Skip to main content

Iklan

MERAGU DAN LUCIFER MORNINGSTAR

Siapa saya ini, berani-beraninya membincang Tuhan dan kesalehan di hadapan banyak orang? Saya sendiri  masih ragu dengan kualitas dua hal tersebut dalam diri saya. Namun bukankah kita semua harus terus meragu agar bisa percaya?

Seminggu terakhir ini, saya sedang gandrung menonton serial Lucifer Morningstar di Netflix. Sosoknya secara umumnya dianggap sebagai energi atau kekuatan setara tuhan yang merepresentasi  sisi paling jahat dan mengerikan. Barangkali, penggambaran Lucifer paling "ideal' ada dalam film The Exorcism of Emily Rose.


Namun Lucifer Morningstar (LM) dalam serial Netflix benar-benar memporakporandakan imaji kebengisan dan kekejaman Lucifer --dalam pandangan klasik.

Ia, dengan akses British medok, digambarkan begitu seksi, charming, good-looking, dan pintarnya minta ampun.  Tidak ada satupun perempuan dan gay yang tidak kedodoran jika berhadapan dengannya.

Dalam film tersebut, ia diceritakan kabur dari neraka --tempatnya, dan turun ke Los Angeles. Kekaburan ini merupakan bentuk protesnya pada Sang Ayah (Tuhan); kenapa ia diperlakukan sangat buruk dan semena-mena dengan cara ditaruh sebagai penanggung jawab Neraka. Tempat aneka kebengisan, ketidakmanusiawian, dan angkara murka bersatu padu.

Di Los Angeles, LM menubuh dan mendaging, menjadi manusia dan berinteraksi langsung dengan manusia lainnya. Uniknya, pelan tapi pasti, watak kejam dan jahatnya mulai luntur. Sedikit demi sedikit pria ini berubah menjadi baik dan mengasihi.

Kenapa bisa demikian? Jawabannya sederhana; ia terus dibenturkan dengan realitas-langsung, bukan angan-angan dari langit. Benturan ini laksana tetesan air yang terus-menerus menimpa batu hitam, hingga cekung.

Lucifer Morningstar menjadi perenungan serius bagi saya menyangkut bagaimana kita mempersepsi tentang Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam agama Islam, tuhan Allah dipercaya mempunyai 99 nama. Uniknya, ada beberapa nama yang terindikasi merepresentasi sosok Lucifer klasik. Misalnya, al-dhaar (yang maha menimpakan kemudlaratan), al-Qabith (yang maha menyempitkan), dan al-Mudzil (yang maha menghinakan).

Saya tidak terlalu peduli seberapa banyak kita mau menyematkan nama atau sifat Tuhan yang beraroma negatif. Sebab Tuhan, dalam pikiran saya, punya otoritas untuk memilih --atau tidak memilih-- apa saja yang Ia kehendaki. 

Ia juga tidak butuh dipercayai atau tidak dipercayai oleh cipataannya. Pandangan kita atas keberadaannya, saya kira, tidak akan memengaruhi ketuhanannya.

Semudah itu.
 
Ya, tuhan memang mudah sekaligus rumit. Mudah karena Ia --secara logika-- gampang ditemui. Kapanpun, dimanapun, oleh siapapun. Ia adalah representasi kasih-sayang terbaik gabungan dari orangtua. 

Namun jangan lupa, di sisi lain, Ia juga sekaligus rumit. Sebab, namaNya seringkali dibawa-bawa untuk menghancurkan, menindas, mengkorupsi, bahkan tidak jarang namanya dicatut untuk memperkosa dan melecehkan identitas gender tertentu.

"Wajah baik" tuhan terlihat begitu babak belur dan  sangat direndahkan dengan adanya praktek-praktek di atas, Menghinakan, menyempitkan dan menciptakan kemudlaratan --ketimbang mengagungkan, meluaskan dan merawat kemanfaatan.

Sifat-sifat ini akan selalu ada, sebagaimana Lucifer. Namun saya berharap, akan ada tambahan nama di belakangnya menjadi; Lucifer Morningstar. (*)

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …