Skip to main content

Iklan

Membawa Jokowi dan Nadiem ke Arena Trinitas

"Dalam analogi tadi, tambahku, Jokowi dianalogikan seperti Tuhan Bapa. Niat mengangkat Nadiem Makarim adalah roh kudus. Sedangkan keppres itu adalah Yesus,"
 

*****
Dua minggu lalu, ada seorang kawan yang mengontakku. Aku tak pernah kenal sebelumnya, apalagi berjumpa fisik. Tidak pernah.

Ia hanya menyebutkan dirinya alumni sebuah program exchange pemerintah Amerika Serikat --di mana aku juga salah satunya. Beberapa alumni lainnya antara lain, Ahok, Gus Dur, Megawati, Anies Baswedan, dan banyak lagi. Bagiku, password "alumni,"  sudah cukup. Tak perlu harus ketemu langsung.

"How can I help you, mas?" tanyaku pada Karyana.

Dia lantas menceritakan tentang pasangannya, perempuan, yang masih memiliki pandangan kurang pas menyangkut agama yang dipeluk Karyana.

Karyana Kristen, pasangannya Muslimah. Mereka menikah di luar negeri sekitar 5-6 tahun lalu, sebelum akhirnya menetap di Jakarta. Keduanya memilih berada dalam jalur agamanya masing-masing --yang menurutku itu bagus.

Aku sempat berfikir; kenapa keberatan pasangannya diletupkan saat usia perkawinannya sudah berjalan cukup lama; apakah ini akan menuju pada akhir sebuah perkawinan; apakah ada masalah lain yang lebih besar, lebih laten ketimbang diskursus polemis khas Islam-Kristen; dan yang terpenting, apakah keduanya berbahagia.

Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Berdesak-desakan dengan keinginan "menyelamatkan," perkawinan mereka.

"Kenapa istriku tidak memiliki pandangan kekristenan sebagaimana yang mas Aan share di FB dan instagram? Aku ingin istriku juga bisa memiliki cara pandang seperti itu," katanya.

Aku terus berfikir apa yang sebenarnya dimaui Karyana atas pasangannya; apakah ia ingin istrinya masuk Kristen?

"Nggaklah mas, aku baik-baik saja dengannya seperti sekarang," jawabnya.

Memang, seperti yang sering aku singgung dalam tulisan maupun zoom, kristologi Islam dan Kristen (trinitarian) memiliki beberapa hal yang terlihat mustahil dipersatukan, jika tidak tahu caranya. Beberapa hal itu, misalnya, doktrin monoteisme trinitas, penyaliban Yesus, inkarnasi dan penebusan dosa.

Aku sendiri sedang berupaya memahami hal-hal tersebut --sebagaimana aku, pengguna sistem operasi Windows puluhan tahun, berusaha mengerti logika dan jerohannya Linux. Aku tak pernah mengklaim telah berhasil. Bagiku proses memahami adalah kenikmatan tersendiri; seperti asiknya mencari kaitan marga satu dengan lainnya.

"Bolehkah kami berkonsultasi secara online?" tanya Karyana. Aku tidak keberatan.

Namun yang tidak aku sangka adalah ia juga mengajak pasangannya, Mike. Kami bertiga ngezoom. What a very awkward moment. Mereka ngezoom serumah namun beda ruang.

Aku bertanya-tanya dalam hati; apakah mereka telah pisah ranjang; sudah berapa lama; kapan terakhir mereka bercinta, dan lain-lain. Aku memang kerap mengukur kualitas relasi perkawinan dengan pertanyaan terakhir tadi.

Karyana lebih banyak diam. Aku memilih mengambil inisiatif untuk menghangatkan suasana, bertanya pada keduanya agar lebih tahu apa yang sesungguhnya terjadi; pada bagian mana dari islam-Kristen yang mereka persoalkan.

Dan aku merasa telah menemukannya dari pemaparan sekilas Mike seputar apa keberatannya. Ia tentu membungkus dengan puluhan kata standard, sangat berhati-hati agar tidak menyakiti suaminya. Namun aku bisa menangkap apa yang sebenarnya ia ingin pahami dari doktrin Kristen suaminya.

Aku paham dan, tentunya, sudah tahu jawaban serta bagaimana menjelaskannya. Panjelasanku tidak aku sampaikan melalui zoom karena memiliki keterbatasan. Aku harus bertemu keduanya di Jakarta. Face to face.

"Aku besok lusa mau ke Jakarta, kita bisa melanjutkan ngobrolnya kalau mau," kataku pada Karyana. Ia terlihat sangat senang. Dalam urusan kristologi seperti ini, aku katakan pada Karyana, biasanya orang Islam akan lebih mudah dijelaskan oleh orang Islam sendiri.

Perjumpaan singkat di zoom memberikan kesan lain pada diriku. Mike, menurutku, adalah perempuan cerdas dan berpikiran terbuka. Juga, tak bisa dianulir; ia begitu sayang Karyana. Demikian pula sebaliknya. Ini membuatku lega.

**
Tiba di rumah Karyana, aku disambut dua anjing lucunya; Lady dan Princess. Tak seberapa lama, muncullah Mike dari balik pintu. Perempuan ayu ini berpenampilan sederhana dengan jilbabnya. Menyambutku dengan ramah.

Kami bertiga ngobrol di meja makan sembari menikmati masakan yang telah disediakan. Sejak menit pertama masuk rumah aku sudah memasang radarku untuk menyerap apapun yang tak begitu nampak dari relasi mereka berdua.

Gesture, model komunikasi, pandangan mata, bahkan hingga pada bagaimana cara mereka berjalan berdua. Pokoknya semua.

Obrolan selanjutnya bergeser ke ruang meeting. Ada white boardnya. Aku memang sengaja meminta agar ada perlengkapan tersebut. Aku butuh untuk mencoret-coret karena membuatku nyaman dalam menjelaskan.

"Jokowi berniat mengangkat Nadiem Makarim sebagai salah satu menterinya. Lalu ini menerbitkan keppres --keputusan presiden. Menurut kalian berdua, kertas keppres itu Jokowi atau bukan?" tanyaku pada keduanya.

Mereka terdiam.

"Jangan tergesa-gesa menjawab. Dipikir dulu. Aku beri waktu 5 menit," sergahku sembari meninggalkan mereka berdua, ke toilet.

Entah sudah janjian atau tidak, keduanya sepakat jika keppres tersebut bukan Jokowi. Keppres itu adalah kertas. Jokowi bukan kertas.

Aku membenarkannya seraya menyatakan itu adalah salah satu dari tiga cara pandang. "Cara pandang kedua adalah menganggap keppres itu sepenuhnya Jokowi. Kertas dan tinta yang ada di dalamnya bukanlah apa-apa. Nothing. Mereka luruh dan terserap ke dalam apa yang disebut sebagai 'Jokowi'," kataku.

Cara pandang ketiga adalah jalan tengah dari yang pertama dan kedua. Yakni, mereka yang mempercayai bahwa keppres adalah seutuh-utuhnya kertas serta tinta, dan sepenuh-penuhnya Jokowi.

Mereka berdua terdiam. Sangat mungkin tengah mencerna penjelasanku.

Aku kemudian meminta Karyana mengeluarkan KTPnya. Lalu aku menunjukkannya pada Mike, "KTP ini suamimu bukan?"

Ia menggeleng.

"Kalau dia pergi ke bandara tanpa identitas ini, ia diakui sebagai Karyana atau tidak?" aku menyodori pertanyaan lanjutan.

"Tidak," ia menjawab pendek.

Betul, kataku, Karyana tidak bisa masuk pesawat atau membuat rekening bank tanpa identitas yang ia miliki. Sia-sialah kalau ia memaksakan kehendak. KTP hanyalah sebuah kertas namun dalam saat bersamaan ia adalah Karyana itu sendiri.

"Apa kaitannya dengan Yesus dan trinitas?" tanyaku pada mereka tanpa bermaksud menemukan jawaban dari mereka.

Keppres itu ibarat Yesus/Isa.

Cara pandang pertama adalah model aliran utama bagaimana islam klasik memandang Yesus. Ia bukan Tuhan, sama seperti keppres yang bukan Jokowi. Cara pandang ini tidak salah karena lebih menitikberatkan pada kekertasan keppres dan kemanusiaan Yesus.

Dalam analogi tadi, tambahku, Jokowi dianalogikan Tuhan Bapa. Niat mengangkat Nadiem Makarim adalah roh kudus. Sedangkan keppres itu adalah Yesus.

"Nah, suamimu, yang kamu sayangi hingga sekarang, memilih cara pandang ketiga, yang menurutku juga sangat masuk akal," kataku pada Mike sembari tersenyum.

Kami pun larut dalam diskusi lanjutan yang tak kalah serunya, terutama kenapa Islam memilih cara pandang pertama.

Aku tidak tahu bagaimana relasi mereka berdua setelah "kuliah." singkat tadi. Semoga mereka makin menyayangi.

** warkop-Guees

Comments

  1. Dulu pernah diposisi itu, dan sering ada perbedaan pendapat seperti itu dan 'keinginan untuk bisa sejalan'. Alasannya klise dan itu-itu aja: buat anak, kalau bisa satu pandangan kenapa nggak, dst. Tapi malah hal itu yang justru harusnya dipertanyakan. Memangnya kalau beda pandangan itu lebih buruk? Ke anak juga lebih buruk?

    Perumpamaannya, saya pegawai Pizza Hut, suka banget makan ayam KFC. Setiap hari saya makan ayam KFC selama bertahun2, gak ada bosan2nya. Bagi saya kalau gk makan ayam KFC itu gak normal aja jalannya hari itu. Kadang-kadang kepikiran, "sayang ya Pizza Hut gak jualan ayam goreng tepung, kalau ada enak gak usah jauh2 makannya, bisa di tempat kerja sekalian". Tapi kalau dipikir-pikir, kalau misalnya benar Pizza Hut jual ayam goreng, memangnya saya akan suka makan ayam itu? Yang membuat saya jatuh hati bertahun2 kan ayamnya KFC, bukan McD, bukan Dominos, tapi KFC. Apakah kalau Pizza Hut bikin ayam bakalan lebih cocok ke saya? Who knows. Bisa lebih baik bisa lebih buruk. Yang pasti resep rahasia yang cocok ke saya adalah yang lahir di tangan sang kolonel di KFC. Menolak fakta bahwa makanan ayam kesukaan saya lahir dan tumbuh di KFC sama saja menolak alasan utama saya cocok dengan ayam KFC.

    Semuanya rahasia ilahi, semuanya ada alasan dan tujuan di tempat dan posisi masing-masing, termasuk untuk hadir dalam hidup kita yang memiliki background berbeda, tugas kita menjalankan dan menghormatinya. Kalau Tuhan berkehendak lain, kolonel sanders mungkin punya ide bikin Pizza juga dulu.

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina Mawadah Entah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pul

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi. Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hita