Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2020

Iklan

Soal Berkurban, Kita Perlu Belajar dari Mereka

Kawan-kawan, terima kasih atas ucapan Idul Adhanya. Hari raya kurban.

Kurban dan korban adalah identik.
Di Indonesia, dalam berkorban, aku merasa non-Muslim masihlah tetap sebagai teladan terbaik. 
Berpuluh-puluh tahun mereka tidak hanya dihajar babak-belur namun juga dianaktirikan sedemikian hebatnya. Saat ini bisa dikatakan merupakan masa-masa sulit bagi mereka. Vivere pericoloso. The year of living dangerously
Betapa tidak. Riset terakhir, sebagaimana disampaikan Mirtzner-Muhtadi (2020), menyatakan 52% Muslim, 54% pengikut NU (NU) dan 39% pengikut Muhammadiyah (MU)keberatan dengan rumah ibadah non-Muslim. Sebanyak 52% muslim, 52% NU dan 41% MU keberatan non-Muslim menjadi bupati/walikota. Angka ini relatif konstan untuk keberatan terhadap gubernur non-Muslim 
Sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah rumah ibadah/bangunan sakral milik non-Muslim yang dibuat lumpuh tidak bisa digunakan. Bahkan kadang aku berfikir, seandainya ada gereja dijual karena kesulitan finansial, niscaya akan san…

Misteri 200 Tahun; Antara Abu Janda, Mahfud MD dan Felix Siauw di ILC

Selebriti media sosial, Abu "Permadi" Janda (APJ), tiba-tiba mengagetkan banyak orang yang menyaksikan tayangan ILC TVOn, Senin (5/12) lalu. Ia menyebut angka 200 tahun menyangkut penulisan awal kodifikasi hadits. Saat merespon argumentasi Felix Siaux terkait bendera/panji Islam, al-Liwa al- Royah, APJ nampaknya ingin mematahkannya dengan menyatakan terdapat problem akurasi penulisan hadits, yang baru terkodifikasi sekitar 150- 200 tahun setelah Nabi wafat.
Sayangnya, APJ tidak punya kesempatan menjelaskannya lebih detil di forum tersebut. Lelaki ini makin tersudut saat Prof. Mahfud MD (MMD) mengingatkannya agar berhati-hati dengan statemen 200 tahun itu karena bisa membuat orang marah.
Beberapa hari kemudian, setelah mendapat kecaman hebat di medsos, APB merasa perlu mengunjungi salah habib di Jawa Barat. Nampaknya ia ingin menjernihkan masalah ini. Misteri apa yang sesungguhnya ingin dibuka APJ menyangkut klain 200 tahun ini?
Saya tertarik menelisiknya lebih jauh. Bagi saya,…

Tentang Tuhan Yang Berbuntut Panjang

Aku tak menyangka. Keterlibatanku sebagai narasumber di webinarnya Srikandi Lintas Iman, Sabtu (18/7), berbuntut agak panjang.

Saat itu aku memaparkan pandanganku seputar kesalihan dan Tuhan. Dan besoknya, aku dichat oleh salah satu orang yang mengaku peserta webinar.

Sebut saja namanya Qibtiyah. Muslimah berkeluarha. Ia tidak menjelaskan detil latar belakangnya padaku. Aku tak keberatan dengan hal itu.
"Saya mendapatkan nomor gus Aan dari Instagram," ujarnya.
Kami selanjutnya berkorespondensi via Whatsapp. Lebih tepatnya, Qibtiyah mengurai kemarahan dan kegelisahannya selama ini. Ia gelisah dengan dirinya dan menuding Tuhan tidak lagi mencintainya.
Ah betapa aku sangat senang ia berani berfikir seperti itu.
Berikut ini adalah percakapan kami. Aku mengedit penggunaan kata yang ia tulis agar sebisa mungkin bisa lebih dipahami maksudnya.
Salam.
Aan
-----
19/7/2020 Qibtiyah: Assalamualaikum Gus, perkenalkan nama saya Qibtiyah. Saya adalah salah satu peserta pada Webinar Srili tentang…

MERAGU DAN LUCIFER MORNINGSTAR

Siapa saya ini, berani-beraninya membincang Tuhan dan kesalehan di hadapan banyak orang? Saya sendiri  masih ragu dengan kualitas dua hal tersebut dalam diri saya. Namun bukankah kita semua harus terus meragu agar bisa percaya?

Seminggu terakhir ini, saya sedang gandrung menonton serial Lucifer Morningstar di Netflix. Sosoknya secara umumnya dianggap sebagai energi atau kekuatan setara tuhan yang merepresentasi  sisi paling jahat dan mengerikan. Barangkali, penggambaran Lucifer paling "ideal' ada dalam film The Exorcism of Emily Rose.

Namun Lucifer Morningstar (LM) dalam serial Netflix benar-benar memporakporandakan imaji kebengisan dan kekejaman Lucifer --dalam pandangan klasik.
Ia, dengan akses British medok, digambarkan begitu seksi, charming, good-looking, dan pintarnya minta ampun.  Tidak ada satupun perempuan dan gay yang tidak kedodoran jika berhadapan dengannya.
Dalam film tersebut, ia diceritakan kabur dari neraka --tempatnya, dan turun ke Los Angeles. Kekaburan ini meru…

MERABA PERABA

Mau ngompori orang Katolik aaah....

Ini adalah kartun di Peraba III Juli 1968, majalah yang berafiliasi ke Katolik. Kartun tersebut berisi kritikan kepada politisi Islam yang selalu ngotot memasukkan Piagam Jakarta dalam aturan formal Indonesia. 
Kartun tersebut, secara khusus, adalah perayaan "kemenangan," kelompok nasionalis ketika berhasil mengKO kelompok Islam dalam pertarungan Piagam Jakarta di pembahasan GBHN MPRS 1968. 
Aku melihat betapa ekspresifnya Peraba menarasikan gagasannya. Ekspresi ini di mata kelompok Islam dianggap cuka yang dilelehkan di atas luka, sebelum cuka lain disiramkan di tahun berikutnya. 
Cuka ini membuat banyak politisi Islam semakin jengkel terhadap Katolik sekaligus memupuk keyakinan akan kekalahan Islam melawan non-Islam. 
Kelompok Islam pantas meradang atas kekalahan yang tidak terduga ini, setidaknya karena dua hal. Pertama, kelompok Islam sangat yakin mampu memenangkan Piagam Jakarta setelah membabat habis --hingga ke akar-akarnya-- pendukung u…