Skip to main content

Iklan

PENGUSIRAN ARWAH DAN EMMANUEL MACRON

Kemarin malam aku nonton The Exorcism of Emily Rose. Entah sudah yang keberapa kalinya. Aku suka banget film itu. Film bersetting Katolik yang kabarnya didasarkan pada kejadian nyata Anneliese Michel dan Linney.

Ceritanya, ada romo yang dibawa ke pengadilan gara-gara dituding melakukan pembunuhan saat proses pengusiran arwah yang merasuki Emily, salah satu jemaatnya. 

Perempuan ini mati sangat mengenaskan. Tubuhnya sangat kurus dengan penuh luka. Tragis. 

Pemerintah kota merasa perlu menegakkan keadilan. Harus ada yang dihukum atas peristiwa ini. 

Oleh karena tidak mungkin mengadili Lucifer dan 5 setan lain yang merasuki Emily, maka tentu saja romo tersebut yang harus menanggungnya. 

Duel menarik pun terjadi antara sang pengacara  dan jaksa penuntut. Yang menarik, pengacara romo adalah agnostik, perempuan. Tau sendirikan orang agnostik? Rasionalitasnya membumbung ketimbang hal-hal yang bersifat absurd. Iman masuk dalan kategori itu.

"Romo, apakah Emily termasuk orang yang taat beragama?" tanya si pengacara.
"Sangat taat,"
"Lalu kenapa Tuhan sampai setega itu membuatnya sengsara dan menderita?" si loyer terus memburu kliennya di kursi pesakitan.

Lalu si Romo membacakan surat yang ditulis Emily sehari sebelum meninggal --setelah proses pengusiran arwah yang sangat apik dan melelahkan. 

Dalam surat itu Emily bercerita. Ia mimpi ketemu Holy Mary dan mengajukan pertanyaan persis seperti yang diajukan loyer tadi ke romo

Aku sejak awal sudah galau, dag-dig-dug menduga-duga apa persisnya jawaban Holy Mary. Sebab, menurutku, ini merupakan pertanyaan kelas berat secara teologis.

Holy Mary menawarkan dua pilihan kepada Emily; tetap menderita untuk hal yang lebih besar dari penderitaannya, atau mengakhiri penderitaan dari "gangbang-an" kuasa gelap 5 rajanya setan. 

"I choose to stay," kata Emily kepada Holy Mary. Maka ia pun mati dengan cara menyedihkan dan mengenaskan.

Aku belajar banyak dari film ini, khususnya menyoal penderitaan yang selalu ditawarkan realitas dan begitu banyak dari kita memilih menghindarinya. 

Emmanuel Macron termasuk seperti Emily. Lelaki ini menurutku memilih tidak mau menyerah meski tengah didera penderitaan hebat. Dicaci maki jutaan orang Islam, termasuk teman-temanku sendiri.

Ia memilih menderita menjaga hal paling fundamental dalam demokrasi; kemerdekaan berekspresi, meskipun sangat mungkin ia bisa dengan mudah menghindarinya. 

Diakhir film, romo tadi mengunjungi makam Emily bersama si pengacara. Saat melihat nisan Emily, sang pengacara membaca tulisan yang tergurat di sana. 

Bunyinya; work out your own salvation with fear and tremblings --- petikan surat Paulus ke jemaat Filippi, yang hingga kini aku simpan rapi dalam memori dan sanubariku, bersama ayat serupa di Alquran.

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina Mawadah Entah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pul

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi. Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hita