Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2020

Iklan

Gegeran Saksi Ahli di Persidangan Eljibiti (Bag.1)

"Majelis Hakim, dengan melihat kualifikasi yang kami dengar, kami menyatakan keberatan dengan calon saksi ahli yang diajukan Penggugat," kata salah satu perwakilan Tergugat. Aku yang telah duduk di tengah persidangan, di hadapan tiga hakim dan di antara penggugat dan tergugat, agak kaget. "Mudah banget orang ini menganggapku tidak cukup kompeten ngomong soal gender dan seksualitas hanya dengan melihatku kurang dari 10 menit?" rutukku kecut. Pengacara Penggugat, Maruf Bajamal, langsung merespon keberatan Tergugat. Pria ini menyatakan diriku merupakan aktifis yang telah lama berkecimpung dalam urusan gender dan seksualitas. "Aktifitas dan pandangannya mengenai gender dan sekualitas, akan sangat berguna bagi persidangan ini untuk lebih mengetahui duduk perkara yang kami ajukan," katanya kepada majelis hakim -- dua lelaki dan satu perempuan. Ruangan sidang hening. Krik...krik.. Dadaku berkecamuk. Pikiranku membayangkan aku tidak jadi bersaksi di persidanga

YESUS DI TANGAN MAHASISWI BERJILBAB

Kubaca berkali-kali lembar jawaban UTS yang ada di gadgetku. Milik Talitha Sani --mahasiswiku kelas Religion Ciputra. Benarkah ini ditulis oleh seorang muslimah? Jika iya, mungkin ia adalah satu-satunya mahasiswi Muslim yang cukup berani menulis apresiasinya atas kekristenan selama UTS. Ia menjuduli tulisan pendeknya, " Pengorbanan Yesus Menebus Dosa Manusia ," sekitar 2,5 halaman kuarto. Karena tak terlalu percaya dengan dirinya aku mengontak Liechel, mahasiswi yang paling aku kenal di kelas. Dia mengkonfirmasi Talitha seorang muslimah. "Ia tenglang, Chel?" tanyaku lagi. Liechel malah tidak tahu apa itu tenglang. Kelas online selama semester ini memang sedikit memaksaku menginvestigasi profil mahasiswa lebih mendalam. Aku tak pernah bertemu fisik dengan mereka. Nama dan penampilan profil pic di kelas maya tidak menjadi jaminan aku dapat menebak agama mereka secara akurat. Tidak sedikit dari mereka yang sengaja tidak memasang profil pic foto mereka --baik di aplikas

Deru KALABAHU

Kalabahu singkatan dari Karya Latihan Bantuan Hukum -- sebuah elemen pengkaderan milik Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Lembaga hukum bereputasi mentereng ini memiliki puluhan kantor LBH seantero Indonesia, termasuk Surabaya. "Saya Aan Anshori. Silahkan googling nama saya. Barusan lulus dari S2 Hukum Keluarga Islam Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng," kataku membuka perkenalan. "Siapa di sini yang di ahwal al-yakhsiyyah?" tanyaku. Itu adalah nama Arab dari prodiku. Entah berapa gelintir dari mereka yang tahu. "Saya, mas," kata peserta perempuan, yang tentu saja berjilbab. Aku memang merasa perlu menandaskan latar belakangku, khususnya kampus Tebuireng karena beberapa hal. Pertama, banyak yang memakai jilbab. Kedua, begitu banyak diksi Madura dari peserta laki-laki. "Jilbab," "NU," dan "Madura," memang harusnya familiar dengan kata "Tebuireng," -- kebangetan kalau tidak. Ketiga, topik yang aku

PENGUSIRAN ARWAH DAN EMMANUEL MACRON

Kemarin malam aku nonton The Exorcism of Emily Rose. Entah sudah yang keberapa kalinya. Aku suka banget film itu. Film bersetting Katolik yang kabarnya didasarkan pada kejadian nyata Anneliese Michel dan Linney. Ceritanya, ada romo yang dibawa ke pengadilan gara-gara dituding melakukan pembunuhan saat proses pengusiran arwah yang merasuki Emily, salah satu jemaatnya.  Perempuan ini mati sangat mengenaskan. Tubuhnya sangat kurus dengan penuh luka. Tragis.  Pemerintah kota merasa perlu menegakkan keadilan. Harus ada yang dihukum atas peristiwa ini.  Oleh karena tidak mungkin mengadili Lucifer dan 5 setan lain yang merasuki Emily, maka tentu saja romo tersebut yang harus menanggungnya.  Duel menarik pun terjadi antara sang pengacara  dan jaksa penuntut. Yang menarik, pengacara romo adalah agnostik, perempuan. Tau sendirikan orang agnostik? Rasionalitasnya membumbung ketimbang hal-hal yang bersifat absurd. Iman masuk dalan kategori itu. "Romo, apakah Emily termasuk orang yang taat ber