Skip to main content

Iklan

Misteri Sebuah Foto Kafir


Duh gustine jagat, betapa susahnya menemukan foto orang sekaliber Prof. Marilyn Robinson Waldman. Aku hanya ingin melihat wajahnya. Wajah seseorang yang aku anggap sebagai guruku pertama belajar terstruktur memahami soal perkembangang kata KAFIR dalam Islam, khususnya al-Quran.

Perempuan berdarah Yahudi ini merupakan murid Marshall G.S. Hodgson yang tersesohor dengan studi Islamnya. Saking takdzimnya pada Hodgson, Marilyn menyebut namanya dalam paper yang tengah aku baca " The Development of The Concept of Kufr in The Qur'an,"

Begini ia menyebut gurunya, tertulis tepat di bawah judul paper yang terbit di Journal of the American Oriental Society, Vol. 88 tahun 1968, "In memory of Marshall G.S. Hodgson, with whose guidance this was written,"

Aku sejak tadi senyum-senyum sendiri sambil garuk-garuk kepala; bagaimana mungkin aku belajar kitab suciku dari orang yang secara dogmatis (kalisk) terlarang menyentuh --dan apalagi-- mempelajarinya.
Aku sendiri belum selesai membaca paper Waldman, namun secara singkat ia mendalilkan konsep Kafir dalam al-Quran mengalami perkembangan, bersifat adaptif, seiring dengan dinamika yang dialami umat Islam saat Nabi Muhammad hidup.

Awalnya, konsep Kafir merupakan konsep untuk melabeli siapapun yang menjadi lawannya saat di Makkah. Juga pada saat itu, konsep Kafir digunakan sebagai lawan tanding dari konsep Amin (dapat dipercaya?). Amin sendir merujuk pada NM dan para pengikutnya.

Konsep Kafir selanjutnya secara teoritik mengalami perkembangan, khususnya ketika bersinggungan dengan konsep shirk (penyekutuan tuhan/idolatry). Hingga pada akhirnya, saat pewahyuan terakhir alQuran, konsep Kafir terkonsolidasi menjadi sebuah label untuk menyebut siapa saja yang harus diperangi oleh kaum mukmin (mukmin dianggap sama dengan muslim).

Lantas di mana letak kelompok Kristen dalam tahapan evolusi Kafir ini? Nah ini menarik, kekristenan (trinitarian) dianggap sebagai kelompok shirk karena menyekutukan keesaan Tuhan. Persis sebagaimana yang banyak dipahami orang Islam saat ini.

Itu artinya, aku menduga kuat berdasarkan pengalaman didikanku, bisa dikatakan seluruh bangunan pengajaran Islam saat ini menyangkut kekafiran masih menggunakan model ini, model klasik.

Aku terus berpikir apakah evolusi konsep ini telah usai seiring dengan berakhirnya pewahyuan? Nampaknya tidak, sebab menurutku, pewahyuan boleh berakhir namun penafsiran atas wahyu masih akan terus bergerak tak terelakkan. Contoh konkritnya, saat PBNU mencoba memapras runcingan kafir menjadi muwaththinun beberapa waktu lalu.

Sembari memikirkanmu, aku juga terus bergerak untuk dapat menemukan foto Professor Marilyn Robinson Waldman. Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya, meski sejak tadi telah mengirim Fatihah padanya.

Thank you, Marilyn R. Waldman!

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina MawadahEntah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula in…

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam. …