Skip to main content

Iklan

Majulah Pemudi-Pemuda Nahdlatul Ulama!

Sebagai anak aktifis NU, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus "terseret," juga di arena organisasi ini. Almarhum orangtuaku termasuk cukup aktif di NU Mojoagung, khusus kakek dan bapak; Kiai Abd. Wahab Babut Sumobito dan Mashudan Dar.

Posisi terakhirnya, jika tidak salah, sekretaris Majelis Wakil Cabang -- kepengurusan level kecamatan. Itu sebabnya, barangkali hanya dia yang memiliki mesin ketik di desa kami, awal 80an. Aku kagum dengan kemampuan ngetiknya. Kelas 3 MI (SD) aku sudah bisa ngetik.

Rumah kami sering ditempati aneka rapat. Aku tidak tahu rapat apa saja. Pokoknya ngomong politik dan kemasyarakatan. Tahun-tahun itu NU dan PPP memang seperti dua sisi matauang. Persis saat ini. NU dan PKB. Urusan organisasi dan partai politik campur-aduk.

Setelah lulus MI, aku meninggalkan kecamatan Mojoagung. Keluar. Pergi ke pesantren hingga lulus SMA. Begitulah tradisi kami keluarga santri. Namun nampaknya tidak semua keluarga santri demikian. Ada banyak yang memilih mendidik anaknya di sekolah sekitar rumah. 

Selesai SMA, sekitar pertengahan 90an, aku pulang ke Mojoagung. Sebelum akhirnya aku harus ke Pare beberapa saat untuk kursus bahasa Inggris dan mondok. Pada saat itulah aku mencoba aktif mengikuti berbagai kegiatan para pemuda/i Nahdlatul Ulama Mojoagung. 

Salah satu kegiatan yang aku sukai adalah Kajian Islam Intensif, semacam forum mendialogkan berbagai isu publik dikaitkan dengan respon agama (Islam). Ada semacam semangat membara agar agama tidak berhenti hanya pada ritualitas. 

Yang juga aku ingat, saat itu isu antaragama masih terlalu pelik untuk ditawarkan. Kami sama sekali tidak menyentuh, misalnya, isu relasi Islam-Kristen atau isu rasial seperti Tionghoa-Jawa. Apalagi isu keragaman gender dan seksualitas. Masih jauh sekali untuk menyentuh hal itu.


Puluhan tahun aku sudah tidak lagi tahu perkembangan IPPNU-IPNU Mojoagung, hingga deklarasi GUSDURian Mojoagung , 11 November 2020.

Aku senang sekali melihat banyak eksponen dari mereka ikut hadir. Padahal acaranya dilaksanakan di dalam gereja. Mereka agak canggung awalnya. Namun itu tidak berlangsung lama. Mereka dengan cepat sekali membaur. 

Meskipun demikian, aku tahu keberadaan mereka saat itu dipersoalkan banyak senior di wilayah Mojoagung. Sebagaimana cara berpikir faksi NU model tradisionalis, senior-senior tersebut keberatan jika Islam (NU) terlihat terlalu dekat dengan kekristenan. 

Sangat mungkin mereka takut para kader IPPNU-IPNU akan tergerus imannya dan jatuh menjadi Kristen. Ketakutan tersebut perlu diapresiasi; tidak dengan menyalahkan, tidak dengan menghindari gereja, namun justru dijadikan pelecut uuntuk membuktikan kebesaran religiusitas ber-NU dengan cara tetap membangun relasi baik antaragama.


Majulah para pemudi/pemuda Nahdlatul Ulama! 

Comments

Tulisan Terpopuler

Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya

Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau majalah selebriti kelas Bollywood bahkan Hollywood sekalipun. Sebaliknya, narasi keberadaan Sukayna terserak dalam karya akademik atau relijus yang kita sendiri tahu bahasanya membosankan, belum lagi kerap menggunakan teks Inggris atau Arab.

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina Mawadah Entah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja. Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll. Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan. Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pul

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu. Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat. Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi. Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hita