Skip to main content

Iklan

Tentang Tuhan Yang Berbuntut Panjang

Aku tak menyangka. Keterlibatanku sebagai narasumber di webinarnya Srikandi Lintas Iman, Sabtu (18/7), berbuntut agak panjang.

Saat itu aku memaparkan pandanganku seputar kesalihan dan Tuhan. Dan besoknya, aku dichat oleh salah satu orang yang mengaku peserta webinar.


Sebut saja namanya Qibtiyah. Muslimah berkeluarha. Ia tidak menjelaskan detil latar belakangnya padaku. Aku tak keberatan dengan hal itu.

"Saya mendapatkan nomor gus Aan dari Instagram," ujarnya.

Kami selanjutnya berkorespondensi via Whatsapp. Lebih tepatnya, Qibtiyah mengurai kemarahan dan kegelisahannya selama ini. Ia gelisah dengan dirinya dan menuding Tuhan tidak lagi mencintainya.

Ah betapa aku sangat senang ia berani berfikir seperti itu.

Berikut ini adalah percakapan kami. Aku mengedit penggunaan kata yang ia tulis agar sebisa mungkin bisa lebih dipahami maksudnya.

Salam.

Aan

-----

19/7/2020 Qibtiyah:
Assalamualaikum Gus, perkenalkan nama saya Qibtiyah. Saya adalah salah satu peserta pada Webinar Srili tentang mengenal kesalehan & Tuhan. Saya sangat terpicu oleh diagram yang Gus sampaikan yang terdiri dari kita, agama, sekte & ritual serta kesalihan. Oleh sebab itu saya bertanya apakah mungkin kita mencintai Tuhan tanpa melalui agama, sekte & ritual. 

Jawaban dari Gus tentang Tuhan yang Rahman & Rahim sedikit melegakan saya tetapi itu pula membuat saya tidak bisa tidur tenang karena pikiran-pikiran yang ruwet. Saya seorang muslimah tetapi telah lama saya marah akan konsep ketuhanan. Saya merasa tidak suka atas aturan-aturan yang diberlakukan untuk perempuan. 

Saya kecewa dengan konsep anak berbakti dan istri solehah, seolah-olah seberapapun usaha yg saya lakukan sebagai anak perempuan & istri tidak akan terhitung bila tanpa restu orang tua dan suami. 

Bertahun-tahun saya mencoba menjadi seperti itu tetapi kecewa dan galau terus. Hal ini membuat saya mempertanyakan kasih sayang Tuhan. 

Saya berterima kasih karena Tuhan dengan rencananya mempertemukan saya dengan webinar kemarin. Sebab saya mendapatkan pencerahan atas kegalauan yang telah saya jalani selama 7 tahun ini.

Dua tahun terakhir ini saya memiliki konsep bahwa saya mencintai Tuhan (dalam Islam). Namun saya tidak ingin terikat dengan aturan-aturan yang saya pikir sangat patriarki dan mengekang kehidupan saya -- baik sebagai anak yang terus-menerus dituntut berbuat apapun atas nama berbakti pada orang tua dengan mengabaikan perasaan saya sebagai seorang anak, maupun sebagai istri. 

Saya muak dengan semua penindasan yang dilakukan --atas nama istri harus solihah agar mendapat ridha seorang suami. Saya diwajibkan harus tabah menerima semua perilaku buruknya kepada saya. 

Saya marah, Gus. Marah dgn Tuhan. Saya merasa Tuhan tidak adil. Saya begitu mencintaiNya, melalukan apa yg diperintahkanNya sesuai apa yg diajarkan sejak kecil, mati-matian. Tapi Tuhan malah menempatkan saya  di titik terendah. 

Saya enggan melakukan itu semua lagi. Saya terus-menerus mempertanyakan aturan-aturan itu, Gus, hingga titik konsep ketuhanan yang saya rumuskan semdiri saat ini;  bahwa saya bisa tetap mencintaiNya tanpa perlu terikat pada aturan-aturan dan ritual-ritual itu. 

Saya tetap mencintai Tuhan Islam saya Allah SWT tapi menolak semua penindasan terhadap diri saya atas nama aturan danritual. Beberapa org mengatakan saya sesat karena saya hanya Islam di KTP tanpa menjalankan ritual-ritual dan hukum keagamaan secara menyeluruh.

Namu saya merasakan kedamaian, Gus. Damai dalam hati saya. Saya lebih bisa mencintai Tuhan tanpa beban, menerima manusia dengan welas asih dan mentolerir semua perbedaan yang ada. 

Karena itu saya ingin bertanya pada Gus, apaka keIslaman saya memang tersesat? Apakah saya tidak pantas mendeklarasikan diri saya Islam tanpa menerima semua aturan-aturan dan konsep-konsep perempuan dalam Islam? 

Mohon pencerahannya Gus. 

Terima kasih sebelumnya Gus. Oh iya maaf sebelumnya saya memutuskan menghubungi Gus setelah stalking IG Gus semalam dan menemukan kontak ini πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


-----


[7/19, 17:20] Aan Anshori: Hai Qibtiyah.. Thank you mempercayaiku membaca keresahanmu. Aku merasa terhormat. 

Apa yang kita rasakan dalam beragama adalah sesuatu yang penting. Itu sebabnya Gusti kabarnya pernah bilang "siapapun yang sudah tahu tentang dirinya maka ia akan mengenalKu,". 

Menurutku siapapun punya kemerdekaan untuk mengenal Tuhannya. Bukan hanya "punya," namun juga harus "merasa merdeka," mendefinisikan model relasinya dengan Tuhannya. Model bertuhan secara personal, menurutku perlu dipikirkan sebagai alternatif tatkala model mainstream tak lagi nyaman diikuti.

Model mainstream adalah kreasi/persepsi manusia/ulama atas Tuhannya. Belum tentu model tersebut satu-satunya yang dikehendaki Allah. 

Ini berarti sangat mungkin kamu marah terhadap Tuhan yang digambarkan oleh model mainstream. Belum tentu Tuhan seperti itu.

Ciptakanlah modelmu sendiri, pastikan outputnya adalah rahmatan lil 'alamin. 

Soal perempuan, ya aku tahu betapa misogini-patriarkhisnya fiqh kita. Aku kadang ketawa sendiri melihat bagaimana mereka/fiqh mengatur perempuan. Mereka mengatasnakan Tuhan mengatur orang lain. 

Dalam bertuhan, merdekakan dirimu ya, sebagaimana Lady Sukayna memerdekakan dirinya sendiri.☺☺☺

http://www.aananshori.web.id/2017/05/lady-sukayna-sejarah-islam-berhutang.html?m=1

-----
[7/19, 18:26] Qibtiyah: Wah terima kasih Gus atas responnya. Saya membacanya sambil tersenyum, ada rasa lega. Saya suka dengan konsep merasa merdeka mengenal Tuhan. 

Sejarah tentang Lady Sukayna membuat saya terkagum-kagum bagaimana seorang perempuan di jaman dahulu begitu sangat modern pemikirannya tapi jarang dikemukakan riwayatnya. 

Oh iya Gus, saya dulu diajarkan tentang sejarah penyebarluasan Islam. Menurut pengetahuan saya  bahwa Islam juga disebarluaskan dengan jalan peperangan, dan berbagai film2 (terutama India - maaf saya penggemar India😁) menceritakan bahwa penyebaran Islam menggunakan penaklukan wilayah-wilayah. 

Saya ingin minta pendapat dari Gus bagaimana saya dapat mengenal kembali Islam dari awal dimana hanya ada kedamaian di dalamnya, apakah ada sumber referensi yg bisa sy pelajari?

[7/19, 20:11] Aan Anshori: Iya dong.. Islam disebarkan, kala itu, dengan banyak cara. Yang paling dominan, ya menggunakan kekuatan militer, sejak jaman Nabi. 

Banyak orang Islam yang tidak bisa menerima ini karena mungkin dianggap aib. Namun, facts are stubborn. Banyak kok buku yang mengulas soal ini.

----
[7/20, 14:45] Qibtiyah: Hari ini saya terbangun dengan perasaan yang sangat lega dan bahagia. Terasa seperti lahir kembali. Saya tahu sekarang bahwa Tuhan sangat penyayang & pengasih, yang akan menerima saya apa adanya tanpa tuntutan. Tuhan saya lebih tinggi dan pemurah dari semua aturan-aturan yang yang dibuat atas nama Agama. 

Tuhan yang akan memeluk saya maupun saudara-saudara yang beragama lain maupun tidak beragama dengan kasih sayangnya. 

Terima kasih, Gus. Jika Tuhan tidak mempertemukan sy dgn Webinar kemarin & menguatkan saya untuk mengechat Gus mungkin saya akan tetap melalui hari saya dengan mempertanyakan Tuhan saya. 

Semoga Gus sehat selalu & selama sy belajar kembali tentang Tuhan mudah2an Gus tidak berkeberatan bila nantinya saya bertanya kembali apa-apa yang saya temukan dan membuat resah. πŸ™πŸ™

----
[7/20, 15:06] Aan Anshori: Haii... Duh.. Aku ikut senaaaang.... Senang karena Qibtiyah semakin bisa menemukan dirinya sendiri. God loves us no matter how bad we are. 🌹

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …