hal-hal yang dulu aku takuti dan benci. Lebih dari separuh teman FBku beragama Kristen/Katolik. Bergaul dengan transgender, keluar-masuk gereja, adalah aktifitas yang cukup dominan, setidaknya dalam 15 tahun terakhir ini. Yang lebih "parah," sudah dua semester ini aku mengampu kelas di mana 95% mahasiswanya adalah Tionghoa. 

Aku bersyukur atas hidupku, atas setiap hal yang telah dianugerahkan padaku. Termasuk anugerah bisa nongkrong di warung kopi dan online tiap hari. Ke pasar, bersepeda, belanja, masak, membaca dan menulis apapun yang aku inginkan. 

Mungkin hidupku lebih mirip bapakku --lelaki yang bisa dikatakan punya kekurangan dalam kepiawaiannya berbisnis. Tidak seperti ibuku. Bapakku orang politik. Waktunya dihabiskan untuk rapat, mengetik, dan mengarsip file ---ketimbang berbisnis. 

Pada tahun itu, 80an, saat aku kecil, ia berseberangan dengan Golkar. Otomatis ia tidak suka dengan Soeharto. Ia mungkin tidak menyadari bahwa anaknya ini, laki-laki yang sedang menulis ini, lahir pada tanggal yang sama dengan orang yang dibencinya. 

Kalau ingat pak Harto, aku jadi ingat seseorang. Orang besar dengan nama sangat mentereng, melampaui Puncak Himalaya. Ia meninggal sama dengan tanggal aku lahir, 8 Juni. 

Kematiannya bisa dikatakan tragis. Mungkin itu sebabnya tidak dirayakan layaknya orang besar.

Mungkin sekitar 2-3 hari sebelum meninggal, ia jatuh sakit. Tidak diketahui secara persis apa sebabnya. Namun dari informasi yang tersedia, ia sakit sehabis memakan daging yang dimasak seorang perempuan Yahudi. Kabarnya, daging itu dibubuhi racun olehnya, dengan sengaja. 

Perempuan ini melakukannya didorong keinginan balas dendam atas apa yang dianggapnya telah dilakukan laki-laki itu, tidak hanya terhadap ayah dan saudara-saudaranya, namun juga kelompoknya. 

Laki-laki itu dianggap bertanggung jawab atas kematian mereka saat menyerang desanya. 

Sewaktu perempuan tersebut ketahuan meracuninya, para pengawal laki-laki itu langsung meminta izin untuk membunuhnya. Namun izin tidak diberikan. 

Laki-laki itu terus berjuang dengan rasa sakit yang dialaminya. Ia begitu menderita akibat daging tersebut. Tubuhnya limbung tak berdaya. Ia kemudian memilih tinggal bersama salah satu istrinya, yang sangat ia sayangi. Hingga akhirnya meninggal, dipelukan sang istri. 

Yang menarik, sebelum meninggal, ia berpesan dengan nada marah agar para pengikutnya bertindak keras terhadap orang Yahudi dan Kristen. Sangat mungkin pesan itu muncul akibat kondisinya yang tidak sehat. 

Entahlah. Namun uniknya, hingga saat ini negara di mana ia dilahirkan masih steril dari pemeluk dua agama tersebut, persis seperti desaku. 

Inilah kisahku. Di titik yang ke-44. 

Selamat ulang tahun, untuk diriku sendiri.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …